Remember Again

Remember Again
19


Pijakan-pijakan kaki Aiko saat


menuruni anak tangga terkesan berjalan dengan lamban, seakan takut jika kakinya


tersandung. Di depannya, terlihat langkah-langkah yang senada dengan langkah


kakinya. Seperti sengaja menunggunya. Sambil memanggul sebuah tas yang berwarna


hitam Izaka mulai bersiul. Aiko baru tahu kalau Izaka mempunyai kebiasaan yang


seperti itu. Izaka bersiul tidak seperti seseorang biasanya, Ia bersiul dengan


menyusunnya menjadi sebuah nada-nada yang menari dengan merdu. Telinga Aiko


kembang kempis saat mendengarnya, telinganya begitu bahagia.


“Ada banyak hal yang ingin


aku tanyakan. Tapi jika kau tak ingin menjawabnya tak apa-apa. Mungkin kau


memang belum siap.” seru Aiko sambil terus berjalan di belakang Izaka, lelaki


itu pasti mendengarnya namun sayang tak menengok ke arahnya.


Ia sangat berharap kalau


Izaka menghadap ke arahnya, Ia sudah menghitung satu sampai tiga namun Izaka


sama sekali tak berkutik.


“Aku tak sengaja melihat


sebuah foto di kamarmu. Bagaimana bisa.. foto kakakku ada padamu? Aku bahkan


belum pernah cerita tentang kakakku.” Aiko kembali melanjutkan.


“Jadi itu foto kakakmu.”


jawabnya sesaat.


“Foto itu sangat mirip


denganmu, aku kira itu fotomu.”


Izaka pun membalikkan


badannya, sekarang mereka berdua sudah saling berhadapan.


         Mereka


berada di anak tangga yang berbeda, Aiko berdiri di anak tangga satu tingkat


lebih tinggi dari anak tangga yang dipijak Izaka. Tubuh tinggi Izaka, tak


membuat Aiko terlihat lebih tinggi dari Izaka. Malahan kepala mereka bisa


sejajar. Dalam sekejap, tinggi mereka menjadi sama.


“Aku tak sengaja


memungutnya di jalan. Aneh memang. Tapi itu kebetulan.” ucap Izaka kemudian.


Seketika mereka saling diam.


Sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Bagi Aiko, itu pasti bukan suatu


kebetulan. Izaka mungkin tak ingin mengatakannya, tetapi jika itu sudah


menyangkutnya Ia ingin mengetahuinya.


         Izaka


kini tak bisa berkata-kata lagi, tubuh lelaki itu tetap tegak dengan bibir yang


terkunci rapat. Lelaki itu memandangi sosok Aiko semakin lekat. Jika memang


foto yang ada padanya bukan foto Aiko, lalu apa maksud Pak Haru selama ini?


“Aku harap suatu saat


nanti aku bisa bertemu kakakmu. Aku ingin mengembalikan foto itu secara


langsung.” jawab Izaka sambil menggosok kepala Aiko dengan telapak tangan


kanannya.


“Kakakku sudah meninggal.”


kata Aiko. Lalu gadis itu menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajah pilu yang


sedang digelutinya.


Wajah cantik Aiko


bertaburan air mata kesedihan. Dengan jalur yang gemulai air mata itu turun


dari pelupuk matanya.


Ucapan Aiko membuat tangan


Izaka berhenti bergerak. Tangannya seperti membeku. Ia tidak tahu apa-apa,


sungguh Ia kecewa dengan dirinya sendiri. Kenapa Ia selalu membuat Aiko


menangis? Sudah berapa kali Aiko menumpahkan air mata karenanya?


         Izaka


selalu berpikir dan berpikir, walau dugaannya tak selalu benar. Namun tak ada


salahnya Ia membenarkan persepsinya itu. Bisa saja Pak Haru memang mempunyai


hubungan spesial dengan kakaknya Aiko. Perasaan Pak Haru selama ini bukan untuk


Aiko, foto itu cukup menjadi bukti kalau orang yang disukai Pak Haru bukan


Aiko.


         Lalu,


posisi Aiko selama ini.. Apakah hanya pelampiasan Pak Haru? Izaka tak bisa


tinggal diam. Ia hanya ingin yang terbaik untuk Aiko, lelaki itu akan mencari


kebenaran itu tanpa menunggunya datang. Ia memindahkan tangannya ke pundak Aiko


yang rapuh. Memandang wajah gadis itu sesaat.


         “Aku


selalu membuatmu menangis.” ujar Izaka sambil menganggukkan kepalanya singkat.


         “Maaf,


karena telah mengingatkanmu terhadap kesedihanmu. Kau pulanglah duluan, ada


sesuatu yang ku lupakan.” kalimat itu terdengar dengan sangat sendu, diiringi


dengan tangan Izaka yang perlahan mulai jatuh dari pundak Aiko. Jatuh dengan


irama yang berat.


         Izaka


pun melangkahkan kakinya, menaiki anak tangga satu per satu. Entah sudah berapa


anak tangga yang telah dipijaknya, namun langkahnya benar-benar cepat. Saat


Aiko menoleh ke belakang, sudah tak mendapati sosok lelaki itu. Pucuk rambutnya


pun sudah tak terlihat.


         Izaka


sudah bulat. Tak ada yang bisa menghentikannya. Ia harus segera bertemu dengan


Pak Haru, sudah tak bisa ditunda lagi. Ia mencari ke ruang-ruang kelas sepuluh.


Sudah lima kelas Ia masuki tapi tak juga menemukannya. Pak Haru pasti sudah


selesai membina anak-anak kelas sepuluh yang ikut olimpiade matematika.


Sayangnya, Izaka tak terlalu tahu dimana Pak Haru biasa  membina anak-anak itu. Ia hanya mencoba


menggeledah dan menggeledah setiap ruang kelas yang dilalui kakinya.


         Sepasang


lensa matanya akhirnya terfokus pada sebuah kelas yang terletak di paling


ujung, terpaku ke arah sana. Didepan kelas itu sudah tak ada murid lagi yang


bernaung, dan juga tak ada lagi murid yang muncul dari balik pintu. Sesegera


mungkin Ia menuju ke kelas itu, tak ingin membiarkan dirinya kecolongan.


Ia membuka pintu kelas itu


dengan kasar, hentakannya begitu keras sampai menciptakan suara raungan dari


daun pintu. Dengan tatapan terkejut Pak Haru menatapnya.


Pak Haru hendak membuka


pintu ruang kelas itu namun Izaka telah mendahuluinya, seperti Ia sudah kalah


sebelum memulai pertandingan. Pak Haru hanya bisa mendengus dan mengumpat di


dalam hati, Ia sedang tidak ingin berurusan dengan murid yang bernama lengkap


Aihara Izaka.


         Izaka


kini menatap Pak Haru dengan sangat tajam, bahkan sama sekali tak membiarkan


mata itu untuk berkedip singkat. Tak ingin membiarkan Pak Haru lolos kali ini.


Izaka segera meraih kerah baju guru itu, mendorongnya sampai punggung guru itu


berbenturan dengan dinding kelas. Perlakuannya begitu lihai. Sampai-sampai Pak


Haru tak berani bergerak sedikitpun, menyeringai pun tak sanggup.


“Sensei tidak pernah


menyukai Aiko,” tegas Izaka. Sementara dari tadi tatapannya selalu tajam.


“Orang yang Sensei sukai


bukan Aiko, tapi kakaknya yang sudah meninggal.


Aiko sangat mirip dengan kakaknya,


karena itulah sensei sangat ingin menjadikan Aiko sebagai penggantinya.” kata


Izaka lagi. Kedua mata Izaka sangat menyala, korneanya terlihat penuh. Izaka


berharap kalau itu memberikan efek.


“Jangan ikut campur. Itu


bukan urusanmu!” jawab Pak Haru dengan sangat arogan.


“Aku harus mencampurinya!”


kata Izaka dengan nada yang cukup tinggi.


“Sekalipun Sensei sangat


mencintai seseorang, sensei tidak bisa mengorbankan orang lain untuk perasaan


Sensei. Mereka orang yang berbeda! Jika Sensei ingin menjadikan Aiko sebagai


pengganti dari orang yang Sensei cintai.  Itu sangat egois.”


         Izaka


meluapkan semua perasaannya. Ia tak akan membiarkan Aiko menjadi korban dari keegoisan


Pak Haru. Ingin sekali Ia mengepalkan tangannya, melemparkan pukulan keras ke


wajah guru itu.


“Kau masih terlalu muda


untuk tahu arti kata cinta. Pada akhirnya cinta hanya akan menjadi sebuah


obsesi, dan para pemilik cinta itu akan berakhir dengan keegoisan karena


ketidakadilan.  Kenapa aku harus


merasakan cinta jika pada akhirnya harus dipisahkan. Ini sangat tidak adil.”


         Kini


Pak Haru tak hanya berdiam. Sesaat kemudian Ia berusaha melepaskan cengkeraman


tangan Izaka di kerah bajunya. Ia balik memberikan tatapan tajam kepada


muridnya itu. Murid yang tak pernah berhenti mencampuri urusannya. Izaka hanya


membuat keinginannya tak bisa berjalan dengan mulus, padahal Ia sudah cukup


terlambat untuk mencapainya.


“Tidakkah Sensei


memikirkan perasaan orang yang Sensei cintai? Jika orang itu tahu kalau Sensei


memperlakukan adiknya seperti itu. Apa yang akan dipikirkannya? Orang yang


Sensei cintai pasti akan menyesal telah mengenal Sensei. Sensei cukup


memprihatinkan..!!.” tegas Izaka seraya mendorong tubuh tegap Pak Haru, Ia


mendorongnya dengan cukup keras.


Bahkan benturan antara


tulang belakang Pak Haru dengan dinding kelas cukup menciptakan bunyi. Kacamata


lelaki itu pun terlepas, mendarat dengan cepat. Lensa di kaca mata itu tak


cukup kuat, dari sisi manapun terlihat betapa retak dan hancurnya kacamata itu.


Pak Haru membiarkan


tubuhnya lunglai, berangsur-angsur tubuhnya semakin merosot. Tubuhnya berakhir


dengan posisi duduk tanpa ada kaki yang ditekuk, punggungnya masih berhimpitan


dengan dinding kelas itu. Sementara pandangannya sangat buram. Padahal begitu


jelas semua yang ada di depannya walau Ia tak mengenakan kacamata, tetapi Ia


tak mampu melihatnya. Matanya seperti kehilangan fungsi secara tiba-tiba.


***