
Liburan
yang pendek. Begitulah kalau sudah menyangkut akhir pekan. Hari masih bisa
disebut pagi. Sudah sejak tadi Izaka meninggalkan rumah. Tidak ada yang tahu
kemana anak itu pergi. Itu juga bisa dikatakan pergi diam-diam dan sangat tidak
sopan. Seharusnya paling tidak Ia harus meminta izin dulu, atau meninggalkan
pesan karena orang rumah bisa mencemaskannya. Pikiran yang tidak-tidak bisa
saja muncul, seperti kalau Ia diculik. Namun Izaka tak begitu peduli dengan
itu.
Nyonya
Harumi dan Tuan Higashi ingin menghabiskan waktu bersama putranya di liburan
akhir pekan seperti ini. Mereka merindukan kebersamaan, seperti saat-saat
pertama ketika Izaka berada di rumah ini.
Namun
selalu saja putranya langsung pergi entah kemana, seperti menghindari mereka.
Padahal setiap sedang bekerja mereka menanti saat-saat seperti itu, mereka
ingin melihat putra mereka tersenyum. Izaka cepat sekali berubah. Sehingga
mereka selalu berusaha mengintrospeksi diri mereka, karena mungkin mereka sudah
melukai Izaka baik secara sengaja maupun tidak sengaja.
Izaka memang sudah menyiapkan semuanya
sebelum fajar menjemput, jaket kulit menjadi pilihannya di hari ini. Ia sama
sekali tak menutup resleting jaketnya, membiarkan kaos berwarna merah
terpampang begitu saja. Saat mengenakan busana apapun lelaki itu selalu
menampilkan tubuhnya yang elok.
Selain
itu, sepatu hitam bertali cukup cocok bila dipadukan dengan jaket itu. Ia sudah
ada di depan pintu salah satu rumah di perumahan Blok G. Rumah itu sangat
sederhana, hanya dihiasai oleh tanaman-tanaman dalam pot yang membuat rumah itu
nampak lebih hidup.
Dari
luar rumah itu seakan mampu berbicara dan menggambarkan sebuah keluarga yang
damai. Ia bisa merasakan itu melalui udara di sekitarnya yang Ia hirup panjang.
Udara itu membuatnya merasa lebih segar.
“Kau..” suara itu langsung
didengar Izaka setelah suara decitan pintu yang terbuka.
“おはようございますOhayou gozaimasu (Selamat pagi),
Yori-san. Lama tidak berjumpa.” ucapnya memberi salam, lelaki itu membungkukkan
badan untuk menghormati seorang perempuan paruh baya yang akrab dipanggil Nyonya
Yori.
Selama kurang lebih dua
belas tahun Izaka telah menyaksikan pertumbuhan dan perkembangannya bersama
perempuan itu. Perempuan itu merupakan sahabat baik mendiang ibunya. Ibu
kandungnya. Saat Ia bosan, ibunya selalu mengajaknya kemari dan Ia bisa bermain
dengan putranya. Shooji.
Tetapi
karena kemalangan menerima nasib keluarga ini, Izaka dianggapnya sebagai anak.
Shooji yang saat itu masih berumur 9 tahun tewas terseret air sungai saat
bermain bersamanya. Sampai sekarang Izaka masih menyalahkan dirinya atas
kematian Shooji.
Di detik-detik kematian Shooji, Ia
masih mengingatnya dengan jelas. Bahkan sampai sekarang wajah polos temannya
itu masih sangat melekat di memorinya.
Teh hangat menjadi teman
bagi Nyonya Yori dan Izaka untuk melengkapi perbincangan yang akan terjadi.
Sudah lama sekali mereka tak saling bertemu sehingga mereka akan sedikit
canggung. Merasa bingung bagaimana harus memulainya.
“Aku kira kau sudah
meninggal. Tapi syukurlah, nyawamu masih dilindungi. Saat itu... Aku selalu
yakin kalau kau masih hidup.” ujar Nyonya Yori, Ia pun meneguk teh hangat
buatannya. Berakhir dengan desahan nafas yang lega.
Saat
ini, hanya ada dirinya yang bergelar tuan rumah. Tuan Tadashi, suaminya sudah
harus bolak-balik ke luar kota. Tuan Tadashi sendiri sebenarnya tidak pernah
merasa nyaman bila jauh dari rumahnya, dia selalu risau.
Tentu saja itu karena Ia
sangat mencintai istrinya, membiarkan istrinya sendirian sama saja dengan menelantarkannya,
itu persepsinya. Ia tidak tega untuk melakukan itu. Yang ditakutkannya bukan
karena jarak yang memisahkan mereka, namun Tuan Tadashi takut bila istrinya
meninggalkan dirinya sama seperti Shooji.
“Ceritanya cukup panjang.
Sampai suatu ketika ada yang menjadikanku sebagai anak angkat.
Oh ya, Yori-san apa kau bisa memberiku
kunci duplikat rumahku?” ucap Izaka di sela-selanya meneguk teh hangat yang
manis.
Itu
sudah menjadi kebiasaan bagi mereka, karena mereka sudah sangat dekat jadi tak
ada kata tak enak untuk melakukan itu. Walau sebenarnya itu hal yang tidak
sopan.
“Aku sangat ingin
bernostalgia. Pasti kunci itu masih kau simpan kan, Yori-san?” tambah Izaka.
Nyonya Yori membalasnya
dengan senyuman yang tulus, dalam senyuman itu seakan dibubuhi dengan perasaan
sayang. Tergambar dengan sangat jelas. Izaka juga masih ingat betul bahwa
Nyonya Yori diberi kepercayaan oleh orang tua kandungnya untuk memegang kunci
duplikat rumahnya.
“Hanya
saja keberadaan kunci itu belum bisa ku ingat.” kata Nyonya Yori sedikit sedih.
“Tapi kau bisa tinggalkan
nomor ponselmu. Setelah kunci itu ketemu aku akan langsung menghubungimu.”
Nyonya Yori menambahi.
“Ehm..” balas Izaka begitu
sederhana dan singkat.
Mereka
kembali meneguk teh di kepungan telapak tangan mereka masing-masing selagi
masih hangat. Uap panas masih menari-nari diatas cangkir, jadi tentu minuman
itu masih dalam keadaan hangat.
***
Aiko
terlihat sedang menanti-nanti kedatangan seseorang di salah satu Drinks Shop.
Orang yang membuat janji dengannya malah terlambat, hal itu membuatnya kesal.
Jika orang yang membuat janji dengannya bukan seseorang yang harus
dihormatinya, Ia bisa memaki habis orang itu.
Ia hanya bisa menelan ludah sambil mengelus
dada agar tidak keceplosan nantinya.
“Sudah lama?” ucap
seseorang kepadanya. Ia hanya mengangguk.
“Ada perlu apa Sensei
memintaku kemari?” tanya Aiko. Pak Haru tidak langsung menjawab, Ia hanya
tersenyum kecil.
“Mulai minggu depan aku
tidak akan mengajar lagi, karena aku akan melanjutkan S2-ku. Aku hanya ingin
memintamu untuk menjadi pembina anak-anak kelas sepuluh yang ikut olimpiade
saat belum ada penggantiku.” jelas Pak Haru. Aiko menggigit bibirnya, Ia rasa
untuk hal seperti itu Pak Haru tak harus menemuinya secara langsung.
“Tapi bukankah Sensei bisa
memintaku lewat telepon?” tanya Aiko kemudian. Pak Haru sedikit salah tingkah.
Kini, nada bicaranya terkesan seperti orang gagu.
“Ak-aku... ingin
memintanya secara langsung, agar lebih resmi saja.” jawabnya. Akhirnya, Aiko
setuju saja dengan permintaan Pak Haru. Lagi pula itu pekerjaan mulia.
***