Remember Again

Remember Again
12


         Semua


pelajaran di hari ini telah usai, namun tak berlaku bagi seseorang yang sedang


ada jadwal ekskul di hari ini. Mereka masih harus mengikuti pelajaran dalam


ekskulnya, meskipun tak semua ekskul mengedepankan aktivitas berpikir. Aiko


tidak tergabung dalam klub ekskul satu pun, jadi Ia bisa pulang lebih awal


daripada yang lain.


         Kali


ini Ia tidak akan pulang sendirian. Ia sekarang lebih sering pulang bersama


dengan Zei, semenjak Ia bersedia membantu Zei Ia menjadi lebih dekat dengannya.


         “Aiko,


ada yang ingin ku tanyakan padamu. Ini sedikit pribadi.” kata Zei kemudian.


         “Tanyakan


saja.” sahutnya.


         “Apa,


ada seseorang yang sedang kau sukai?” tanya Zei, Aiko terdiam sebentar.


         Orang


yang disukainya, apakah ada? Setahunya orang yang disukainya sudah lama pergi.


Tapi, mungkinkah Ia akan menyukai lelaki itu... pikiran Aiko melayang kepada


sosok Aihara Izaka. Entah kenapa, tiba-tiba Ia bisa memikirkan lelaki itu.


         “Tentu


ada. Hanya saja aku tak bisa melihat dan mendengar orang yang ku sukai untuk


saat ini, kau pun juga demikian.” jelas Aiko.


         Sejak


tadi Zei berusaha sekuat mungkin untuk tidak menangis, matanya sampai perih dan


terlihat memerah.


         “Apa


orang itu juga satu sekolah dengan kita?” tanya Zei lagi.


         “Aku


tidak tahu. Dia sudah menjadi orang yang berbeda. Kau kenapa bertanya seperti


itu?”


         Aiko


sendiri merasa bingung, karena dirinya masih memandang Aihara Izaka sebagai


sosok Yoshio Izaka.


         “Siapa


orang itu?” tanya Zei dan air mata pun pecah dari sudut matanya.


         “Aku


tidak bisa mengatakannya. Aku takut jika orang yang ku sukai orang yang


berbeda.” jawab Aiko, Ia berusaha mendekati Zei dan menyentuh pundaknya. Ia tak


tahan dengan raut wajah Zei yang tampak menderita. Tetapi, karena apa? Ia tak


mengerti.


         “Apanya


yang berbeda? Alasanmu sangat tidak masuk akal!! Meski kau tak mengatakan


apapun, orang lain masih bisa terluka.” Zei menyudahi ucapannya.


         Gadis


itu langsung berlari dan membuka pagar rumahnya, Ia masuk ke dalam rumah dan


langung menuju ke kamar. Hanya di kamarnya Ia bisa menangis, meskipun Ia saat


itu malu mengakui kalau dirinya menangis.


         Aiko


masih tak bisa memahami sikap Zei kepadanya. Akhirnya, Ia bersigegas masuk ke


rumah. Lalu, membuka sepatu dan meletakkannya segera di rak. Apa Zei menangis


karenanya? Ia tidak pernah punya keinginan untuk menyakitinya. Dan Ia sendiri


juga tidak tahu apa kesalahannya. Aiko merasa sangat bersalah. Melihat keadaan


Zei membuatnya tidak bisa tenang. Mungkinkah Ia telah mengatakan sesuatu yang


menyakitinya?


         Bisa


dekat dengan Zei mungkin sesuatu yang dari awal memang sudah salah, Ia hanya


jago menyakiti orang lain. Gadis itu hanya mengucapkan kata maaf berulang.


Sampai akhirnya Ia tertidur di kamarnya.


***


         Musim


panas akan segera dimulai. Sebagai salah satu pengurus kelas di kelas 1-B, Aiko


sangat aktif dalam mengikuti rapat. Saat rapat sudah selesai mereka semua


keluar dengan diikuti rasa kantuk. Aiko memukul dahinya pelan, Ia sendiri juga


mengaduh kesakitan. Itu salahnya sendiri karena memukul dahinya. Sebenarnya


menurutnya, ini masih terlalu dini untuk ikut organisasi kepengurusan kelas


namun ini semua terjadi juga bukan karena kemauannya. Ini semua terjadi karena


usulan konyol teman-teman sekelasnya. Mereka semua mengusulkan agar yang


menjadi perwakilan di kelasnya Ia dan Izaka. Ia sudah menolak mati-matian, tetap


saja Ia kalah suara. Nama mereka berdua sudah terlanjur dicantumkan.


         Pensil


kalau Ia akan mengambilnya dahulu. Dengan langkah cepat Aiko sudah berada di


ruang dan menggenggam pensil mekaniknya. Saat Aiko membalikkan tubuhnya Ia


telah dicegat oleh seseorang. Ia tidak kenal dengan siswa perempuan itu, Ia


hanya tahu bahwa mereka berada di tingkatan yang sama. Sama-sama murid kelas


tujuh.


         “Kau..


menyukai Izaka?” tanyanya tanpa basa-basi.


         “Tidak.


Mana mungkin aku menyukainya.” tegas Aiko. Meskipun dalam suaranya terdengar


ragu-ragu.


         “Tapi


kau selalu bersamanya. Jadi, mana mungkin kau tak menyukainya!” tambah Nana.


Gadis itu melotot.


         “Kenapa


aku harus percaya kata-katamu?” ulang Nana sambil mencengkram lengan Aiko


dengan kasar. Aiko menyadari kalau gadis itu tak menyukainya. Gadis itu


menatapnya tajam, dengan bola mata yang terlihat semakin membesar.


         “Karena


dia bukan tipeku,” jawabnya dengan lantang. Ditepisnya tangan gadis itu dan Ia


langsung berusaha menemukan jalan untuk keluar dari ruangan. Tetapi rupanya,


Izaka berada di balik pintu ruangan itu.


Mendadak Aiko terkejut.


Oh  tidak. Izaka pasti sudah mendengar


ucapannya. Izaka hanya diam dan menatapnya. Sesaat kemudian kediaman Izaka


berhenti. Jika memang Izaka mendengarnya, sepertinya itu tak menjadi masalah


untuknya. Sikap Izaka tak ada yang berubah, lelaki itu bisa bersikap seperti


biasanya. Tadinya Aiko merasa bersalah, karena mungkin kata-katanya yang kasar


telah menyakiti Izaka. Padahal apa yang dikatakannya tidak sesuai dengan apa


yang dirasakannya. Jauh berbeda.


Aiko masih menundukkan


kepalanya. Gadis itu benar-benar kacau. Izaka yang berjalan satu langkah di


depannya mengusap keringat yang sudah membanjiri wajahnya. Hari ini pasti


sangat melelahkan untuknya.


         “Dasar!


Kau melupakan pensilmu sendiri, bisa-bisa kau juga akan melupakanku. Kau memang


Ratu Payah.” seru Izaka dengan langkah yang masih konstan.


         “Aku


tahu.” jawab Aiko datar.


         “Kau


tidak marah ku katai Ratu Payah?” suara Izaka terdengar meninggi, tetapi tidak


bermaksud untuk marah.


         Aiko


jadi merasa malu, padahal kata-katanya lebih menyakitkan, namun Izaka malah


mengkhawatirkan apa yang telah dikatakannya. Padahal Aiko merasa sama sekali


tak memikirkan ucapan Izaka tadi.


         “Aku


tak akan bisa melupakanmu, tapi karena kau akan pergi aku jadi tidak tahu.” kata


Aiko yakin.


         “ごめん なさ いGomen nasai (Maafkan aku),” kata Izaka kemudian. Aiko pun melihat ke arah Izaka


dengan serius. Ia menatap Izaka sedih. Sejujurnya Ia memang tidak ingin Izaka


jauh-jauh darinya.


         “Bagaimanapun


juga aku harus ikut orang tuaku ke Tokyo. Bagaimana ya.. Aku pasti akan


merindukanmu.” rasanya Aiko ingin menangis setelah mendengar langsung dari


mulut Izaka tentang kepastiannya pindah ke Tokyo.


         “Besok.


Kau akan  mengantarku ke stasiun kan?”


tanya Izaka. Mengantarnya pergi? Apa Ia mampu melakukan itu?


         “知らない Shiranai. (Aku tidak tahu).” ucap Aiko menyudahi


pembicaran di sekitar koridor itu.


Aiko pun mengangkat


kakinya panjang dan berjalan mendahului Izaka. Ia sangat kesal kepada Izaka,


tapi sepertinya tidak hanya perasaan kesal. Ia juga marah kepadanya, Ia takut


ditinggalkan Izaka. Ia sangat ketakutan, seperti itulah suasana hatinya. Jika


Izaka pergi, Ia akan bersama siapa? Hanya Izaka yang menjadi temannya selama


ini. Mulai semester depan Ia akan menjalani kehidupannya di sekolah sendirian.


Baru satu tahun Ia berkesempatan mengenal Izaka, itu tidak cukup untuknya.


***