
Sengaja atau tidak, tak ada yang tahu
selain Izaka seorang. Izaka berdiri di depan gerbang sekolah, seolah sedang
menunggu kedatangan seseorang. Senyum matahari begitu cerah, cahayanya begitu
hangat di kulit. Mentari baru mampu menyinari pucuk-pucuk atap sekolah.
Sementara tubuh Izaka sudah sepenuhnya tersinari. Dia memang sudah terbiasa
tiba di sekolah di waktu yang masih pagi, bisa dibilang Ia merupakan siswa yang
pertama kali tiba di sekolah.
Selama
ini, Ia tak pernah ikut sarapan pagi bersama kedua orang tuanya. Ia lebih
memilih perutnya keroncongan. Ia tidak ingin terlalu menggantungkan diri kepada
orang yang menyembunyikan sesuatu dibelakangnya. Entah sampai kapan Ia akan
terus-terusan menghindar.
“Sensei..”
seru Izaka begitu menyadari langkah kaki dari seorang guru yang cukup familiar
dimatanya. Pak Haru hanya berhenti dan menoleh ke arahnya, tak bergerak untuk
mendekat kepadanya. Bahkan tersenyum saja tidak.
“Berhentilah menyukainya.” tegas Izaka, Ia pun
beralih dari posisinya. Menyusun langkah sampai berhasil melewati Pak Haru.
Beberapa
hari ini Izaka sangat sensitif, terutama bila sudah menyangkut Aiko. Keberadaan
Pak Haru membuatnya selalu tidak tenang, walau Ia sendiri paham kalau Pak Haru seorang guru. Ia hanya berusaha menjaga
gadis itu.
...
Kelas
belum terlalu ramai. Aiko memandang sekilas Izaka, berakhir dengan senyuman
kecut saat kedua sorot mata mereka saling bertemu. Bisa-bisanya Izaka bersikap
santai seperti tak terjadi apa-apa. Padahal Izaka sudah tahu kalau Ia lupa
kepadanya. Namun itu semua tak membuatnya kacau, bahkan Izaka sama sekali tak
membahasnya. Tak mencoba membuatnya untuk mengingat sosok dirinya. Dia memang
lelaki yang menyebalkan.
“Kenapa kau memandangiku?”
Izaka sudah ada didepannya, duduk dengan menumpukan kedua tangannya dan
bertopang dagu.
“Siapa? Aku tidak
memandangimu! Memandangimu hanya buang-buang waktu saja.” jawabnya. Aiko
menekuk wajahnya, menatap tak suka sosok Izaka.
“Tapi sepertinya kau suka
buang-buang waktu.” ujar Izaka jelas. Ucapan Izaka ditanggapi Aiko dengan
ekspresi kesal yang meledak-ledak.
“Apa kau selalu seperti
mengingatmu? Bisa-bisanya kau setenang ini!”
Aiko kesal, bahkan matanya
sudah berlapiskan kaca. Mata gadis itu sebening kristal, ketika ada cahaya akan
semakin membuatnya berkilau.
“Mungkin hatiku terbuat
dari batu. Sehingga aku sama sekali tak mempermasalahkannya. Tapi aku tahu,
bahwa kau tak akan pernah melupakanku. Sekalipun aku sering membuatmu menangis
kau tak akan pernah melupakanku.” kata Izaka.
Direngkuhnya kepala Aiko,
Ia menariknya lembut. Izaka menyandarkan dagu gadis itu di bahunya. Ia juga
mengelus pelan kepala gadis itu.
Kenapa?
Aiko bertanya kepada dirinya sendiri. Perasaan marahnya dengan mudah lenyap.
Apa itu takdirnya? Tidak mungkin jika Ia ditakdirkan untuk tidak bisa marah
kepada sosok Izaka. Dag dig dug, Aiko bisa merasakan degup jantungnya yang kian
tidak teratur. Tubuhnya begitu hangat, seakan sedang memakai jaket berbahan
wol.
Beberapa saat kemudian
tubuhnya terpental dan dirinya sudah menjauh dari Izaka, Ia tidak bisa menduga
itu sebelumnya. Akhirnya Ia menghela nafasnya panjang, lagi-lagi Ia harus
menyaksikan pemandangan itu. Jugo menarik kerah seragam Izaka yang masih licin,
setelah Jugo melepaskan tangannya kerah licin itu berubah menjadi lecek. Sangat
disayangkan.
“Bukankah aku sudah
memperingatkanmu!” bentak Jugo keras. Nada bicaranya begitu tinggi, sehingga
banyak yang harus menutup telinga. Izaka selalu santai bila menghadapi lelaki
itu.
Sementara,
Aiko tak ingin mendengar apapun. Ia lebih memilih untuk menutup rapat kedua
telinganya dan menyandarkan dagunya di meja. Sudah berulang Ia ingin lepas dari
adegan konyol itu.
Sebenarnya
Ia masih kepikiran. Semua masih menggantung di kepalanya, belum ada kepastian
yang meyakinkan dirinya. Banyak hal yang ingin Ia tanyakan kepada Izaka tetapi
ini bukan saat yang tepat. Terpaksa Ia harus menyimpan pertanyaannya untuk Ia
tanyakan di kesempatan lain. Izaka belum mengatakan kalau Ia benar-benar Yoshio
Izaka. Rasanya, Ia ingin Izaka segera mengatakan itu padanya.
***