Remember Again

Remember Again
15


Hari ini sangat cerah. Bel


masuk sudah terdengar dengan nyaring. Dengan santainya Izaka berjalan menuju


kelasnya. Lelaki itu menaiki tangga seakan sambil menghitung jumlah anak


tangganya. Sementara itu, Ia bisa mendengar langkah kaki yang terburu-buru.


Pada awalnya Ia tidak tahu siapa itu.


         Orang


itu sempat terjatuh tepat di arah sudut empat puluh lima derajat. Orang itu


kesiangan sehingga lupa menutup resleting tasnya. Akibatnya beberapa isinya


berserakan. Pak Haru sudah memasukkan kembali barang-barang itu ke dalam


tasnya. Sayangnya Ia tidak sadar kalau ada satu barang yang tertinggal. Izaka


tahu itu, namun Ia tak berniat untuk memberitahu gurunya.


Izaka segera memungut


barang itu setelah Pak Haru sudah jauh darinya. Dari jauh barang itu berwarna


putih, dari bentuknya itu seperti bagian belakang foto. Izaka merubah posisi


foto itu sehingga tak terbalik, dan hasilnya Ia tertegun luar biasa. Ia segera


mengamankan foto itu dan menuju ke kelasnya. Hanya Izaka dan penguasa alam yang


tahu foto itu. Foto yang disimpan oleh Pak Haru.


***


        Beberapa hari ini Aiko sama sekali


tidak melihat Zei, dan Ia sangat mencemaskannya. Sekarang Ia akan menjelaskan


kepadanya, Zei hanya salah paham. Ia sama sekali tak mempunyai perasaan kepada


Daichi.


         Rumah


Zei hanya beberapa langkah dari rumahnya, tanpa harus kesana Aiko bisa tahu


suasana rumah itu. Rumah itu tidak sedang menggambarkan kehampaan, pastinya ada


orang rumah kalau seperti itu. Aiko bergegas. Saat Ia hendak melangkahkan kaki


ke pekarangan rumah Zei, Nyonya Higawa muncul dari balik pintu.


         “Selamat


sore, Higawa-san?” sapa Aiko.


         “Selamat


sore, Aiko. Tak seperti biasanya kau kemari,” Nyonya Higawa menanggapi.


         “Anu..


Apa Zei ada di rumah?” tanya Aiko kemudian. Wajah Nyonya Higawa terlihat putus


asa, mungkin Ia sudah tahu permasalahannya dengan Zei.


         “Maaf


karena aku harus mengatakan sesuatu yang bohong. Zei sedang jalan-jalan sama


teman-temannya. Dan dia sangat senang.” jawab Nyonya Higawa. Aiko pun mengerti.


Jika Nyonya Higawa mengatakan sesuatu


yang bohong, kebenarannya adalah kebalikan dari apa yang telah dikatakannya


tadi. Sekarang Zei pasti sedang mengurung diri sendirian, dan sedang bersedih.


Aiko tak kesulitan menyadari hal itu.


         “Saya


mengerti, ini semua salah saya.” ucap Aiko penuh sesal. Seharusnya Aiko mencari


tahu siapa yang disukai Zei. Tetapi Ia malah tidak peduli.


         “Maafkan


sikap Zei, ku rasa Zei butuh waktu sendirian. Dia perlu menenangkan dirinya.


Aku tahu, kau tidak bermaksud untuk menyakiti perasaan Zei.”


         Nyonya


Higawa mencoba menghibur Aiko agar tak terlalu menyalahkan dirinya. Perempuan


itu membelai penuh kehangatan bahu Aiko. Aiko pun tak ingin menekuk wajahnya


lagi.


         “Saya


permisi dulu, semoga saja Zei mau memaafkanku. Tapi saya benar-benar tak pernah


merebut siapa pun darinya.”


         Aiko


pun membungkukkan badannya dan beringsut pergi. Ia sudah berada di depan pagar


rumahnya, memang langkah kakinya sangat cepat. Ia belum membuka pagar rumahnya,


baru menyentuhnya. Ia memang belum mempunyai kekuatan lebih untuk segera


membukanya, dipikirannya masih berkecamuk konflik yang sedang dialaminya.


         Dari


jarak yang tak kurang dari lima meter Aiko bisa melihat seseorang yang sedang


bersandar di tiang listrik dekat rumahnya. Sosok itu sudah sering Ia lihat.


Namun, hari itu pertama kalinya Ia melihat orang itu memakai pakaian santai.


Lelaki itu memakai celana hitam


panjang, yang dipadukan dengan sebuah jaket yang berwarna biru setengah tua.


Lelaki itu terlihat jauh lebih tinggi dari biasanya.


Saat Aiko menoleh ke arah


lelaki itu, lelaki itu terlihat diselimuti oleh cahaya berwarna biru terang.


Padahal saat itu hari sudah senja. Namun Aiko tahu itu kenapa, itu karena jaket


yang dipakai lelaki itu terkena sinar matahari.


         Ia


tak melanjutkan untuk membuka pagar rumahnya, dan berjalan menuju posisi dimana


lelaki itu berdiri. Lelaki itu tampak sedang memikirkan sesuatu. Punggung


lelaki itu tersandar dengan nyamannya, lelaki itu juga membalut posenya dengan


melipat kedua tangannya didepan dada. Sepintas, tanpa sadar Aiko hanya


mengamatinya.


         “Kau


sedang apa disini?” tanya Aiko tanpa basa-basi.


         “Apa


kau punya waktu? Sepuluh menit juga tidak apa-apa.” kata Izaka sambil


menatapnya penuh harap.


         “Aku


sedang tidak ingin sendirian.” tambahnya, membuat Aiko enggan menolak. Ia


sendiri juga tidak dalam keadaan sibuk.


Mereka berdua menuju ke


taman bermain yang tak jauh dari rumah Aiko. Disana mereka duduk di pangkuan


ayunan. Semilir angin sempat membuat Aiko bergidik. Sudah bermenit-menit Izaka


tak juga memulai, Aiko jadi heran. Lalu Ia menatapnya, membuat Izaka


menyadarinya.


“ ご めんGomen.. (Maaf..),” itu kata pertama yang didengarnya.


         “Kenapa


kau mengatakan itu?” sahut Aiko kaget. Kedua bola matanya pun melebar.


         ” なにもNani mo (Tidak apa-apa). Aku hanya ingin mengatakannya.”


balasnya. Namun, sorot matanya tak sesuai dengan apa yang Ia katakan. Ada


sesuatu yang mengganjal di pikirannya.


         “Sampai


detik ini kau membuatku bertanya-tanya... Yoshio Izaka itu siapa?” tanya Izaka,


Aiko hanya mengalihkan pandangannya. Menatap rerumputan hijau yang dihujani


cahaya senja.


         “Kau


bukan orang terdekat bagiku. Jadi, aku tak harus mengatakannya padamu.”


jawabnya.


         “Benarkah


begitu? Jadi aku harus menjadi orang terdekatmu dulu untuk tahu itu?” respon


Izaka.


         Aiko


masih tak mau melihat ke arah lelaki itu. Hatinya memang sedang terasa sakit,


karena hari ini Izaka telah mengingatkannya dengan luka lamanya.


         “Bukan


urusanmu.” jawabnya ketus.


         “Lalu


kenapa kau memanggilku dengan nama depanku? Apakah aku ini orang terdekatmu?”


tanya Izaka membuat Aiko berpikir. Ia sadar bahwa Ia selalu memanggil lelaki


itu dengan nama depannya. Padahal lelaki itu orang baru yang datang dari Tokyo


dan bersekolah di sekolahnya.


         “Watashi...


(Aku...),” Aiko tak tahu harus bagaimana menjawabnya. Mungkinkah Ia memang


terbiasa dan nyaman menyebut nama itu? Aiko tak ingin menjawabnya dengan alasan


itu.


         “Aku


hanya merasa kalau kau orang terdekatku.” Lanjutnya. Aiko menghela nafasnya


panjang, memasukkan oksigen sebanyak-banyaknya ke dalam kantong paru-parunya.


         “Dia


temanku sewaktu SMP. Dulu, kami sangat dekat. Tapi di penghujung semester


kedua, dia pindah ke Tokyo.” Aiko menceritakan siapa itu Yoshio Izaka.


         “Sou


desu ka (Oh, jadi begitu).” jawab Izaka.


         Lalu


tiba-tiba Aiko menutupi wajahnya. Kedua telapak tangannya berhasil membuat


wajahnya tak terlihat sedikitpun, semua tertutup rapat. Izaka tahu itu, Aiko


sedang menangis. Dan itu karenanya.


         “Maaf,


sepertinya aku memintamu melakukan hal yang membuatmu sedih.” kata Izaka


seketika.


         Lelaki


itu memutar tubuhnya ke samping dan menjulurkan tangan kanannya untuk mencapai


tenang.


         “Kau


tidak salah apa-apa. Aku saja yang terlalu kekanak-kanakan. Sudah lama sekali


aku ingin membaginya.” Aiko pun mulai membuka wajahnya.


         Gadis


itu menyapu bekas air matanya di kedua pipinya dengan tangannya.  Ia tidak tahu apakah sudah tersapu semua.


Untuk itu Ia melakukannya dengan sangat perlahan.


Aiko bisa merasakan tangan


orang lain yang sedang menyentuh kedua pipinya. Dan tangan itu menggantikan


tangannya yang sedang menyapu wajahnya. Aiko tak nyaman dengan perlakuan yang


dilakukan Izaka, Ia pun menepis tangan itu. Perlakuan Izaka membuat kedua


pipinya bersemu merah, dan itu sangat memalukan menurutnya.


Setelah Aiko selesai


bercerita, Izaka mengantarkan gadis itu sampai depan rumah. Gadis itu


menawarkan Izaka untuk mampir sebentar ke rumahnya namun ditolak. Padahal itu


perlakuan khusus yang dilakukan Aiko. Hari ini gadis itu tahu kalau Izaka


sangat berbeda. Dia tak terlihat ceria seperti biasanya.


Pada saat itu tiba-tiba


turun hujan, Aiko keluar sebentar


untuk mencari makanan penghangat tubuh. Saat pulang Ia menempuh jalan terdekat


untuk pulang ke rumah. Itu takdir atau bukan Aiko tetap tidak bisa mengelak. Ia


tidak bisa pura-pura tidak melihat. Beberapa menit yang lalu Ia bersama lelaki


itu, dan rupanya lelaki itu tak pulang ke rumah. Mengetahui itu Aiko langsung


mendekati lelaki yang duduk di alas ayunan sambil berpegangan erat pada


pengikatnya, lelaki itu hanya menunduk dalam menyikapi tetesan kecil air hujan


yang turun kian deras.


Lelaki itu sudah lama


disana, walau pada mulanya hanya berupa


rintik-rintik kecil namun air hujan yang turun cukup membuat tubuh lelaki itu


terasa dingin. Bajunya pun jadi basah, punggungnya bisa merasakan air hujan


yang mengalir.


Dengan cepat Aiko menyadarinya karena


rambut lelaki itu basah dan saling menyatu.


         “Kau


sedang apa disini?” ucap Aiko sesaat, lalu berusaha memayungi lelaki itu dengan


payungnya yang tak terlalu besar.


Seseorang yang memakai


setelan jas lengkap pun datang. Orang itu cukup kenal dengan Izaka. Lelaki itu


tampak berwibawa, setelah turun dari mobil beberapa detik yang lalu Ia langsung


menuju ke arah mereka. Izaka sama sekali tak menengok, sementara Aiko memandang


lekat orang itu. Siapa tahu dia orang jahat, atau Ia mengenalnya.


         “Izaka-san,


apa yang kau lakukan disini? Kau jangan bermain-main seperti ini, jika saja


ayah dan ibumu sedang di rumah mereka pasti cemas dan setengah mati mencarimu.”


ucap lelaki itu, Tuan Yamada.


         “Pulanglah.


Kau bisa sakit.” ujar lelaki itu lagi dengan kepala yang tertunduk sebagai


bentuk permohonannya.


         “Sou


desu (Ya, benar), sebaiknya kau pulang Izaka-kun!” tambah Aiko.


         Izaka


bangkit dari posisi duduknya dan memandang Aiko lekat-lekat, seakan takut kalau


gadis itu menghilang dari hadapannya. Tetapi Ia lebih takut lagi apabila gadis


itu menghilang dari memorinya.


         “Aku


akan pulang, tapi saat ini aku juga akan menculikmu.” ucap Izaka sambil menarik


tangan Aiko.


         Gadis


itu kurang piawai dalam mengimbangi langkah lelaki itu, sampai-sampai payung


yang tadi dipegangnya terlepas dan terbang jauh terbawa angin.


Izaka menarik tangan gadis


itu sampai masuk ke dalam mobil yang berwarna hitam. Mobil itu sangat mewah,


karena tak semua orang di kota ini bisa memiliki mobil itu.


         Tuan


Yamada membiarkan saja ulah Izaka, karena yang terpenting pada saat itu Izaka


mau pulang ke rumah. Dan gadis yang bersama Izaka itu pasti akan mengobati rasa


kesepiannya. Dia pasti gadis terpilih yang akan memayungi Izaka, ketika lelaki


itu dalam masalah. Gadis itu bisa menjadi tempat bersandar Izaka, dan berarti


gadis itu berharga untuk Izaka. Tuan Yamada begitu yakin dengan teorinya.


         Hanya


butuh beberapa menit untuk sampai di salah satu rumah termegah di kompleks


perumahan itu. Rumah itu dikelilingi oleh cahaya terang dari lampu yang


bentuknya bermacam-macam. Lampu-lampu itu terlihat bagaikan kristal. Aiko


dipersilahkan duduk di sofa yang ada di ruang tamu. Sementara Izaka hendak ke


kamarnya untuk berganti baju.


         “O


namae wa nan desu ka? (Siapa namamu?),” tanya Tuan Yamada.


         “Watashi


wa Narada Aiko desu. (Nama saya Narada Aiko). Maaf karena tak memperkenalkan


diriku dari awal.” jawab Aiko kemudian.


         “Iie.


(Tak apa-apa). Sepertinya kau kenal dekat dengan Izaka,” tambah Tuan Yamada.


         “Tidak


juga. Mungkin kami terlihat dekat karena kami sama-sama pengurus kelas.” balas


Aiko.


         “Meski


pun begitu, terima kasih. Kau sudah berada disamping Izaka.” ujar Tuan Yamada


lagi.


         “Aneh,


berganti baju saja lama sekali. Aku akan melihatnya sebentar.” ucap Tuan Yamada


sambil bangun dari tempat duduknya, Aiko pun mengangguk.


Rupanya Tuan Yamada sama


saja seperti Izaka, mereka sama-sama lama. Aiko jadi bosan sendirian disana.


Sesaat kemudian Tuan Yamada muncul dengan wajah kusam.


         “Izaka-san


mendadak demam, pantas bila Ia tidak keluar dari kamarnya. Berdiri saja Ia tak


sanggup.” kata Tuan Yamada kemudian.


         Nada


bicaranya tak bisa menyembunyikan perasaan Tuan Yamada kalau sedang khawatir


dengan kondisi Izaka.


         “Aku


akan memanggilkannya dokter, jika kau ingin pulang sekarang..” lanjut Tuan


Yamada.


         “Anu..


Kalau boleh, saya ingin menjaga Izaka sebentar.” potong Aiko.


         “Em-m.


Aku akan segera kembali.” ucap Tuan Yamada.


Selimut tebal memeluk erat


tubuh Izaka. Aiko tidak tahu apakah Izaka sedang tertidur atau terjaga.


Keringat dingin yang ada di dahi Izaka dapat dilihatnya dengan jelas. Izaka


terlihat seperti anak kecil saja. Ia sakit juga karena dirinya sendiri, sudah


tahu hujan tetapi tak mau berteduh. Ia malah membiarkan tubuhnya diguyur hujan.


Melihat keadaan Izaka sekarang, Aiko jadi tak ingin menyalahkannya.


         Aiko


mengambil sapu tangan kecil dari saku jaketnya. Lalu, Ia menyapukan sapu tangan


itu ke dahi Izaka. Keringat di dahi lelaki itu dapat diserap sapu tangannya


dengan mudah. Setelah Aiko yakin kalau tak ada keringat lagi di wajah lelaki


itu, Ia menurunkan tangannya.


         Sekarang


Ia menyadari kalau Izaka hanya setengah tertidur. Lelaki itu menahan lengan


bawahnya, tangan lelaki itu tak ingin membiarkan lengan bawahnya pergi begitu


saja. Ia pun hanya bisa tertegun. Beberapa detik kemudian Ia meletakkan tangan


itu tepat diatas perut lelaki itu dan menggenggamnya erat, memberikan sedikit


kehangatan. Tangan Izaka begitu dingin di kulit telapak tangannya.


“Izaka-kun, tak tahu


kenapa aku masih memandangmu sebagai Yoshio Izaka. Aku hanya bisa memandang


kalian sebagai satu orang. Maaf.. aku egois.” ucap Aiko pelan. Sekalipun Izaka


dalam keadaan terjaga belum tentu akan mendengarnya.


         Gadis


itu tak sengaja melihat sesuatu diatas meja belajar Izaka. Gadis itu pun


mendekat, Ia sangat tertegun melihat itu. Sebuah foto seseorang yang sangat


dikenalnya. Ini tak masuk akal untuknya, bagaimana mungkin Izaka memiliki foto


itu? Aiko rasa Izaka bukan seseorang yang kenal dekat dengan keluarganya.


***