
Selalu sama, hari ini
hidupnya juga dimulai dengan warna abu-abunya. Ia hanya menghabiskan waktu
luangnya dengan membaca buku pelajaran di mejanya yang berada di pojok paling
belakang. Beginilah dirinya. Anehnya, sikapnya selama ini tak membuat Jugo berhenti
mendekatinya. Jika sudah melihatnya, Jugo akan langsung berusaha menarik
perhatiannya.
“おはよう ございます Ohayou gozaimasu! (Selamat pagi!), Aiko-chan.” sapa Jugo
dengan wajah cerah. Sangat berbinar-binar.
“おはようOhayou (Selamat pagi),” balas Aiko dengan sangat datar. Lalu Jugo menyodorkan sebuah cokelat yang berbentuk persegi panjang. Di bagian tengahnya dilingkari pita yang berwarna merah muda.“Aku punya cokelat
untukmu. Aiko-chan.” ucap Jugo, cokelat itu sudah ada di atas meja Aiko. Aiko
melirik sekilas.
“Kau ingin melihatku
gemuk?” tanya Aiko dengan nada tak suka, lalu diambilnya cokelat itu dan
dilemparkan ke arah Jugo.
“Aku tidak mau.” lanjut
Aiko terdengar kejam. Ia sudah berusaha menolak dengan kasar, namun tak cukup
membuat Jugo menyerah. Jugo selalu berusaha terus, itu sungguh mengganggunya.
Jugo tak pernah merasa
sakit hati dengan perkataan-perkataannya yang seperti paku. Jugo sudah terbiasa
dengan perlakuannya. Sesaat kemudian, dari sudut mata kanannya terlihat tangan
seorang laki-laki yang menyodorkan sebuah makanan ringan yang menjadi
kelemahannya. Ia akan tunduk begitu saja bila ada yang menawarinya makanan itu.
“Ini. Kau pasti suka.”
ucapnya penuh percaya diri. Jugo jadi ingin sekali memukul siswa itu, Izaka.
Jugo sudah sangat geram. Tak sabar ingin memukulnya, namun Ia harus menahan
dirinya karena tak mau membuat Aiko terganggu dengan ulahnya.
Aiko makanan ringan di
tangan lelaki itu. Pelan-pelan sekali Ia membuka segel pada bungkus Potato
Chips yang kini ada ditangannya. Ia hanya mengucapkan terima kasih dengan nada
yang biasa saja. Selama ini, Aiko belum pernah menerima makanan dari siapa pun
selama SMA. Itu karena seluruh teman-temannya tidak tahu kelemahannya. Aiko
jadi sadar akan sesuatu. Setahunya, yang paham benar akan kelemahannya itu
hanya Yoshio Izaka. Sedangkan Aihara Izaka tak mungkin tahu itu secara
kebetulan.
“Aihara Izaka,” katanya.
Izaka sudah menoleh ke arahnya. Sementara Jugo mengumpat siswa baru itu tanpa
suara.
“Dari mana kau tahu
makanan kesukaanku?” tanya Aiko hati-hati. Lelaki itu langsung tersenyum puas
kepadanya. Aiko jadi ingin sekali memalingkan mukanya.
“Aku rasa itu hanya.. kebetulan,” jawabnya kemudian pergi membuat
rasa bingung membekas di kepala Aiko.
Izaka keluar dari kelas,
menuju lapangan basket bergabung dengan permainan yang sudah berlangsung, Ia
baru satu hari disini namun sudah banyak digandrungi. Penggemarnya lumayan
banyak. Karena sikap ramah tamahnya pasti.
Lelaki itu sudah
memutuskan akan ikut klub basket, dan tidak perlu di tebak lagi Ia akan menjadi
bintang dengan banyak penggemar. Tetapi entah kenapa Izaka selalu berpikir
kalau penggemar-penggemarnya tak ada yang setia dan tulus kepadanya. Ia selalu
yakin akan hal itu. Semua penggemarnya pasti punya maksud khusus kepadanya.
***
Berisik. Suara orang-orang
yang sedang arisan mengganggu konsentrasinya. Ia harus mengusap dahinya
berulang karena pendingin di kamarnya rusak. Selain itu, jika Ia belajar mapel
kimia produksi keringatnya bisa berlebih. Ini bukan pertama kali rumahnya
kebagian jatah sebagai tempat arisan, setidaknya selama tiga tahun terakhir
sudah sekitar dua belas kali. Ia harus membiasakan dirinya. Ia bukannya tidak
suka bila ibunya mengikuti itu, hanya saja itu sangat mengganggunya. Apalagi
kalau esok harinya ada ulangan. Hatinya semakin resah dan khawatir akan
nasibnya besok.
“Oh ya. Ngomong-ngomong
bagaimana peringkat Aiko di kenaikan kelasnya? Bagus Echiro-san?” tanya salah
seorang ibu-ibu yang berpenampilan paling glamour.
Di pergelangan tangannya
bergelantungan gelang-gelang berwarna kekuningan yang bersinar, bahkan
bertatahkan permata.
“Oh Aiko.. Dia selalu
masuk sepuluh besar paralel.” Bu Echiro menanggapi, ucapannya tak kalah dengan
siapapun.
Ibunya selalu demikian,
selalu menyombongkan dirinya. Padahal ibunya sering kali tak tahu apa-apa
tentang dirinya. Ia tidak suka jika ibunya mengatakan itu, seharusnya ibunya
harus lebih merendah.
“Oh ya. Higawa-san.
Bagaimana dengan anak ibu?” tanya Nyonya Echiro dengan kesan menyindir, hanya
saja sindiran itu terkesan lebih manis.
Ibu-ibu yang lain langsung
memusatkan perhatiannya kepada Nyonya Higawa, Nyonya Higawa jadi sedikit kikuk
diperhatikan oleh orang banyak.
“Ooh.. Zei? Tentu semakin
baik, malahan dia mendapat perhatian lebih dari guru-guru di sekolah.” kata
Nyonya Higawa.
percaya diri agar tidak ada yang berpikiran jelek tentang putrinya. Anaknya
memang tak secerdas Aiko, Nyonya Higawa hanya bisa melihat Zei berubah cerdas
dalam mimpinya.
“Sayang sekali mereka
tidak satu kelas,” ucap Nyonya Echiro yang kemudian meneguk teh dari cangkir
yang dipegangnya, Ia merasa tak puas dengan jawaban perempuan itu.
Dalam bidang apapun Nyonya
Echiro tidak ingin kalah dengan yang lain. Selalu ingin unggul, bahkan Ia
pernah menggunakan uang yang seharusnya untuk membeli persediaan makanan untuk
membeli beberapa perhiasan. Ia sendiri juga ingin tampil glamour. Akibatnya
setiap kali makan hanya ada nasi putih dan telur dadar.
Suaminya sering mengeluh
karena uang yang diberikan tidak digunakan untuk menyajikan makanan yang enak
dan bergizi untuk keluarga. Namun suaminya hanya pasrah, cintanya terlalu besar
untuk Nyonya Echiro.
Ah, mereka semua semakin
berisik saja. Tak ada hal penting yang mereka bicarakan, setiap kali mengadakan
arisan hanya sibuk mengoceh tentang omong kosong. Ia sangat kesal. Aiko tak
ingin dirinya menjadi bahan untuk dipamerkan. Tetapi ibunya masih saja
meninggikannya di hadapan teman-teman arisannya.
Aiko menyampar bukunya
yang ada di meja. Ia sengaja melakukannya, setelah itu Ia melemparkan tubuhnya ke
atas kasur. Sesaat kemudian Ia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Ia
sudah mengganti lampu belajar dengan lampu tidur. Walau hari itu masih pukul 8
kurang dua puluh menit dia lebih memilih tidur. Hanya dengan tidur telinganya
bisa kehilangan fungsi. Ia sudah muak mendengar semua omong kosong itu.
***
Disudut kelas hanya
tinggal ada Aiko dan Izaka yang sedang menyusun data diri siswa. Sekretarisnya
sangat sibuk dengan kegiatan ekskulnya sehingga mereka yang harus mengerjakan
itu. Sejujurnya Aiko tidak ingin mengerjakan tugas itu tetapi Izaka sudah
memaksanya. Ia tahu kalau Ia adalah bawahan lelaki itu. Dia harus melakukan itu
dengan sangat terpaksa.
Lelaki
itu sama sekali tidak melakukan apa-apa. Hanya bisa menyuruh. Ia yang
mengerjakan semuanya. Izaka ternyata memang ketua kelas yang tidak bertanggung
jawab, Aiko hanya bisa manyun. Mungkin memang benar bila Izaka mencalonkan diri
menjadi ketua kelas hanya untuk menaikkan popularitasnya.
Aiko
sudah lelah menggerakkan tangannya di atas papan ketik laptop, sementara Izaka
malah enak-enakan memasang earphone ditelinga sambil mengotak-atik ponselnya.
Huh, jangan-jangan Izaka sengaja memilihnya untuk memanfaatkannya dengan sesuka
hati. Aiko mulai berpikiran negatif.
Akhirnya,
Aiko meninggalkan jemarinya di papan ketik laptop itu dengan kasar. Meskipun
demikian Izaka masih tak berkutik. Aiko sampai harus melepas earphone di
telinga lelaki itu, dan Izaka hanya mengernyitkan dahinya.
“Apa ada masalah?”
tanyanya tanpa dosa. Aiko sudah memanas. Ia tak bisa menahan amarahnya lagi.
Ingin sekali Ia mencakar wajah Izaka yang rupawan.
“Masalahnya di mana otakmu? Kenapa aku yang melakukan
semua pekerjaan ini?” ucap Aiko dengan nada tinggi. Izaka tak menggubrisnya.
“Heyy.. Kau jangan
menjadikan jabatan sebagai jalan untuk meningkatkan popularitas.” tambah Aiko
kesal.
Dia yang dingin sudah
hampir tak terlihat, biasanya dia bisa mengatasi masalah hanya dengan satu
kalimat. Kali ini tidak, dia sampai harus bertele-tele. Padahal dulu satu
kalimat saja sudah bisa mengakhirinya. Lelaki itu sudah membuatnya terlihat
berbeda. Ia jadi tak bisa bersikap seperti biasanya.
“Memohonlah kepadaku.”
kata Izaka singkat. Terdengar sangat egois.
“Memohonlah agar aku
membantumu. Itu saja.” tambahnya. Izaka sudah lepas dari ponselnya. Bertingkah
seperti seorang pahlawan yang akan menolong tidak secara cuma-cuma.
“Hah?” refleks Aiko. “Itu
takkan pernah terjadi, disini kau ketua kelasnya.” katanya lagi.
“Baiklah,” jawab Izaka
singkat. Lalu lelaki itu memutar laptop yang ada dihadapan Aiko. Gadis itu tak
mengerti, Izaka orang sangat membingungkan.
“Apa yang akan kau
lakukan?” Aiko bersikap waspada. Tetapi lelaki itu terlihat santai dan
sepertinya tak ada niat buruk. Wajahnya begitu damai. Berubah tulus, seakan
ucapannya tadi tak pernah keluar dari bibirnya.
“Tentu saja
menggantikanmu. Kau tidak mau?” seru Izaka tiba-tiba. Dia sudah mulai mengetik.
Aiko memandangi Izaka sesaat. Dan mempercayai apa yang telah dikatakan oleh
lelaki itu.
Lelah sekali rasanya.
Gadis itu juga sangat mengantuk. Jadi, Ia langsung saja merebahkan kepalanya di
meja dengan kedua tangannya sebagai bantal.
***