
Sudah satu minggu lebih
Aiko tidak berbicara lagi dengan Izaka. Begitu pula saat menghadiri rapat
pengurus kelas mereka lebih sering diam.
Izaka ternyata tidak bisa
berdiam diri dan menerima sikap Aiko. Ia harus meminta maaf kepada Aiko karena
telah membuatnya menangis. Aiko memandangnya sebagai orang lain, yaitu sebagai
Yoshio Izaka. Izaka harus bisa meyakinkan Aiko bahwa mereka orang yang berbeda.
“Saat itu.. apa aku yang
membuatmu menangis?” kalimat itu tiba-tiba terdengar. Akhirnya Aiko menyadari
kehadiran Izaka di samping bangkunya.
“Kau masih saja berpura-pura.. Apa kau benar-benar
ingin melupakanku?” Aiko bertanya, pertanyaannya terdengar sangat kuat. Izaka
hanya menatapnya lurus.
“Melupakanmu?” respon
Izaka, lalu lelaki itu menarik nafasnya panjang. Baginya jawaban Aiko sangat
konyol.
“Jika kau masih berpikir
bahwa aku ini Yoshio Izaka, kau akan semakin tersiksa. Jadi, berhentilah dan
pandang aku sebagai Aihara Izaka. Aku dan dia orang yang berbeda.” Izaka sempat
membelai rambut Aiko. Rona merah pun mekar di pipi gadis itu.
“Saat itu... jika aku yang
membuatmu menangis, maafkan aku...” tambah Izaka beringsut pergi.
Aiko semakin pusing. Jika
benar lelaki itu bukan Yoshio Izaka, Ia benar-benar sudah salah paham. Ia belum
bisa lepas dari bayang-bayang Yoshio Izaka. Semua memang terlihat mirip, wajah,
kebiasaan dan juga prestasinya. Lelaki itu terdengar tidak sedang bermain-main,
sangat serius mengatakannya. Aiko merasa bersalah. Ia mengacak rambutnya sampai
sedikit berantakan.
Lalu, Aiko mengemas semua
barangnya dengan sangat cepat. Tak sempat memastikan semua barangnya terangkut
ke dalam tasnya. Ia telah berlari untuk mengejar Izaka. Kakinya yang tak
terlalu panjang cukup membanggakannya. Ia bisa mencapainya, bahkan tangannya
juga mampu mencapai lengan Izaka. Lari dari lantai dua sampai pintu gerbang
bukan perkara yang mudah, nafas gadis itu masih terengah-engah karenanya. Ia
butuh air minum. Tenggorokannya benar-benar panas.
Izaka melepas tangan Aiko yang menggapai
lengannya. Lalu lelaki itu mengambil sebuah koin dari saku celananya, dan
memasukkannya ke dalam mesin Vending Machine. Minuman kaleng yang kaya akan ion
jatuh ke dalam genggaman Izaka sementara Aiko masih belum sanggup berbicara,
bahkan Aiko tak juga beringsut dari tadi. Izaka kini sudah duduk santai di
sebuah kursi berwarna cokelat di samping mesin itu.
“Ada perlu apa kau sampai
mengejarku?” tanya Izaka kemudian.
Aiko sudah menggerakkan
kakinya dan duduk di kursi yang sama. Aiko duduk teramat ke tepi, dan
menimbulkan jarak diantara mereka berdua. Tanpa melihat ke arah Aiko, Izaka
menyodorkan minuman kaleng yang digenggamnya.
Ternyata lelaki itu
“Terima kasih.” ucap Aiko
singkat. Ia segera membuka segel minuman itu dan segera diteguknya. Tepat
seperti dugaannya, terasa sangat menyegarkan.
Tidak, Ia jadi kelupaan. Ia mengejar
Izaka bukan karena Ia tak ada maksud. Gadis itu memberanikan dirinya.
“げめんなさ いGomen nasai.. (Aku minta maaf..)”
Payah.
Ia tidak bisa berkata lebih banyak. Gadis itu lebih memilih untuk menutup
matanya, pada saat matanya terbuka nanti Ia bermaksud meninggalkan Izaka
sendirian di kursi itu.
***
Kondisi
di sekelilingnya gelap, yang Ia lihat hanya sorot lampu yang sangat terang
menuju ke arahnya. Cahaya terang itu justru membuat matanya tak bisa melihat
dengan jelas. Saat itu pula, suara teriakkan yang keras terdengar olehnya.
Suara yang menunjukkan rasa sakit. Ia tidak tahu apa-apa. Saat itu Ia sedang
terlelap dalam pelukan seorang wanita dewasa. Ia hanya membuka matanya sebentar
dan pandangannya tiba-tiba berubah gelap.
Keringat
mengucur deras dari pelipisnya. Ia sudah terbangun dari tidurnya, membuatnya
tidak jatuh terlalu dalam ke dunia mimpi buruknya. Waktu masih menunjukkan
pukul 02.00 dini hari, tetapi terbangun di jam seperti itu sudah biasa baginya.
Sudah betahun-tahun Ia memimpikan hal yang sama dan terbangun di jam yang sama
pula. Izaka menyibak selimutnya dan berjalan menuju ke kamar mandi di kamarnya.
Lelaki itu membasuh wajahnya dengan air dingin yang mengalir langsung dari
kran.
Ia teringat dengan
peristiwa malang di mimpinya. Ia yakin itu pernah terjadi padanya. Ia sangat
yakin kalau Ia adalah tokoh utama dalam mimpi itu.
Saat itu... Ia seperti
terlahir kembali. Ketika Ia membuka mata, tak banyak yang bisa Ia lihat.
Dihadapannya hanya ada orang asing yang mengaku sebagai kedua orang tuanya.
Sebenarnya.. apa yang telah terjadi? Ia tidak ingat apa-apa.
“Saat
itu aku berpikir bahwa aku telah kehilangan ingatanku. Aku bahkan tidak
mengenali orang tuaku.” Izaka bergumam
di dalam hatinya. Izaka menyadari kalau mimpi itu memang peristiwa nyata.
Sayangnya Ia mengingatnya.
Setelah terbangun seperti
ini, Izaka tidak akan bisa tertidur lagi. Ia tidur dari jam setengah sepuluh,
jadi setiap hari rata-rata Ia hanya tidur selama empat setengah jam. Sampai
Izaka melihat sinar sang fajar, Izaka akan tetap berada di kamarnya, belajar
atau melakukan sesuatu yang berguna. Misalnya melakukan sesuatu yang luar biasa
berkat kecerdasannya. Ia sudah berhasil menciptakan beberapa mainan kecil yang
cukup menghiburnya, salah satunya berupa miniatur-miniatur yang biasa
meramaikan festival tahunan.
***