
Pijakan-pijakan kaki Aiko saat
menuruni anak tangga terkesan berjalan dengan lamban, seakan takut jika kakinya
tersandung. Di depannya, terlihat langkah-langkah yang senada dengan langkah
kakinya. Seperti sengaja menunggunya. Sambil memanggul sebuah tas yang berwarna
hitam Izaka mulai bersiul. Aiko baru tahu kalau Izaka mempunyai kebiasaan yang
seperti itu. Izaka bersiul tidak seperti seseorang biasanya, Ia bersiul dengan
menyusunnya menjadi sebuah nada-nada yang menari dengan merdu. Telinga Aiko
kembang kempis saat mendengarnya, telinganya begitu bahagia.
“Ada banyak hal yang ingin
aku tanyakan. Tapi jika kau tak ingin menjawabnya tak apa-apa. Mungkin kau
memang belum siap.” seru Aiko sambil terus berjalan di belakang Izaka, lelaki
itu pasti mendengarnya namun sayang tak menengok ke arahnya.
Ia sangat berharap kalau
Izaka menghadap ke arahnya, Ia sudah menghitung satu sampai tiga namun Izaka
sama sekali tak berkutik.
“Aku tak sengaja melihat
sebuah foto di kamarmu. Bagaimana bisa.. foto kakakku ada padamu? Aku bahkan
belum pernah cerita tentang kakakku.” Aiko kembali melanjutkan.
“Jadi itu foto kakakmu.”
jawabnya sesaat.
“Foto itu sangat mirip
denganmu, aku kira itu fotomu.”
Izaka pun membalikkan
badannya, sekarang mereka berdua sudah saling berhadapan.
Mereka
berada di anak tangga yang berbeda, Aiko berdiri di anak tangga satu tingkat
lebih tinggi dari anak tangga yang dipijak Izaka. Tubuh tinggi Izaka, tak
membuat Aiko terlihat lebih tinggi dari Izaka. Malahan kepala mereka bisa
sejajar. Dalam sekejap, tinggi mereka menjadi sama.
“Aku tak sengaja
memungutnya di jalan. Aneh memang. Tapi itu kebetulan.” ucap Izaka kemudian.
Seketika mereka saling diam.
Sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Bagi Aiko, itu pasti bukan suatu
kebetulan. Izaka mungkin tak ingin mengatakannya, tetapi jika itu sudah
menyangkutnya Ia ingin mengetahuinya.
Izaka
kini tak bisa berkata-kata lagi, tubuh lelaki itu tetap tegak dengan bibir yang
terkunci rapat. Lelaki itu memandangi sosok Aiko semakin lekat. Jika memang
foto yang ada padanya bukan foto Aiko, lalu apa maksud Pak Haru selama ini?
“Aku harap suatu saat
nanti aku bisa bertemu kakakmu. Aku ingin mengembalikan foto itu secara
langsung.” jawab Izaka sambil menggosok kepala Aiko dengan telapak tangan
kanannya.
“Kakakku sudah meninggal.”
kata Aiko. Lalu gadis itu menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajah pilu yang
sedang digelutinya.
Wajah cantik Aiko
bertaburan air mata kesedihan. Dengan jalur yang gemulai air mata itu turun
dari pelupuk matanya.
Ucapan Aiko membuat tangan
Izaka berhenti bergerak. Tangannya seperti membeku. Ia tidak tahu apa-apa,
sungguh Ia kecewa dengan dirinya sendiri. Kenapa Ia selalu membuat Aiko
menangis? Sudah berapa kali Aiko menumpahkan air mata karenanya?
Izaka
selalu berpikir dan berpikir, walau dugaannya tak selalu benar. Namun tak ada
salahnya Ia membenarkan persepsinya itu. Bisa saja Pak Haru memang mempunyai
hubungan spesial dengan kakaknya Aiko. Perasaan Pak Haru selama ini bukan untuk
Aiko, foto itu cukup menjadi bukti kalau orang yang disukai Pak Haru bukan
Aiko.
Lalu,
posisi Aiko selama ini.. Apakah hanya pelampiasan Pak Haru? Izaka tak bisa
tinggal diam. Ia hanya ingin yang terbaik untuk Aiko, lelaki itu akan mencari
kebenaran itu tanpa menunggunya datang. Ia memindahkan tangannya ke pundak Aiko
yang rapuh. Memandang wajah gadis itu sesaat.
“Aku
selalu membuatmu menangis.” ujar Izaka sambil menganggukkan kepalanya singkat.
“Maaf,
karena telah mengingatkanmu terhadap kesedihanmu. Kau pulanglah duluan, ada
sesuatu yang ku lupakan.” kalimat itu terdengar dengan sangat sendu, diiringi
dengan tangan Izaka yang perlahan mulai jatuh dari pundak Aiko. Jatuh dengan
irama yang berat.
Izaka
pun melangkahkan kakinya, menaiki anak tangga satu per satu. Entah sudah berapa
anak tangga yang telah dipijaknya, namun langkahnya benar-benar cepat. Saat
Aiko menoleh ke belakang, sudah tak mendapati sosok lelaki itu. Pucuk rambutnya
pun sudah tak terlihat.
Izaka
sudah bulat. Tak ada yang bisa menghentikannya. Ia harus segera bertemu dengan
Pak Haru, sudah tak bisa ditunda lagi. Ia mencari ke ruang-ruang kelas sepuluh.
Sudah lima kelas Ia masuki tapi tak juga menemukannya. Pak Haru pasti sudah
selesai membina anak-anak kelas sepuluh yang ikut olimpiade matematika.
Sayangnya, Izaka tak terlalu tahu dimana Pak Haru biasa membina anak-anak itu. Ia hanya mencoba
menggeledah dan menggeledah setiap ruang kelas yang dilalui kakinya.
Sepasang
lensa matanya akhirnya terfokus pada sebuah kelas yang terletak di paling
ujung, terpaku ke arah sana. Didepan kelas itu sudah tak ada murid lagi yang
bernaung, dan juga tak ada lagi murid yang muncul dari balik pintu. Sesegera
mungkin Ia menuju ke kelas itu, tak ingin membiarkan dirinya kecolongan.
Ia membuka pintu kelas itu
dengan kasar, hentakannya begitu keras sampai menciptakan suara raungan dari
daun pintu. Dengan tatapan terkejut Pak Haru menatapnya.
Pak Haru hendak membuka
pintu ruang kelas itu namun Izaka telah mendahuluinya, seperti Ia sudah kalah
sebelum memulai pertandingan. Pak Haru hanya bisa mendengus dan mengumpat di
dalam hati, Ia sedang tidak ingin berurusan dengan murid yang bernama lengkap
Aihara Izaka.
Izaka
kini menatap Pak Haru dengan sangat tajam, bahkan sama sekali tak membiarkan
mata itu untuk berkedip singkat. Tak ingin membiarkan Pak Haru lolos kali ini.
Izaka segera meraih kerah baju guru itu, mendorongnya sampai punggung guru itu
berbenturan dengan dinding kelas. Perlakuannya begitu lihai. Sampai-sampai Pak
Haru tak berani bergerak sedikitpun, menyeringai pun tak sanggup.
“Sensei tidak pernah
menyukai Aiko,” tegas Izaka. Sementara dari tadi tatapannya selalu tajam.
“Orang yang Sensei sukai
bukan Aiko, tapi kakaknya yang sudah meninggal.
Aiko sangat mirip dengan kakaknya,
karena itulah sensei sangat ingin menjadikan Aiko sebagai penggantinya.” kata
Izaka lagi. Kedua mata Izaka sangat menyala, korneanya terlihat penuh. Izaka
berharap kalau itu memberikan efek.
“Jangan ikut campur. Itu
bukan urusanmu!” jawab Pak Haru dengan sangat arogan.
“Aku harus mencampurinya!”
kata Izaka dengan nada yang cukup tinggi.
“Sekalipun Sensei sangat
mencintai seseorang, sensei tidak bisa mengorbankan orang lain untuk perasaan
Sensei. Mereka orang yang berbeda! Jika Sensei ingin menjadikan Aiko sebagai
pengganti dari orang yang Sensei cintai. Itu sangat egois.”
Izaka
meluapkan semua perasaannya. Ia tak akan membiarkan Aiko menjadi korban dari keegoisan
Pak Haru. Ingin sekali Ia mengepalkan tangannya, melemparkan pukulan keras ke
wajah guru itu.
“Kau masih terlalu muda
untuk tahu arti kata cinta. Pada akhirnya cinta hanya akan menjadi sebuah
obsesi, dan para pemilik cinta itu akan berakhir dengan keegoisan karena
ketidakadilan. Kenapa aku harus
merasakan cinta jika pada akhirnya harus dipisahkan. Ini sangat tidak adil.”
Kini
Pak Haru tak hanya berdiam. Sesaat kemudian Ia berusaha melepaskan cengkeraman
tangan Izaka di kerah bajunya. Ia balik memberikan tatapan tajam kepada
muridnya itu. Murid yang tak pernah berhenti mencampuri urusannya. Izaka hanya
membuat keinginannya tak bisa berjalan dengan mulus, padahal Ia sudah cukup
terlambat untuk mencapainya.
“Tidakkah Sensei
memikirkan perasaan orang yang Sensei cintai? Jika orang itu tahu kalau Sensei
memperlakukan adiknya seperti itu. Apa yang akan dipikirkannya? Orang yang
Sensei cintai pasti akan menyesal telah mengenal Sensei. Sensei cukup
memprihatinkan..!!.” tegas Izaka seraya mendorong tubuh tegap Pak Haru, Ia
mendorongnya dengan cukup keras.
Bahkan benturan antara
tulang belakang Pak Haru dengan dinding kelas cukup menciptakan bunyi. Kacamata
lelaki itu pun terlepas, mendarat dengan cepat. Lensa di kaca mata itu tak
cukup kuat, dari sisi manapun terlihat betapa retak dan hancurnya kacamata itu.
Pak Haru membiarkan
tubuhnya lunglai, berangsur-angsur tubuhnya semakin merosot. Tubuhnya berakhir
dengan posisi duduk tanpa ada kaki yang ditekuk, punggungnya masih berhimpitan
dengan dinding kelas itu. Sementara pandangannya sangat buram. Padahal begitu
jelas semua yang ada di depannya walau Ia tak mengenakan kacamata, tetapi Ia
tak mampu melihatnya. Matanya seperti kehilangan fungsi secara tiba-tiba.
***