Remember Again

Remember Again
23


Tak henti-hentinya Nyonya


Harumi memandangi jam dinding yang baru dibelinya dari Italia. Sebuah jam


dengan ukuran nyaris setengah dari badannya.


         Bunyi


detik demi detik seolah sedang mengejeknya yang sedang menanti kepulangan


Izaka. Tuan Yamada selalu bilang kepadanya kalau Izaka tak pernah pulang


terlambat selama Ia tak ada di rumah.


         Sudah


hampir petang. Tetapi tak ada tanda-tanda kemunculan Izaka. Nyonya Harumi hanya


tak ingin sesuatu yang buruk terulang kembali, seperti saat Ia menunggu


kedatangan sahabatnya yang akan pindah ke Tokyo. Wanita itu sudah kehilangan


sahabatnya dalam kecelakaan yang mengenaskan tiga tahun yang lalu, dan hanya


Izaka saja yang selamat dalam kecelakaan itu.


         Jika


Izaka menyusul kedua orang tuanya, entah Ia masih bisa hidup atau tidak.


Setahunya Ia tak sekuat itu. Nyonya Harumi sudah menganggap Izaka seperti darah


dagingnya sendiri.


“Yamada-san, cari Izaka


sekarang! Aku takut kalau sampai terjadi apa-apa dengannya.” perintah Nyonya


Harumi, dada wanita itu sudah terasa sesak karena mencemaskan Izaka.


“Kau tenanglah, Izaka


bukan anak kecil jadi dia pasti bisa menjaga dirinya.”


Tuan Higashi berusaha


menenangkan istrinya. Mendekap istrinya dari belakang ketika wanita itu duduk


di kursi.


“Saya akan segera


mencarinya.” jawab Tuan Yamada, lelaki itu membungkuk sebentar untuk memohon


permisi dan segera melaksanakan perintah Nyonya Harumi.


...


Waktu sudah bergulir,


namun Izaka masih tak merubah posisinya. Lelaki itu hanya memandang


langit-langit rumah lamanya. Izaka ke rumah itu untuk mengambil ingatannya,


siapa tahu masih ada yang tersisa. Bagaimana suasana di rumah ini dulu? Lelaki


itu masih tak mengetahuinya. Masakan apa yang ada di meja makan ketika Ia


pulang dari sekolah? Dimana Ia tidur? Lelaki itu juga tak mengetahuinya.


Akhirnya Izaka mulai


bangkit dari posisinya, lelaki itu memeriksa lebih detail rumahnya. Hingga Ia


tiba di sebuah kamar. Memang tidak terlalu besar, tetapi Ia seperti tidak asing


dengan aroma kamar ini. Sesaat kemudian Izaka merebahkan tubuhnya di kasur.


Tanpa sadar lelaki itu diamati Aiko sejak tadi.


“Ah, aku tak mampu


mengingatnya.” ucap Izaka kemudian. Lelaki itu meletakkan punggung tangannya di


dahi.


Suara lelaki itu yang


pelan mampu didengar Aiko. Lalu Aiko segera mendekati lelaki itu. Duduk di tepi


ranjang dengan tangan kirinya dijadikan tumpuan. Tangan kanan gadis itu


bergerak untuk menghalangi masuknya cahaya ke sepasang mata lelaki itu.


“Kau hanya perlu menutup


matamu dan rasakan.. Kau yang paling tahu seberapa besar kau menyayangi mereka.


Walaupun kau tidak mengingat apapun, tapi ku rasa itu sudah cukup.” kata Aiko


dalam.


         Beberapa


detik kemudian gadis itu memindahkan tangannya yang tadi menutup kedua mata


Izaka. Sepertinya Izaka sudah tertidur, lelaki itu telah kehilangan


keterjagaannya.


         Gadis


itu keluar dari kamar untuk mencari udara segar, menuju dapur dan melihat-lihat


disana. Sejak tadi Ia mengamati, semua barang di rumah ini tak ada yang kotor.


Ia yakin, pasti ada seseorang yang selalu berkunjung dan bersih-bersih di rumah


ini. Sebenarnya Ia ingin mengusir pikiran aneh itu. Bagaimanapun juga Izaka


sudah lama tak pernah kemari.


          Sesaat


kemudian Aiko merasa terkejut. Di telinganya terdengar jelas, ada suara kunci


yang sedang menari-nari. Suara itu berasal dari depan, gadis itu segera


mengambil sebuah panci bertangkai. Ia sangat yakin kalau orang itu mencoba


masuk ke rumah, dan bisa jadi akan mencuri sesuatu di rumah ini.


         Gadis


itu berusaha melangkahkan kakinya tanpa bersuara, tetap pasang mata dan siaga.


Ekspresi siaganya berubah terkejut ketika pintu terbuka. Seorang lelaki dengan setelan jas yang sudah tak asing baginya


juga terkejut seperti dirinya.


“Yamada-san?” ucap Aiko


masih dengan wajah keterkejutannya. Tangan gadis itu perlahan turun bersamaan


dengan panci bertangkai yang bertengger di tangannya. Bagaimana Tuan Yamada


bisa kemari? Aiko bertanya dalam diam.


Lalu, gadis itu menggeser


tubuhnya dan membiarkan Tuan Yamada masuk ke dalam rumah. Suasana di luar sana


seperti suasana petang sebelum-sebelumnya. Dan tak baik bila berbicara di luar,


angin petang bisa merusak daya tahan tubuh mereka.


Mereka duduk di sebuah


sofa, saling berhadapan.


Anda bisa kemari?” tanya Aiko ragu-ragu. Ia tak berhenti menggenggam tangannya


sendiri.


“Sepertinya sudah


terlambat untuk mengatakannya. Kau pasti juga sudah menyadarinya.”


Terdengar helaan nafas


Tuan Yamada, itu seperti tanda kalau Ia akan mengatakan sesuatu yang sulit.


Tetapi bagaimanapun juga Tuan Yamada tetap mengatakannya.


“Semenjak orang tua


kandung Izaka-san meninggal, aku selalu datang kemari. Aku ingin menjaga dan


merawat rumah ini berikut kenangan yang ada disini.” jelas Tuan Yamada dengan


nada bicara yang lancar.


Pada akhirnya akan ada


saat dimana Ia akan mengatakan itu, jadi Ia tak kesulitan lagi untuk merajut


kata. Aiko belum menanggapi apa-apa, karena Ia terlena mendengar Tuan Yamada


yang berbicara.


“Aku menaruh beberapa CCTV


di rumah ini. Setelah aku melihat kau dan Izaka disini aku langsung menuju


kemari.” katanya lagi. Aiko masih tak berkutik.


“Ah, dimana Izaka-san


sekarang?” tanya Tuan Yamada sedikit khawatir.


“Dia sedang istirahat.”


jawab Aiko pendek.


         Gadis


itu tak ingin membiarkan bibirnya mengatup terlalu lama, itu karena Ia peduli


dengan Izaka. Ia membutuhkan penjelasan. Tak mungkin Tuan Yamada melakukan itu


secara cuma-cuma.


“Kenapa, Yamada-san


melakukan itu semua? Kenapa Anda memperlakukan rumah ini seperti rumahmu? Apa


itu berarti untuk Yamada-san?” Aiko memuntahkan semua perasaannya.


Memang Ia tak pandai dalam


menahan sesuatu, bahkan dari nada bicaranya terlihat jelas kalau Ia memang


sangat memikirkan Izaka.


“Aku hanya ingin menjaga


kenangannya. Keluarga Aihara sudah banyak membantuku, membalas kebaikannya


sudah menjadi tugasku. Izaka memang bukan putra kandung Higashi-san dan


Harumi-san, tapi aku percaya kalau mereka sangat menyayangi Izaka.” Tuan Yamada


semakin panjang menjelaskannya.


Aiko berpikir sejenak. Apa


yang dapat Ia lakukan untuk Izaka? Hati kecilnya bertanya, tapi Ia sendiri tak


mampu menjawabnya. Dadanya terasa sangat panas. Tak ada yang bisa Ia lakukan


untuknya.


“Selama ini, Izaka sangat


menderita karena tak ingat apapun tentang orang tua kandungnya. Dia kemari


untuk mengambil ingatannya.” ujar Aiko, ditatapnya kedua mata Tuan Yamada.


Tuan Yamada pun tak


sanggup untuk menelan ludah, begitu tersentak ketika Aiko mengatakan itu.


“Izaka-san satu-satunya


orang yang selamat dalam kecelakaan tiga tahun yang lalu. Kecelakaan itu


membuatnya trauma, dan dokter yang merawatnya menyarankan untuk


menghipnosisnya.


Jadi, kehilangan memori tentang


kecelakaan itu adalah kebaikannya.” Tuan Yamada menautkan kedua tangannya.


Menunjukkan kalau apa yang dikatakannya bukanlah main-main.


“Tapi kenapa Izaka juga


harus kehilangan kenangan bersama kedua orang tua kandungnya? Mereka orang tua


Izaka!” dalam hal ini Ia tidak tahu kenapa matanya basah. Gadis itu hanya


mengusap sudut matanya agar tak ada air mata yang terjatuh.


“Aku sendiri tak pernah


menyangka akan seperti itu.” jawab Tuan Yamada dengan nada bersalahnya.


“Aku akan membangunkan


Izaka, dan mengajaknya pulang.” kata Tuan Yamada, lelaki itu bangun dari


duduknya dan menuju kamar dimana Izaka sedang terlelap.


“Biarkan dia istirahat


sebentar lagi. Saat dia bangun nanti, aku akan langsung mengajaknya pulang.”


Kata Aiko tanpa memandang Tuan Yamada. Ia sedikit kecewa dengan orang itu.


“Satu hal lagi yang harus


kau ketahui Aiko-san. Orang tua angkat Izaka saat ini bukan orang asing


baginya. Mereka sahabat orang tua kandung Izaka-san yang menunggu kehadiran


mereka di Tokyo tiga tahun yang lalu.”


         Aiko


sangat tersentak mendengarnya. Gadis itu menoleh ke arah Tuan Yamada namun


sudah tidak mendapatinya lagi. Lelaki yang selalu dilihatnya dengan setelan jas


itu sudah meninggalkan tempat.


         Orang


tua angkat Izaka, merupakan sahabat orang tua kandung Izaka. Berulang kali


pernyataan itu terngiang di kepalanya. Aiko merasa lega karena Izaka berada di


tangan orang yang tepat.


***