Remember Again

Remember Again
14


Menit-menit di jam


istirahat pertama Aiko gunakan untuk pergi ke perpustakaan, melanjutkan buku


yang dibacanya kemarin lusa. Sekarang ini Ia sudah duduk di meja baca, dan


menyusuri isi buku yang dipegangnya.


Suasana perpustakaan


sangat kondusif, tak ada satu keributan pun yang terdengar. Para pengunjung


membaca dengan tenang. Ia sendiri sampai tidak menyadari kehadiran seseorang disampingnya.


Jika orang itu tidak menepuk pundak dan juga menyapanya, mungkin sampai nanti


Ia tidak akan menyadari kehadiran orang itu.


         “Kelihatannya


bagus,” ucap Daichi sambil melihat sampul buku yang dipegang Aiko.


         “Bahasanya


mudah dipahami. Begitulah menurutku.” sahut Aiko yang menoleh ke arah Daichi.


         “Sukiyama-kun,


kau memang sangat suka membaca ya?” tanya Aiko,


         “Iya,


aku memang sangat menyukainya. Setidaknya, dengan membaca aku bisa mengingat


terus seseorang yang ku sayangi.” ucapnya.  Aiko belum tahu kalau ibunya Daichi sudah meninggal. Sewaktu ibunya


sakit Daichi tak pernah lupa untuk membawakan buku bacaan untuk ibunya.


         Aiko


pun kembali untuk membaca bukunya. Sementara Daichi masih memandanginya. Daichi


akan menyatakan perasaannya langsung, rasanya sangat deg-degan. Walau ini bukan


pertama kalinya, tetapi Ia sampai tak  nyaman bernafas.


         “Aiko,


kenapa kau tak memanggilku dengan nama depanku? Setiap kali kau memanggilku aku


selalu memikirkannya.” kata Daichi. Aiko pun menatapnya bingung. Aiko sekarang


mengerti. Orang yang ada dihadapannya itu ingin Ia memanggil dengan nama


depannya.


         “Daichi-kun!


Kau ingin aku memanggilmu begitu kan?” tanya Aiko.


         “Ya.


Sudah lama sekali aku menunggu itu. Saat kau memanggilku dengan nama


belakangku. Aku merasa seperti orang asing bagimu. Padahal aku ingin kau


menganggapku lebih.” jelas Daichi. Aiko jadi mendengarkannya dengan seksama,


sampai tak akan membiarkan satu kata pun terlewat.


         “Aku


mengerti. Karena kau menganggapku temanmu. Begitu kan?” sahutnya.


         Jika


sudah orang lain yang mendekat ke arahnya, rasanya Aiko tak sanggup menolak


untuk mempunyai teman lagi. Walau masih sulit, Ia ingin sedikit terbuka karena


Ia tak mau Daichi terluka bila Ia tidak pernah menganggap keberadaannya.


         “Tidak


seperti itu. Aku benar-benar ingin kau menganggapku lebih. だい好き Daisuki~


(Aku sangat menyukaimu).” tegas Daichi kembali.


         Aiko


ternganga mendengarnya. Hari ini di perpustakaan, Daichi menyatakan perasaan


suka kepadanya. Ia tidak bisa. Sudah ada orang lain di hatinya. Ia harus menolak.


         “Maaf,


aku tidak punya waktu untuk sesuatu yang seperti itu. Aku ingin fokus dengan


masa depanku.” Aiko pun bangun dari tempat duduknya, namun Daichi menahan


pergelangan tangannya.


         “Wakatta


(Aku mengerti). Karena itulah aku akan menunggumu.” ucap Daichi pasti. Ia


sangat mengharapkan Aiko.


        “Kau


hanya akan sia-sia menungguku. Pada akhirnya aku tetap tidak bisa. Karena kau


bukan tipeku!”


         Aiko


selalu menjadikan tipe sebagai alasannya, mungkin itu alasan yang paling mudah


didapat. Ia belum sanggup untuk jujur tentang perasaannya selama ini. Dan Aiko


yakin itu juga sudah cukup untuk menghentikan perasaan Daichi kepadanya.


         “Aku


sungguh minta maaf. Aku tidak menyukaimu.” kata Aiko lagi. Aiko sudah salah


mengira Daichi ingin berteman dengannya, ternyata Daichi mendekatinya karena


lelaki itu suka padanya.


         “Aku


akan merubah diriku menjadi tipe orang yang kau sukai. Karena itu, setidaknya


berilah aku kesempatan!” sahut Daichi, Ia masih ingin terus berjuang.


         “Kenapa


kau ingin menunggu seseorang yang tidak bisa memberimu kepastian? Itu tindakan


yang sangat konyol.” balas Aiko. Aiko melepaskan tangan Daichi segera dengan


gerakan perlahan, karena tak ingin membuat tangan itu terluka.


         “Kau


kembalilah ke kelasmu, terlambat masuk ke kelas hanya akan mendapat amarah dan


Aiko berjalan ke depan, Ia


mengembalikan buku yang Ia baca ke tempat semula. Setelah itu, Ia tak ragu


untuk segera meninggalkan perpustakaan dan menuju ke kelasnya. Sebelum Ia


benar-benar sampai, dari sudut matanya terlihat Zei yang sedang bersimpuh


sambil menyandarkan punggungnya ke dinding yang ada di sudut koridor dekat


dengan perpustakaan. Bahkan Zei tertunduk lesu dengan wajah yang ditutupi


dengan kedua telapak tangannya.


Orang yang Aiko lihat


memang Zei, Ia sudah semakin mengenalnya sehingga Ia tak salah mengenalinya.


Aiko pun mendekatinya, menyentuh bahu gadis itu dan mencoba menanyakan


keadaannya. Sepertinya suasana hati gadis itu benar-benar buruk, Aiko tahu


bahwa Zei sedang menangis.


         “Zei-chan?


Daijoubu desu ka? (Apa kau baik-baik saja?),” Zei hanya mengangkat wajah dan menghapus bekas air mata yang


membasahi wajahnya. Gadis itu tak menjawab pertanyaannya.


         “Apa


sesuatu yang buruk terjadi padamu?” tanya Aiko tambah cemas. Mata Zei sangat


merah dimatanya. Aiko juga tahu kalau Zei sesungguhnya belum bisa menghentikan


tangisannya.


Sesaat kemudian, Aiko begitu tertegun


melihat sikap Zei.


         “Kau


tidak pantas memanggil namaku. Jangan pernah menemuiku lagi.” suara itu


terdengar semakin kecil karena setelah Zei menepis tangannya, Zei beringsut


pergi dengan langkah yang cepat.


Aiko hanya bisa memandangi


langkah kaki Zei yang semakin jauh, dan juga lambaian rambut panjang gadis itu.


Aiko segera bangkit dan berdiri tegak.


Ia sudah menyusun langkahnya lagi. Tiba-tiba Izaka muncul dihadapannya. Itu


sedikit mengagetkannya.


         “Apa


terjadi sesuatu?” tanya Izaka, tanpa meminta maaf terlebih dahulu.


         “Bukan


urusanmu,” jawabnya ketus. Aiko pun melanjutkan langkah kakinya, dan sudah


berhasil melewati Izaka. Izaka rupanya tak berhenti bicara sampai disitu saja.


         “Aku


tahu. Tapi tahukah kau kalau temanmu itu menyukai seseorang?” ucapan Izaka


membuat Aiko tak bisa berdiam diri.


         “Tentu


aku tahu.” jawabnya percaya diri.


         “Siapa


yang disukainya?” Izaka kembali menanyainya.


         “Dia..”


sekarang Aiko tidak tahu harus menjawab apa. Selama ini Zei hanya mengatakan


kalau Ia menyukai seseorang, tetapi tak pernah menyebutkan namanya. Jadi Aiko


tidak tahu siapa.


         “Mungkinkah


orang itu Daichi?” tanya Aiko ragu. Izaka hanya menjawabnya dengan anggukan


ringan.


         “Tapi,


bagaimana kau bisa tahu?” tanya Aiko, Ia masih meragukannya.


         “Saat


Daichi bermain basket, aku tahu kalau ada seseorang yang selalu


memperhatikannya...” tanpa peduli dengan lanjutan dari perkataan Izaka, Aiko


bergegas menuju kelas 2-E.


Hanya butuh beberapa detik


untuk sampai di depan pintu kelas itu, Aiko berusaha mengatur nafasnya yang


terengah-engah. Ia akan segera masuk dari pintu yang ada dihadapannya itu.


Namun rupanya Izaka telah menyusulnya. Lelaki itu meraih tangannya dan


menariknya ke ruang kelasnya.


         Tangan


itu... itu pasti tangan yang sama. Sangat hangat dan lembut, tak berniat untuk


menorehkan luka di tangannya. Aiko merasa nyaman akan kehadiran tangan itu,


cukup menenangkannya.


         “Bel


masuk sudah terdengar dari tadi. Jika ada sesuatu yang ingin kau katakan, kau


harus bisa menahannya. Kalau kau tetap nekat ke kelas itu, kau bisa jadi pusat perhatian. Aku tidak suka.”


sebetulnya Izaka tidak ingin Aiko bertemu dengan Daichi.


Setelah melihat Daichi


yang dengan mudah menyatakan suka kepada Aiko, Ia jadi khawatir dan dilingkupi


perasaan tidak tenang. Jika saja, Aiko menerima perasaan Daichi. Ia akan


semakin jauh darinya. Tidak, dia tidak pernah inginkan itu.


***