Remember Again

Remember Again
25


Pukul enam pagi. Aiko sudah gelabakan


kesana kemari mencari perlengkapan sekolahnya, bahkan anggota keluarganya juga


ikut-ikutan gelabakan karena bangun kesiangan. Aiko sedang mencari kaos kaki


yang harus dipakai ke sekolah di hari ini.


         Jam


delapan malam kemarin gadis itu baru sampai di rumahnya, Ia menunggu Izaka


sampai terbangun. Akhirnya setelah kedua mata Izaka benar-benar terbuka, lelaki


itu mengantarnya pulang ke rumah. Dan parahnya Izaka malah sempat mampir ke


rumahnya. Untunglah ayah dan ibunya tidak berpikiran yang aneh-aneh mengenai


keterlambatan kepulangannya, begitu juga terhadap Izaka.


Ayah dan ibunya malah


kelihatan ramah dengan Izaka, bahkan kedua orang tuanya kebanyakan basa-basi.


Nyonya Echiro juga tidak segan mengambilkan makanan, pasti perempuan itu peka


karena Aiko dan Izaka belum makan. Akhirnya mereka berdua malah makan malam


berdua di meja makan, bisa dikatakan mereka seperti seorang pasangan yang


sedang dinner, uniknya bukan di restoran atau semacamnya.


“Masakan ibumu enak,” gumam


lelaki itu sambil memasukkan sesuap nasi dengan lauk pauk yang dimasak Nyonya


Echiro ke dalam mulutnya.


“Tentu saja kau bilang


begitu, makanan gratis memang terasa enak.” sindir Aiko tanpa memandang Izaka


sama sekali, sibuk menaruh nasi di sendoknya.


“Tapi ini memang enak,”


ulangnya. Aiko tak menggubris lelaki itu.


“Orang tuamu juga


menyenangkan,” gumam Izaka lagi.


“Kau ingin mengambil orang


tuaku?” sindir Aiko lagi dengan tatapan sinisnya. Sudah sejak tadi Aiko jadi


sebal dengan sikap Izaka yang suka memanfaatkan keadaan.


         “Lebih


baik kau fokus dengan makanan di piringmu.” kata Aiko kemudian.


         Gadis


itu meminum air putih di gelasnya yang masih tersisa setengah. Ia bangun menuju


wastafel di dapurnya, mencuci piring dan gelas yang telah digunakannya serta


tak lupa menaruhnya di tempat yang semestinya.


         Setelah


mereka selesai makan, Izaka diajak ayah Aiko untuk bermain catur sejenak. Aiko


tidak tahu sampai jam berapa Izaka dan ayahnya memainkan permainan itu, Ia


terlampau kesal dengan sikap orang tuanya dan memilih untuk masuk ke kamarnya.


Gadis itu langsung tertidur begitu saja.


         Paginya


gadis itu kaget melihat jam dinding di kamarnya yang sudah menunjukkan pukul


setengah enam pagi. Ia keluar dari kamarnya menuju kamar mandi, sebelum ke


kamar mandi Ia harus melewati ruang keluarga. Dilihatnya kedua orang tuanya dan


juga Izaka yang tergeletak lemah di lantai beralaskan tikar.


Kedua mata Aiko pun terbuka lebar,


mulutnya setengah terbuka.  Semalam Izaka


tidak pulang?


“Hei!” teriak Aiko keras sambil memandangi


mereka bergantian. Sedangkan Izaka hanya mengucek kedua matanya.


“Heh?”


Aiko pun menghela nafasnya


panjang dan meninggalkan mereka, biarlah mereka yang menanggungnya sendiri.


         Setelah


Ia selesai mandi, Ia keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuknya


yang berbentuk piyama sambil mengeringkan rambutnya dengan selembar handuk.


Kembali Ia terkejut saat melihat Izaka bersandar di samping pintu kamar


mandinya dengan wajah malas-malasan. Dia panik setengah mati. Mungkinkah Izaka


sedang mengintipnya? Tapi tak ada celah di kamar mandinya. Ah, Izaka masih bisa


mendengar suara ketika Ia mandi. Apa lelaki itu sengaja? Ia harus


marah-marahkah? Tidak, Ia bisa terlambat ke sekolah.


“Kau tidak ke sekolah?”


tanya Aiko setelah denyut jantungnya kembali normal.


“Ini baru mau


bersiap-siap.“ kata Izaka sambil mendorong tubuh Aiko keluar dari kamar mandi.


Aiko kembali ternganga. Bersiap-siap katanya? Memang ini rumahnya? Lalu,


perlengkapannya bagaimana?


“Kau akan mandi di rumahku?


Lalu, bagaimana dengan perlengkapanmu?” tanya Aiko sambil menahan pintu kamar


mandi.


          “Aku sudah


menelepon seseorang untuk mengantarkannya kemari.” katanya sok keren. Izaka


mengamati Aiko dengan lebih seksama, memperhatikan tangan gadis itu yang masih menahan


pintu.


“Kenapa kau ini? Ingin


menemaniku mandi?” goda Izaka sambil tersenyum lebar. Secepat mungkin Aiko


melepaskan pintu itu, meninggalkan senyum kecut untuk Izaka.


         Setelah


selesai bersiap-siap, Aiko berniat berangkat ke sekolahnya lebih dulu. Namun


ayah dan ibunya malah menghentikannya, dan memintanya untuk menunggu Izaka


sebentar. Kedua orang tuanya bersikeras agar Ia berangkat ke sekolah bersama


Izaka.


Menyebalkan! Menunggu Izaka hanya akan


membuatnya terlambat. Aiko hanya bisa mengumpat di hati.


“Apa sudah mau berangkat,


Izaka? Maaf, bibi tidak sempat menyiapkan sarapan, hanya ada roti selai.”


Nyonya Echiro memberikan


senyuman terbaiknya kepada Izaka.


Aiko mendengus kesal,


menggigit pucuk bibirnya. Selama ini ibunya tidak pernah tersenyum seperti itu


untuk dirinya. Sebenarnya Ia itu anaknya apa bukan? Parahnya ibunya sudah


memanggil Izaka dengan nama depan. Izaka sudah seperti penjajah yang mengambil


semua miliknya.


“Ini sudah lebih dari


cukup. Apapun yang dibuat oleh Echiro-san pasti enak.”


Lalu Izaka menggigit


bagian sudut roti selai yang telah disiapkan untuknya.


“Ah, kau ini pandai sekali


menjaga perasaan perempuan. Tapi bukankah aku sudah bilang agar kau memanggilku


ibu...” kata Nyonya Echiro membuat Aiko tak berhenti memasang muka masam. Muka


Aiko manyun seketika.


“Ibu.. uu..! Apa yang ibu


katakan? Dia hanya temanku dan bagaimana bisa dia memanggilmu dengan sebutan


ibu?”


Aiko pun meraih tas


sekolahnya dan langsung keluar tanpa pamitan. Ia menyusun langkah dengan


sedikit panjang.


         Tiba-tiba


Izaka sudah menyusulnya dan berjalan di sampingnya tepat. Lelaki itu malah


asyik senyam-senyum tanpa mengingat dosanya. Ah, Ia pasti akan terlambat.


Sesampainya di sekolah,


gerbang masih terbuka lebar.  Tetapi


kegiatan belajar mengajar sudah dimulai. Aiko harus mengetuk pintu kelasnya


untuk menjunjung kesopanan, dia pun meminta maaf atas keterlambatannya.


Ternyata gurunya sedang tidak bermurah hati kepadanya. Ditambah Izaka malah


menyuruhnya untuk pasrah.


mereka untuk menyanyikan sebuah lagu secara bersamaan. Suara mereka sangat


tidak serasi, terkadang saling mendahului. Teman-temannya langsung menertawakan


mereka, bahkan gurunya juga. Aiko dan Izaka hanya menggaruk kepalanya walapun


tidak ada kutu yang bersarang disana.


Memalukan! Aiko mendesah, namun lelaki


yang berada di sampingnya malah tenang-tenang saja dengan senyuman khasnya.


Setelah merasa puas, Pak Mizuki mempersilahkan mereka duduk di bangku mereka


masing-masing.


Setelah bel istirahat


bersenandung teman-temannya sibuk menanyakan latar belakang keterlambatan


mereka, Aiko lebih memilih tutup mulut dengan alasan kalau Ia sedang kelelahan


dan tidak bisa diganggu.


         Berbeda


dengannya, Izaka malah terang-terangan menjawab pertanyaan teman-temannya. Dia


malah bilang kalau Ia terlambat karena semalam tidur di rumah Aiko. Seisi kelas


jadi bertanya-tanya mengenai hubungan mereka.


         Apakah


mereka berdua pacaran? Terdengar bisikan-bisikan pertanyaan yang membuat Aiko


tak memindahkan posisinya, dari tadi Ia cuma menyandarkan kepalanya di atas


meja.


         Jugo


sangat tidak suka dengan bisikan-bisikan yang masih diragukannya. Karena tak


bisa menahan kesabarannya Ia langsung menendang kursinya ke belakang dan keluar


kelas. Semua penghuni di kelas itu jadi memfokuskan pandangannya kepada sosok


lelaki itu sambil berpikiran aneh.


         Semakin


lama Aiko merasa tak nyaman di kelas. Daripada mendengarkan ocehan


teman-temannya, lebih baik Ia mencari udara segar. Supaya bisa terbebas dari


deretan obrolan yang menyudutkannya. Ia keluar dari pintu kelasnya dan


mendapati Zei yang juga baru saja keluar dari kelasnya. Gadis itu tersenyum


kepadanya, dan langsung mendekat.


“Kau mau kemana?” tanya


Zei sambil mempertahankan senyum manisnya. Aiko menggelengkan kepalanya.


“Aku tidak tahu. Yang


penting aku bisa memperoleh udara segar.” Aiko beralih memandang bangku Izaka


yang masih dikerumuni teman-temannya. Zei dapat melihatnya dari luar. Gadis itu


kembali tersenyum saat melihat Aiko.


“Bagaimana kalau kau ikut


aku ke ruang kesehatan? Tadi, Daichi mengalami kecelakaan kecil saat bermain


basket.” ajak Zei.


Aiko masih ragu-ragu untuk


menerima ajakan itu. Ia tahu kalau Zei menyukai Daichi, dan dengan


keberadaannya disana bisa mengganggu mereka.


“Tapi..”


“Ayolah.”


Zei mengajak Aiko dengan


sangat antusias, gadis itu jadi enggan menolak. Aiko lekas mengangguk, beberapa


saat kemudian Zei menggandeng Aiko sampai ke ruang kesehatan. Sejujurnya kalau


Aiko tidak terlambat Aiko bisa tahu lebih awal kecelakaan yang dialami Daichi.


Sampai detik ini Daichi


masih belum diperbolehkan berjalan, lelaki itu harus mengistirahatkan kakinya.


Sebelumnya Ia tidak pernah check up mengenai cedera di kakinya sehingga bisa


parah kalau banyak bergerak. Ia bukannya tidak mau memeriksakan kakinya sejak


awal, saat itu Ia masih terlalu muda dan takut untuk tahu hasilnya.


“Kau baik-baik saja? Maaf,


aku tadi kesiangan jadi tidak tahu kala kau..” kata Aiko memulai pembicaraan


karena Daichi menatapnya lekat, dan tidak mengatakan sesuatu.


“Ah, aku baik-baik saja.


Tapi bagaimana kau bisa kesiangan?” jawabnya tanpa menunggu Aiko selesai


bicara. Daichi seakan selalu mengawasi Aiko, memang Aiko tidak pernah kesiangan


sebelumnya. Daichi sudah hafal.


“Eh?” Aiko tak tahu


bagaimana menjawabnya.


Jika Ia jujur, mungkin


akan menyakiti perasaan Daichi yang menaruh perasaan kepadanya. Karena bisa


saja Ia memikirkan hal yang tidak-tidak tentang Ia dan Izaka seperti


teman-temannya yang lain. Ia hanya tidak ingin menyakiti perasaan temannya.


“Oh, itu karenaku.” sahut


seseorang tiba-tiba. Entah darimana datangnya Izaka sudah membuka pintu. Lelaki


itu segera bergerak mendekati mereka.


“Ku dengar kau cedera.”


katanya, kemudian lelaki itu duduk di ranjang samping yang juga diduduki oleh


Aiko dan Zei.


“Emm. Sekarang sudah tidak


apa-apa. Tapi aku tidak bisa ikut turnamen,” jawab Daichi sedih.


“Tenang saja, meskipun kau


tidak ikut main kau akan tetap menjadi sorotan. Kau hanya perlu memberikan


semangatmu!”


Izaka menyilangkan kedua


tangannya di depan dada. Memberikan senyuman hangat untuk membuat Daichi tak


bersedih. Sebagai seorang teman Ia ingin sedikit menghiburnya.


“Kau selalu melakukan


sesuatu sesukamu.” ucap Aiko sangat menyakitkan apabila didengar oleh orang


yang bersangkutan. Tapi tidak berlaku bagi Izaka.


“Apa aku melakukan


kesalahan?” tanya Izaka kemudian.


“Kau mengatakan sesuatu


yang membuat orang lain salah paham. Kau tidak menyadarinya?” balas Aiko


meninggi. Zei hanya tersenyum melihat tingkah laku mereka.


“Ah, kalian jangan


bertengkar..” ucap Zei sambil menutupi mulutnya dengan tangan karena menahan


tawa.


Perasaan apa ini? Daichi


merasakan sebuah energi diantara Aiko dan Izaka. Mereka terlihat akrab dan


sangat serasi. Ia sendiri juga tahu kalau mereka berdua satu kelas, namun


bentuk akrab yang dimaksudnya tak seperti itu.


         Mereka


berdua seperti sudah saling mengenal satu sama lain. Ia menatap Aiko dalam jeda


yang lama. Dalam benaknya pun juga bertanya, mungkinkah Aiko menolaknya karena


Izaka?


         Tatapan


Aiko yang menuju Izaka membuatnya harus memahami kalau Aiko benar-benar


menyukai Izaka. Anehnya, Ia tidak merasa sakit saat melihat mereka berdua.


Tidak merasa cemburu saat orang yang disukainya bersama orang lain. Lalu,


benarkah Ia menyukai Aiko? Daichi berusaha bertanya kepada dirinya sendiri.


         Selama


ini Ia mengira kalau Ia menyukai Aiko, namun perasaannya seperti bukan perasaan


suka dalam artian cinta, lebih layak disebut sebagai perasaan kagum. Sekarang


Ia sadar kalau sudah salah mengartikan.


Jam istirahat yang


berlangsung selama lima belas menit pupus sudah. Mereka kembali ke ruang kelas


termasuk Daichi. Daichi dibantu Izaka saat berjalan menuju kelasnya. Ada teman


yang menolongnya disaat Ia dalam keadaan rapuh merupakan sesuatu yang berharga,


itu pertemanan indah yang Ia dapatkan di sekolah.


***