Remember Again

Remember Again
10


Hari ini Izaka masih belum berangkat.


Mungkinkah penyakitnya parah? Aiko uring-uringan. Ia lelah harus bolak-balik ke


kantor guru sendirian. Bukan berarti Ia ingin ada Izaka di sampingnya.


Masalahnya Ia harus membawa buku tugas yang banyak, dirinya sendiri tak


mempunyai kekuatan cukup. Ia tetap saja seorang perempuan.


Sakit yang di derita Izaka mungkin


memang parah, pikir Aiko lagi.


         Aiko


melamun pada saat berjalan, sampai Ia tak sadar kalau sudah lewat di samping


lapangan basket. Ia berjalan dengan sangat pelan. Ketika sebuah bola menerjang


ke arahnya Ia sampai tidak tahu.


         Tahunya,


kepalanya seakan berputar. Buku tugas yang dibawanya tercecer merata. Sedangkan


tubuhnya sendiri sudah terjatuh lunglai. Namun, Ia masih setengah sadar.


Tubuhnya terasa melayang-layang. Rasanya Ia tak sanggup lagi untuk membuka


matanya.


Ketika Ia terbangun,


pemandangan ruang kesehatan yang pertama kali menyapanya. Tetapi ternyata dia


tidak sendirian di ruangan ini. Petugas ruang kesehatan juga ada disana, pasti


dia yang sudah merawatnya.


         Ia


memandang penuh tanya kepada seseorang yang tidak dikenalnya yang juga berada


di ruang itu. Ah, Ia baru ingat. Tadi ada bola yang menerjang ke arahnya dan


tepat mengenai kepalanya, lalu Ia pingsan.  Itu pasti yang terjadi, tak mungkin Ia ada di ruangan ini jika tak


terjadi apa-apa.


“よかったYokatta (Syukurkah),


kau sudah sadar.” ucap orang itu yang langsung duduk di kursi yag ada di


samping ranjang.


“Kau siapa?” tanya Aiko,


Ia mengamati sekujur tubuh orang itu. Tetapi tetap saja Ia tidak mengenali


sosok itu.


“Aku Sukiyama Daichi,


kelas 2-E. Tapi lebih tepatnya aku orang yang menyebabkanmu pingsan. Maaf.. aku


tak sengaja, mungkin karena aku terlalu bersemangat.”


Lelaki yang mengaku


Sukiyama Daichi sebagai namanya itu tersenyum lebar. Aiko tak tega bila menolak


permintaan maaf yang terdengar tulus itu. Lagi pula, ini juga salahnya.


“Tidak apa-apa, seharusnya


aku bisa menghindari bola itu. Tapi aku malah..


Sudahlah, kau tak perlu merasa


bersalah. Kau bisa pergi sekarang.” sahut Aiko. Tak mungkin sekali Ia


mengatakan kalau dirinya memikirkan Izaka.


“Kau mengusirku?” ucap


Daichi meninggi, Ia merasa diusir Aiko. Aiko juga tak bermaksud begitu. Tetapi


ekspresi wajah Daichi tidak betul-betul sama dengan apa yang ada di hatinya. Ia


hanya sedang mengerjai Aiko.


“Ti-tidak, bukan begitu.


Aku hanya merasa kurang nyaman, apabila hanya berduaan saja dengan seorang


laki-laki.” ucap Aiko, petugas tadi malah keluar.


Yah, petugas itu keluar


tanpa berkata apapun. Mungkin petugas tadi masih amatiran, klub PMR perlu meningkatkan


bimbingan. Aiko menduga petugas yang tadi pasti dari anak kelas sepuluh.


“Oh, begitu ya.“


Daichi mempertimbangkan


itu dalam diam, menunggu apa yang akan keluar dari bibir lelaki itu.


“Kau benar juga. Jika kita


berduaan seperti ini, rumor aneh pasti akan segera tersebar. Begitu kan,


Narada-san?” Daichi beranjak dari tempat duduknya. Sementara, Aiko terbelalak


saat lelaki itu memanggil namanya.


“Kau tahu namaku?” tanya


Aiko sesaat sebelum tubuh Daichi tertutup pintu semua. Dengan seperempat pintu


yang terbuka, lelaki itu hanya memasukkan kepalanya dan menjawab,


“Tentu saja, di sekolah


ini tak ada yang tidak tahu namamu. Kau kan juara satu olimpiade matematika


tahun lalu.” Daichi menutup pintu dengan meninggalkan seberkas senyuman.


         Oh


jadi karena itu lelaki yang tadi mengetahui namanya. Aiko tak pernah tahu bahwa


Ia se-terkenal itu. Entah kenapa Ia memikirkan ucapan lelaki itu, tetapi


rasanya tak mungkin kalau di sekolah ini tak ada orang yang tidak tahu namanya.


Ahh... Aiko mendesah. Mengusap


keringat yang membasahi dahinya. Sekalipun Ia terkenal, itu takkan membuat


hidupnya berubah. Hidupnya akan tetap abu-abu.


***


         Bel


pertanda usainya seluruh pelajaran hari ini terdengar dengan begitu jelas. Aiko


yang baru sekitar dua jam kembali ke kelas mengemas rapi buku-bukunya. Ruang


kelasnya sudah sangat sepi, kini Ia menjadi orang terakhir yang keluar dari


ruang kelasnya.


“Sukiyama-kun?” seru Aiko


begitu melihat Dachi yang sedang bersandar di dinding samping pintu kelasnya.


         Lelaki


itu sedang memainkan sebuah rubik. Aiko memandang pergerakan tangan lelaki itu,


lelaki itu begitu piawai seolah-olah jemarinya sudah bergerak sebelum disuruh.


         “Oh,


Narada-san? Aku kira kau takkan kembali ke kelas.” sahut Daichi.


“Aku masih khawatir dengan


kondisimu, jadi aku akan mengantarmu pulang.”


Daichi menarik Aiko agar


berjalan dengannya. Yah, Ia memang masih khawatir. Saat pelajaran masih


berlangsung, pikirannya juga tak bisa lepas dari Aiko.


“Sukiyama-kun. Hari ini


ada rapat pengurus kelas. Jadi, kau duluan saja.” Aiko berusaha menghentikan


langkahnya. Setelah Ia berhasil membuat Daichi berhenti, Daichi langsung menoleh


ke arahnya.


“Aku akan menunggumu.”


kata Daichi pasti.


“Ti-tidak. Kau tak perlu


melakukan itu.” tolak Aiko cepat.


“Aiko-chan? Bolehkah aku


memanggilmu begitu?” tanya Daichi kemudian. Lelaki itu menggosok bagian


belakang kepalanya.


“Terserah kau saja.” ucap


Aiko dingin, Ia melepaskan tangan Daichi yang memegangnya dari tadi. Ekspresi


wajah Daichi berubah total, tapi lelaki itu kembali tesenyum sambil memandang


langkah Aiko yang semakin menjauh.


***