Remember Again

Remember Again
18


Sengaja atau tidak, tak ada yang tahu


selain Izaka seorang. Izaka berdiri di depan gerbang sekolah, seolah sedang


menunggu kedatangan seseorang. Senyum matahari begitu cerah, cahayanya begitu


hangat di kulit. Mentari baru mampu menyinari pucuk-pucuk atap sekolah.


Sementara tubuh Izaka sudah sepenuhnya tersinari. Dia memang sudah terbiasa


tiba di sekolah di waktu yang masih pagi, bisa dibilang Ia merupakan siswa yang


pertama kali tiba di sekolah.


         Selama


ini, Ia tak pernah ikut sarapan pagi bersama kedua orang tuanya. Ia lebih


memilih perutnya keroncongan. Ia tidak ingin terlalu menggantungkan diri kepada


orang yang menyembunyikan sesuatu dibelakangnya. Entah sampai kapan Ia akan


terus-terusan menghindar.


         “Sensei..”


seru Izaka begitu menyadari langkah kaki dari seorang guru yang cukup familiar


dimatanya. Pak Haru hanya berhenti dan menoleh ke arahnya, tak bergerak untuk


mendekat kepadanya. Bahkan tersenyum saja tidak.


 “Berhentilah menyukainya.” tegas Izaka, Ia pun


beralih dari posisinya. Menyusun langkah sampai berhasil melewati Pak Haru.


         Beberapa


hari ini Izaka sangat sensitif, terutama bila sudah menyangkut Aiko. Keberadaan


Pak Haru membuatnya selalu tidak tenang, walau  Ia sendiri paham kalau Pak Haru seorang guru. Ia hanya berusaha menjaga


gadis itu.


...


         Kelas


belum terlalu ramai. Aiko memandang sekilas Izaka, berakhir dengan senyuman


kecut saat kedua sorot mata mereka saling bertemu. Bisa-bisanya Izaka bersikap


santai seperti tak terjadi apa-apa. Padahal Izaka sudah tahu kalau Ia lupa


kepadanya. Namun itu semua tak membuatnya kacau, bahkan Izaka sama sekali tak


membahasnya. Tak mencoba membuatnya untuk mengingat sosok dirinya. Dia memang


lelaki yang menyebalkan.


“Kenapa kau memandangiku?”


Izaka sudah ada didepannya, duduk dengan menumpukan kedua tangannya dan


bertopang dagu.


“Siapa? Aku tidak


memandangimu! Memandangimu hanya buang-buang waktu saja.” jawabnya. Aiko


menekuk wajahnya, menatap tak suka sosok Izaka.


“Tapi sepertinya kau suka


buang-buang waktu.” ujar Izaka jelas. Ucapan Izaka ditanggapi Aiko dengan


ekspresi kesal yang meledak-ledak.


“Apa kau selalu seperti


mengingatmu? Bisa-bisanya kau setenang ini!”


Aiko kesal, bahkan matanya


sudah berlapiskan kaca. Mata gadis itu sebening kristal, ketika ada cahaya akan


semakin membuatnya berkilau.


“Mungkin hatiku terbuat


dari batu. Sehingga aku sama sekali tak mempermasalahkannya. Tapi aku tahu,


bahwa kau tak akan pernah melupakanku. Sekalipun aku sering membuatmu menangis


kau tak akan pernah melupakanku.” kata Izaka.


Direngkuhnya kepala Aiko,


Ia menariknya lembut. Izaka menyandarkan dagu gadis itu di bahunya. Ia juga


mengelus pelan kepala gadis itu.


         Kenapa?


Aiko bertanya kepada dirinya sendiri. Perasaan marahnya dengan mudah lenyap.


Apa itu takdirnya? Tidak mungkin jika Ia ditakdirkan untuk tidak bisa marah


kepada sosok Izaka. Dag dig dug, Aiko bisa merasakan degup jantungnya yang kian


tidak teratur. Tubuhnya begitu hangat, seakan sedang memakai jaket berbahan


wol.


Beberapa saat kemudian


tubuhnya terpental dan dirinya sudah menjauh dari Izaka, Ia tidak bisa menduga


itu sebelumnya. Akhirnya Ia menghela nafasnya panjang, lagi-lagi Ia harus


menyaksikan pemandangan itu. Jugo menarik kerah seragam Izaka yang masih licin,


setelah Jugo melepaskan tangannya kerah licin itu berubah menjadi lecek. Sangat


disayangkan.


“Bukankah aku sudah


memperingatkanmu!” bentak Jugo keras. Nada bicaranya begitu tinggi, sehingga


banyak yang harus menutup telinga. Izaka selalu santai bila menghadapi lelaki


itu.


         Sementara,


Aiko tak ingin mendengar apapun. Ia lebih memilih untuk menutup rapat kedua


telinganya dan menyandarkan dagunya di meja. Sudah berulang Ia ingin lepas dari


adegan konyol itu.


         Sebenarnya


Ia masih kepikiran. Semua masih menggantung di kepalanya, belum ada kepastian


yang meyakinkan dirinya. Banyak hal yang ingin Ia tanyakan kepada Izaka tetapi


ini bukan saat yang tepat. Terpaksa Ia harus menyimpan pertanyaannya untuk Ia


tanyakan di kesempatan lain. Izaka belum mengatakan kalau Ia benar-benar Yoshio


Izaka. Rasanya, Ia ingin Izaka segera mengatakan itu padanya.


***