
Semua
pelajaran di hari ini telah usai, namun tak berlaku bagi seseorang yang sedang
ada jadwal ekskul di hari ini. Mereka masih harus mengikuti pelajaran dalam
ekskulnya, meskipun tak semua ekskul mengedepankan aktivitas berpikir. Aiko
tidak tergabung dalam klub ekskul satu pun, jadi Ia bisa pulang lebih awal
daripada yang lain.
Kali
ini Ia tidak akan pulang sendirian. Ia sekarang lebih sering pulang bersama
dengan Zei, semenjak Ia bersedia membantu Zei Ia menjadi lebih dekat dengannya.
“Aiko,
ada yang ingin ku tanyakan padamu. Ini sedikit pribadi.” kata Zei kemudian.
“Tanyakan
saja.” sahutnya.
“Apa,
ada seseorang yang sedang kau sukai?” tanya Zei, Aiko terdiam sebentar.
Orang
yang disukainya, apakah ada? Setahunya orang yang disukainya sudah lama pergi.
Tapi, mungkinkah Ia akan menyukai lelaki itu... pikiran Aiko melayang kepada
sosok Aihara Izaka. Entah kenapa, tiba-tiba Ia bisa memikirkan lelaki itu.
“Tentu
ada. Hanya saja aku tak bisa melihat dan mendengar orang yang ku sukai untuk
saat ini, kau pun juga demikian.” jelas Aiko.
Sejak
tadi Zei berusaha sekuat mungkin untuk tidak menangis, matanya sampai perih dan
terlihat memerah.
“Apa
orang itu juga satu sekolah dengan kita?” tanya Zei lagi.
“Aku
tidak tahu. Dia sudah menjadi orang yang berbeda. Kau kenapa bertanya seperti
itu?”
Aiko
sendiri merasa bingung, karena dirinya masih memandang Aihara Izaka sebagai
sosok Yoshio Izaka.
“Siapa
orang itu?” tanya Zei dan air mata pun pecah dari sudut matanya.
“Aku
tidak bisa mengatakannya. Aku takut jika orang yang ku sukai orang yang
berbeda.” jawab Aiko, Ia berusaha mendekati Zei dan menyentuh pundaknya. Ia tak
tahan dengan raut wajah Zei yang tampak menderita. Tetapi, karena apa? Ia tak
mengerti.
“Apanya
yang berbeda? Alasanmu sangat tidak masuk akal!! Meski kau tak mengatakan
apapun, orang lain masih bisa terluka.” Zei menyudahi ucapannya.
Gadis
itu langsung berlari dan membuka pagar rumahnya, Ia masuk ke dalam rumah dan
langung menuju ke kamar. Hanya di kamarnya Ia bisa menangis, meskipun Ia saat
itu malu mengakui kalau dirinya menangis.
Aiko
masih tak bisa memahami sikap Zei kepadanya. Akhirnya, Ia bersigegas masuk ke
rumah. Lalu, membuka sepatu dan meletakkannya segera di rak. Apa Zei menangis
karenanya? Ia tidak pernah punya keinginan untuk menyakitinya. Dan Ia sendiri
juga tidak tahu apa kesalahannya. Aiko merasa sangat bersalah. Melihat keadaan
Zei membuatnya tidak bisa tenang. Mungkinkah Ia telah mengatakan sesuatu yang
menyakitinya?
Bisa
dekat dengan Zei mungkin sesuatu yang dari awal memang sudah salah, Ia hanya
jago menyakiti orang lain. Gadis itu hanya mengucapkan kata maaf berulang.
Sampai akhirnya Ia tertidur di kamarnya.
***
Musim
panas akan segera dimulai. Sebagai salah satu pengurus kelas di kelas 1-B, Aiko
sangat aktif dalam mengikuti rapat. Saat rapat sudah selesai mereka semua
keluar dengan diikuti rasa kantuk. Aiko memukul dahinya pelan, Ia sendiri juga
mengaduh kesakitan. Itu salahnya sendiri karena memukul dahinya. Sebenarnya
menurutnya, ini masih terlalu dini untuk ikut organisasi kepengurusan kelas
namun ini semua terjadi juga bukan karena kemauannya. Ini semua terjadi karena
usulan konyol teman-teman sekelasnya. Mereka semua mengusulkan agar yang
menjadi perwakilan di kelasnya Ia dan Izaka. Ia sudah menolak mati-matian, tetap
saja Ia kalah suara. Nama mereka berdua sudah terlanjur dicantumkan.
Pensil
kalau Ia akan mengambilnya dahulu. Dengan langkah cepat Aiko sudah berada di
ruang dan menggenggam pensil mekaniknya. Saat Aiko membalikkan tubuhnya Ia
telah dicegat oleh seseorang. Ia tidak kenal dengan siswa perempuan itu, Ia
hanya tahu bahwa mereka berada di tingkatan yang sama. Sama-sama murid kelas
tujuh.
“Kau..
menyukai Izaka?” tanyanya tanpa basa-basi.
“Tidak.
Mana mungkin aku menyukainya.” tegas Aiko. Meskipun dalam suaranya terdengar
ragu-ragu.
“Tapi
kau selalu bersamanya. Jadi, mana mungkin kau tak menyukainya!” tambah Nana.
Gadis itu melotot.
“Kenapa
aku harus percaya kata-katamu?” ulang Nana sambil mencengkram lengan Aiko
dengan kasar. Aiko menyadari kalau gadis itu tak menyukainya. Gadis itu
menatapnya tajam, dengan bola mata yang terlihat semakin membesar.
“Karena
dia bukan tipeku,” jawabnya dengan lantang. Ditepisnya tangan gadis itu dan Ia
langsung berusaha menemukan jalan untuk keluar dari ruangan. Tetapi rupanya,
Izaka berada di balik pintu ruangan itu.
Mendadak Aiko terkejut.
Oh tidak. Izaka pasti sudah mendengar
ucapannya. Izaka hanya diam dan menatapnya. Sesaat kemudian kediaman Izaka
berhenti. Jika memang Izaka mendengarnya, sepertinya itu tak menjadi masalah
untuknya. Sikap Izaka tak ada yang berubah, lelaki itu bisa bersikap seperti
biasanya. Tadinya Aiko merasa bersalah, karena mungkin kata-katanya yang kasar
telah menyakiti Izaka. Padahal apa yang dikatakannya tidak sesuai dengan apa
yang dirasakannya. Jauh berbeda.
Aiko masih menundukkan
kepalanya. Gadis itu benar-benar kacau. Izaka yang berjalan satu langkah di
depannya mengusap keringat yang sudah membanjiri wajahnya. Hari ini pasti
sangat melelahkan untuknya.
“Dasar!
Kau melupakan pensilmu sendiri, bisa-bisa kau juga akan melupakanku. Kau memang
Ratu Payah.” seru Izaka dengan langkah yang masih konstan.
“Aku
tahu.” jawab Aiko datar.
“Kau
tidak marah ku katai Ratu Payah?” suara Izaka terdengar meninggi, tetapi tidak
bermaksud untuk marah.
Aiko
jadi merasa malu, padahal kata-katanya lebih menyakitkan, namun Izaka malah
mengkhawatirkan apa yang telah dikatakannya. Padahal Aiko merasa sama sekali
tak memikirkan ucapan Izaka tadi.
“Aku
tak akan bisa melupakanmu, tapi karena kau akan pergi aku jadi tidak tahu.” kata
Aiko yakin.
“ごめん なさ いGomen nasai (Maafkan aku),” kata Izaka kemudian. Aiko pun melihat ke arah Izaka
dengan serius. Ia menatap Izaka sedih. Sejujurnya Ia memang tidak ingin Izaka
jauh-jauh darinya.
“Bagaimanapun
juga aku harus ikut orang tuaku ke Tokyo. Bagaimana ya.. Aku pasti akan
merindukanmu.” rasanya Aiko ingin menangis setelah mendengar langsung dari
mulut Izaka tentang kepastiannya pindah ke Tokyo.
“Besok.
Kau akan mengantarku ke stasiun kan?”
tanya Izaka. Mengantarnya pergi? Apa Ia mampu melakukan itu?
“知らない Shiranai. (Aku tidak tahu).” ucap Aiko menyudahi
pembicaran di sekitar koridor itu.
Aiko pun mengangkat
kakinya panjang dan berjalan mendahului Izaka. Ia sangat kesal kepada Izaka,
tapi sepertinya tidak hanya perasaan kesal. Ia juga marah kepadanya, Ia takut
ditinggalkan Izaka. Ia sangat ketakutan, seperti itulah suasana hatinya. Jika
Izaka pergi, Ia akan bersama siapa? Hanya Izaka yang menjadi temannya selama
ini. Mulai semester depan Ia akan menjalani kehidupannya di sekolah sendirian.
Baru satu tahun Ia berkesempatan mengenal Izaka, itu tidak cukup untuknya.
***