
Semoga saja hari ini Ia
bisa menghadapi ulangan matematika dengan baik. Ternyata cukup melelahkan
belajar selama berjam-jam. Ia sendiri sampai melupakan camilan kesukaannya.
Jika Ia sedang belajar, Ia memang bisa sejenak melupakan rasa laparnya. Sedikit
menghemat pengeluarannya.
Anak
tangga yang dilewatinya memang tak pernah lelah memandanginya. Ia teringat saat
pertama kali bertemu dengan Yoshio Izaka. Saat itu mereka sama-sama terlambat
masuk kelas. Mereka sama-sama berlari di anak tangga. Tetapi dirinya malah
tersandung anak tangga yang terakhir dan akhirnya Ia terjatuh. Yoshio Izaka
menolongnya, karena kebetulan ternyata
mereka berdua satu kelas.
Seisi kelas malah
menyangka bahwa mereka memiliki hubungan yang dekat. Mereka sama-sama tersipu
malu diperlakukan demikian oleh teman-teman barunya di pertemuan pertama. Itu
tak seperti fakta.
“Aiko-san,
Selamat pagi..!!” sapa seseorang, Aiko menoleh ke samping dan mendapati gurunya
yang telah menyapanya.
“Se..
selamat pagi, Sensei.”
Tidak
tahu kenapa Pak Haru sangat aneh akhir-akhir ini. Setiap kali Ia di dekatnya,
ada sesuatu yang berbeda. Sikap Pak Haru membuatnya sedikit kikuk. Aiko
meneruskan langkah kakinya.
“Kalian
terlihat sangat dekat.” Izaka menyela kemudian. Lelaki itu langsung berada di
tengah-tengah antara Aiko dan Pak Haru.
“Apa
maksudmu?” sahut Aiko cepat.
Hari
ini Izaka masuk kelas, dia sudah sembuh. Syukurlah, Aiko merasa sangat lega.
Kenapa dengan perasaannya? Kenapa Ia bisa se-lega itu? Ia rasa itu terlalu
berlebihan.
“Tak
terlalu jauh, juga tak teralu dekat.” tambah Izaka. Lelaki itu mengukur rentang
jarak Aiko dan Pak Haru dengan tangan.
“Kau
kekanak-kanakan.” balas Aiko tanpa ekspresi.
“Kau
tak perlu khawatir, Aiko. Aku lemah dalam pelajaran matematika. Jadi, kau tak
perlu susah payah menggoda Pak Haru untuk mendapatkan nilai yang baik.” kata
Izaka dengan angkuh.
Aiko memanas, dia sama sekali tidak
menggoda Pak Haru. Dengan mudah lelaki itu telah mengatainya tanpa bukti yang
jelas.
“Kau
sangat tidak sopan terhadap gurumu!” tungkas Pak Haru.
“Terserah
apa katamu! Ku rasa kau hanya iri padaku
karena tak bisa menggoda Pak Haru. Aku yakin Pak Haru masih normal.
Dan jika kau yang menggoda Pak Haru,
kau benar-benar tidak normal.” ucap Aiko pedas, Ia langsung bergegas pergi ke
kelas.
Aiko tahu benar, bahwa
mereka rival. Mungkin Izaka sengaja memojokkannya agar konsentrasinya pecah.
Dia sangat licik menggunakan cara itu untuk menjatuhkannya. Namun, Ia tidak
akan terpengaruh sama sekali.
Izaka menyeringai melihat
Aiko yang semakin menjauh. Secara sekilas Ia memberikan pandangan
memperingatkan kepada Pak Haru. Seorang guru seharusnya tidak pernah menaruh
perasaan kepada muridnya. Itu melanggar peraturan, dan sangat memalukan. Izaka
membaca perasaan itu dari sorot mata Pak Haru ketika memandangi Aiko.
Ia
pun bergerak menyusul langkah kaki Aiko. Namun sayangnya Aiko sudah masuk ke
dalam kelas. Gadis itu sudah duduk di bangkunya. Ketika Ia sampai di kelas Ia
melihat Aiko yang hendak memasang earphone. Ia pun langsung mendatangi gadis
itu, Ia duduk di kursi yang ada di depan bangku Aiko. Sesaat, Ia melemparkan
tangannya di meja Aiko.
“Kau
akan menyesal telah mengatakan kalau aku tidak normal.” ucap Izaka, dia menarik
sikunya dan menjadikan tangannya sebagai sandaran wajahnya.
Aiko sama sekali tak
memperhatikan lelaki itu. Dia sedang asyik mengerjakan latihan soal-soal sambil
mendengarkan musik. Aiko terkejut saat Izaka menaruh tangannya di permukaan
pipinya.
Beberapa
saat kemudian, tiba-tiba tangan Izaka di tepis oleh Jugo yang baru saja tiba di
kelas. Otot-otot jemari Jugo sepertinya sudah mengembang. Jugo pasti cemburu
melihat kejadian itu, dia saja tak pernah melakukannya. Dan mungkinkah Izaka
akan menjadi saingannya? Bahkan tanpa saingan pun Ia belum bisa mengambil hati
Aiko. Jika Izaka menjadi pesaingnya, pasti akan semakin sulit melihat reputasi
Izaka yang pintar dan atletis. Jugo tak tahu lagi harus bagaimana.
Jugo menarik kerah baju
seragam Izaka sehingga tubuh Izaka terpaksa harus bangun dari tempat duduknya.
Izaka masih bisa bersikap santai dan membiarkan Jugo memuntahkan semua
unek-uneknya.
“Hey...!!!
Kau pikir kau siapa berani memperlakukan Aiko seperti itu? Kau tak pantas
menyentuhnya.” kata Jugo meninggi.
Kerah
tadinya sangat licin. Suara Jugo yang jelas membuat mereka menjadi pusat
perhatian.
Izaka
melepaskan tangan Jugo yang mencengkram kerah bajunya, sekarang kerah baju Jugo
yang berada dalam tangkupan tangannya. Lelaki itu telah membuat tubuh Jugo
terdorong sampai menyentuh meja. Ia malah bertingkah munafik, Ia merapikan
kerah baju temannya itu. Perlakuannya tadi hanya untuk memperingatkan Jugo. Ia
hanya tidak ingin bertindak bodoh dengan metode saling memukul.
“Aiko
saja tidak marah, kenapa kau yang marah? Kau tak punya hak untuk marah. Kau
pikir kau siapa? Hm?”
Izaka
menepuk bahu Jugo dan beringsut ke tempat duduknya. Dengan senyuman mautnya,
kondisi kelas kembali normal. Izaka hanya tinggal mengatakan tak ada yang perlu
dikhawatirkan, itu hanya urusan kecil. Semua juga akan langsung menganggap tak
terjadi apa-apa, sama sepertinya. Baginya, ini bukanlah masalah.
***
Saat
jam istirahat Aiko memanfaatkan waktu yang hanya lima belas menit ini untuk
berkunjung ke perpustakaan sekolah. Daripada Ia melakukan kegiatan yang tidak
penting lebih baik Ia membaca buku, pasti banyak sesuatu yang dapat Ia petik.
Itu jauh lebih baik daripada di kelas melihat tingkah laku Jugo dan Izaka lagi.
Kali ini, Ia tertarik dengan buku tentang galaksi-galaksi yang telah diketahui
di dunia ini. Dan sekarang, Ia paling simpati dengan Galaksi Andromeda. Ia
segera memilih buku yang cocok untuknya.
Perpustakaan di Otsuhara
Senior High School benar-benar sangat lengkap. Koleksi buku-bukunya tak
ketinggalan jaman, setiap pergantian semester pasti ada buku baru yang masuk.
Karena itulah, Ia tak bosan-bosan untuk datang berkunjung.
Buku-buku
di perpustakaan ini saling menindih dan bertopang untuk tetap berdiri tegak.
Aiko sudah menemukan buku yang dicarinya dari tadi, dan Ia hendak mengambil
buku itu. Dari sudut matanya Ia melihat sesosok jari-jari yang juga hendak
mengambil buku itu. Beruntungnya Ia tak kalah cepat. Sesaat setelah itu, Ia
menengok dan menemukan seseorang yang sudah dikenalnya.
“Kau
sering kesini?” seru Daichi dengan wajah yang cemerlang.
“Tidak
juga.” jawab Aiko pendek, lalu Ia menyodorkan buku yang telah diambilnya.
Kening Daichi pun berkerut.
“Kenapa?”
tanya Daichi kemudian.
“Kau
tadi ingin mengambil ini kan? Kalau kau mau, kau bisa membacanya lebih dulu.”
jawab Aiko.
Dalam sekejap lelaki itu
sudah mengambil satu buah buku yang tak terlalu tebal, bukunya masih berbau
tentang semesta alam. Buku yag dipilihnya itu dilengkapi dengan cover yang
berwarna pelangi. Isinya pasti tentang misteri pelangi. Daichi menggoyangkan
tangannya yang sudah memegang buku.
“Mau
membaca bersama?” tanya Daichi kemudian.
“Boleh.”
jawab Aiko pelan, meski demikian senyum Daichi tak pernah pudar.
Daichi
mungkin memang orang yang begitu, seseorang yang murah senyum dan ramah. Mereka
berdua pun berjalan beriringan ke sebuah meja baca.
Zei
sama sekali tak memasang muka cemberut ketika dipandangi oleh petugas
perpustakaan. Meskipun Ia sampai terlambat mengembalikan buku, Ia tidak kesal
dengan apa yang telah dilakukannya. Memang sudah tidak bisa dikompromi lagi. Ia
harus merelakan sebagian dari uang sakunya hari ini. Buku itu sangat penting
untuknya, buku itu bisa mengantarkannya untuk lebih dekat dengan orang yang
disukainya. Jadi, uang sakunya yang telah berkurang tak menjadi masalah
untuknya.
“Kau
sangat membutuhkan buku ini ya? Sampai terlambat mengembalikan.” seru petugas
perpustakaan.
“Tentu
saja. Buku itu sangat membantuku.” sahut Zei.
“Lain
kali, kau bisa memperpanjang masa pinjammu. Jadi, kau tak perlu bayar denda
lagi.” tambahnya.
“Terima
kasih atas sarannya. Saya permisi.” Zei membungkukkan badannya sedikit kepada
petugas itu yang jauh lebih tua darinya.
Ia
sudah setengah jalan keluar dari ruangan, dia masih berada di ambang pintu.
Kedua kakinya tiba-tiba terhenti disitu. Itu pasti tidak mungkin. Apa yang Ia
lihat pasti hanyalah ilusi semata. Akhirnya Zei keluar dari perpustakaan dengan
mata yang memerah. Melihat orang yang disukainya bersama perempuan lain pasti
sangat menusuk hatinya.
Ia
menghimpitkan punggungnya di tembok dan tubuhnya berangsur-angsur merosot. Ia
menutup matanya dengan kedua telapak tangannya agar tidak ada yang tahu kalau
Ia sedang menangis. Seharusnya Ia memilih toilet untuk tempatnya bersembunyi
dan menumpahkan semua air matanya. Namun Ia sudah tahan lagi, sementara toilet
masih beberapa langkah lagi dari tempatnya.
***