
Aiko tak bisa berhenti
menguap. Ayah dan ibunya sudah berangkat bekerja. Hari ini memang hari minggu
sehingga Ia sengaja untuk tidur lebih lama, tetapi mendengar suara bel rumahnya
yang mengalun konstan rencananya gagal total. Ia membuka pintu dengan mata yang
masih tertutup. Sisi yang jarang diperlihatkan oleh Aiko. Kegiatan Persami
kemarin berhasil membuatnya menampilkan sisi buruknya.
“Aiko-chan?” desis Zei.
Aiko langsung berubah drastis, dan menemukan kesadaran sepenuhnya begitu
mendengar suara itu.
“Zei-chan? Tak biasanya
kau kemari, anu.. maksudku..” kata Aiko kemudian. Zei malah menerobos masuk dan
langsung duduk di sofa ruang tamunya.
Aiko masih merasa aneh,
karena tak biasanya Ia menerima seseorang untuk datang ke rumahnya. Bahkan Ia
tidak tahu tata krama yang benar saat Zei datang. Ia menyambutnya dengan buruk.
Bahkan dia juga belum mandi.
Jika saja orang yang
datang ke rumahnya itu adalah lelaki yang disukainya, pasti Ia akan
mengurungkan rasa sukanya setelah lelaki itu tahu sisi buruknya itu. Ia akan
mengundurkan diri sebelum ditolak oleh lelaki itu.
“Aiko, aku datang kemari
untuk menagih janjimu. Ajari aku belajar!” kata Zei sambil tersenyum cerah.
“Apa?”
Aiko kaget dan tak pernah menyangka Zei akan mengatakan itu sebelumnya. Pasti
ada badai yang membuat Zei berniat untuk memintanya mengajari belajar. Zei,
bukanlah seseorang yang suka belajar. Ia sangat tahu itu.
“Kau tak mau membantuku?”
tanya Zei saat melihat kediaman Aiko. Kedua mata Zei pun berkaca-kaca.
Selanjutnya isak tangis menyusul. Aiko tidak tahu harus bagaimana, Ia merasa
bersalah.
Ia panik dan berusaha agar Zei
menghentikan tangisannya.
“Ti-tidak... bukan begitu,
aku hanya.. merasa kau tak suka belajar. Bukankah kau begitu?” kata Aiko.
Sesaat kemudian Zei berubah drastis. Zei tertawa terbahak-bahak, sampai tubuh
gadis itu tak berhenti bergerak.
“Kau terlihat normal,
Aiko. Tapi kenapa selama ini kau menutup dirimu dari orang-orang yang ada di
sekitarmu. Padahal, kurasa kau sangat menyenangkan untuk dijadikan teman.” Zei
berhenti tertawa. Tetapi setelah mendengar perkataan Zei, Aiko jadi terdiam.
Zei
benar. Namun Ia tidak bermaksud begitu. Ia hanya tidak ingin merasakan
kehilangan lagi, saat orang yang disayanginya pergi. Itu sangat menyakitkan
untuknya.
“Sudahlah, jika kau masih
begitu. Suatu saat, pasti ada yang membuka pintu yang sudah kau tutup. Aku juga
akan berusaha.” Zei kembali tersenyum.
Sebaliknya
Aiko kembali terdiam, memikirkan setiap perkataan Zei. Ia berusaha mencerna
kata-kata itu. Jika itu benar terjadi, Ia pasti akan terluka lagi. Ia akan
ditinggal pergi. Tak ada gunanya Ia terlalu membuka diri. Itu hanya akan
Ia sendiri tidak yakin akan ada orang
yang bisa membuka pintu itu.
“Kau sangat tiba-tiba.
Kenapa?” tanya Aiko.
“Orang yang kusukai. Suka
tipe cewek yang pintar. Jadi aku ingin terlihat pintar untuknya.” jawab Zei,
rupanya ekspresi Zei memang alami, dan itu karena cinta. Sangat manis.
Mulai hari itu, kehidupan
baru Zei dimulai. Aiko tak manis saat mengajarinya. Terkadang Aiko bisa sangat
kejam, dan auranya bisa membuat Zei tak bisa mengeluarkan kata-kata. Tetapi Zei
tidak akan menyerah. Ia sudah terlanjur bertindak.
***
Menjadi salah satu
pengurus kelas bukan perkara yang mudah. Ia harus bolak-balik ke ruang guru.
Sementara Izaka sang ketua kelas lebih sering tidak berguna, lelaki itu selalu
melimpahkan semua pekerjaan kepadanya. Dan bodohnya, Ia menolak tetapi tetap
melakukannya. Hari ini Izaka sedang sakit. Atau Izaka hanya berpura-pura sakit
dan menggunakan waktunya untuk santai-santai di rumah, Aiko mulai berpikiran
negatif tentang lelaki itu. Saat mengingat lelaki itu tak ada hal positif yang
terbesit di kepalanya.
Aiko
berjalan sambil menunduk sampai-sampai Ia tak melihat keberadaan Pak Haru.
Akibat ulahnya, Ia menabrak Pak Haru dari arah kiri belakang. Barang yang
dibawa oleh Pak Haru berserakan. Aiko meminta maaf segera dan membantu merapikan
berkas-berkas milik gurunya.
Sekilas Ia seperti melihat
sesuatu yang menarik perhatiannya, namun Pak Haru langsung menyerobot benda
itu. Aiko sangat penasaran. Sayangnya Pak Haru sudah berlalu pergi.
“Yang kulihat itu..
seperti foto seorang perempuan. Mungkinkah kekasih Pak Haru? Pasti perempuan
itu sangat cantik.” gumam Aiko kemudian.
Pak Haru memang guru
termuda di sekolahnya, dan juga belum
menikah. Seharusnya sudah, usianya juga sudah cukup matang. Keluarganya juga
tak jarang memberikan tekanan untuknya agar segera memperkenalkan seorang calon
istri. Dia orang yang cukup tampan, tubuhnya juga atletis. Selain itu dia juga
cukup mapan, tentu banyak gadis yang tertarik padanya. Tapi tak ada satu dari
mereka yang menggoyahkan hatinya. Apakah alasannya?
Gadis
yang ingin dinikahinya telah meninggalkannya. Gadis itu sudah tak bisa
menghirup udara musim semi lagi. Gadis itu telah meninggalkan dunia ini untuk
selama-lamanya. Dia sudah berada di dunia yang berbeda.
Pak
Haru sangat sulit untuk mengerti ini semua. Gadis itu tak bisa bersamanya lagi.
Tubuh gadis itu sudah lenyap tertelan dinginnya salju, sisa-sisa senyuman manis
gadis yang dicintainya itu masih membekas di dalam ingatannya.
Kepergian
gadis itu menjadikan level hidupnya turun. Bahkan, Pak Haru yang sekarang
seperti tak pernah menikmati hidup. Sangat gelap dan sepi. Warna pelangi yang
dulunya bersinar terang kian memudar, dan akhirnya lenyap dengan sempurna.