Remember Again

Remember Again
24


Udara pagi ini terasa segar, mungkin


karena belum banyak kendaraan yang melintas sehingga polusi masih dalam taraf


kecil. Mentari menyambut pagi dengan sapaan cerah, sinarnya mampu menghangatkan


kulit di temperatur udara sekitar yang dingin. Lapangan basket sudah diriuhkan


oleh teriakan-teriakan penyemangat.


         Tidak


terasa sudah lama sekali Zei tidak melihat Daichi bermain basket. Setelah gadis


itu tahu kalau Daichi menyukai Aiko, gadis itu berusaha menjaga jarak dengan


Daichi. Ia tak ingin Daichi mengetahui perasaannya.


         Gadis


itu memperhatikan pergerakan Daichi yang sedang bermain basket dari kaca


jendela lantai atas yang ada di depan kelasnya. Meskipun sudah lama tak melihat


permainan Daichi, Zei memahami permainan Daichi yang semakin bagus.


         Sebentar


lagi Daichi bersama rekan satu ekskulnya akan mengikuti turnamen ditingkat SMA.


Semua mengharapkan mereka nantinya pulang dengan membawa gelar juara umum. Oleh


karena itulah mereka selalu memanfaatkan waktu yang ada untuk latihan.


         Jarak


jendela dengan lapangan memang lumayan jauh, tidak tanggung-tanggung gadis itu


sampai mengorbankan matanya kelelahan menyipit hanya untuk melihat aksi Daichi.


         Daichi


bersiap melakukan aksi yang memukau. Dengan pergerakan yang gesit lelaki itu


melakukan Slam Dunk. Slam Dunk merupakan suatu gerakan saat pemain memasukkan


bola ke dalam ring dimana telapak tangan menyentuh besi ring tersebut. Bola


yang digiringnya masuk ke ring dengan eloknya.


         Lelaki


itu mendarat, dan tiba-tiba saja menampilkan raut muka yang kesakitan sembari


melihat ke arah pergelangan kakinya. Kaki yang Ia gunakan untuk menumpu pada


saat mendarat tidak cukup kuat untuk menahan berat tubuhnya, hasilnya Ia harus


terjatuh dan lekas memegangi pergelangan kakinya yang terkilir.


         Zei


menyaksikan pemandangan itu dengan keluh kesahnya, khawatir dengan keadaan


Daichi. Ingin rasanya Ia berlari kesana dan bertanya, apa kau baik-baik saja?


Selain gadis itu, yang lain juga khawatir dan langsung mendekati Daichi. Daichi


hanya mengatakan kalau Ia tidak apa-apa, namun saat Ia mencoba berdiri rasa


sakit muncul kembali. Teman-temannya pun memapahnya, mengajak Daichi ke ruang


kesehatan.


         “Kakimu


masih sakit?” tanya Sanjo, temannya.


         “Emm.


Tenanglah, kakiku sudah tidak apa-apa.” jawabnya dengan sedikit tersenyum.


         Akhirnya


Sanjo memegang gagang pintu, lelaki itu belum sedikit pun keluar dari ruangan


karena menoleh ke arah Daichi yang sedang terduduk di ranjang dengan kaki yang


diselonjorkan.


         “Aku


meninggalkan Daichi yang tidak menanggapinya.


         Belum


ada satu menit, pintu kembali terbuka dengan irama decitan kecil. Melihat siapa


yang ada di balik pintu itu Daichi memberikan senyuman supaya Ia terlihat


baik-baik saja.


         “Beberapa


hari ini kau jarang melihatku bermain.” kata Daichi setelah Zei berada di


ruangan itu dengan posisi berdiri dan tak menatapnya sedikitpun. Zei juga


sangat gugup sambil menggenggam tangannya sendiri.


                   “Umm.


Aku sedikit sibuk.” jawab Zei singkat tanpa menatap sepasang mata Daichi karena


takut kebohongannya terungkap.


                   “Anu..


Kau baik-baik saja?” tanya Zei beralih menatap Daichi, Ia menunggu jawaban


Daichi dengan perasaan was-was. Daichi pun kembali  menampilkan sebuah senyuman.


         “Ah,


tentu aku baik-baik saja.” jawabnya, lelaki itu lantas menunduk. Suasana


berubah hening dalam sekejap.


         “Aku


bohong. Sudah sejak lama aku sering merasakan sakit di pergelangan kakiku.”


katanya dengan tatapan sendu mengarah ke kakinya. Kini, Daichi kembali menatap


Zei.


         “Seorang


kapten sepertiku, tidak bisa berbuat apa-apa di turnamen nanti.”


         Daichi


sangat kecewa dengan kondisi tubuhnya.


         “Jadi,


menurutmu kau tidak bisa berbuat apa-apa? Memangnya seorang kapten harus selalu


ikut dalam setiap pertandingan?” bantah Zei terhadap ucapan Daichi dengan nada


tinggi khasnya, membuat Daichi tercengang tak sanggup mengalihkan perhatian


darinya.


         Gadis


itu merasakan jantungnya berdebar-debar melihat tatapan Daichi, Ia tidak bisa


menahan debaran itu.


         Sesaat


kemudian Daichi tertawa terbahak-bahak sampai perutnya terasa sakit. Hal itu


karena ekspresi wajah Zei yang serius. Akibatnya gadis itu jadi kesal melihat


tingkah lelaki itu. Dengan sedikit menahan tawa Daichi meminta Zei duduk untuk


menemaninya bicara. Gadis itu tak menolak, Ia berharap itu bisa membuat Daichi


melupakan rasa sakit dikakinya.


         Kini


Zei yang berganti tersenyum, gadis itu lebih senang melihat ekspresi Daichi


yang menertawainya daripada meringis kesakitan seperti tadi.


***