
Hari ini Izaka masih belum berangkat.
Mungkinkah penyakitnya parah? Aiko uring-uringan. Ia lelah harus bolak-balik ke
kantor guru sendirian. Bukan berarti Ia ingin ada Izaka di sampingnya.
Masalahnya Ia harus membawa buku tugas yang banyak, dirinya sendiri tak
mempunyai kekuatan cukup. Ia tetap saja seorang perempuan.
Sakit yang di derita Izaka mungkin
memang parah, pikir Aiko lagi.
Aiko
melamun pada saat berjalan, sampai Ia tak sadar kalau sudah lewat di samping
lapangan basket. Ia berjalan dengan sangat pelan. Ketika sebuah bola menerjang
ke arahnya Ia sampai tidak tahu.
Tahunya,
kepalanya seakan berputar. Buku tugas yang dibawanya tercecer merata. Sedangkan
tubuhnya sendiri sudah terjatuh lunglai. Namun, Ia masih setengah sadar.
Tubuhnya terasa melayang-layang. Rasanya Ia tak sanggup lagi untuk membuka
matanya.
Ketika Ia terbangun,
pemandangan ruang kesehatan yang pertama kali menyapanya. Tetapi ternyata dia
tidak sendirian di ruangan ini. Petugas ruang kesehatan juga ada disana, pasti
dia yang sudah merawatnya.
Ia
memandang penuh tanya kepada seseorang yang tidak dikenalnya yang juga berada
di ruang itu. Ah, Ia baru ingat. Tadi ada bola yang menerjang ke arahnya dan
tepat mengenai kepalanya, lalu Ia pingsan. Itu pasti yang terjadi, tak mungkin Ia ada di ruangan ini jika tak
terjadi apa-apa.
“よかったYokatta (Syukurkah),
kau sudah sadar.” ucap orang itu yang langsung duduk di kursi yag ada di
samping ranjang.
“Kau siapa?” tanya Aiko,
Ia mengamati sekujur tubuh orang itu. Tetapi tetap saja Ia tidak mengenali
sosok itu.
“Aku Sukiyama Daichi,
kelas 2-E. Tapi lebih tepatnya aku orang yang menyebabkanmu pingsan. Maaf.. aku
tak sengaja, mungkin karena aku terlalu bersemangat.”
Lelaki yang mengaku
Sukiyama Daichi sebagai namanya itu tersenyum lebar. Aiko tak tega bila menolak
permintaan maaf yang terdengar tulus itu. Lagi pula, ini juga salahnya.
“Tidak apa-apa, seharusnya
aku bisa menghindari bola itu. Tapi aku malah..
Sudahlah, kau tak perlu merasa
bersalah. Kau bisa pergi sekarang.” sahut Aiko. Tak mungkin sekali Ia
mengatakan kalau dirinya memikirkan Izaka.
“Kau mengusirku?” ucap
Daichi meninggi, Ia merasa diusir Aiko. Aiko juga tak bermaksud begitu. Tetapi
ekspresi wajah Daichi tidak betul-betul sama dengan apa yang ada di hatinya. Ia
hanya sedang mengerjai Aiko.
“Ti-tidak, bukan begitu.
Aku hanya merasa kurang nyaman, apabila hanya berduaan saja dengan seorang
laki-laki.” ucap Aiko, petugas tadi malah keluar.
Yah, petugas itu keluar
tanpa berkata apapun. Mungkin petugas tadi masih amatiran, klub PMR perlu meningkatkan
bimbingan. Aiko menduga petugas yang tadi pasti dari anak kelas sepuluh.
“Oh, begitu ya.“
Daichi mempertimbangkan
itu dalam diam, menunggu apa yang akan keluar dari bibir lelaki itu.
“Kau benar juga. Jika kita
berduaan seperti ini, rumor aneh pasti akan segera tersebar. Begitu kan,
Narada-san?” Daichi beranjak dari tempat duduknya. Sementara, Aiko terbelalak
saat lelaki itu memanggil namanya.
“Kau tahu namaku?” tanya
Aiko sesaat sebelum tubuh Daichi tertutup pintu semua. Dengan seperempat pintu
yang terbuka, lelaki itu hanya memasukkan kepalanya dan menjawab,
“Tentu saja, di sekolah
ini tak ada yang tidak tahu namamu. Kau kan juara satu olimpiade matematika
tahun lalu.” Daichi menutup pintu dengan meninggalkan seberkas senyuman.
Oh
jadi karena itu lelaki yang tadi mengetahui namanya. Aiko tak pernah tahu bahwa
Ia se-terkenal itu. Entah kenapa Ia memikirkan ucapan lelaki itu, tetapi
rasanya tak mungkin kalau di sekolah ini tak ada orang yang tidak tahu namanya.
Ahh... Aiko mendesah. Mengusap
keringat yang membasahi dahinya. Sekalipun Ia terkenal, itu takkan membuat
hidupnya berubah. Hidupnya akan tetap abu-abu.
***
Bel
pertanda usainya seluruh pelajaran hari ini terdengar dengan begitu jelas. Aiko
yang baru sekitar dua jam kembali ke kelas mengemas rapi buku-bukunya. Ruang
kelasnya sudah sangat sepi, kini Ia menjadi orang terakhir yang keluar dari
ruang kelasnya.
“Sukiyama-kun?” seru Aiko
begitu melihat Dachi yang sedang bersandar di dinding samping pintu kelasnya.
Lelaki
itu sedang memainkan sebuah rubik. Aiko memandang pergerakan tangan lelaki itu,
lelaki itu begitu piawai seolah-olah jemarinya sudah bergerak sebelum disuruh.
“Oh,
Narada-san? Aku kira kau takkan kembali ke kelas.” sahut Daichi.
“Aku masih khawatir dengan
kondisimu, jadi aku akan mengantarmu pulang.”
Daichi menarik Aiko agar
berjalan dengannya. Yah, Ia memang masih khawatir. Saat pelajaran masih
berlangsung, pikirannya juga tak bisa lepas dari Aiko.
“Sukiyama-kun. Hari ini
ada rapat pengurus kelas. Jadi, kau duluan saja.” Aiko berusaha menghentikan
langkahnya. Setelah Ia berhasil membuat Daichi berhenti, Daichi langsung menoleh
ke arahnya.
“Aku akan menunggumu.”
kata Daichi pasti.
“Ti-tidak. Kau tak perlu
melakukan itu.” tolak Aiko cepat.
“Aiko-chan? Bolehkah aku
memanggilmu begitu?” tanya Daichi kemudian. Lelaki itu menggosok bagian
belakang kepalanya.
“Terserah kau saja.” ucap
Aiko dingin, Ia melepaskan tangan Daichi yang memegangnya dari tadi. Ekspresi
wajah Daichi berubah total, tapi lelaki itu kembali tesenyum sambil memandang
langkah Aiko yang semakin menjauh.
***