Remember Again

Remember Again
2


Selalu sama, hari ini


hidupnya juga dimulai dengan warna abu-abunya. Ia hanya menghabiskan waktu


luangnya dengan membaca buku pelajaran di mejanya yang berada di pojok paling


belakang. Beginilah dirinya. Anehnya, sikapnya selama ini tak membuat Jugo berhenti


mendekatinya. Jika sudah melihatnya, Jugo akan langsung berusaha menarik


perhatiannya.


         “おはよう ございます Ohayou gozaimasu! (Selamat pagi!), Aiko-chan.” sapa Jugo


dengan wajah cerah. Sangat berbinar-binar.


                        “おはようOhayou (Selamat pagi),” balas Aiko dengan sangat datar. Lalu Jugo menyodorkan sebuah cokelat yang berbentuk persegi panjang. Di bagian tengahnya dilingkari pita yang berwarna merah muda.“Aku punya cokelat


untukmu. Aiko-chan.” ucap Jugo, cokelat itu sudah ada di atas meja Aiko. Aiko


melirik sekilas.


“Kau ingin melihatku


gemuk?” tanya Aiko dengan nada tak suka, lalu diambilnya cokelat itu dan


dilemparkan ke arah Jugo.


“Aku tidak mau.” lanjut


Aiko terdengar kejam. Ia sudah berusaha menolak dengan kasar, namun tak cukup


membuat Jugo menyerah. Jugo selalu berusaha terus, itu sungguh mengganggunya.


Jugo tak pernah merasa


sakit hati dengan perkataan-perkataannya yang seperti paku. Jugo sudah terbiasa


dengan perlakuannya. Sesaat kemudian, dari sudut mata kanannya terlihat tangan


seorang laki-laki yang menyodorkan sebuah makanan ringan yang menjadi


kelemahannya. Ia akan tunduk begitu saja bila ada yang menawarinya makanan itu.


“Ini. Kau pasti suka.”


ucapnya penuh percaya diri. Jugo jadi ingin sekali memukul siswa itu, Izaka.


Jugo sudah sangat geram. Tak sabar ingin memukulnya, namun Ia harus menahan


dirinya karena tak mau membuat Aiko terganggu dengan ulahnya.


Aiko makanan ringan di


tangan lelaki itu. Pelan-pelan sekali Ia membuka segel pada bungkus Potato


Chips yang kini ada ditangannya. Ia hanya mengucapkan terima kasih dengan nada


yang biasa saja. Selama ini, Aiko belum pernah menerima makanan dari siapa pun


selama SMA. Itu karena seluruh teman-temannya tidak tahu kelemahannya. Aiko


jadi sadar akan sesuatu. Setahunya, yang paham benar akan kelemahannya itu


hanya Yoshio Izaka. Sedangkan Aihara Izaka tak mungkin tahu itu secara


kebetulan.


“Aihara Izaka,” katanya.


Izaka sudah menoleh ke arahnya. Sementara Jugo mengumpat siswa baru itu tanpa


suara.


“Dari mana kau tahu


makanan kesukaanku?” tanya Aiko hati-hati. Lelaki itu langsung tersenyum puas


kepadanya. Aiko jadi ingin sekali memalingkan mukanya.


“Aku rasa itu hanya..  kebetulan,” jawabnya kemudian pergi membuat


rasa bingung membekas di kepala Aiko.


Izaka keluar dari kelas,


menuju lapangan basket bergabung dengan permainan yang sudah berlangsung, Ia


baru satu hari disini namun sudah banyak digandrungi. Penggemarnya lumayan


banyak. Karena sikap ramah tamahnya pasti.


Lelaki itu sudah


memutuskan akan ikut klub basket, dan tidak perlu di tebak lagi Ia akan menjadi


bintang dengan banyak penggemar. Tetapi entah kenapa Izaka selalu berpikir


kalau penggemar-penggemarnya tak ada yang setia dan tulus kepadanya. Ia selalu


yakin akan hal itu. Semua penggemarnya pasti punya maksud khusus kepadanya.


***


Berisik. Suara orang-orang


yang sedang arisan mengganggu konsentrasinya. Ia harus mengusap dahinya


berulang karena pendingin di kamarnya rusak. Selain itu, jika Ia belajar mapel


kimia produksi keringatnya bisa berlebih. Ini bukan pertama kali rumahnya


kebagian jatah sebagai tempat arisan, setidaknya selama tiga tahun terakhir


sudah sekitar dua belas kali. Ia harus membiasakan dirinya. Ia bukannya tidak


suka bila ibunya mengikuti itu, hanya saja itu sangat mengganggunya. Apalagi


kalau esok harinya ada ulangan. Hatinya semakin resah dan khawatir akan


nasibnya besok.


“Oh ya. Ngomong-ngomong


bagaimana peringkat Aiko di kenaikan kelasnya? Bagus Echiro-san?” tanya salah


seorang ibu-ibu yang berpenampilan paling glamour.


Di pergelangan tangannya


bergelantungan gelang-gelang berwarna kekuningan yang bersinar, bahkan


bertatahkan permata.


“Oh Aiko.. Dia selalu


masuk sepuluh besar paralel.” Bu Echiro menanggapi, ucapannya tak kalah dengan


siapapun.


Ibunya selalu demikian,


selalu menyombongkan dirinya. Padahal ibunya sering kali tak tahu apa-apa


tentang dirinya. Ia tidak suka jika ibunya mengatakan itu, seharusnya ibunya


harus lebih merendah.


“Oh ya. Higawa-san.


Bagaimana dengan anak ibu?” tanya Nyonya Echiro dengan kesan menyindir, hanya


saja sindiran itu terkesan lebih manis.


Ibu-ibu yang lain langsung


memusatkan perhatiannya kepada Nyonya Higawa, Nyonya Higawa jadi sedikit kikuk


diperhatikan oleh orang banyak.


“Ooh.. Zei? Tentu semakin


baik, malahan dia mendapat perhatian lebih dari guru-guru di sekolah.” kata


Nyonya Higawa.


percaya diri agar tidak ada yang berpikiran jelek tentang putrinya. Anaknya


memang tak secerdas Aiko, Nyonya Higawa hanya bisa melihat Zei berubah cerdas


dalam mimpinya.


“Sayang sekali mereka


tidak satu kelas,” ucap Nyonya Echiro yang kemudian meneguk teh dari cangkir


yang dipegangnya, Ia merasa tak puas dengan jawaban perempuan itu.


Dalam bidang apapun Nyonya


Echiro tidak ingin kalah dengan yang lain. Selalu ingin unggul, bahkan Ia


pernah menggunakan uang yang seharusnya untuk membeli persediaan makanan untuk


membeli beberapa perhiasan. Ia sendiri juga ingin tampil glamour. Akibatnya


setiap kali makan hanya ada nasi putih dan telur dadar.


Suaminya sering mengeluh


karena uang yang diberikan tidak digunakan untuk menyajikan makanan yang enak


dan bergizi untuk keluarga. Namun suaminya hanya pasrah, cintanya terlalu besar


untuk Nyonya Echiro.


Ah, mereka semua semakin


berisik saja. Tak ada hal penting yang mereka bicarakan, setiap kali mengadakan


arisan hanya sibuk mengoceh tentang omong kosong. Ia sangat kesal. Aiko tak


ingin dirinya menjadi bahan untuk dipamerkan. Tetapi ibunya masih saja


meninggikannya di hadapan teman-teman arisannya.


Aiko menyampar bukunya


yang ada di meja. Ia sengaja melakukannya, setelah itu Ia melemparkan tubuhnya ke


atas kasur. Sesaat kemudian Ia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Ia


sudah mengganti lampu belajar dengan lampu tidur. Walau hari itu masih pukul 8


kurang dua puluh menit dia lebih memilih tidur. Hanya dengan tidur telinganya


bisa kehilangan fungsi. Ia sudah muak mendengar semua omong kosong itu.


***


Disudut kelas hanya


tinggal ada Aiko dan Izaka yang sedang menyusun data diri siswa. Sekretarisnya


sangat sibuk dengan kegiatan ekskulnya sehingga mereka yang harus mengerjakan


itu. Sejujurnya Aiko tidak ingin mengerjakan tugas itu tetapi Izaka sudah


memaksanya. Ia tahu kalau Ia adalah bawahan lelaki itu. Dia harus melakukan itu


dengan sangat terpaksa.


         Lelaki


itu sama sekali tidak melakukan apa-apa. Hanya bisa menyuruh. Ia yang


mengerjakan semuanya. Izaka ternyata memang ketua kelas yang tidak bertanggung


jawab, Aiko hanya bisa manyun. Mungkin memang benar bila Izaka mencalonkan diri


menjadi ketua kelas hanya untuk menaikkan popularitasnya.


         Aiko


sudah lelah menggerakkan tangannya di atas papan ketik laptop, sementara Izaka


malah enak-enakan memasang earphone ditelinga sambil mengotak-atik ponselnya.


Huh, jangan-jangan Izaka sengaja memilihnya untuk memanfaatkannya dengan sesuka


hati. Aiko mulai berpikiran negatif.


         Akhirnya,


Aiko meninggalkan jemarinya di papan ketik laptop itu dengan kasar. Meskipun


demikian Izaka masih tak berkutik. Aiko sampai harus melepas earphone di


telinga lelaki itu, dan Izaka hanya mengernyitkan dahinya.


“Apa ada masalah?”


tanyanya tanpa dosa. Aiko sudah memanas. Ia tak bisa menahan amarahnya lagi.


Ingin sekali Ia mencakar wajah Izaka yang rupawan.


“Masalahnya di mana otakmu? Kenapa aku yang melakukan


semua pekerjaan ini?” ucap Aiko dengan nada tinggi. Izaka tak menggubrisnya.


“Heyy.. Kau jangan


menjadikan jabatan sebagai jalan untuk meningkatkan popularitas.” tambah Aiko


kesal.


Dia yang dingin sudah


hampir tak terlihat, biasanya dia bisa mengatasi masalah hanya dengan satu


kalimat. Kali ini tidak, dia sampai harus bertele-tele. Padahal dulu satu


kalimat saja sudah bisa mengakhirinya. Lelaki itu sudah membuatnya terlihat


berbeda. Ia jadi tak bisa bersikap seperti biasanya.


“Memohonlah kepadaku.”


kata Izaka singkat. Terdengar sangat egois.


“Memohonlah agar aku


membantumu. Itu saja.” tambahnya. Izaka sudah lepas dari ponselnya. Bertingkah


seperti seorang pahlawan yang akan menolong tidak secara cuma-cuma.


“Hah?” refleks Aiko. “Itu


takkan pernah terjadi, disini kau ketua kelasnya.” katanya lagi.


“Baiklah,” jawab Izaka


singkat. Lalu lelaki itu memutar laptop yang ada dihadapan Aiko. Gadis itu tak


mengerti, Izaka orang sangat membingungkan.


“Apa yang akan kau


lakukan?” Aiko bersikap waspada. Tetapi lelaki itu terlihat santai dan


sepertinya tak ada niat buruk. Wajahnya begitu damai. Berubah tulus, seakan


ucapannya tadi tak pernah keluar dari bibirnya.


“Tentu saja


menggantikanmu. Kau tidak mau?” seru Izaka tiba-tiba. Dia sudah mulai mengetik.


Aiko memandangi Izaka sesaat. Dan mempercayai apa yang telah dikatakan oleh


lelaki itu.


Lelah sekali rasanya.


Gadis itu juga sangat mengantuk. Jadi, Ia langsung saja merebahkan kepalanya di


meja dengan kedua tangannya sebagai bantal.


***