
Tak henti-hentinya Nyonya
Harumi memandangi jam dinding yang baru dibelinya dari Italia. Sebuah jam
dengan ukuran nyaris setengah dari badannya.
Bunyi
detik demi detik seolah sedang mengejeknya yang sedang menanti kepulangan
Izaka. Tuan Yamada selalu bilang kepadanya kalau Izaka tak pernah pulang
terlambat selama Ia tak ada di rumah.
Sudah
hampir petang. Tetapi tak ada tanda-tanda kemunculan Izaka. Nyonya Harumi hanya
tak ingin sesuatu yang buruk terulang kembali, seperti saat Ia menunggu
kedatangan sahabatnya yang akan pindah ke Tokyo. Wanita itu sudah kehilangan
sahabatnya dalam kecelakaan yang mengenaskan tiga tahun yang lalu, dan hanya
Izaka saja yang selamat dalam kecelakaan itu.
Jika
Izaka menyusul kedua orang tuanya, entah Ia masih bisa hidup atau tidak.
Setahunya Ia tak sekuat itu. Nyonya Harumi sudah menganggap Izaka seperti darah
dagingnya sendiri.
“Yamada-san, cari Izaka
sekarang! Aku takut kalau sampai terjadi apa-apa dengannya.” perintah Nyonya
Harumi, dada wanita itu sudah terasa sesak karena mencemaskan Izaka.
“Kau tenanglah, Izaka
bukan anak kecil jadi dia pasti bisa menjaga dirinya.”
Tuan Higashi berusaha
menenangkan istrinya. Mendekap istrinya dari belakang ketika wanita itu duduk
di kursi.
“Saya akan segera
mencarinya.” jawab Tuan Yamada, lelaki itu membungkuk sebentar untuk memohon
permisi dan segera melaksanakan perintah Nyonya Harumi.
...
Waktu sudah bergulir,
namun Izaka masih tak merubah posisinya. Lelaki itu hanya memandang
langit-langit rumah lamanya. Izaka ke rumah itu untuk mengambil ingatannya,
siapa tahu masih ada yang tersisa. Bagaimana suasana di rumah ini dulu? Lelaki
itu masih tak mengetahuinya. Masakan apa yang ada di meja makan ketika Ia
pulang dari sekolah? Dimana Ia tidur? Lelaki itu juga tak mengetahuinya.
Akhirnya Izaka mulai
bangkit dari posisinya, lelaki itu memeriksa lebih detail rumahnya. Hingga Ia
tiba di sebuah kamar. Memang tidak terlalu besar, tetapi Ia seperti tidak asing
dengan aroma kamar ini. Sesaat kemudian Izaka merebahkan tubuhnya di kasur.
Tanpa sadar lelaki itu diamati Aiko sejak tadi.
“Ah, aku tak mampu
mengingatnya.” ucap Izaka kemudian. Lelaki itu meletakkan punggung tangannya di
dahi.
Suara lelaki itu yang
pelan mampu didengar Aiko. Lalu Aiko segera mendekati lelaki itu. Duduk di tepi
ranjang dengan tangan kirinya dijadikan tumpuan. Tangan kanan gadis itu
bergerak untuk menghalangi masuknya cahaya ke sepasang mata lelaki itu.
“Kau hanya perlu menutup
matamu dan rasakan.. Kau yang paling tahu seberapa besar kau menyayangi mereka.
Walaupun kau tidak mengingat apapun, tapi ku rasa itu sudah cukup.” kata Aiko
dalam.
Beberapa
detik kemudian gadis itu memindahkan tangannya yang tadi menutup kedua mata
Izaka. Sepertinya Izaka sudah tertidur, lelaki itu telah kehilangan
keterjagaannya.
Gadis
itu keluar dari kamar untuk mencari udara segar, menuju dapur dan melihat-lihat
disana. Sejak tadi Ia mengamati, semua barang di rumah ini tak ada yang kotor.
Ia yakin, pasti ada seseorang yang selalu berkunjung dan bersih-bersih di rumah
ini. Sebenarnya Ia ingin mengusir pikiran aneh itu. Bagaimanapun juga Izaka
sudah lama tak pernah kemari.
Sesaat
kemudian Aiko merasa terkejut. Di telinganya terdengar jelas, ada suara kunci
yang sedang menari-nari. Suara itu berasal dari depan, gadis itu segera
mengambil sebuah panci bertangkai. Ia sangat yakin kalau orang itu mencoba
masuk ke rumah, dan bisa jadi akan mencuri sesuatu di rumah ini.
Gadis
itu berusaha melangkahkan kakinya tanpa bersuara, tetap pasang mata dan siaga.
Ekspresi siaganya berubah terkejut ketika pintu terbuka. Seorang lelaki dengan setelan jas yang sudah tak asing baginya
juga terkejut seperti dirinya.
“Yamada-san?” ucap Aiko
masih dengan wajah keterkejutannya. Tangan gadis itu perlahan turun bersamaan
dengan panci bertangkai yang bertengger di tangannya. Bagaimana Tuan Yamada
bisa kemari? Aiko bertanya dalam diam.
Lalu, gadis itu menggeser
tubuhnya dan membiarkan Tuan Yamada masuk ke dalam rumah. Suasana di luar sana
seperti suasana petang sebelum-sebelumnya. Dan tak baik bila berbicara di luar,
angin petang bisa merusak daya tahan tubuh mereka.
Mereka duduk di sebuah
sofa, saling berhadapan.
Anda bisa kemari?” tanya Aiko ragu-ragu. Ia tak berhenti menggenggam tangannya
sendiri.
“Sepertinya sudah
terlambat untuk mengatakannya. Kau pasti juga sudah menyadarinya.”
Terdengar helaan nafas
Tuan Yamada, itu seperti tanda kalau Ia akan mengatakan sesuatu yang sulit.
Tetapi bagaimanapun juga Tuan Yamada tetap mengatakannya.
“Semenjak orang tua
kandung Izaka-san meninggal, aku selalu datang kemari. Aku ingin menjaga dan
merawat rumah ini berikut kenangan yang ada disini.” jelas Tuan Yamada dengan
nada bicara yang lancar.
Pada akhirnya akan ada
saat dimana Ia akan mengatakan itu, jadi Ia tak kesulitan lagi untuk merajut
kata. Aiko belum menanggapi apa-apa, karena Ia terlena mendengar Tuan Yamada
yang berbicara.
“Aku menaruh beberapa CCTV
di rumah ini. Setelah aku melihat kau dan Izaka disini aku langsung menuju
kemari.” katanya lagi. Aiko masih tak berkutik.
“Ah, dimana Izaka-san
sekarang?” tanya Tuan Yamada sedikit khawatir.
“Dia sedang istirahat.”
jawab Aiko pendek.
Gadis
itu tak ingin membiarkan bibirnya mengatup terlalu lama, itu karena Ia peduli
dengan Izaka. Ia membutuhkan penjelasan. Tak mungkin Tuan Yamada melakukan itu
secara cuma-cuma.
“Kenapa, Yamada-san
melakukan itu semua? Kenapa Anda memperlakukan rumah ini seperti rumahmu? Apa
itu berarti untuk Yamada-san?” Aiko memuntahkan semua perasaannya.
Memang Ia tak pandai dalam
menahan sesuatu, bahkan dari nada bicaranya terlihat jelas kalau Ia memang
sangat memikirkan Izaka.
“Aku hanya ingin menjaga
kenangannya. Keluarga Aihara sudah banyak membantuku, membalas kebaikannya
sudah menjadi tugasku. Izaka memang bukan putra kandung Higashi-san dan
Harumi-san, tapi aku percaya kalau mereka sangat menyayangi Izaka.” Tuan Yamada
semakin panjang menjelaskannya.
Aiko berpikir sejenak. Apa
yang dapat Ia lakukan untuk Izaka? Hati kecilnya bertanya, tapi Ia sendiri tak
mampu menjawabnya. Dadanya terasa sangat panas. Tak ada yang bisa Ia lakukan
untuknya.
“Selama ini, Izaka sangat
menderita karena tak ingat apapun tentang orang tua kandungnya. Dia kemari
untuk mengambil ingatannya.” ujar Aiko, ditatapnya kedua mata Tuan Yamada.
Tuan Yamada pun tak
sanggup untuk menelan ludah, begitu tersentak ketika Aiko mengatakan itu.
“Izaka-san satu-satunya
orang yang selamat dalam kecelakaan tiga tahun yang lalu. Kecelakaan itu
membuatnya trauma, dan dokter yang merawatnya menyarankan untuk
menghipnosisnya.
Jadi, kehilangan memori tentang
kecelakaan itu adalah kebaikannya.” Tuan Yamada menautkan kedua tangannya.
Menunjukkan kalau apa yang dikatakannya bukanlah main-main.
“Tapi kenapa Izaka juga
harus kehilangan kenangan bersama kedua orang tua kandungnya? Mereka orang tua
Izaka!” dalam hal ini Ia tidak tahu kenapa matanya basah. Gadis itu hanya
mengusap sudut matanya agar tak ada air mata yang terjatuh.
“Aku sendiri tak pernah
menyangka akan seperti itu.” jawab Tuan Yamada dengan nada bersalahnya.
“Aku akan membangunkan
Izaka, dan mengajaknya pulang.” kata Tuan Yamada, lelaki itu bangun dari
duduknya dan menuju kamar dimana Izaka sedang terlelap.
“Biarkan dia istirahat
sebentar lagi. Saat dia bangun nanti, aku akan langsung mengajaknya pulang.”
Kata Aiko tanpa memandang Tuan Yamada. Ia sedikit kecewa dengan orang itu.
“Satu hal lagi yang harus
kau ketahui Aiko-san. Orang tua angkat Izaka saat ini bukan orang asing
baginya. Mereka sahabat orang tua kandung Izaka-san yang menunggu kehadiran
mereka di Tokyo tiga tahun yang lalu.”
Aiko
sangat tersentak mendengarnya. Gadis itu menoleh ke arah Tuan Yamada namun
sudah tidak mendapatinya lagi. Lelaki yang selalu dilihatnya dengan setelan jas
itu sudah meninggalkan tempat.
Orang
tua angkat Izaka, merupakan sahabat orang tua kandung Izaka. Berulang kali
pernyataan itu terngiang di kepalanya. Aiko merasa lega karena Izaka berada di
tangan orang yang tepat.
***