
Hari ini sangat cerah. Bel
masuk sudah terdengar dengan nyaring. Dengan santainya Izaka berjalan menuju
kelasnya. Lelaki itu menaiki tangga seakan sambil menghitung jumlah anak
tangganya. Sementara itu, Ia bisa mendengar langkah kaki yang terburu-buru.
Pada awalnya Ia tidak tahu siapa itu.
Orang
itu sempat terjatuh tepat di arah sudut empat puluh lima derajat. Orang itu
kesiangan sehingga lupa menutup resleting tasnya. Akibatnya beberapa isinya
berserakan. Pak Haru sudah memasukkan kembali barang-barang itu ke dalam
tasnya. Sayangnya Ia tidak sadar kalau ada satu barang yang tertinggal. Izaka
tahu itu, namun Ia tak berniat untuk memberitahu gurunya.
Izaka segera memungut
barang itu setelah Pak Haru sudah jauh darinya. Dari jauh barang itu berwarna
putih, dari bentuknya itu seperti bagian belakang foto. Izaka merubah posisi
foto itu sehingga tak terbalik, dan hasilnya Ia tertegun luar biasa. Ia segera
mengamankan foto itu dan menuju ke kelasnya. Hanya Izaka dan penguasa alam yang
tahu foto itu. Foto yang disimpan oleh Pak Haru.
***
Beberapa hari ini Aiko sama sekali
tidak melihat Zei, dan Ia sangat mencemaskannya. Sekarang Ia akan menjelaskan
kepadanya, Zei hanya salah paham. Ia sama sekali tak mempunyai perasaan kepada
Daichi.
Rumah
Zei hanya beberapa langkah dari rumahnya, tanpa harus kesana Aiko bisa tahu
suasana rumah itu. Rumah itu tidak sedang menggambarkan kehampaan, pastinya ada
orang rumah kalau seperti itu. Aiko bergegas. Saat Ia hendak melangkahkan kaki
ke pekarangan rumah Zei, Nyonya Higawa muncul dari balik pintu.
“Selamat
sore, Higawa-san?” sapa Aiko.
“Selamat
sore, Aiko. Tak seperti biasanya kau kemari,” Nyonya Higawa menanggapi.
“Anu..
Apa Zei ada di rumah?” tanya Aiko kemudian. Wajah Nyonya Higawa terlihat putus
asa, mungkin Ia sudah tahu permasalahannya dengan Zei.
“Maaf
karena aku harus mengatakan sesuatu yang bohong. Zei sedang jalan-jalan sama
teman-temannya. Dan dia sangat senang.” jawab Nyonya Higawa. Aiko pun mengerti.
Jika Nyonya Higawa mengatakan sesuatu
yang bohong, kebenarannya adalah kebalikan dari apa yang telah dikatakannya
tadi. Sekarang Zei pasti sedang mengurung diri sendirian, dan sedang bersedih.
Aiko tak kesulitan menyadari hal itu.
“Saya
mengerti, ini semua salah saya.” ucap Aiko penuh sesal. Seharusnya Aiko mencari
tahu siapa yang disukai Zei. Tetapi Ia malah tidak peduli.
“Maafkan
sikap Zei, ku rasa Zei butuh waktu sendirian. Dia perlu menenangkan dirinya.
Aku tahu, kau tidak bermaksud untuk menyakiti perasaan Zei.”
Nyonya
Higawa mencoba menghibur Aiko agar tak terlalu menyalahkan dirinya. Perempuan
itu membelai penuh kehangatan bahu Aiko. Aiko pun tak ingin menekuk wajahnya
lagi.
“Saya
permisi dulu, semoga saja Zei mau memaafkanku. Tapi saya benar-benar tak pernah
merebut siapa pun darinya.”
Aiko
pun membungkukkan badannya dan beringsut pergi. Ia sudah berada di depan pagar
rumahnya, memang langkah kakinya sangat cepat. Ia belum membuka pagar rumahnya,
baru menyentuhnya. Ia memang belum mempunyai kekuatan lebih untuk segera
membukanya, dipikirannya masih berkecamuk konflik yang sedang dialaminya.
Dari
jarak yang tak kurang dari lima meter Aiko bisa melihat seseorang yang sedang
bersandar di tiang listrik dekat rumahnya. Sosok itu sudah sering Ia lihat.
Namun, hari itu pertama kalinya Ia melihat orang itu memakai pakaian santai.
Lelaki itu memakai celana hitam
panjang, yang dipadukan dengan sebuah jaket yang berwarna biru setengah tua.
Lelaki itu terlihat jauh lebih tinggi dari biasanya.
Saat Aiko menoleh ke arah
lelaki itu, lelaki itu terlihat diselimuti oleh cahaya berwarna biru terang.
Padahal saat itu hari sudah senja. Namun Aiko tahu itu kenapa, itu karena jaket
yang dipakai lelaki itu terkena sinar matahari.
Ia
tak melanjutkan untuk membuka pagar rumahnya, dan berjalan menuju posisi dimana
lelaki itu berdiri. Lelaki itu tampak sedang memikirkan sesuatu. Punggung
lelaki itu tersandar dengan nyamannya, lelaki itu juga membalut posenya dengan
melipat kedua tangannya didepan dada. Sepintas, tanpa sadar Aiko hanya
mengamatinya.
“Kau
sedang apa disini?” tanya Aiko tanpa basa-basi.
“Apa
kau punya waktu? Sepuluh menit juga tidak apa-apa.” kata Izaka sambil
menatapnya penuh harap.
“Aku
sedang tidak ingin sendirian.” tambahnya, membuat Aiko enggan menolak. Ia
sendiri juga tidak dalam keadaan sibuk.
Mereka berdua menuju ke
taman bermain yang tak jauh dari rumah Aiko. Disana mereka duduk di pangkuan
ayunan. Semilir angin sempat membuat Aiko bergidik. Sudah bermenit-menit Izaka
tak juga memulai, Aiko jadi heran. Lalu Ia menatapnya, membuat Izaka
menyadarinya.
“ ご めんGomen.. (Maaf..),” itu kata pertama yang didengarnya.
“Kenapa
kau mengatakan itu?” sahut Aiko kaget. Kedua bola matanya pun melebar.
” なにもNani mo (Tidak apa-apa). Aku hanya ingin mengatakannya.”
balasnya. Namun, sorot matanya tak sesuai dengan apa yang Ia katakan. Ada
sesuatu yang mengganjal di pikirannya.
“Sampai
detik ini kau membuatku bertanya-tanya... Yoshio Izaka itu siapa?” tanya Izaka,
Aiko hanya mengalihkan pandangannya. Menatap rerumputan hijau yang dihujani
cahaya senja.
“Kau
bukan orang terdekat bagiku. Jadi, aku tak harus mengatakannya padamu.”
jawabnya.
“Benarkah
begitu? Jadi aku harus menjadi orang terdekatmu dulu untuk tahu itu?” respon
Izaka.
Aiko
masih tak mau melihat ke arah lelaki itu. Hatinya memang sedang terasa sakit,
karena hari ini Izaka telah mengingatkannya dengan luka lamanya.
“Bukan
urusanmu.” jawabnya ketus.
“Lalu
kenapa kau memanggilku dengan nama depanku? Apakah aku ini orang terdekatmu?”
tanya Izaka membuat Aiko berpikir. Ia sadar bahwa Ia selalu memanggil lelaki
itu dengan nama depannya. Padahal lelaki itu orang baru yang datang dari Tokyo
dan bersekolah di sekolahnya.
“Watashi...
(Aku...),” Aiko tak tahu harus bagaimana menjawabnya. Mungkinkah Ia memang
terbiasa dan nyaman menyebut nama itu? Aiko tak ingin menjawabnya dengan alasan
itu.
“Aku
hanya merasa kalau kau orang terdekatku.” Lanjutnya. Aiko menghela nafasnya
panjang, memasukkan oksigen sebanyak-banyaknya ke dalam kantong paru-parunya.
“Dia
temanku sewaktu SMP. Dulu, kami sangat dekat. Tapi di penghujung semester
kedua, dia pindah ke Tokyo.” Aiko menceritakan siapa itu Yoshio Izaka.
“Sou
desu ka (Oh, jadi begitu).” jawab Izaka.
Lalu
tiba-tiba Aiko menutupi wajahnya. Kedua telapak tangannya berhasil membuat
wajahnya tak terlihat sedikitpun, semua tertutup rapat. Izaka tahu itu, Aiko
sedang menangis. Dan itu karenanya.
“Maaf,
sepertinya aku memintamu melakukan hal yang membuatmu sedih.” kata Izaka
seketika.
Lelaki
itu memutar tubuhnya ke samping dan menjulurkan tangan kanannya untuk mencapai
tenang.
“Kau
tidak salah apa-apa. Aku saja yang terlalu kekanak-kanakan. Sudah lama sekali
aku ingin membaginya.” Aiko pun mulai membuka wajahnya.
Gadis
itu menyapu bekas air matanya di kedua pipinya dengan tangannya. Ia tidak tahu apakah sudah tersapu semua.
Untuk itu Ia melakukannya dengan sangat perlahan.
Aiko bisa merasakan tangan
orang lain yang sedang menyentuh kedua pipinya. Dan tangan itu menggantikan
tangannya yang sedang menyapu wajahnya. Aiko tak nyaman dengan perlakuan yang
dilakukan Izaka, Ia pun menepis tangan itu. Perlakuan Izaka membuat kedua
pipinya bersemu merah, dan itu sangat memalukan menurutnya.
Setelah Aiko selesai
bercerita, Izaka mengantarkan gadis itu sampai depan rumah. Gadis itu
menawarkan Izaka untuk mampir sebentar ke rumahnya namun ditolak. Padahal itu
perlakuan khusus yang dilakukan Aiko. Hari ini gadis itu tahu kalau Izaka
sangat berbeda. Dia tak terlihat ceria seperti biasanya.
Pada saat itu tiba-tiba
turun hujan, Aiko keluar sebentar
untuk mencari makanan penghangat tubuh. Saat pulang Ia menempuh jalan terdekat
untuk pulang ke rumah. Itu takdir atau bukan Aiko tetap tidak bisa mengelak. Ia
tidak bisa pura-pura tidak melihat. Beberapa menit yang lalu Ia bersama lelaki
itu, dan rupanya lelaki itu tak pulang ke rumah. Mengetahui itu Aiko langsung
mendekati lelaki yang duduk di alas ayunan sambil berpegangan erat pada
pengikatnya, lelaki itu hanya menunduk dalam menyikapi tetesan kecil air hujan
yang turun kian deras.
Lelaki itu sudah lama
disana, walau pada mulanya hanya berupa
rintik-rintik kecil namun air hujan yang turun cukup membuat tubuh lelaki itu
terasa dingin. Bajunya pun jadi basah, punggungnya bisa merasakan air hujan
yang mengalir.
Dengan cepat Aiko menyadarinya karena
rambut lelaki itu basah dan saling menyatu.
“Kau
sedang apa disini?” ucap Aiko sesaat, lalu berusaha memayungi lelaki itu dengan
payungnya yang tak terlalu besar.
Seseorang yang memakai
setelan jas lengkap pun datang. Orang itu cukup kenal dengan Izaka. Lelaki itu
tampak berwibawa, setelah turun dari mobil beberapa detik yang lalu Ia langsung
menuju ke arah mereka. Izaka sama sekali tak menengok, sementara Aiko memandang
lekat orang itu. Siapa tahu dia orang jahat, atau Ia mengenalnya.
“Izaka-san,
apa yang kau lakukan disini? Kau jangan bermain-main seperti ini, jika saja
ayah dan ibumu sedang di rumah mereka pasti cemas dan setengah mati mencarimu.”
ucap lelaki itu, Tuan Yamada.
“Pulanglah.
Kau bisa sakit.” ujar lelaki itu lagi dengan kepala yang tertunduk sebagai
bentuk permohonannya.
“Sou
desu (Ya, benar), sebaiknya kau pulang Izaka-kun!” tambah Aiko.
Izaka
bangkit dari posisi duduknya dan memandang Aiko lekat-lekat, seakan takut kalau
gadis itu menghilang dari hadapannya. Tetapi Ia lebih takut lagi apabila gadis
itu menghilang dari memorinya.
“Aku
akan pulang, tapi saat ini aku juga akan menculikmu.” ucap Izaka sambil menarik
tangan Aiko.
Gadis
itu kurang piawai dalam mengimbangi langkah lelaki itu, sampai-sampai payung
yang tadi dipegangnya terlepas dan terbang jauh terbawa angin.
Izaka menarik tangan gadis
itu sampai masuk ke dalam mobil yang berwarna hitam. Mobil itu sangat mewah,
karena tak semua orang di kota ini bisa memiliki mobil itu.
Tuan
Yamada membiarkan saja ulah Izaka, karena yang terpenting pada saat itu Izaka
mau pulang ke rumah. Dan gadis yang bersama Izaka itu pasti akan mengobati rasa
kesepiannya. Dia pasti gadis terpilih yang akan memayungi Izaka, ketika lelaki
itu dalam masalah. Gadis itu bisa menjadi tempat bersandar Izaka, dan berarti
gadis itu berharga untuk Izaka. Tuan Yamada begitu yakin dengan teorinya.
Hanya
butuh beberapa menit untuk sampai di salah satu rumah termegah di kompleks
perumahan itu. Rumah itu dikelilingi oleh cahaya terang dari lampu yang
bentuknya bermacam-macam. Lampu-lampu itu terlihat bagaikan kristal. Aiko
dipersilahkan duduk di sofa yang ada di ruang tamu. Sementara Izaka hendak ke
kamarnya untuk berganti baju.
“O
namae wa nan desu ka? (Siapa namamu?),” tanya Tuan Yamada.
“Watashi
wa Narada Aiko desu. (Nama saya Narada Aiko). Maaf karena tak memperkenalkan
diriku dari awal.” jawab Aiko kemudian.
“Iie.
(Tak apa-apa). Sepertinya kau kenal dekat dengan Izaka,” tambah Tuan Yamada.
“Tidak
juga. Mungkin kami terlihat dekat karena kami sama-sama pengurus kelas.” balas
Aiko.
“Meski
pun begitu, terima kasih. Kau sudah berada disamping Izaka.” ujar Tuan Yamada
lagi.
“Aneh,
berganti baju saja lama sekali. Aku akan melihatnya sebentar.” ucap Tuan Yamada
sambil bangun dari tempat duduknya, Aiko pun mengangguk.
Rupanya Tuan Yamada sama
saja seperti Izaka, mereka sama-sama lama. Aiko jadi bosan sendirian disana.
Sesaat kemudian Tuan Yamada muncul dengan wajah kusam.
“Izaka-san
mendadak demam, pantas bila Ia tidak keluar dari kamarnya. Berdiri saja Ia tak
sanggup.” kata Tuan Yamada kemudian.
Nada
bicaranya tak bisa menyembunyikan perasaan Tuan Yamada kalau sedang khawatir
dengan kondisi Izaka.
“Aku
akan memanggilkannya dokter, jika kau ingin pulang sekarang..” lanjut Tuan
Yamada.
“Anu..
Kalau boleh, saya ingin menjaga Izaka sebentar.” potong Aiko.
“Em-m.
Aku akan segera kembali.” ucap Tuan Yamada.
Selimut tebal memeluk erat
tubuh Izaka. Aiko tidak tahu apakah Izaka sedang tertidur atau terjaga.
Keringat dingin yang ada di dahi Izaka dapat dilihatnya dengan jelas. Izaka
terlihat seperti anak kecil saja. Ia sakit juga karena dirinya sendiri, sudah
tahu hujan tetapi tak mau berteduh. Ia malah membiarkan tubuhnya diguyur hujan.
Melihat keadaan Izaka sekarang, Aiko jadi tak ingin menyalahkannya.
Aiko
mengambil sapu tangan kecil dari saku jaketnya. Lalu, Ia menyapukan sapu tangan
itu ke dahi Izaka. Keringat di dahi lelaki itu dapat diserap sapu tangannya
dengan mudah. Setelah Aiko yakin kalau tak ada keringat lagi di wajah lelaki
itu, Ia menurunkan tangannya.
Sekarang
Ia menyadari kalau Izaka hanya setengah tertidur. Lelaki itu menahan lengan
bawahnya, tangan lelaki itu tak ingin membiarkan lengan bawahnya pergi begitu
saja. Ia pun hanya bisa tertegun. Beberapa detik kemudian Ia meletakkan tangan
itu tepat diatas perut lelaki itu dan menggenggamnya erat, memberikan sedikit
kehangatan. Tangan Izaka begitu dingin di kulit telapak tangannya.
“Izaka-kun, tak tahu
kenapa aku masih memandangmu sebagai Yoshio Izaka. Aku hanya bisa memandang
kalian sebagai satu orang. Maaf.. aku egois.” ucap Aiko pelan. Sekalipun Izaka
dalam keadaan terjaga belum tentu akan mendengarnya.
Gadis
itu tak sengaja melihat sesuatu diatas meja belajar Izaka. Gadis itu pun
mendekat, Ia sangat tertegun melihat itu. Sebuah foto seseorang yang sangat
dikenalnya. Ini tak masuk akal untuknya, bagaimana mungkin Izaka memiliki foto
itu? Aiko rasa Izaka bukan seseorang yang kenal dekat dengan keluarganya.
***