
Aiko mendengus kesal, hari ini Ia
sedikit kesiangan. Meskipun demikian dia tetap berjalan dengan santai sambil
membawa buku pelajaran yang besar dan akan terasa berat apabila Ia masukkan ke
dalam tasnya. Buku itu sedang dipeluknya, seakan sedang memeluk boneka. Ia tak
ingin terburu-buru.
Langkah
kaki Aiko terdengar konstan, saat berjalan kepalanya tetap tegak. Kini kedua kornea
matanya pun terlihat sedang melirik ke samping. Ia sedang melirik Zei yang baru
saja berjalan dan berhasil melewatinya dari arah yang berlawanan. Sayangnya,
Zei tak menganggap keberadaannya. Bagi Zei, Ia seperti angin ringan yang baru
saja berhembus. Ingin sekali Ia menengok ke belakang saat kakinya tak mampu
melanjutkan langkahnya. Ia membuat keputusan untuk tidak menengok.
“Kau selalu lari dari
masalahmu. Jika terus seperti itu, sampai kapan pun kau tak akan pernah bisa
menyelesaikan masalahmu.” suara itu terdengar nyaring dan familiar di telinga
Aiko. Suara itu berhasil mengubah keputusannya.
Ia
menengok ke belakang dan melihat Izaka yang sedang memegang bahu Zei, sehingga
Zei berhenti disitu. Izaka memandang Zei dengan sangat serius, Aiko cukup tahu
itu.
Ia bisa merasakan tatapan Zei yang
menuju ke arahnya. Tatapan itu masih terlihat dingin.
“Kau
suka Daichi kan?” tanya Izaka secara tiba-tiba. Zei pun menampilkan wajah
marahnya, Ia tak ingin ada orang yang menyinggung masalah itu.
“Jangan khawatirkan Aiko,
dia tidak akan merebut Daichi darimu. Dia milikku.” kata Izaka tegas. Lelaki
itu memperlihatkan senyuman terbaiknya kepada Aiko.
“Aku tak punya urusan
denganmu,” kata Zei kemudian, gadis itu
menepis tangan Izaka dan beringsut pergi.
Aiko
tak tahu kenapa Izaka melakukan hal seperti itu. Lelaki itu terlihat sangat
memperhatikannya. Selama ini, hati mereka tak pernah terhubung. Hanya lantai
dan langit-langit kelas yang menghubungkan mereka. Mereka sama-sama tak
memahami perasaan mereka masing-masing. Aiko sendiri tak bisa memahami perasaan
Izaka, begitu pula dengan Izaka yang tak bisa memahami perasaannya.
Gadis
Aiko dalam memecahkan masalah. Biasanya Aiko tak ragu mengatakan apa yang
sesuai dengan perasaannya, memberikan penjelasan yang sesuai dengan
perasaannya. Tak pernah sekali saja keluar dari itu. Mereka memang tak saling
memahami, tetapi mereka saling peduli. Aiko begitu terpaku dengan sosok Izaka,
Ia menatap lelaki itu lekat-lekat. Tak mau berpindah.
Izaka berjalan semakin
mendekati Aiko, sementara Aiko sama sekali tak bergerak sedikitpun. Dari
samping, Izaka meraih tubuh gadis itu. Tangan kanan Izaka lewat di depan tubuh
Aiko dan memegang lengan kiri gadis itu. Jika Aiko bergeser ke kiri sedikit,
mereka terlihat sedang berpelukan.
“Sebaiknya kau segera
masuk ke kelas. Ratu Payah.” ucapnya.
Pikiran Aiko goyah. Yoshio
Izaka juga selalu mengatainya sebagai Ratu Payah. Kenapa hal itu harus terjadi
kepadanya? Aihara Izaka yang bersamanya selalu terlihat seperti Yoshio Izaka.
Kenapa bukan orang lain saja?
“Kenapa kau lakukan itu?
Aku bisa melihatnya dengan jelas kalau kau membantu memperbaiki hubunganku
dengan Zei. Kau itu siapa?” ucap Aiko mendalam.
Ia
pun melingkarkan telapak tangannya di lengan bawah Izaka. Cengkeraman tangan
Aiko di lengan itu semakin kuat. Hatinya seolah berbicara, tersalurkan ke dalam
diri Izaka melalui jamahan tangannya.
“Aku hanya ingin
melakukannya. Cepatlah, tak biasanya jam segini kau baru sampai.” kata Izaka,
Ia sedikit menarik tubuh Aiko sehingga membuat kaki Aiko mundur satu langkah.
Kemudian Aiko tak bergerak sama sekali, dan membuat Izaka lekas menatapnya.
Lelaki itu melepaskan tangannya.
Aiko
menjatuhkan buku yang ada di pelukannya, dan dalam hitungan detik Ia berlari
menuju luar gedung. Ia tak pernah membolos sebelumnya, tetapi kali ini saja Ia
sangat ingin melakukannya. Ia hanya tak mau melihat wajah Izaka. Wajah itu
selalu tampak menyebalkan baginya. Wajah yang selalu berpura-pura menjadi orang
asing di depan matanya.
Ia berlari sekencang dan sebisa mungkin yang dapat Ia lakukan. Meskipun
Ia berlari tanpa tahu tujuannya. Tak peduli jika nantinya Ia tersesat.
***