
Pukul enam pagi. Aiko sudah gelabakan
kesana kemari mencari perlengkapan sekolahnya, bahkan anggota keluarganya juga
ikut-ikutan gelabakan karena bangun kesiangan. Aiko sedang mencari kaos kaki
yang harus dipakai ke sekolah di hari ini.
Jam
delapan malam kemarin gadis itu baru sampai di rumahnya, Ia menunggu Izaka
sampai terbangun. Akhirnya setelah kedua mata Izaka benar-benar terbuka, lelaki
itu mengantarnya pulang ke rumah. Dan parahnya Izaka malah sempat mampir ke
rumahnya. Untunglah ayah dan ibunya tidak berpikiran yang aneh-aneh mengenai
keterlambatan kepulangannya, begitu juga terhadap Izaka.
Ayah dan ibunya malah
kelihatan ramah dengan Izaka, bahkan kedua orang tuanya kebanyakan basa-basi.
Nyonya Echiro juga tidak segan mengambilkan makanan, pasti perempuan itu peka
karena Aiko dan Izaka belum makan. Akhirnya mereka berdua malah makan malam
berdua di meja makan, bisa dikatakan mereka seperti seorang pasangan yang
sedang dinner, uniknya bukan di restoran atau semacamnya.
“Masakan ibumu enak,” gumam
lelaki itu sambil memasukkan sesuap nasi dengan lauk pauk yang dimasak Nyonya
Echiro ke dalam mulutnya.
“Tentu saja kau bilang
begitu, makanan gratis memang terasa enak.” sindir Aiko tanpa memandang Izaka
sama sekali, sibuk menaruh nasi di sendoknya.
“Tapi ini memang enak,”
ulangnya. Aiko tak menggubris lelaki itu.
“Orang tuamu juga
menyenangkan,” gumam Izaka lagi.
“Kau ingin mengambil orang
tuaku?” sindir Aiko lagi dengan tatapan sinisnya. Sudah sejak tadi Aiko jadi
sebal dengan sikap Izaka yang suka memanfaatkan keadaan.
“Lebih
baik kau fokus dengan makanan di piringmu.” kata Aiko kemudian.
Gadis
itu meminum air putih di gelasnya yang masih tersisa setengah. Ia bangun menuju
wastafel di dapurnya, mencuci piring dan gelas yang telah digunakannya serta
tak lupa menaruhnya di tempat yang semestinya.
Setelah
mereka selesai makan, Izaka diajak ayah Aiko untuk bermain catur sejenak. Aiko
tidak tahu sampai jam berapa Izaka dan ayahnya memainkan permainan itu, Ia
terlampau kesal dengan sikap orang tuanya dan memilih untuk masuk ke kamarnya.
Gadis itu langsung tertidur begitu saja.
Paginya
gadis itu kaget melihat jam dinding di kamarnya yang sudah menunjukkan pukul
setengah enam pagi. Ia keluar dari kamarnya menuju kamar mandi, sebelum ke
kamar mandi Ia harus melewati ruang keluarga. Dilihatnya kedua orang tuanya dan
juga Izaka yang tergeletak lemah di lantai beralaskan tikar.
Kedua mata Aiko pun terbuka lebar,
mulutnya setengah terbuka. Semalam Izaka
tidak pulang?
“Hei!” teriak Aiko keras sambil memandangi
mereka bergantian. Sedangkan Izaka hanya mengucek kedua matanya.
“Heh?”
Aiko pun menghela nafasnya
panjang dan meninggalkan mereka, biarlah mereka yang menanggungnya sendiri.
Setelah
Ia selesai mandi, Ia keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuknya
yang berbentuk piyama sambil mengeringkan rambutnya dengan selembar handuk.
Kembali Ia terkejut saat melihat Izaka bersandar di samping pintu kamar
mandinya dengan wajah malas-malasan. Dia panik setengah mati. Mungkinkah Izaka
sedang mengintipnya? Tapi tak ada celah di kamar mandinya. Ah, Izaka masih bisa
mendengar suara ketika Ia mandi. Apa lelaki itu sengaja? Ia harus
marah-marahkah? Tidak, Ia bisa terlambat ke sekolah.
“Kau tidak ke sekolah?”
tanya Aiko setelah denyut jantungnya kembali normal.
“Ini baru mau
bersiap-siap.“ kata Izaka sambil mendorong tubuh Aiko keluar dari kamar mandi.
Aiko kembali ternganga. Bersiap-siap katanya? Memang ini rumahnya? Lalu,
perlengkapannya bagaimana?
“Kau akan mandi di rumahku?
Lalu, bagaimana dengan perlengkapanmu?” tanya Aiko sambil menahan pintu kamar
mandi.
“Aku sudah
menelepon seseorang untuk mengantarkannya kemari.” katanya sok keren. Izaka
mengamati Aiko dengan lebih seksama, memperhatikan tangan gadis itu yang masih menahan
pintu.
“Kenapa kau ini? Ingin
menemaniku mandi?” goda Izaka sambil tersenyum lebar. Secepat mungkin Aiko
melepaskan pintu itu, meninggalkan senyum kecut untuk Izaka.
Setelah
selesai bersiap-siap, Aiko berniat berangkat ke sekolahnya lebih dulu. Namun
ayah dan ibunya malah menghentikannya, dan memintanya untuk menunggu Izaka
sebentar. Kedua orang tuanya bersikeras agar Ia berangkat ke sekolah bersama
Izaka.
Menyebalkan! Menunggu Izaka hanya akan
membuatnya terlambat. Aiko hanya bisa mengumpat di hati.
“Apa sudah mau berangkat,
Izaka? Maaf, bibi tidak sempat menyiapkan sarapan, hanya ada roti selai.”
Nyonya Echiro memberikan
senyuman terbaiknya kepada Izaka.
Aiko mendengus kesal,
menggigit pucuk bibirnya. Selama ini ibunya tidak pernah tersenyum seperti itu
untuk dirinya. Sebenarnya Ia itu anaknya apa bukan? Parahnya ibunya sudah
memanggil Izaka dengan nama depan. Izaka sudah seperti penjajah yang mengambil
semua miliknya.
“Ini sudah lebih dari
cukup. Apapun yang dibuat oleh Echiro-san pasti enak.”
Lalu Izaka menggigit
bagian sudut roti selai yang telah disiapkan untuknya.
“Ah, kau ini pandai sekali
menjaga perasaan perempuan. Tapi bukankah aku sudah bilang agar kau memanggilku
ibu...” kata Nyonya Echiro membuat Aiko tak berhenti memasang muka masam. Muka
Aiko manyun seketika.
“Ibu.. uu..! Apa yang ibu
katakan? Dia hanya temanku dan bagaimana bisa dia memanggilmu dengan sebutan
ibu?”
Aiko pun meraih tas
sekolahnya dan langsung keluar tanpa pamitan. Ia menyusun langkah dengan
sedikit panjang.
Tiba-tiba
Izaka sudah menyusulnya dan berjalan di sampingnya tepat. Lelaki itu malah
asyik senyam-senyum tanpa mengingat dosanya. Ah, Ia pasti akan terlambat.
Sesampainya di sekolah,
gerbang masih terbuka lebar. Tetapi
kegiatan belajar mengajar sudah dimulai. Aiko harus mengetuk pintu kelasnya
untuk menjunjung kesopanan, dia pun meminta maaf atas keterlambatannya.
Ternyata gurunya sedang tidak bermurah hati kepadanya. Ditambah Izaka malah
menyuruhnya untuk pasrah.
mereka untuk menyanyikan sebuah lagu secara bersamaan. Suara mereka sangat
tidak serasi, terkadang saling mendahului. Teman-temannya langsung menertawakan
mereka, bahkan gurunya juga. Aiko dan Izaka hanya menggaruk kepalanya walapun
tidak ada kutu yang bersarang disana.
Memalukan! Aiko mendesah, namun lelaki
yang berada di sampingnya malah tenang-tenang saja dengan senyuman khasnya.
Setelah merasa puas, Pak Mizuki mempersilahkan mereka duduk di bangku mereka
masing-masing.
Setelah bel istirahat
bersenandung teman-temannya sibuk menanyakan latar belakang keterlambatan
mereka, Aiko lebih memilih tutup mulut dengan alasan kalau Ia sedang kelelahan
dan tidak bisa diganggu.
Berbeda
dengannya, Izaka malah terang-terangan menjawab pertanyaan teman-temannya. Dia
malah bilang kalau Ia terlambat karena semalam tidur di rumah Aiko. Seisi kelas
jadi bertanya-tanya mengenai hubungan mereka.
Apakah
mereka berdua pacaran? Terdengar bisikan-bisikan pertanyaan yang membuat Aiko
tak memindahkan posisinya, dari tadi Ia cuma menyandarkan kepalanya di atas
meja.
Jugo
sangat tidak suka dengan bisikan-bisikan yang masih diragukannya. Karena tak
bisa menahan kesabarannya Ia langsung menendang kursinya ke belakang dan keluar
kelas. Semua penghuni di kelas itu jadi memfokuskan pandangannya kepada sosok
lelaki itu sambil berpikiran aneh.
Semakin
lama Aiko merasa tak nyaman di kelas. Daripada mendengarkan ocehan
teman-temannya, lebih baik Ia mencari udara segar. Supaya bisa terbebas dari
deretan obrolan yang menyudutkannya. Ia keluar dari pintu kelasnya dan
mendapati Zei yang juga baru saja keluar dari kelasnya. Gadis itu tersenyum
kepadanya, dan langsung mendekat.
“Kau mau kemana?” tanya
Zei sambil mempertahankan senyum manisnya. Aiko menggelengkan kepalanya.
“Aku tidak tahu. Yang
penting aku bisa memperoleh udara segar.” Aiko beralih memandang bangku Izaka
yang masih dikerumuni teman-temannya. Zei dapat melihatnya dari luar. Gadis itu
kembali tersenyum saat melihat Aiko.
“Bagaimana kalau kau ikut
aku ke ruang kesehatan? Tadi, Daichi mengalami kecelakaan kecil saat bermain
basket.” ajak Zei.
Aiko masih ragu-ragu untuk
menerima ajakan itu. Ia tahu kalau Zei menyukai Daichi, dan dengan
keberadaannya disana bisa mengganggu mereka.
“Tapi..”
“Ayolah.”
Zei mengajak Aiko dengan
sangat antusias, gadis itu jadi enggan menolak. Aiko lekas mengangguk, beberapa
saat kemudian Zei menggandeng Aiko sampai ke ruang kesehatan. Sejujurnya kalau
Aiko tidak terlambat Aiko bisa tahu lebih awal kecelakaan yang dialami Daichi.
Sampai detik ini Daichi
masih belum diperbolehkan berjalan, lelaki itu harus mengistirahatkan kakinya.
Sebelumnya Ia tidak pernah check up mengenai cedera di kakinya sehingga bisa
parah kalau banyak bergerak. Ia bukannya tidak mau memeriksakan kakinya sejak
awal, saat itu Ia masih terlalu muda dan takut untuk tahu hasilnya.
“Kau baik-baik saja? Maaf,
aku tadi kesiangan jadi tidak tahu kala kau..” kata Aiko memulai pembicaraan
karena Daichi menatapnya lekat, dan tidak mengatakan sesuatu.
“Ah, aku baik-baik saja.
Tapi bagaimana kau bisa kesiangan?” jawabnya tanpa menunggu Aiko selesai
bicara. Daichi seakan selalu mengawasi Aiko, memang Aiko tidak pernah kesiangan
sebelumnya. Daichi sudah hafal.
“Eh?” Aiko tak tahu
bagaimana menjawabnya.
Jika Ia jujur, mungkin
akan menyakiti perasaan Daichi yang menaruh perasaan kepadanya. Karena bisa
saja Ia memikirkan hal yang tidak-tidak tentang Ia dan Izaka seperti
teman-temannya yang lain. Ia hanya tidak ingin menyakiti perasaan temannya.
“Oh, itu karenaku.” sahut
seseorang tiba-tiba. Entah darimana datangnya Izaka sudah membuka pintu. Lelaki
itu segera bergerak mendekati mereka.
“Ku dengar kau cedera.”
katanya, kemudian lelaki itu duduk di ranjang samping yang juga diduduki oleh
Aiko dan Zei.
“Emm. Sekarang sudah tidak
apa-apa. Tapi aku tidak bisa ikut turnamen,” jawab Daichi sedih.
“Tenang saja, meskipun kau
tidak ikut main kau akan tetap menjadi sorotan. Kau hanya perlu memberikan
semangatmu!”
Izaka menyilangkan kedua
tangannya di depan dada. Memberikan senyuman hangat untuk membuat Daichi tak
bersedih. Sebagai seorang teman Ia ingin sedikit menghiburnya.
“Kau selalu melakukan
sesuatu sesukamu.” ucap Aiko sangat menyakitkan apabila didengar oleh orang
yang bersangkutan. Tapi tidak berlaku bagi Izaka.
“Apa aku melakukan
kesalahan?” tanya Izaka kemudian.
“Kau mengatakan sesuatu
yang membuat orang lain salah paham. Kau tidak menyadarinya?” balas Aiko
meninggi. Zei hanya tersenyum melihat tingkah laku mereka.
“Ah, kalian jangan
bertengkar..” ucap Zei sambil menutupi mulutnya dengan tangan karena menahan
tawa.
Perasaan apa ini? Daichi
merasakan sebuah energi diantara Aiko dan Izaka. Mereka terlihat akrab dan
sangat serasi. Ia sendiri juga tahu kalau mereka berdua satu kelas, namun
bentuk akrab yang dimaksudnya tak seperti itu.
Mereka
berdua seperti sudah saling mengenal satu sama lain. Ia menatap Aiko dalam jeda
yang lama. Dalam benaknya pun juga bertanya, mungkinkah Aiko menolaknya karena
Izaka?
Tatapan
Aiko yang menuju Izaka membuatnya harus memahami kalau Aiko benar-benar
menyukai Izaka. Anehnya, Ia tidak merasa sakit saat melihat mereka berdua.
Tidak merasa cemburu saat orang yang disukainya bersama orang lain. Lalu,
benarkah Ia menyukai Aiko? Daichi berusaha bertanya kepada dirinya sendiri.
Selama
ini Ia mengira kalau Ia menyukai Aiko, namun perasaannya seperti bukan perasaan
suka dalam artian cinta, lebih layak disebut sebagai perasaan kagum. Sekarang
Ia sadar kalau sudah salah mengartikan.
Jam istirahat yang
berlangsung selama lima belas menit pupus sudah. Mereka kembali ke ruang kelas
termasuk Daichi. Daichi dibantu Izaka saat berjalan menuju kelasnya. Ada teman
yang menolongnya disaat Ia dalam keadaan rapuh merupakan sesuatu yang berharga,
itu pertemanan indah yang Ia dapatkan di sekolah.
***