
Menit-menit di jam
istirahat pertama Aiko gunakan untuk pergi ke perpustakaan, melanjutkan buku
yang dibacanya kemarin lusa. Sekarang ini Ia sudah duduk di meja baca, dan
menyusuri isi buku yang dipegangnya.
Suasana perpustakaan
sangat kondusif, tak ada satu keributan pun yang terdengar. Para pengunjung
membaca dengan tenang. Ia sendiri sampai tidak menyadari kehadiran seseorang disampingnya.
Jika orang itu tidak menepuk pundak dan juga menyapanya, mungkin sampai nanti
Ia tidak akan menyadari kehadiran orang itu.
“Kelihatannya
bagus,” ucap Daichi sambil melihat sampul buku yang dipegang Aiko.
“Bahasanya
mudah dipahami. Begitulah menurutku.” sahut Aiko yang menoleh ke arah Daichi.
“Sukiyama-kun,
kau memang sangat suka membaca ya?” tanya Aiko,
“Iya,
aku memang sangat menyukainya. Setidaknya, dengan membaca aku bisa mengingat
terus seseorang yang ku sayangi.” ucapnya. Aiko belum tahu kalau ibunya Daichi sudah meninggal. Sewaktu ibunya
sakit Daichi tak pernah lupa untuk membawakan buku bacaan untuk ibunya.
Aiko
pun kembali untuk membaca bukunya. Sementara Daichi masih memandanginya. Daichi
akan menyatakan perasaannya langsung, rasanya sangat deg-degan. Walau ini bukan
pertama kalinya, tetapi Ia sampai tak nyaman bernafas.
“Aiko,
kenapa kau tak memanggilku dengan nama depanku? Setiap kali kau memanggilku aku
selalu memikirkannya.” kata Daichi. Aiko pun menatapnya bingung. Aiko sekarang
mengerti. Orang yang ada dihadapannya itu ingin Ia memanggil dengan nama
depannya.
“Daichi-kun!
Kau ingin aku memanggilmu begitu kan?” tanya Aiko.
“Ya.
Sudah lama sekali aku menunggu itu. Saat kau memanggilku dengan nama
belakangku. Aku merasa seperti orang asing bagimu. Padahal aku ingin kau
menganggapku lebih.” jelas Daichi. Aiko jadi mendengarkannya dengan seksama,
sampai tak akan membiarkan satu kata pun terlewat.
“Aku
mengerti. Karena kau menganggapku temanmu. Begitu kan?” sahutnya.
Jika
sudah orang lain yang mendekat ke arahnya, rasanya Aiko tak sanggup menolak
untuk mempunyai teman lagi. Walau masih sulit, Ia ingin sedikit terbuka karena
Ia tak mau Daichi terluka bila Ia tidak pernah menganggap keberadaannya.
“Tidak
seperti itu. Aku benar-benar ingin kau menganggapku lebih. だい好き Daisuki~
(Aku sangat menyukaimu).” tegas Daichi kembali.
Aiko
ternganga mendengarnya. Hari ini di perpustakaan, Daichi menyatakan perasaan
suka kepadanya. Ia tidak bisa. Sudah ada orang lain di hatinya. Ia harus menolak.
“Maaf,
aku tidak punya waktu untuk sesuatu yang seperti itu. Aku ingin fokus dengan
masa depanku.” Aiko pun bangun dari tempat duduknya, namun Daichi menahan
pergelangan tangannya.
“Wakatta
(Aku mengerti). Karena itulah aku akan menunggumu.” ucap Daichi pasti. Ia
sangat mengharapkan Aiko.
“Kau
hanya akan sia-sia menungguku. Pada akhirnya aku tetap tidak bisa. Karena kau
bukan tipeku!”
Aiko
selalu menjadikan tipe sebagai alasannya, mungkin itu alasan yang paling mudah
didapat. Ia belum sanggup untuk jujur tentang perasaannya selama ini. Dan Aiko
yakin itu juga sudah cukup untuk menghentikan perasaan Daichi kepadanya.
“Aku
sungguh minta maaf. Aku tidak menyukaimu.” kata Aiko lagi. Aiko sudah salah
mengira Daichi ingin berteman dengannya, ternyata Daichi mendekatinya karena
lelaki itu suka padanya.
“Aku
akan merubah diriku menjadi tipe orang yang kau sukai. Karena itu, setidaknya
berilah aku kesempatan!” sahut Daichi, Ia masih ingin terus berjuang.
“Kenapa
kau ingin menunggu seseorang yang tidak bisa memberimu kepastian? Itu tindakan
yang sangat konyol.” balas Aiko. Aiko melepaskan tangan Daichi segera dengan
gerakan perlahan, karena tak ingin membuat tangan itu terluka.
“Kau
kembalilah ke kelasmu, terlambat masuk ke kelas hanya akan mendapat amarah dan
Aiko berjalan ke depan, Ia
mengembalikan buku yang Ia baca ke tempat semula. Setelah itu, Ia tak ragu
untuk segera meninggalkan perpustakaan dan menuju ke kelasnya. Sebelum Ia
benar-benar sampai, dari sudut matanya terlihat Zei yang sedang bersimpuh
sambil menyandarkan punggungnya ke dinding yang ada di sudut koridor dekat
dengan perpustakaan. Bahkan Zei tertunduk lesu dengan wajah yang ditutupi
dengan kedua telapak tangannya.
Orang yang Aiko lihat
memang Zei, Ia sudah semakin mengenalnya sehingga Ia tak salah mengenalinya.
Aiko pun mendekatinya, menyentuh bahu gadis itu dan mencoba menanyakan
keadaannya. Sepertinya suasana hati gadis itu benar-benar buruk, Aiko tahu
bahwa Zei sedang menangis.
“Zei-chan?
Daijoubu desu ka? (Apa kau baik-baik saja?),” Zei hanya mengangkat wajah dan menghapus bekas air mata yang
membasahi wajahnya. Gadis itu tak menjawab pertanyaannya.
“Apa
sesuatu yang buruk terjadi padamu?” tanya Aiko tambah cemas. Mata Zei sangat
merah dimatanya. Aiko juga tahu kalau Zei sesungguhnya belum bisa menghentikan
tangisannya.
Sesaat kemudian, Aiko begitu tertegun
melihat sikap Zei.
“Kau
tidak pantas memanggil namaku. Jangan pernah menemuiku lagi.” suara itu
terdengar semakin kecil karena setelah Zei menepis tangannya, Zei beringsut
pergi dengan langkah yang cepat.
Aiko hanya bisa memandangi
langkah kaki Zei yang semakin jauh, dan juga lambaian rambut panjang gadis itu.
Aiko segera bangkit dan berdiri tegak.
Ia sudah menyusun langkahnya lagi. Tiba-tiba Izaka muncul dihadapannya. Itu
sedikit mengagetkannya.
“Apa
terjadi sesuatu?” tanya Izaka, tanpa meminta maaf terlebih dahulu.
“Bukan
urusanmu,” jawabnya ketus. Aiko pun melanjutkan langkah kakinya, dan sudah
berhasil melewati Izaka. Izaka rupanya tak berhenti bicara sampai disitu saja.
“Aku
tahu. Tapi tahukah kau kalau temanmu itu menyukai seseorang?” ucapan Izaka
membuat Aiko tak bisa berdiam diri.
“Tentu
aku tahu.” jawabnya percaya diri.
“Siapa
yang disukainya?” Izaka kembali menanyainya.
“Dia..”
sekarang Aiko tidak tahu harus menjawab apa. Selama ini Zei hanya mengatakan
kalau Ia menyukai seseorang, tetapi tak pernah menyebutkan namanya. Jadi Aiko
tidak tahu siapa.
“Mungkinkah
orang itu Daichi?” tanya Aiko ragu. Izaka hanya menjawabnya dengan anggukan
ringan.
“Tapi,
bagaimana kau bisa tahu?” tanya Aiko, Ia masih meragukannya.
“Saat
Daichi bermain basket, aku tahu kalau ada seseorang yang selalu
memperhatikannya...” tanpa peduli dengan lanjutan dari perkataan Izaka, Aiko
bergegas menuju kelas 2-E.
Hanya butuh beberapa detik
untuk sampai di depan pintu kelas itu, Aiko berusaha mengatur nafasnya yang
terengah-engah. Ia akan segera masuk dari pintu yang ada dihadapannya itu.
Namun rupanya Izaka telah menyusulnya. Lelaki itu meraih tangannya dan
menariknya ke ruang kelasnya.
Tangan
itu... itu pasti tangan yang sama. Sangat hangat dan lembut, tak berniat untuk
menorehkan luka di tangannya. Aiko merasa nyaman akan kehadiran tangan itu,
cukup menenangkannya.
“Bel
masuk sudah terdengar dari tadi. Jika ada sesuatu yang ingin kau katakan, kau
harus bisa menahannya. Kalau kau tetap nekat ke kelas itu, kau bisa jadi pusat perhatian. Aku tidak suka.”
sebetulnya Izaka tidak ingin Aiko bertemu dengan Daichi.
Setelah melihat Daichi
yang dengan mudah menyatakan suka kepada Aiko, Ia jadi khawatir dan dilingkupi
perasaan tidak tenang. Jika saja, Aiko menerima perasaan Daichi. Ia akan
semakin jauh darinya. Tidak, dia tidak pernah inginkan itu.
***