
Matahari sudah membentuk
sudut dua puluh rajat. Kursi di kelas 2-C telah terisi banyak, hanya saja untuk
kursi yang berjumlah 32 itu terdapat satu kursi yang belum ada penghuninya.
Ralat, berjumlah 33 ditambah dengan kursi di meja guru. Semua sudah asyik dengan kesibukan mereka masing-masing.
Menariknya, salah seorang
siswi yang duduk di pojok paling belakang sama sekali tak membiarkan matanya
beralih dari buku yang bersandar di mejanya. Sangat serius. Gangguan-gangguan
di sekitar dapat ditepisnya dengan mudah. Gadis itu semakin menenggelamkan dirinya
dalam buku yang dibacanya. Seberapa menariknya buku itu, tak ada yang tahu. Itu
hanya sebuah buku berukuran sedang, berisi kumpulan-kumpulan materi pengayaan
mapel Biologi. Gadis itu memang selalu duduk di meja itu meskipun Ia berangkat
paling awal, Ia sudah jatuh hati dengan tempat itu.
Narada Aiko. Ini adalah
tahun keduanya di Otsuhara Senior High School. Dari semua pelajaran yang ada,
Ia selalu memiliki kesulitan di materi hafalan, Ia memang mempunyai daya ingat
yang payah. Namun pada mapel Matematika gadis itu bisa membuat orang lain
terkesan, patut diacungi dua jempol. Gadis berambut lurus dan juga panjang itu sudah terbiasa dengan materi
hitung-hitungan, Ia tak perlu bersusah payah berjuang menghafal. Jadi mapel itu
sangat menyenangkan.
Sekarang Ia sudah berusia
enam belas tahun. Sudah hampir tiga tahun Ia terbiasa dengan karakter barunya.
Dia sudah menjadi gadis yang dingin dan enggan untuk bersosialisasi dengan
teman, lebih mementingkan pendidikannya. Memang Ia selalu tak mempunyai teman.
Saat Ia masih duduk di
kelas satu SMP, hanya satu orang yang mendapatkan gelar sebagai temannya.
Yoshio Izaka. Seorang anak laki-laki yang populer dan terpintar di sekolahnya.
Sayangnya setelah semester
dua berakhir Yoshio Izaka harus pindah sekolah. Izaka harus mengikuti
kepindahan kedua orang tuanya. Ayahnya yang bekerja sebagai seorang polisi alih
tugas di Tokyo. Rencananya mereka akan tinggal di rumah salah satu sahabatnya.
Izaka sendiri belum pernah sekali saja melihat sahabat kedua orang tuanya itu, namun
Izaka bisa menebak kalau mereka sangat akrab setelah mendengar pembicaraan
mereka ditelepon.
Keluarga Aihara menerima
tawaran sabahatnya bukan karena mereka tak berniat untuk membeli rumah disana.
Awalnya mereka sudah menolak, namun sifat keras kepala sahabatnya telah
berhasil mengubah keputusan awalnya. Tentu dengan berbagai pertimbangan. Yah,
tidak bisa dipungkiri kalau rumah sahabatnya begitu besar, bisa ditempati oleh
lima keluarga sekalipun.
***
Semester tiga baru
berjalan selama dua hari. Di hari ketiga Pak Mizuki tidak masuk ke ruang kelas
2-C sendirian. Ia bersama seorang siswa baru, warna seragam siswa itu terlihat
mencolok karena baru pertama kali dipakai. Dari penampilan luarnya sudah bisa ditebak
kalau dia berasal dari kota, sangat mempesona dan tentu lebih keren dari siswa
terkeren di sekolah itu.
Aiko sama sekali tak
memperhatikan siswa yang bersama gurunya itu. Sangat cuek. Dia lebih memilih
untuk melanjutkan membaca, sudah separuh halaman lebih Ia masuk ke dalam dunia
buku yang kini berada dipangkuan kedua telapak tangannya.
Sementara, seluruh murid
perempuan di kelas 2-C asyik memuji ketampanan siswa itu. Mereka sangat heboh.
Siswa baru itu tak ragu membalas setiap lambaian mereka sambil tersenyum lebar.
Senyuman siswa itu bagai samurai, begitu tajam dan membekas di hati murid-murid
perempuan yang sedang memandanginya. Murid laki-laki di kelas itu juga tidak
kalah, mengamati sekujur tubuh siswa baru itu dengan tatapan menilai. Layakkah
dia ditempatkan di kelas ini?
“Selamat pagi anak-anak,”
sapa Pak Mizuki. Dengan mudah Pak Mizuki berhasil mengembalikan ketenangan
kelas itu.
“Selamat pagi, Pak
Mizuki.” sahut semua murid di kelas itu secara serentak kecuali Aiko.
“Hari ini kelas kita kedatangan
teman baru. Nah, Aihara-san silahkan memperkenalkan diri.” lanjut Pak Mizuki.
Siswa baru itu
membungkukkan badannya, dan sesaat kemudian berdiri tegak menghadap wajah
teman-teman barunya. Siswi-siswi di kelas itu kembali berteriak histeris,
lelaki itu tak enggan untuk melambaikan tangan kepada mereka sekilas.
“はじめまして Hajimemashite! (Salam kenal!). Aku Aihara Izaka. Aku baru pindah dari Tokyo. どうぞよろしくDouzo yoroshiku (Senang berkenalan
dengan kalian),” lelaki itu kembali tersenyum dengan menebarkan pesonanya.
Cih. Paling lelaki itu
hanya berlagak seperti seseorang yang populer. Seketika Aiko mencibir, walau Ia
tak melihat ke arah siswa baru itu Ia bisa tahu kalau siswa itu orang yang
menyebalkan.
Para siswi di kelas itu
tak tanggung lagi untuk mengkhayal lebih tinggi, berharap mereka adalah gadis
beruntung yang bisa bersanding dengan siswa itu suatu saat nanti.
“Sudah cukup Aihara-san,
kau bisa duduk di bangkumu.” ucap Pak Mizuki, lalu mengarahkan pandangannya
pada sebuah bangku kosong yang ada disamping Aiko. Izaka membungkukkan tubuhnya
sebentar dan berjalan mendekati meja paling belakang.
Begitu Izaka sampai disana
Ia langsung memperhatikan seorang siswi yang duduk di sebelah kirinya, sejak Ia
duduk disana siswi itu sama sekali tak menengok ke arahnya. Mengucapkan salam
kenal saja tidak. Izaka hanya merasa tidak dihargai, seharusnya siswi itu
menyapanya baik-baik. Padahal hari ini Ia menjadi bintang, ternyata Ia juga
bisa kecewa dengan masalah sepele. Hanya satu orang siswi yang tak
memperhatikannya. Narada Aiko. Nama itu terbaca jelas di name tag-nya.
Di lima belas menit
terakhir, Pak Mizuki meminta murid-murid di kelas itu untuk tenang karena Ia
akan menyusun struktur organisasi di kelas itu. Sebagai wali kelas di kelas 2-C
Ia berkewajiban untuk memimpin proses penyusunan struktur organisasi tersebut
sampai selesai.
Selama menjabat sebagai
salah satu guru di Otsuhara Senior High School Ia memang sering disebut-sebut
sebagai salah satu wali kelas terbaik. Anak-anak didiknya selalu menuruti
perintahnya, sama sekali tak ada yang melanggar peraturan yang dibuatnya,
bahkan membantah perkataannya bukan budaya bagi anak didiknya. Pantas bila
kelas yang dibinanya selalu menang dalam lomba apapun di sekolah.
“Ada
yang ingin mencalonkan diri menjadi ketua kelas?” tanya Pak Mizuki dengan
sangat berwibawa. Membuat seluruh murid memusatkan perhatian kepadanya.
Sesaat
kemudian salah satu muridnya mengangkat tangan, membuat kelima jari anak itu
menunjuk langit-langit kelas. Dengan bangga Pak Mizuki menyebut nama siswa itu.
“Oh, kau Aihara Izaka? Ada
lagi? Jika tidak, Aihara Izaka akan menjadi ketua kelas 2-C.” tak ada yang
mengangkat, hal itu berarti Aihara Izaka sudah dipastikan menjadi ketua kelas
“Selanjutnya,
siapa yang ingin menjadi wakil ketua kelas?” tanya Pak Mizuki lagi. Guru itu
mengedarkan pandangannya ke segala sudut, Ia tak menemukan adanya tangan yang
terangkat ke atas. Pak Mizuki menyerah untuk menawarkan posisi jabatan lagi.
Anak-anak di kelas itu
tidak ada yang bersemangat dan antusias dengan proses pembentukan struktur
organisasi kelas itu. Pak Mizuki hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya,
menatap murid-muridnya tak percaya. Murid-murid di kelas itu bukannya tidak mau
menjadi wakil ketua kelas apalagi setelah mereka tahu kalau mereka akan menjadi
wakil dari Aihara Izaka.
Hanya saja, murid-murid di
kelas itu tak ingin dibebani dengan tugas-tugas yang tidak penting menurut
mereka. Bagi murid perempuan menjadi wakil ketua kelas ada keuntungannya,
mereka bisa berlama-lama dengan Aihara Izaka bila mendapat tugas.
Tetapi, kebanyakan dari mereka apa
yang keluar dari mulut sering berlainan dengan apa yang ada di hati mereka.
Mereka lebih suka hang out, dan aktif di sosial media. Mereka tak ingin
membuang masa mudanya percuma.
“Yang benar saja. Jika
masih tidak ada yang mengangkat tangan, dengan sangat terpaksa saya akan
menunjuk salah satu dari kalian.” tegas Pak Mizuki.
Pak
Mizuki sudah menggedor meja guru dengan sedikit keras. Bahkan suaranya dapat
didengar sampai di luar kelas. Murid-murid di kelas itu sudah saling
tunjuk-menunjuk, namun belum ada yang bersedia. Tiba-tiba saja Izaka kembali
mengangkat tangannya. Semua siswa di
kelas itu bingung. Mana ada ketua kelas yang merangkap menjadi wakil ketua.
Mereka memandang Izaka dengan tatapan yang aneh.
“Mizuki-sensei, bisakah
saya yang memilih?” tanya Izaka, Pak Mizuki hanya mengangguk ringan. Setuju
dengan perkataan Izaka. Dengan sangat antusias Izaka langsung menunjuk siapa
yang dipilihnya.
“Dia!” serunya sambil menunjuk
Aiko dengan jari telunjuknya tanpa ragu-ragu.
Aiko yang merasa ditunjuk
langsung menoleh. Tentu saja, Aiko akan menolak permintaan siswa itu. Sudah
lama sekali Ia tidak ikut ambil bagian dalam kepengurusan kelas. Dan Ia sangat
malas bila mendapatkan gelar itu. Aiko mendaratkan tangannya dan menatap Izaka
memperingatkan.
“Aku tidak mau,” suara itu
keluar dengan lantang.
Izaka hanya mengangguk
seakan memahami apa yang diucapkan gadis itu. Namun, ternyata Izaka tidak ingin
merubah keputusannya.
“Narada-san. Saya rasa tak
ada salahnya, justru itu bisa memperbaiki hubungan sosialmu.” ucap Pak Mizuki
segera. Aiko pura-pura tak mendengar. Ia menampilkan wajah dinginnya, wajah tak
ingin terlibat dengan urusan mereka.
“Tidak ada pilihan lain,
Aiko-chan?” kata Izaka dengan mengangkat bahunya. Namun Aiko terkejut saat
mendengar lelaki itu mengucapkan nama depannya. Bagaimana lelaki itu bisa tahu
namanya? Padahal Ia baru saja pertama kali bertemu dengannya.
Selanjutnya, pemilihan
beberapa jabatan lain berlangsung dengan sangat lancar. Niema menjabat sebagai
sekretaris sedangkan untuk bendahara dijabat oleh Ozio, mereka memilih seorang
laki-laki yang menjadi bendahara karena khawatir jika yang menjadi bendahara
seorang perempuan uang kas akan dibelanjakan begitu saja. Sebagian besar wanita
kan memang suka belanja.
Jumlah seksi yang
dibutuhkan ada empat seksi. Siswa yang menjabat diantaranya, Hajime sebagai
seksi olahraga, Miera sebagai seksi kebersihan. Yura sebagai seksi keamanan,
walaupun Ia perempuan tetapi mereka tidak salah memilih. Dari kecil Yura memang
sudah jago taekwondo. Dan sebagai seksi prasarana siswa yang dipilih Jugo.
Susunan sudah lengkap, dan tidak ada lagi yang mengelak. Cukup melegakan bagi
Pak Mizuki. Sekarang Ia bisa tenang...
Bel penanda usainya
pelajaran di sekolah itu berdenting, Aiko mengemas semua buku yang tadi
dikeluarkannya ke dalam tas berwarna jingga. Tinggal dua buku lagi yang harus
Ia masukkan ke dalam tas. Tiba-tiba siswa baru yang bernama Aihara Izaka itu
duduk di mejanya dan menahan buku yang hendak Ia masukkan. Siswa itu lalu
menyeringai dengan eloknya. Jika siswi yang melihat bukan dirinya pasti akan
histeris saat melihatnya.
“Mau melakukan perayaan?
Aku tak yakin kita akan punya waktu luang.” ucap Izaka kemudian. Jika Aiko
setuju Ia akan sangat bersemangat. Izaka menunggu jawaban Aiko dengan cukup
lama. Bibir Aiko masih mengatup rapat, tak ada celah sekecilpun.
Aiko menghela nafasnya
panjang, dalam hembusan nafasnya tersirat ketidaksetujuannya. Aiko tak punya waktu
untuk melakukan hal-hal yang tidak penting menurutnya. Ia memandang wajah
lelaki itu sesaat, Ia bisa mengamati penampilan lelaki itu. Lelaki itu
menggunakan model rambut dengan poni yang sedikit menutupi dahi, begitu pas
dengan bentuk wajahnya. Lelaki itu juga memiliki dagu yang lumayan lancip.
Izaka
kembali menyeringai. Aiko pun
menghentikan aktivitas bodohnya karena mengamati lelaki itu. Ia menarik bukunya
yang ditahan oleh Izaka dengan energi dua kali lipat. Hasilnya, buku itu
terpental ke arahnya. Yah, Izaka memang sengaja melepaskan energinya begitu
saja sehingga bukunya terpental. Lelaki itu hanya sedang mempermainkannya.
“Tak apa-apa jika kau
menolak. Tapi melihat status kita saat ini, lain kali kau tidak bisa menolak.”
kata Izaka ketika bangun dari meja bersiap meninggalkan kelas.
Aiko memasukkan bukunya
segera. Ia keluar dari kelasnya sambil memikirkan ucapan siswa baru itu. Aihara
Izaka, Ia masih bisa mengingat namanya walau tak memperhatikan lelaki itu saat
memperkenalkan diri di depan kelas. Kata-kata yang Ia dengar dari siswa itu
mengingatkannya dengan temannya. Yoshio Izaka. Mereka memiliki nama yang sama
dengan nama marga yang berbeda.
Ketika masih SMP, gadis
itu pernah menjabat sebagai wakil ketua kelas dengan Yoshio Izaka sebagai ketua
kelasnya. Apa yang diucapkan oleh siswa baru itu sama persis dengan apa yang
dulu pernah diucapkan oleh Yoshio Izaka.
Tidak,
dia bukan temannya itu. Mungkin tadi itu hanya kebetulan. Aiko mencoba
meyakinkan dirinya. Yoshio Izaka sudah diberitakan meninggal dalam kecelakaan
yang terjadi sekitar tiga tahun yang lalu. Berita itu tak bisa diragukan lagi,
di beberapa surat kabar terpampang dengan jelas. Bahkan kecelakaan itu juga
sempat menjadi trending topik di acara beberapa stasiun televisi.
***