
Permulaan semester tiga
berjalan dengan baik. Ujian pertengahan sementer pun juga terlaksana dengan
lancar. Hari ini adalah hari yang paling ditunggu, hasil ujian itu akan segera
dibagikan oleh Pak Mizuki selaku wali kelas mereka. Tentu itu sangat
mendebarkan.
Aiko menoleh ke arah Izaka
sesaat, dan Izaka malah balas menatapnya. Lelaki itu menebarkan senyuman
bermaksud membuat Aiko terpesona. Sengaja menggoda gadis itu. Semenjak
kehadiran Izaka, gadis itu jadi sulit untuk berkonsentrasi. Untuk mengembalikan
konsentrasinya Ia harus mengalihkan pandangannya dari lelaki itu, entah kenapa
lelaki itu bisa membuat konsentrasinya selalu pecah.
Gadis itu menatap keluar
jendela dan hanya mendengarkan
perkataan gurunya, Pak Mizuki. Keberadaan Pak Mizuki di ruang kelas itu untuk
menyerahkan hasil jerih payah anak didiknya selama ujian pertengahan semester.
“Saya
sangat bangga dengan prestasi kalian. Peringkat tiga besar paralel semua berasal dari kelas ini. Furumi
Ryn sebagai peringkat ketiga, Narada Aiko peringkat kedua. Dan selamat untuk
Aihara Izaka, kau masih baru disini tapi kau sudah menunjukkan kemampuanmu.”
Sekilas
Pak Mizuki memfokuskan pandangannya kepada Izaka. Izaka hanya mengangkat sudut
bibirnya sesaat. Menyunggingkan senyum yang tidak menggambarkan kebahagiaan.
***
Aiko masih belum yakin
tentang Aihara Izaka. Ia perlu memastikannya lagi. Entah kenapa Ia selalu yakin
bahwa Aihara Izaka adalah Yoshio Izaka. Bahkan hari demi hari yang berlalu
membuatnya semakin yakin.
Di sore hari ini, Izaka
melakukan hal yang pernah dilakukannya seperti saat senja selepas menyusun data
diri siswa kelasnya. Kali ini Aiko berjalan di koridor menuju ke depan gerbang
sekolah. Izaka menyamai langkah kaki gadis itu dengan posisi berjalan mundur.
Lelaki itu berjalan lebih awal ketimbang gadis itu, sehingga Aiko bisa
memandang wajah lekaki itu.
Merasa tak tahan dengan
pikirannya yang kacau. Aiko mendorong tubuh Izaka sampai punggung lelaki itu
menyentuh tembok. Ia tak habis pikir untuk melakukan tindakan senekat itu.
Tangan gadis itu mengepal dengan longgar di depan dada kiri Izaka, sementara
dari pergelangan tangan sampai siku gadis itu miring dengan sudut sebesar empat
puluh lima derajat. Lengan bawahnya bisa merasakan kekuatan dada bidang Izaka,
juga kekuatan denyut jantung Izaka. Tanpa sadar kedua mata mereka saling
bertemu pandang dalam waktu yang cukup lama.
“Aku masih tak yakin bahwa
kau, Aihara Izaka.” kata Aiko kemudian.
yang berasal dari luar berhempus sampai mencapai koridor itu. Akibatnya helaian
rambut Aiko menari-nari mengikuti melodi desisan angin itu. Izaka tak mengalihkan
perhatiannya dari Aiko, lelaki itu tak mengeluarkan satu kata pun.
“Aku ingin memastikannya.
Bolehkah aku melihat wajahmu tanpa seberkas poni?” lanjut Aiko. Izaka tak
menjawab, lelaki itu hanya menatap Aiko tanpa berkedip.
Tanpa menunggu jawaban,
Aiko sudah bertindak duluan. Jemari tangan kanannya mencapai dahi lelaki itu
dan membuat poni lelaki itu terangkat ke atas. Ia mengamati wajah lelaki itu
dengan seksama. Yah, Ia memang tidak salah. Orang yang ada dihadapannya memang
Yoshio Izaka. Sosok yang telah lama dikenalnya. Ia tidak percaya, berita
kematian Izaka hanya bohong semata. Berita itu tidak benar.
Aiko
langsung menundukkan kepalanya diiringi tangannya yang menjauh dari dahi Izaka.
Aiko memandang gusar lantai keramik. Air mata bergulir dari sudut matanya. Ia
menangis bukan karena Ia tahu bahwa orang yang ada dihadapannya adalah Yoshio
Izaka. Ia menangis karena sosok yang dulu teramat dekat dengannya berpura-pura
tak ingat dirinya.
Izaka
bisa saja ingin melupakannya, memang apa arti dia bagi Izaka? Dia bukan
siapa-siapa untuk Izaka, dia mungkin hanya sebatas teman pengisi rasa bosan
bagi lelaki itu. Aiko semakin larut ke dalam tangisannya, sementara Ia tanpa
sadar ditarik Izaka ke dalam pelukannya. Lelaki itu memeluknya dengan satu
tangan. Ia tak mengerti dengan lelaki itu. Kenapa? Itu pertanyaan yang paling
cocok.
“Jangan menangis. Aku tak
bisa diam bila melihat seorang wanita menangis. Berhentilah menangis.” dengan
cepat Aiko menjauhkan tubuhnya dari tubuh lelaki itu meskipun Ia belum bisa menghentikan
air matanya yang turun perlahan.
“Kau masih saja
berpura-pura tak ingat padaku. Aku membenci Izaka yang seperti itu!!! Kau
jahat!” suara Aiko semakin menghilang.
Aiko telah melarikan diri
dari Izaka. Hatinya benar-benar kecewa. Hari ini Ia tahu apa arti dirinya bagi
Izaka. Dia bukan apa-apa. Ribuan kali Ia memberi tahu dirinya bahwa Ia bukan
apa-apa untuk Izaka.
Gadis
itu meraih tiang di depan sekolah, tidak tahu kenapa tubuhnya jadi sempoyongan
seakan tenaganya tiba-tiba bocor sampai tak ada lagi yang tersisa. Ia
memejamkan matanya dan mengambil nafas dalam, kiranya itu bisa membantu
menenangkan dirinya.
***