Remember Again

Remember Again
4


Permulaan semester tiga


berjalan dengan baik. Ujian pertengahan sementer pun juga terlaksana dengan


lancar. Hari ini adalah hari yang paling ditunggu, hasil ujian itu akan segera


dibagikan oleh Pak Mizuki selaku wali kelas mereka. Tentu itu sangat


mendebarkan.


Aiko menoleh ke arah Izaka


sesaat, dan Izaka malah balas menatapnya. Lelaki itu menebarkan senyuman


bermaksud membuat Aiko terpesona. Sengaja menggoda gadis itu. Semenjak


kehadiran Izaka, gadis itu jadi sulit untuk berkonsentrasi. Untuk mengembalikan


konsentrasinya Ia harus mengalihkan pandangannya dari lelaki itu, entah kenapa


lelaki itu bisa membuat konsentrasinya selalu pecah.


Gadis itu menatap keluar


jendela dan hanya mendengarkan


perkataan gurunya, Pak Mizuki. Keberadaan Pak Mizuki di ruang kelas itu untuk


menyerahkan hasil jerih payah anak didiknya selama ujian pertengahan semester.


         “Saya


sangat bangga dengan prestasi kalian. Peringkat tiga besar  paralel semua berasal dari kelas ini. Furumi


Ryn sebagai peringkat ketiga, Narada Aiko peringkat kedua. Dan selamat untuk


Aihara Izaka, kau masih baru disini tapi kau sudah menunjukkan kemampuanmu.”


         Sekilas


Pak Mizuki memfokuskan pandangannya kepada Izaka. Izaka hanya mengangkat sudut


bibirnya sesaat. Menyunggingkan senyum yang tidak menggambarkan kebahagiaan.


***


Aiko masih belum yakin


tentang Aihara Izaka. Ia perlu memastikannya lagi. Entah kenapa Ia selalu yakin


bahwa Aihara Izaka adalah Yoshio Izaka. Bahkan hari demi hari yang berlalu


membuatnya semakin yakin.


Di sore hari ini, Izaka


melakukan hal yang pernah dilakukannya seperti saat senja selepas menyusun data


diri siswa kelasnya. Kali ini Aiko berjalan di koridor menuju ke depan gerbang


sekolah. Izaka menyamai langkah kaki gadis itu dengan posisi berjalan mundur.


Lelaki itu berjalan lebih awal ketimbang gadis itu, sehingga Aiko bisa


memandang wajah lekaki itu.


Merasa tak tahan dengan


pikirannya yang kacau. Aiko mendorong tubuh Izaka sampai punggung lelaki itu


menyentuh tembok. Ia tak habis pikir untuk melakukan tindakan senekat itu.


Tangan gadis itu mengepal dengan longgar di depan dada kiri Izaka, sementara


dari pergelangan tangan sampai siku gadis itu miring dengan sudut sebesar empat


puluh lima derajat. Lengan bawahnya bisa merasakan kekuatan dada bidang Izaka,


juga kekuatan denyut jantung Izaka. Tanpa sadar kedua mata mereka saling


bertemu pandang dalam waktu yang cukup lama.


“Aku masih tak yakin bahwa


kau, Aihara Izaka.” kata Aiko kemudian.


yang berasal dari luar berhempus sampai mencapai koridor itu. Akibatnya helaian


rambut Aiko menari-nari mengikuti melodi desisan angin itu. Izaka tak mengalihkan


perhatiannya dari Aiko, lelaki itu tak mengeluarkan satu kata pun.


“Aku ingin memastikannya.


Bolehkah aku melihat wajahmu tanpa seberkas poni?” lanjut Aiko. Izaka tak


menjawab, lelaki itu hanya menatap Aiko tanpa berkedip.


Tanpa menunggu jawaban,


Aiko sudah bertindak duluan. Jemari tangan kanannya mencapai dahi lelaki itu


dan membuat poni lelaki itu terangkat ke atas. Ia mengamati wajah lelaki itu


dengan seksama. Yah, Ia memang tidak salah. Orang yang ada dihadapannya memang


Yoshio Izaka. Sosok yang telah lama dikenalnya. Ia tidak percaya, berita


kematian Izaka hanya bohong semata. Berita itu tidak benar.


         Aiko


langsung menundukkan kepalanya diiringi tangannya yang menjauh dari dahi Izaka.


Aiko memandang gusar lantai keramik. Air mata bergulir dari sudut matanya. Ia


menangis bukan karena Ia tahu bahwa orang yang ada dihadapannya adalah Yoshio


Izaka. Ia menangis karena sosok yang dulu teramat dekat dengannya berpura-pura


tak ingat dirinya.


         Izaka


bisa saja ingin melupakannya, memang apa arti dia bagi Izaka? Dia bukan


siapa-siapa untuk Izaka, dia mungkin hanya sebatas teman pengisi rasa bosan


bagi lelaki itu. Aiko semakin larut ke dalam tangisannya, sementara Ia tanpa


sadar ditarik Izaka ke dalam pelukannya. Lelaki itu memeluknya dengan satu


tangan. Ia tak mengerti dengan lelaki itu. Kenapa? Itu pertanyaan yang paling


cocok.


“Jangan menangis. Aku tak


bisa diam bila melihat seorang wanita menangis. Berhentilah menangis.” dengan


cepat Aiko menjauhkan tubuhnya dari tubuh lelaki itu meskipun Ia belum bisa menghentikan


air matanya yang turun perlahan.


“Kau masih saja


berpura-pura tak ingat padaku. Aku membenci Izaka yang seperti itu!!! Kau


jahat!” suara Aiko semakin menghilang.


Aiko telah melarikan diri


dari Izaka. Hatinya benar-benar kecewa. Hari ini Ia tahu apa arti dirinya bagi


Izaka. Dia bukan apa-apa. Ribuan kali Ia memberi tahu dirinya bahwa Ia bukan


apa-apa untuk Izaka.


         Gadis


itu meraih tiang di depan sekolah, tidak tahu kenapa tubuhnya jadi sempoyongan


seakan tenaganya tiba-tiba bocor sampai tak ada lagi yang tersisa. Ia


memejamkan matanya dan mengambil nafas dalam, kiranya itu bisa membantu


menenangkan dirinya.


***