Remember Again

Remember Again
16


Aiko mendengus kesal, hari ini Ia


sedikit kesiangan. Meskipun demikian dia tetap berjalan dengan santai sambil


membawa buku pelajaran yang besar dan akan terasa berat apabila Ia masukkan ke


dalam tasnya. Buku itu sedang dipeluknya, seakan sedang memeluk boneka. Ia tak


ingin terburu-buru.


         Langkah


kaki Aiko terdengar konstan, saat berjalan kepalanya tetap tegak. Kini kedua kornea


matanya pun terlihat sedang melirik ke samping. Ia sedang melirik Zei yang baru


saja berjalan dan berhasil melewatinya dari arah yang berlawanan. Sayangnya,


Zei tak menganggap keberadaannya. Bagi Zei, Ia seperti angin ringan yang baru


saja berhembus. Ingin sekali Ia menengok ke belakang saat kakinya tak mampu


melanjutkan langkahnya. Ia membuat keputusan untuk tidak menengok.


“Kau selalu lari dari


masalahmu. Jika terus seperti itu, sampai kapan pun kau tak akan pernah bisa


menyelesaikan masalahmu.” suara itu terdengar nyaring dan familiar di telinga


Aiko. Suara itu berhasil mengubah keputusannya.


         Ia


menengok ke belakang dan melihat Izaka yang sedang memegang bahu Zei, sehingga


Zei berhenti disitu. Izaka memandang Zei dengan sangat serius, Aiko cukup tahu


itu.


Ia bisa merasakan tatapan Zei yang


menuju ke arahnya. Tatapan itu masih terlihat dingin.


         “Kau


suka Daichi kan?” tanya Izaka secara tiba-tiba. Zei pun menampilkan wajah


marahnya, Ia tak ingin ada orang yang menyinggung masalah itu.


“Jangan khawatirkan Aiko,


dia tidak akan merebut Daichi darimu. Dia milikku.” kata Izaka tegas. Lelaki


itu memperlihatkan senyuman terbaiknya kepada Aiko.


“Aku tak punya urusan


denganmu,” kata Zei kemudian,  gadis itu


menepis tangan Izaka dan beringsut pergi.


         Aiko


tak tahu kenapa Izaka melakukan hal seperti itu. Lelaki itu terlihat sangat


memperhatikannya. Selama ini, hati mereka tak pernah terhubung. Hanya lantai


dan langit-langit kelas yang menghubungkan mereka. Mereka sama-sama tak


memahami perasaan mereka masing-masing. Aiko sendiri tak bisa memahami perasaan


Izaka, begitu pula dengan Izaka yang tak bisa memahami perasaannya.


         Gadis


Aiko dalam memecahkan masalah. Biasanya Aiko tak ragu mengatakan apa yang


sesuai dengan perasaannya, memberikan penjelasan yang sesuai dengan


perasaannya. Tak pernah sekali saja keluar dari itu. Mereka memang tak saling


memahami, tetapi mereka saling peduli. Aiko begitu terpaku dengan sosok Izaka,


Ia menatap lelaki itu lekat-lekat. Tak mau berpindah.


Izaka berjalan semakin


mendekati Aiko, sementara Aiko sama sekali tak bergerak sedikitpun. Dari


samping, Izaka meraih tubuh gadis itu. Tangan kanan Izaka lewat di depan tubuh


Aiko dan memegang lengan kiri gadis itu. Jika Aiko bergeser ke kiri sedikit,


mereka terlihat sedang berpelukan.


“Sebaiknya kau segera


masuk ke kelas. Ratu Payah.” ucapnya.


Pikiran Aiko goyah. Yoshio


Izaka juga selalu mengatainya sebagai Ratu Payah. Kenapa hal itu harus terjadi


kepadanya? Aihara Izaka yang bersamanya selalu terlihat seperti Yoshio Izaka.


Kenapa bukan orang lain saja?


“Kenapa kau lakukan itu?


Aku bisa melihatnya dengan jelas kalau kau membantu memperbaiki hubunganku


dengan Zei. Kau itu siapa?” ucap Aiko mendalam.


         Ia


pun melingkarkan telapak tangannya di lengan bawah Izaka. Cengkeraman tangan


Aiko di lengan itu semakin kuat. Hatinya seolah berbicara, tersalurkan ke dalam


diri Izaka melalui jamahan tangannya.


“Aku hanya ingin


melakukannya. Cepatlah, tak biasanya jam segini kau baru sampai.” kata Izaka,


Ia sedikit menarik tubuh Aiko sehingga membuat kaki Aiko mundur satu langkah.


Kemudian Aiko tak bergerak sama sekali, dan membuat Izaka lekas menatapnya.


Lelaki itu  melepaskan tangannya.


         Aiko


menjatuhkan buku yang ada di pelukannya, dan dalam hitungan detik Ia berlari


menuju luar gedung. Ia tak pernah membolos sebelumnya, tetapi kali ini saja Ia


sangat ingin melakukannya. Ia hanya tak mau melihat wajah Izaka. Wajah itu


selalu tampak menyebalkan baginya. Wajah yang selalu berpura-pura menjadi orang


asing di depan matanya.


     Ia berlari sekencang dan sebisa mungkin yang dapat Ia lakukan. Meskipun


Ia berlari tanpa tahu tujuannya. Tak peduli jika nantinya Ia tersesat.


***