
Udara pagi ini terasa segar, mungkin
karena belum banyak kendaraan yang melintas sehingga polusi masih dalam taraf
kecil. Mentari menyambut pagi dengan sapaan cerah, sinarnya mampu menghangatkan
kulit di temperatur udara sekitar yang dingin. Lapangan basket sudah diriuhkan
oleh teriakan-teriakan penyemangat.
Tidak
terasa sudah lama sekali Zei tidak melihat Daichi bermain basket. Setelah gadis
itu tahu kalau Daichi menyukai Aiko, gadis itu berusaha menjaga jarak dengan
Daichi. Ia tak ingin Daichi mengetahui perasaannya.
Gadis
itu memperhatikan pergerakan Daichi yang sedang bermain basket dari kaca
jendela lantai atas yang ada di depan kelasnya. Meskipun sudah lama tak melihat
permainan Daichi, Zei memahami permainan Daichi yang semakin bagus.
Sebentar
lagi Daichi bersama rekan satu ekskulnya akan mengikuti turnamen ditingkat SMA.
Semua mengharapkan mereka nantinya pulang dengan membawa gelar juara umum. Oleh
karena itulah mereka selalu memanfaatkan waktu yang ada untuk latihan.
Jarak
jendela dengan lapangan memang lumayan jauh, tidak tanggung-tanggung gadis itu
sampai mengorbankan matanya kelelahan menyipit hanya untuk melihat aksi Daichi.
Daichi
bersiap melakukan aksi yang memukau. Dengan pergerakan yang gesit lelaki itu
melakukan Slam Dunk. Slam Dunk merupakan suatu gerakan saat pemain memasukkan
bola ke dalam ring dimana telapak tangan menyentuh besi ring tersebut. Bola
yang digiringnya masuk ke ring dengan eloknya.
Lelaki
itu mendarat, dan tiba-tiba saja menampilkan raut muka yang kesakitan sembari
melihat ke arah pergelangan kakinya. Kaki yang Ia gunakan untuk menumpu pada
saat mendarat tidak cukup kuat untuk menahan berat tubuhnya, hasilnya Ia harus
terjatuh dan lekas memegangi pergelangan kakinya yang terkilir.
Zei
menyaksikan pemandangan itu dengan keluh kesahnya, khawatir dengan keadaan
Daichi. Ingin rasanya Ia berlari kesana dan bertanya, apa kau baik-baik saja?
Selain gadis itu, yang lain juga khawatir dan langsung mendekati Daichi. Daichi
hanya mengatakan kalau Ia tidak apa-apa, namun saat Ia mencoba berdiri rasa
sakit muncul kembali. Teman-temannya pun memapahnya, mengajak Daichi ke ruang
kesehatan.
“Kakimu
masih sakit?” tanya Sanjo, temannya.
“Emm.
Tenanglah, kakiku sudah tidak apa-apa.” jawabnya dengan sedikit tersenyum.
Akhirnya
Sanjo memegang gagang pintu, lelaki itu belum sedikit pun keluar dari ruangan
karena menoleh ke arah Daichi yang sedang terduduk di ranjang dengan kaki yang
diselonjorkan.
“Aku
meninggalkan Daichi yang tidak menanggapinya.
Belum
ada satu menit, pintu kembali terbuka dengan irama decitan kecil. Melihat siapa
yang ada di balik pintu itu Daichi memberikan senyuman supaya Ia terlihat
baik-baik saja.
“Beberapa
hari ini kau jarang melihatku bermain.” kata Daichi setelah Zei berada di
ruangan itu dengan posisi berdiri dan tak menatapnya sedikitpun. Zei juga
sangat gugup sambil menggenggam tangannya sendiri.
“Umm.
Aku sedikit sibuk.” jawab Zei singkat tanpa menatap sepasang mata Daichi karena
takut kebohongannya terungkap.
“Anu..
Kau baik-baik saja?” tanya Zei beralih menatap Daichi, Ia menunggu jawaban
Daichi dengan perasaan was-was. Daichi pun kembali menampilkan sebuah senyuman.
“Ah,
tentu aku baik-baik saja.” jawabnya, lelaki itu lantas menunduk. Suasana
berubah hening dalam sekejap.
“Aku
bohong. Sudah sejak lama aku sering merasakan sakit di pergelangan kakiku.”
katanya dengan tatapan sendu mengarah ke kakinya. Kini, Daichi kembali menatap
Zei.
“Seorang
kapten sepertiku, tidak bisa berbuat apa-apa di turnamen nanti.”
Daichi
sangat kecewa dengan kondisi tubuhnya.
“Jadi,
menurutmu kau tidak bisa berbuat apa-apa? Memangnya seorang kapten harus selalu
ikut dalam setiap pertandingan?” bantah Zei terhadap ucapan Daichi dengan nada
tinggi khasnya, membuat Daichi tercengang tak sanggup mengalihkan perhatian
darinya.
Gadis
itu merasakan jantungnya berdebar-debar melihat tatapan Daichi, Ia tidak bisa
menahan debaran itu.
Sesaat
kemudian Daichi tertawa terbahak-bahak sampai perutnya terasa sakit. Hal itu
karena ekspresi wajah Zei yang serius. Akibatnya gadis itu jadi kesal melihat
tingkah lelaki itu. Dengan sedikit menahan tawa Daichi meminta Zei duduk untuk
menemaninya bicara. Gadis itu tak menolak, Ia berharap itu bisa membuat Daichi
melupakan rasa sakit dikakinya.
Kini
Zei yang berganti tersenyum, gadis itu lebih senang melihat ekspresi Daichi
yang menertawainya daripada meringis kesakitan seperti tadi.
***