Remember Again

Remember Again
5


Sudah satu minggu lebih


Aiko tidak berbicara lagi dengan Izaka. Begitu pula saat menghadiri rapat


pengurus kelas mereka lebih sering diam.


Izaka ternyata tidak bisa


berdiam diri dan menerima sikap Aiko. Ia harus meminta maaf kepada Aiko karena


telah membuatnya menangis. Aiko memandangnya sebagai orang lain, yaitu sebagai


Yoshio Izaka. Izaka harus bisa meyakinkan Aiko bahwa mereka orang yang berbeda.


“Saat itu.. apa aku yang


membuatmu menangis?” kalimat itu tiba-tiba terdengar. Akhirnya Aiko menyadari


kehadiran Izaka di samping bangkunya.


“Kau masih saja berpura-pura.. Apa kau benar-benar


ingin melupakanku?” Aiko bertanya, pertanyaannya terdengar sangat kuat. Izaka


hanya menatapnya lurus.


“Melupakanmu?” respon


Izaka, lalu lelaki itu menarik nafasnya panjang. Baginya jawaban Aiko sangat


konyol.


“Jika kau masih berpikir


bahwa aku ini Yoshio Izaka, kau akan semakin tersiksa. Jadi, berhentilah dan


pandang aku sebagai Aihara Izaka. Aku dan dia orang yang berbeda.” Izaka sempat


membelai rambut Aiko. Rona merah pun mekar di pipi gadis itu.


“Saat itu... jika aku yang


membuatmu menangis, maafkan aku...” tambah Izaka beringsut pergi.


Aiko semakin pusing. Jika


benar lelaki itu bukan Yoshio Izaka, Ia benar-benar sudah salah paham. Ia belum


bisa lepas dari bayang-bayang Yoshio Izaka. Semua memang terlihat mirip, wajah,


kebiasaan dan juga prestasinya. Lelaki itu terdengar tidak sedang bermain-main,


sangat serius mengatakannya. Aiko merasa bersalah. Ia mengacak rambutnya sampai


sedikit berantakan.


Lalu, Aiko mengemas semua


barangnya dengan sangat cepat. Tak sempat memastikan semua barangnya terangkut


ke dalam tasnya. Ia telah berlari untuk mengejar Izaka. Kakinya yang tak


terlalu panjang cukup membanggakannya. Ia bisa mencapainya, bahkan tangannya


juga mampu mencapai lengan Izaka. Lari dari lantai dua sampai pintu gerbang


bukan perkara yang mudah, nafas gadis itu masih terengah-engah karenanya. Ia


butuh air minum. Tenggorokannya benar-benar panas.


 Izaka melepas tangan Aiko yang menggapai


lengannya. Lalu lelaki itu mengambil sebuah koin dari saku celananya, dan


memasukkannya ke dalam mesin Vending Machine. Minuman kaleng yang kaya akan ion


jatuh ke dalam genggaman Izaka sementara Aiko masih belum sanggup berbicara,


bahkan Aiko tak juga beringsut dari tadi. Izaka kini sudah duduk santai di


sebuah kursi berwarna cokelat di samping mesin itu.


“Ada perlu apa kau sampai


mengejarku?” tanya Izaka kemudian.


Aiko sudah menggerakkan


kakinya dan duduk di kursi yang sama. Aiko duduk teramat ke tepi, dan


menimbulkan jarak diantara mereka berdua. Tanpa melihat ke arah Aiko, Izaka


menyodorkan minuman kaleng yang digenggamnya.


Ternyata lelaki itu


“Terima kasih.” ucap Aiko


singkat. Ia segera membuka segel minuman itu dan segera diteguknya. Tepat


seperti dugaannya, terasa sangat menyegarkan.


Tidak, Ia jadi kelupaan. Ia mengejar


Izaka bukan karena Ia tak ada maksud. Gadis itu memberanikan dirinya.


“げめんなさ いGomen nasai.. (Aku minta maaf..)”


         Payah.


Ia tidak bisa berkata lebih banyak. Gadis itu lebih memilih untuk menutup


matanya, pada saat matanya terbuka nanti Ia bermaksud meninggalkan Izaka


sendirian di kursi itu.


***


         Kondisi


di sekelilingnya gelap, yang Ia lihat hanya sorot lampu yang sangat terang


menuju ke arahnya. Cahaya terang itu justru membuat matanya tak bisa melihat


dengan jelas. Saat itu pula, suara teriakkan yang keras terdengar olehnya.


Suara yang menunjukkan rasa sakit. Ia tidak tahu apa-apa. Saat itu Ia sedang


terlelap dalam pelukan seorang wanita dewasa. Ia hanya membuka matanya sebentar


dan pandangannya tiba-tiba berubah gelap.


         Keringat


mengucur deras dari pelipisnya. Ia sudah terbangun dari tidurnya, membuatnya


tidak jatuh terlalu dalam ke dunia mimpi buruknya. Waktu masih menunjukkan


pukul 02.00 dini hari, tetapi terbangun di jam seperti itu sudah biasa baginya.


Sudah betahun-tahun Ia memimpikan hal yang sama dan terbangun di jam yang sama


pula. Izaka menyibak selimutnya dan berjalan menuju ke kamar mandi di kamarnya.


Lelaki itu membasuh wajahnya dengan air dingin yang mengalir langsung dari


kran.


Ia teringat dengan


peristiwa malang di mimpinya. Ia yakin itu pernah terjadi padanya. Ia sangat


yakin kalau Ia adalah tokoh utama dalam mimpi itu.


Saat itu... Ia seperti


terlahir kembali. Ketika Ia membuka mata, tak banyak yang bisa Ia lihat.


Dihadapannya hanya ada orang asing yang mengaku sebagai kedua orang tuanya.


Sebenarnya.. apa yang telah terjadi? Ia tidak ingat apa-apa.


         “Saat


itu aku berpikir bahwa aku telah kehilangan ingatanku. Aku bahkan tidak


mengenali orang tuaku.”  Izaka bergumam


di dalam hatinya. Izaka menyadari kalau mimpi itu memang peristiwa nyata.


Sayangnya Ia mengingatnya.


Setelah terbangun seperti


ini, Izaka tidak akan bisa tertidur lagi. Ia tidur dari jam setengah sepuluh,


jadi setiap hari rata-rata Ia hanya tidur selama empat setengah jam. Sampai


Izaka melihat sinar sang fajar, Izaka akan tetap berada di kamarnya, belajar


atau melakukan sesuatu yang berguna. Misalnya melakukan sesuatu yang luar biasa


berkat kecerdasannya. Ia sudah berhasil menciptakan beberapa mainan kecil yang


cukup menghiburnya, salah satunya berupa miniatur-miniatur yang biasa


meramaikan festival tahunan.


***