Remember Again

Remember Again
11


Semoga saja hari ini Ia


bisa menghadapi ulangan matematika dengan baik. Ternyata cukup melelahkan


belajar selama berjam-jam. Ia sendiri sampai melupakan camilan kesukaannya.


Jika Ia sedang belajar, Ia memang bisa sejenak melupakan rasa laparnya. Sedikit


menghemat pengeluarannya.


         Anak


tangga yang dilewatinya memang tak pernah lelah memandanginya. Ia teringat saat


pertama kali bertemu dengan Yoshio Izaka. Saat itu mereka sama-sama terlambat


masuk kelas. Mereka sama-sama berlari di anak tangga. Tetapi dirinya malah


tersandung anak tangga yang terakhir dan akhirnya Ia terjatuh. Yoshio Izaka


menolongnya, karena kebetulan  ternyata


mereka berdua satu kelas.


Seisi kelas malah


menyangka bahwa mereka memiliki hubungan yang dekat. Mereka sama-sama tersipu


malu diperlakukan demikian oleh teman-teman barunya di pertemuan pertama. Itu


tak seperti fakta.


         “Aiko-san,


Selamat pagi..!!” sapa seseorang, Aiko menoleh ke samping dan mendapati gurunya


yang telah menyapanya.


         “Se..


selamat pagi, Sensei.”


         Tidak


tahu kenapa Pak Haru sangat aneh akhir-akhir ini. Setiap kali Ia di dekatnya,


ada sesuatu yang berbeda. Sikap Pak Haru membuatnya sedikit kikuk. Aiko


meneruskan langkah kakinya.


         “Kalian


terlihat sangat dekat.” Izaka menyela kemudian. Lelaki itu langsung berada di


tengah-tengah antara Aiko dan Pak Haru.


         “Apa


maksudmu?” sahut Aiko cepat.


         Hari


ini Izaka masuk kelas, dia sudah sembuh. Syukurlah, Aiko merasa sangat lega.


Kenapa dengan perasaannya? Kenapa Ia bisa se-lega itu? Ia rasa itu terlalu


berlebihan.


         “Tak


terlalu jauh, juga tak teralu dekat.” tambah Izaka. Lelaki itu mengukur rentang


jarak Aiko dan Pak Haru dengan tangan.


         “Kau


kekanak-kanakan.” balas Aiko tanpa ekspresi.


         “Kau


tak perlu khawatir, Aiko. Aku lemah dalam pelajaran matematika. Jadi, kau tak


perlu susah payah menggoda Pak Haru untuk mendapatkan nilai yang baik.” kata


Izaka dengan angkuh.


Aiko memanas, dia sama sekali tidak


menggoda Pak Haru. Dengan mudah lelaki itu telah mengatainya tanpa bukti yang


jelas.


         “Kau


sangat tidak sopan terhadap gurumu!” tungkas Pak Haru.


         “Terserah


apa katamu! Ku rasa  kau hanya iri padaku


karena tak bisa menggoda Pak Haru. Aku yakin Pak Haru masih normal.


Dan jika kau yang menggoda Pak Haru,


kau benar-benar tidak normal.” ucap Aiko pedas, Ia langsung bergegas pergi ke


kelas.


Aiko tahu benar, bahwa


mereka rival. Mungkin Izaka sengaja memojokkannya agar konsentrasinya pecah.


Dia sangat licik menggunakan cara itu untuk menjatuhkannya. Namun, Ia tidak


akan terpengaruh sama sekali.


Izaka menyeringai melihat


Aiko yang semakin menjauh. Secara sekilas Ia memberikan pandangan


memperingatkan kepada Pak Haru. Seorang guru seharusnya tidak pernah menaruh


perasaan kepada muridnya. Itu melanggar peraturan, dan sangat memalukan. Izaka


membaca perasaan itu dari sorot mata Pak Haru ketika memandangi Aiko.


         Ia


pun bergerak menyusul langkah kaki Aiko. Namun sayangnya Aiko sudah masuk ke


dalam kelas. Gadis itu sudah duduk di bangkunya. Ketika Ia sampai di kelas Ia


melihat Aiko yang hendak memasang earphone. Ia pun langsung mendatangi gadis


itu, Ia duduk di kursi yang ada di depan bangku Aiko. Sesaat, Ia melemparkan


tangannya di meja Aiko.


         “Kau


akan menyesal telah mengatakan kalau aku tidak normal.” ucap Izaka, dia menarik


sikunya dan menjadikan tangannya sebagai sandaran wajahnya.


Aiko sama sekali tak


memperhatikan lelaki itu. Dia sedang asyik mengerjakan latihan soal-soal sambil


mendengarkan musik. Aiko terkejut saat Izaka menaruh tangannya di permukaan


pipinya.


         Beberapa


saat kemudian, tiba-tiba tangan Izaka di tepis oleh Jugo yang baru saja tiba di


kelas. Otot-otot jemari Jugo sepertinya sudah mengembang. Jugo pasti cemburu


melihat kejadian itu, dia saja tak pernah melakukannya. Dan mungkinkah Izaka


akan menjadi saingannya? Bahkan tanpa saingan pun Ia belum bisa mengambil hati


Aiko. Jika Izaka menjadi pesaingnya, pasti akan semakin sulit melihat reputasi


Izaka yang pintar dan atletis. Jugo tak tahu lagi harus bagaimana.


Jugo menarik kerah baju


seragam Izaka sehingga tubuh Izaka terpaksa harus bangun dari tempat duduknya.


Izaka masih bisa bersikap santai dan membiarkan Jugo memuntahkan semua


unek-uneknya.


         “Hey...!!!


Kau pikir kau siapa berani memperlakukan Aiko seperti itu? Kau tak pantas


menyentuhnya.” kata Jugo meninggi.


         Kerah


tadinya sangat licin. Suara Jugo yang jelas membuat mereka menjadi pusat


perhatian.


         Izaka


melepaskan tangan Jugo yang mencengkram kerah bajunya, sekarang kerah baju Jugo


yang berada dalam tangkupan tangannya. Lelaki itu telah membuat tubuh Jugo


terdorong sampai menyentuh meja. Ia malah bertingkah munafik, Ia merapikan


kerah baju temannya itu. Perlakuannya tadi hanya untuk memperingatkan Jugo. Ia


hanya tidak ingin bertindak bodoh dengan metode saling memukul.


         “Aiko


saja tidak marah, kenapa kau yang marah? Kau tak punya hak untuk marah. Kau


pikir kau siapa? Hm?”


         Izaka


menepuk bahu Jugo dan beringsut ke tempat duduknya. Dengan senyuman mautnya,


kondisi kelas kembali normal. Izaka hanya tinggal mengatakan tak ada yang perlu


dikhawatirkan, itu hanya urusan kecil. Semua juga akan langsung menganggap tak


terjadi apa-apa, sama sepertinya. Baginya, ini bukanlah masalah.


***


         Saat


jam istirahat Aiko memanfaatkan waktu yang hanya lima belas menit ini untuk


berkunjung ke perpustakaan sekolah. Daripada Ia melakukan kegiatan yang tidak


penting lebih baik Ia membaca buku, pasti banyak sesuatu yang dapat Ia petik.


Itu jauh lebih baik daripada di kelas melihat tingkah laku Jugo dan Izaka lagi.


Kali ini, Ia tertarik dengan buku tentang galaksi-galaksi yang telah diketahui


di dunia ini. Dan sekarang, Ia paling simpati dengan Galaksi Andromeda. Ia


segera memilih buku yang cocok untuknya.


Perpustakaan di Otsuhara


Senior High School benar-benar sangat lengkap. Koleksi buku-bukunya tak


ketinggalan jaman, setiap pergantian semester pasti ada buku baru yang masuk.


Karena itulah, Ia tak bosan-bosan untuk datang berkunjung.


         Buku-buku


di perpustakaan ini saling menindih dan bertopang untuk tetap berdiri tegak.


Aiko sudah menemukan buku yang dicarinya dari tadi, dan Ia hendak mengambil


buku itu. Dari sudut matanya Ia melihat sesosok jari-jari yang juga hendak


mengambil buku itu. Beruntungnya Ia tak kalah cepat. Sesaat setelah itu, Ia


menengok dan menemukan seseorang yang sudah dikenalnya.


         “Kau


sering kesini?” seru Daichi dengan wajah yang cemerlang.


         “Tidak


juga.” jawab Aiko pendek, lalu Ia menyodorkan buku yang telah diambilnya.


Kening Daichi pun berkerut.


         “Kenapa?”


tanya Daichi kemudian.


         “Kau


tadi ingin mengambil ini kan? Kalau kau mau, kau bisa membacanya lebih dulu.”


jawab Aiko.


Dalam sekejap lelaki itu


sudah mengambil satu buah buku yang tak terlalu tebal, bukunya masih berbau


tentang semesta alam. Buku yag dipilihnya itu dilengkapi dengan cover yang


berwarna pelangi. Isinya pasti tentang misteri pelangi. Daichi menggoyangkan


tangannya yang sudah memegang buku.


         “Mau


membaca bersama?” tanya Daichi kemudian.


         “Boleh.”


jawab Aiko pelan, meski demikian senyum Daichi tak pernah pudar.


         Daichi


mungkin memang orang yang begitu, seseorang yang murah senyum dan ramah. Mereka


berdua pun berjalan beriringan ke sebuah meja baca.


         Zei


sama sekali tak memasang muka cemberut ketika dipandangi oleh petugas


perpustakaan. Meskipun Ia sampai terlambat mengembalikan buku, Ia tidak kesal


dengan apa yang telah dilakukannya. Memang sudah tidak bisa dikompromi lagi. Ia


harus merelakan sebagian dari uang sakunya hari ini. Buku itu sangat penting


untuknya, buku itu bisa mengantarkannya untuk lebih dekat dengan orang yang


disukainya. Jadi, uang sakunya yang telah berkurang tak menjadi masalah


untuknya.


         “Kau


sangat membutuhkan buku ini ya? Sampai terlambat mengembalikan.” seru petugas


perpustakaan.


         “Tentu


saja. Buku itu sangat membantuku.” sahut Zei.


         “Lain


kali, kau bisa memperpanjang masa pinjammu. Jadi, kau tak perlu bayar denda


lagi.” tambahnya.


         “Terima


kasih atas sarannya. Saya permisi.” Zei membungkukkan badannya sedikit kepada


petugas itu yang jauh lebih tua darinya.


                   Ia


sudah setengah jalan keluar dari ruangan, dia masih berada di ambang pintu.


Kedua kakinya tiba-tiba terhenti disitu. Itu pasti tidak mungkin. Apa yang Ia


lihat pasti hanyalah ilusi semata. Akhirnya Zei keluar dari perpustakaan dengan


mata yang memerah. Melihat orang yang disukainya bersama perempuan lain pasti


sangat menusuk hatinya.


         Ia


menghimpitkan punggungnya di tembok dan tubuhnya berangsur-angsur merosot. Ia


menutup matanya dengan kedua telapak tangannya agar tidak ada yang tahu kalau


Ia sedang menangis. Seharusnya Ia memilih toilet untuk tempatnya bersembunyi


dan menumpahkan semua air matanya. Namun Ia sudah tahan lagi, sementara toilet


masih beberapa langkah lagi dari tempatnya.


***