Remember Again

Remember Again
20


Liburan


yang pendek. Begitulah kalau sudah menyangkut akhir pekan. Hari masih bisa


disebut pagi. Sudah sejak tadi Izaka meninggalkan rumah. Tidak ada yang tahu


kemana anak itu pergi. Itu juga bisa dikatakan pergi diam-diam dan sangat tidak


sopan. Seharusnya paling tidak Ia harus meminta izin dulu, atau meninggalkan


pesan karena orang rumah bisa mencemaskannya. Pikiran yang tidak-tidak bisa


saja muncul, seperti kalau Ia diculik. Namun Izaka tak begitu peduli dengan


itu.


Nyonya


Harumi dan Tuan Higashi ingin menghabiskan waktu bersama putranya di liburan


akhir pekan seperti ini. Mereka merindukan kebersamaan, seperti saat-saat


pertama ketika Izaka berada di rumah ini.


Namun


selalu saja putranya langsung pergi entah kemana, seperti menghindari mereka.


Padahal setiap sedang bekerja mereka menanti saat-saat seperti itu, mereka


ingin melihat putra mereka tersenyum. Izaka cepat sekali berubah. Sehingga


mereka selalu berusaha mengintrospeksi diri mereka, karena mungkin mereka sudah


melukai Izaka baik secara sengaja maupun tidak sengaja.


Izaka memang sudah menyiapkan semuanya


sebelum fajar menjemput, jaket kulit menjadi pilihannya di hari ini. Ia sama


sekali tak menutup resleting jaketnya, membiarkan kaos berwarna merah


terpampang begitu saja. Saat mengenakan busana apapun lelaki itu selalu


menampilkan tubuhnya yang elok.


Selain


itu, sepatu hitam bertali cukup cocok bila dipadukan dengan jaket itu. Ia sudah


ada di depan pintu salah satu rumah di perumahan Blok G. Rumah itu sangat


sederhana, hanya dihiasai oleh tanaman-tanaman dalam pot yang membuat rumah itu


nampak lebih hidup.


Dari


luar rumah itu seakan mampu berbicara dan menggambarkan sebuah keluarga yang


damai. Ia bisa merasakan itu melalui udara di sekitarnya yang Ia hirup panjang.


Udara itu membuatnya merasa lebih segar.


“Kau..” suara itu langsung


didengar Izaka setelah suara decitan pintu yang terbuka.


“おはようございますOhayou gozaimasu (Selamat pagi),


Yori-san. Lama tidak berjumpa.” ucapnya memberi salam, lelaki itu membungkukkan


badan untuk menghormati seorang perempuan paruh baya yang akrab dipanggil Nyonya


Yori.


Selama kurang lebih dua


belas tahun Izaka telah menyaksikan pertumbuhan dan perkembangannya bersama


perempuan itu. Perempuan itu merupakan sahabat baik mendiang ibunya. Ibu


kandungnya. Saat Ia bosan, ibunya selalu mengajaknya kemari dan Ia bisa bermain


dengan putranya. Shooji.


Tetapi


karena kemalangan menerima nasib keluarga ini, Izaka dianggapnya sebagai anak.


Shooji yang saat itu masih berumur 9 tahun tewas terseret air sungai saat


bermain bersamanya. Sampai sekarang Izaka masih menyalahkan dirinya atas


kematian Shooji.


Di detik-detik kematian Shooji, Ia


masih mengingatnya dengan jelas. Bahkan sampai sekarang wajah polos temannya


itu masih sangat melekat di memorinya.


Teh hangat menjadi teman


bagi Nyonya Yori dan Izaka untuk melengkapi perbincangan yang akan terjadi.


Sudah lama sekali mereka tak saling bertemu sehingga mereka akan sedikit


canggung. Merasa bingung bagaimana harus memulainya.


“Aku kira kau sudah


meninggal. Tapi syukurlah, nyawamu masih dilindungi. Saat itu... Aku selalu


yakin kalau kau masih hidup.” ujar Nyonya Yori, Ia pun meneguk teh hangat


buatannya. Berakhir dengan desahan nafas yang lega.


Saat


ini, hanya ada dirinya yang bergelar tuan rumah. Tuan Tadashi, suaminya sudah


harus bolak-balik ke luar kota. Tuan Tadashi sendiri sebenarnya tidak pernah


merasa nyaman bila jauh dari rumahnya, dia selalu risau.


Tentu saja itu karena Ia


sangat mencintai istrinya, membiarkan istrinya sendirian sama saja dengan menelantarkannya,


itu persepsinya. Ia tidak tega untuk melakukan itu. Yang ditakutkannya bukan


karena jarak yang memisahkan mereka, namun Tuan Tadashi takut bila istrinya


meninggalkan dirinya sama seperti Shooji.


“Ceritanya cukup panjang.


Sampai suatu ketika ada yang menjadikanku sebagai anak angkat.


Oh ya, Yori-san apa kau bisa memberiku


kunci duplikat rumahku?” ucap Izaka di sela-selanya meneguk teh hangat yang


manis.


Itu


sudah menjadi kebiasaan bagi mereka, karena mereka sudah sangat dekat jadi tak


ada kata tak enak untuk melakukan itu. Walau sebenarnya itu hal yang tidak


sopan.


“Aku sangat ingin


bernostalgia. Pasti kunci itu masih kau simpan kan, Yori-san?” tambah Izaka.


Nyonya Yori membalasnya


dengan senyuman yang tulus, dalam senyuman itu seakan dibubuhi dengan perasaan


sayang. Tergambar dengan sangat jelas. Izaka juga masih ingat betul bahwa


Nyonya Yori diberi kepercayaan oleh orang tua kandungnya untuk memegang kunci


duplikat rumahnya.


“Hanya


saja keberadaan kunci itu belum bisa ku ingat.” kata Nyonya Yori sedikit sedih.


“Tapi kau bisa tinggalkan


nomor ponselmu. Setelah kunci itu ketemu aku akan langsung menghubungimu.”


Nyonya Yori menambahi.


“Ehm..” balas Izaka begitu


sederhana dan singkat.


Mereka


kembali meneguk teh di kepungan telapak tangan mereka masing-masing selagi


masih hangat. Uap panas masih menari-nari diatas cangkir, jadi tentu minuman


itu masih dalam keadaan hangat.


***


         Aiko


terlihat sedang menanti-nanti kedatangan seseorang di salah satu Drinks Shop.


Orang yang membuat janji dengannya malah terlambat, hal itu membuatnya kesal.


Jika orang yang membuat janji dengannya bukan seseorang yang harus


dihormatinya, Ia bisa memaki habis orang itu.


Ia hanya bisa menelan ludah sambil mengelus


dada agar tidak keceplosan nantinya.


“Sudah lama?” ucap


seseorang kepadanya. Ia hanya mengangguk.


“Ada perlu apa Sensei


memintaku kemari?” tanya Aiko. Pak Haru tidak langsung menjawab, Ia hanya


tersenyum kecil.


“Mulai minggu depan aku


tidak akan mengajar lagi, karena aku akan melanjutkan S2-ku. Aku hanya ingin


memintamu untuk menjadi pembina anak-anak kelas sepuluh yang ikut olimpiade


saat belum ada penggantiku.” jelas Pak Haru. Aiko menggigit bibirnya, Ia rasa


untuk hal seperti itu Pak Haru tak harus menemuinya secara langsung.


“Tapi bukankah Sensei bisa


memintaku lewat telepon?” tanya Aiko kemudian. Pak Haru sedikit salah tingkah.


Kini, nada bicaranya terkesan seperti orang gagu.


“Ak-aku... ingin


memintanya secara langsung, agar lebih resmi saja.” jawabnya. Akhirnya, Aiko


setuju saja dengan permintaan Pak Haru. Lagi pula itu pekerjaan mulia.


***