
Suara bel pulang sekolah telah
terdengar di telinga semua murid. Ini saat yang paling ditunggu-tunggu
menjelang libur akhir pekan. Mereka bisa bersenang-senang di luar rumah, dan
yang terpenting mereka bisa tidur lebih lama. Pokoknya mereka bebas dari segala
materi pelajaran. Waktu yang seperti itu memang tak pernah digunakan untuk
mengerjakan PR dari guru. Mereka merasa, itu waktu yang harus digunakan
seoptimal mungkin demi menjernihkan otaknya. Tak apa bagi mereka, karena hari
Sabtu hanya ada satu kali dalam seminggu.
Ingin rasanya Aiko
mengajak Izaka untuk pulang bersamanya, rumah mereka memang satu jalur tetapi
bisa juga tidak. Tergantung jalur yang ditempuh. Ia tak berani untuk
mengajaknya, jadi Ia hanya mengikuti Izaka dari belakang. Ia menyadari kalau
Izaka menyusuri jalur yang tak seperti biasanya, namun Ia tetap mengikutinya.
Sampai Ia begitu tertegun melihat Izaka yang tidak sedang menuju ke rumahnya.
Lelaki itu malah menuju ke rumah yang tidak Ia ketahui siapa pemiliknya. Izaka
seperti kenal betul dengan daerah itu.
Kompleks perumahan Blok G
memang tak jauh dari rumahnya. Hanya dengan memotong jalan, akan cepat sampai
kesana. Aiko semakin penasaran.
Sekarang
Aiko terlihat seperti orang bodoh. Ia sedang mengikuti orang lain, tetapi dia
sendiri malah diikuti oleh seekor anjing, menyadari itu Ia menyusul Izaka
dengan langkah cepat, Ia menarik lengan lelaki itu.
Anjing
itu malah mengejarnya, dengan tanggap Izaka berhasil menjauhkan anjing itu.
Lelaki itu hanya mengambil sebuah ranting pohon yang telah lama terjatuh di
jalan, lalu melemparnya sejauh mungkin. Anjing itu mengejar ranting yang
dilemparnya entah menuju kemana. Sejenak Aiko bisa bernafas lega, setidaknya Ia
tidak terkena gigitan anjing.
“Lepaskan.” kata Izaka
dengan angkuh, bermaksud menyindir sikap Aiko. Aiko pun melepaskan pegangannya
di lengan Izaka dengan gerakan terburu-buru.
“Aku paling tidak suka diikuti.”
kata Izaka lagi. Tanpa menghiraukan perkataan lelaki itu, Aiko hanya memandang
ke sekeliling. Mengawasi apabila ada bahaya yang menuju ke arahnya lagi. Ia
jadi sedikit ketakutan.
“Kau mau kemana sih?”
tanya Aiko kemudian, masih memandang ke sekeliling.
“Kebetulan aku hanya
sedang ingin bernostalgia pada suatu tempat.” jawabnya.
Mereka berdua sampai di
depan rumah yang dipenuhi dengan pot-pot tanaman. Rumah Nyonya Yori. Semalam
Izaka dikabari oleh perempuan itu kalau kunci rumah lamanya sudah ketemu. Ia
sangat tidak sabar menuju rumah perempuan itu, tidur saja Ia sampai tidak bisa.
Wajar bila waktu di kelas tadi, Izaka sama sekali tidak memperhatikan gurunya
saat mengajar. Matanya yang bengkak dan
merah membuatnya memilih untuk memejamkan mata.
Dengan
memasuki rumah lamanya, mungkin memorinya akan kembali. Ia sangat ingin
mengetahui kenangan bersama kedua orang tua kandungnya. Izaka mengetuk pintu
cokelat itu.
“Konnichiwa! (Selamat
Siang!), Yori-san” ucap Izaka.
Setelah pintu itu terbuka
Aiko melihat sesosok wanita yang cukup dewasa, wanita itu menatap Izaka sesaat
dan beralih menatapnya dengan hangat. Ia membalas tatapan itu dengan sebuah
senyuman.
“Masuklah. Aku sudah lama
menunggumu.” kata Nyonya Yori. Perempuan itu melangkah masuk, Izaka mengikutinya
sehingga Aiko juga melangkahkan sepasang kakinya.
Mereka
tiba di sebuah ruang tamu yang tak cukup besar, ruang tamu itu lebih kecil
dibandingkan ruang tamu di rumah Aiko.
Rumah yang sederhana, tetapi begitu
damai. Pikir Aiko. Sepemikiran dengan Izaka.
jangan-jangan kau pacarnya ya?” pertanyaan itu membuat Aiko tertegun. Menatap
Izaka sesaat, lalu menggelengkan kepalanya.
“Tidak mungkin aku
memiliki pacar seperti dia.” bantah Aiko.
“Mana mungkin juga kau
pacarku. Kau bukan tipeku.” kata Izaka. Aiko teringat dengan hal yang pernah
dikatakannya saat SMP. Izaka seperti sedang menirunya. Kini lelaki itu malah
tersenyum menyeringai, barusan seperti sengaja mengatakan hal itu.
Sesaat
Aiko pun membungkukkan kepalanya sedikit, meskipun saat itu mereka semua sedang
duduk di sebuah sofa yang sudah lumayan usang. Kalau Ia tebak, usia sofa itu
hampir sama dengan usianya. Tetapi walau demikian sofa itu masih terlihat
bagus, Nyonya Yori memang pandai merawatnya.
“Saya Narada Aiko, teman satu
kelasnya.”
“Aku sudah menganggap
Izaka seperti anakku sendiri. Namaku Ishida Yori.” ucap Nyonya Yori sambil
dibumbui dengan senyuman manis.
Setelah
Izaka mendapatkan kunci itu, mereka berdua langsung menuju ke sebuah rumah yang
tak jauh dari rumah Nyonya Yori. Rumah itu sudah lama tak terurus, bagian atap
rumah itu banyak dirambati oleh lumut-lumut kecil, begitu pula dengan dinding
yang semula berwarna putih.
Izaka
menarik sebuah kain yang menutup sebuah sofa panjang di ruang tamu. Lalu
membuangnya begitu saja. Ia berbaring disana sambil meletakkan punggung
tangannya di dahi. Ia menghela nafas kemudian.
Dari luar rumah itu memang
terlihat tidak terawat. Tetapi semua yang ada di dalam rumah terlihat bersih.
Seperti dijaga dan selalu dibersihkan secara berkala. Melihat barang-barang di
rumah lamanya yang ditutupi oleh kain-kain putih membuatnya berpikiran aneh.
Aneh memang. Terutama
listrik di rumah itu masih bisa menyala. Seharusnya dari pihak yang berwajib
sudah mencabut listrik di rumah itu. Semua tertata dengan rapi, hanya saja
perabotan-perabotan di rumah itu tak pernah digunakan.
“Apa yang ingin kau
lakukan di rumah ini?” tanya Aiko heran. Dari tadi Ia hanya merasa bingung.
“Sudah berulang kali aku
menegaskan, kalau aku bukan Yoshio Izaka. Tapi kau keras kepala, dan akhirnya
membuatku menyerah.” kata Izaka. Izaka menjawabnya dengan jawaban yang tak
sesuai.
“Syukurlah, aku tak
melupakanmu.”
“Sangat sulit bagiku.. Aku
tak bisa ingat kenangan bersama kedua orang tuaku.” lanjutnya.
Aiko sama sekali tak
mengerti maksud perkataan Izaka. Wajahnya tampak bingung, dan berpikir keras
untuk mencerna ucapan yang baru saja didengarnya.
“Padahal aku sangat ingin
bisa mengerti itu. Maafkan aku..” lalu Aiko menggelengkan kepalanya. Kecewa
terhadap dirinya sendiri.
“Aku tak ingat apa-apa
tentang orang tua kandungku.” ucapnya membuat Aiko begitu terkejut. Gadis itu
sampai menutup mulutnya, tak ingin mempercayainya.
Sejujurnya
Aiko masih kurang mengerti dengan apa yang telah dikatakan Izaka. Namun kini Ia
memahami kalau Izaka saat ini tinggal bersama orang tua angkatnya. Itu memang
tidak terdengar menyenangkan.
Meski
Izaka selalu mencoba mengingat-ingat, tak satu pun dari kenangan bersama orang
tua kandungnya yang kembali. Selama ini lelaki itu sangat menderita. Ia selalu
menyalahkan dirinya karena tak bisa mengingatnya, sampai sekarang.
***