Remember Again

Remember Again
22


Suara bel pulang sekolah telah


terdengar di telinga semua murid. Ini saat yang paling ditunggu-tunggu


menjelang libur akhir pekan. Mereka bisa bersenang-senang di luar rumah, dan


yang terpenting mereka bisa tidur lebih lama. Pokoknya mereka bebas dari segala


materi pelajaran. Waktu yang seperti itu memang tak pernah digunakan untuk


mengerjakan PR dari guru. Mereka merasa, itu waktu yang harus digunakan


seoptimal mungkin demi menjernihkan otaknya. Tak apa bagi mereka, karena hari


Sabtu hanya ada satu kali dalam seminggu.


Ingin rasanya Aiko


mengajak Izaka untuk pulang bersamanya, rumah mereka memang satu jalur tetapi


bisa juga tidak. Tergantung jalur yang ditempuh. Ia tak berani untuk


mengajaknya, jadi Ia hanya mengikuti Izaka dari belakang. Ia menyadari kalau


Izaka menyusuri jalur yang tak seperti biasanya, namun Ia tetap mengikutinya.


Sampai Ia begitu tertegun melihat Izaka yang tidak sedang menuju ke rumahnya.


Lelaki itu malah menuju ke rumah yang tidak Ia ketahui siapa pemiliknya. Izaka


seperti kenal betul dengan daerah itu.


Kompleks perumahan Blok G


memang tak jauh dari rumahnya. Hanya dengan memotong jalan, akan cepat sampai


kesana. Aiko semakin penasaran.


         Sekarang


Aiko terlihat seperti orang bodoh. Ia sedang mengikuti orang lain, tetapi dia


sendiri malah diikuti oleh seekor anjing, menyadari itu Ia menyusul Izaka


dengan langkah cepat, Ia menarik lengan lelaki itu.


         Anjing


itu malah mengejarnya, dengan tanggap Izaka berhasil menjauhkan anjing itu.


Lelaki itu hanya mengambil sebuah ranting pohon yang telah lama terjatuh di


jalan, lalu melemparnya sejauh mungkin. Anjing itu mengejar ranting yang


dilemparnya entah menuju kemana. Sejenak Aiko bisa bernafas lega, setidaknya Ia


tidak terkena gigitan anjing.


“Lepaskan.” kata Izaka


dengan angkuh, bermaksud menyindir sikap Aiko. Aiko pun melepaskan pegangannya


di lengan Izaka dengan gerakan terburu-buru.


“Aku paling tidak suka diikuti.”


kata Izaka lagi. Tanpa menghiraukan perkataan lelaki itu, Aiko hanya memandang


ke sekeliling. Mengawasi apabila ada bahaya yang menuju ke arahnya lagi. Ia


jadi sedikit ketakutan.


“Kau mau kemana sih?”


tanya Aiko kemudian, masih memandang ke sekeliling.


“Kebetulan aku hanya


sedang ingin bernostalgia pada suatu tempat.” jawabnya.


Mereka berdua sampai di


depan rumah yang dipenuhi dengan pot-pot tanaman. Rumah Nyonya Yori. Semalam


Izaka dikabari oleh perempuan itu kalau kunci rumah lamanya sudah ketemu. Ia


sangat tidak sabar menuju rumah perempuan itu, tidur saja Ia sampai tidak bisa.


Wajar bila waktu di kelas tadi, Izaka sama sekali tidak memperhatikan gurunya


saat mengajar.  Matanya yang bengkak dan


merah membuatnya memilih untuk memejamkan mata.


         Dengan


memasuki rumah lamanya, mungkin memorinya akan kembali. Ia sangat ingin


mengetahui kenangan bersama kedua orang tua kandungnya. Izaka mengetuk pintu


cokelat itu.


“Konnichiwa! (Selamat


Siang!), Yori-san” ucap Izaka.


Setelah pintu itu terbuka


Aiko melihat sesosok wanita yang cukup dewasa, wanita itu menatap Izaka sesaat


dan beralih menatapnya dengan hangat. Ia membalas tatapan itu dengan sebuah


senyuman.


“Masuklah. Aku sudah lama


menunggumu.” kata Nyonya Yori. Perempuan itu melangkah masuk, Izaka mengikutinya


sehingga Aiko juga melangkahkan sepasang kakinya.


         Mereka


tiba di sebuah ruang tamu yang tak cukup besar, ruang tamu itu lebih kecil


dibandingkan ruang tamu di rumah Aiko.


Rumah yang sederhana, tetapi begitu


damai. Pikir Aiko. Sepemikiran dengan Izaka.


jangan-jangan kau pacarnya ya?” pertanyaan itu membuat Aiko tertegun. Menatap


Izaka sesaat, lalu menggelengkan kepalanya.


“Tidak mungkin aku


memiliki pacar seperti dia.” bantah Aiko.


“Mana mungkin juga kau


pacarku. Kau bukan tipeku.” kata Izaka. Aiko teringat dengan hal yang pernah


dikatakannya saat SMP. Izaka seperti sedang menirunya. Kini lelaki itu malah


tersenyum menyeringai, barusan seperti sengaja mengatakan hal itu.


         Sesaat


Aiko pun membungkukkan kepalanya sedikit, meskipun saat itu mereka semua sedang


duduk di sebuah sofa yang sudah lumayan usang. Kalau Ia tebak, usia sofa itu


hampir sama dengan usianya. Tetapi walau demikian sofa itu masih terlihat


bagus, Nyonya Yori memang pandai merawatnya.


“Saya Narada Aiko, teman satu


kelasnya.”


“Aku sudah menganggap


Izaka seperti anakku sendiri. Namaku Ishida Yori.” ucap Nyonya Yori sambil


dibumbui dengan senyuman manis.


         Setelah


Izaka mendapatkan kunci itu, mereka berdua langsung menuju ke sebuah rumah yang


tak jauh dari rumah Nyonya Yori. Rumah itu sudah lama tak terurus, bagian atap


rumah itu banyak dirambati oleh lumut-lumut kecil, begitu pula dengan dinding


yang semula berwarna putih.


         Izaka


menarik sebuah kain yang menutup sebuah sofa panjang di ruang tamu. Lalu


membuangnya begitu saja. Ia berbaring disana sambil meletakkan punggung


tangannya di dahi. Ia menghela nafas kemudian.


Dari luar rumah itu memang


terlihat tidak terawat. Tetapi semua yang ada di dalam rumah terlihat bersih.


Seperti dijaga dan selalu dibersihkan secara berkala. Melihat barang-barang di


rumah lamanya yang ditutupi oleh kain-kain putih membuatnya berpikiran aneh.


Aneh memang. Terutama


listrik di rumah itu masih bisa menyala. Seharusnya dari pihak yang berwajib


sudah mencabut listrik di rumah itu. Semua tertata dengan rapi, hanya saja


perabotan-perabotan di rumah itu tak pernah digunakan.


“Apa yang ingin kau


lakukan di rumah ini?” tanya Aiko heran. Dari tadi Ia hanya merasa bingung.


“Sudah berulang kali aku


menegaskan, kalau aku bukan Yoshio Izaka. Tapi kau keras kepala, dan akhirnya


membuatku menyerah.” kata Izaka. Izaka menjawabnya dengan jawaban yang tak


sesuai.


“Syukurlah, aku tak


melupakanmu.”


“Sangat sulit bagiku.. Aku


tak bisa ingat kenangan bersama kedua orang tuaku.” lanjutnya.


Aiko sama sekali tak


mengerti maksud perkataan Izaka. Wajahnya tampak bingung, dan berpikir keras


untuk mencerna ucapan yang baru saja didengarnya.


“Padahal aku sangat ingin


bisa mengerti itu. Maafkan aku..” lalu Aiko menggelengkan kepalanya. Kecewa


terhadap dirinya sendiri.


“Aku tak ingat apa-apa


tentang orang tua kandungku.” ucapnya membuat Aiko begitu terkejut. Gadis itu


sampai menutup mulutnya, tak ingin mempercayainya.


         Sejujurnya


Aiko masih kurang mengerti dengan apa yang telah dikatakan Izaka. Namun kini Ia


memahami kalau Izaka saat ini tinggal bersama orang tua angkatnya. Itu memang


tidak terdengar menyenangkan.


         Meski


Izaka selalu mencoba mengingat-ingat, tak satu pun dari kenangan bersama orang


tua kandungnya yang kembali. Selama ini lelaki itu sangat menderita. Ia selalu


menyalahkan dirinya karena tak bisa mengingatnya, sampai sekarang.


***