Remember Again

Remember Again
8


Aiko tak bisa berhenti


menguap. Ayah dan ibunya sudah berangkat bekerja. Hari ini memang hari minggu


sehingga Ia sengaja untuk tidur lebih lama, tetapi mendengar suara bel rumahnya


yang mengalun konstan rencananya gagal total. Ia membuka pintu dengan mata yang


masih tertutup. Sisi yang jarang diperlihatkan oleh Aiko. Kegiatan Persami


kemarin berhasil membuatnya menampilkan sisi buruknya.


“Aiko-chan?” desis Zei.


Aiko langsung berubah drastis, dan menemukan kesadaran sepenuhnya begitu


mendengar suara itu.


“Zei-chan? Tak biasanya


kau kemari, anu.. maksudku..” kata Aiko kemudian. Zei malah menerobos masuk dan


langsung duduk di sofa ruang tamunya.


Aiko masih merasa aneh,


karena tak biasanya Ia menerima seseorang untuk datang ke rumahnya. Bahkan Ia


tidak tahu tata krama yang benar saat Zei datang. Ia menyambutnya dengan buruk.


Bahkan dia juga belum mandi.


Jika saja orang yang


datang ke rumahnya itu adalah lelaki yang disukainya, pasti Ia akan


mengurungkan rasa sukanya setelah lelaki itu tahu sisi buruknya itu. Ia akan


mengundurkan diri sebelum ditolak oleh lelaki itu.


“Aiko, aku datang kemari


untuk menagih janjimu. Ajari aku belajar!” kata Zei sambil tersenyum cerah.


         “Apa?”


Aiko kaget dan tak pernah menyangka Zei akan mengatakan itu sebelumnya. Pasti


ada badai yang membuat Zei berniat untuk memintanya mengajari belajar. Zei,


bukanlah seseorang yang suka belajar. Ia sangat tahu itu.


“Kau tak mau membantuku?”


tanya Zei saat melihat kediaman Aiko. Kedua mata Zei pun berkaca-kaca.


Selanjutnya isak tangis menyusul. Aiko tidak tahu harus bagaimana, Ia merasa


bersalah.


Ia panik dan berusaha agar Zei


menghentikan tangisannya.


“Ti-tidak... bukan begitu,


aku hanya.. merasa kau tak suka belajar. Bukankah kau begitu?” kata Aiko.


Sesaat kemudian Zei berubah drastis. Zei tertawa terbahak-bahak, sampai tubuh


gadis itu tak berhenti bergerak.


“Kau terlihat normal,


Aiko. Tapi kenapa selama ini kau menutup dirimu dari orang-orang yang ada di


sekitarmu. Padahal, kurasa kau sangat menyenangkan untuk dijadikan teman.” Zei


berhenti tertawa. Tetapi setelah mendengar perkataan Zei, Aiko jadi terdiam.


         Zei


benar. Namun Ia tidak bermaksud begitu. Ia hanya tidak ingin merasakan


kehilangan lagi, saat orang yang disayanginya pergi. Itu sangat menyakitkan


untuknya.


“Sudahlah, jika kau masih


begitu. Suatu saat, pasti ada yang membuka pintu yang sudah kau tutup. Aku juga


akan berusaha.” Zei kembali tersenyum.


         Sebaliknya


Aiko kembali terdiam, memikirkan setiap perkataan Zei. Ia berusaha mencerna


kata-kata itu. Jika itu benar terjadi, Ia pasti akan terluka lagi. Ia akan


ditinggal pergi. Tak ada gunanya Ia terlalu membuka diri. Itu hanya akan


Ia sendiri tidak yakin akan ada orang


yang bisa membuka pintu itu.


“Kau sangat tiba-tiba.


Kenapa?” tanya Aiko.


“Orang yang kusukai. Suka


tipe cewek yang pintar. Jadi aku ingin terlihat pintar untuknya.” jawab Zei,


rupanya ekspresi Zei memang alami, dan itu karena cinta. Sangat manis.


Mulai hari itu, kehidupan


baru Zei dimulai. Aiko tak manis saat mengajarinya. Terkadang Aiko bisa sangat


kejam, dan auranya bisa membuat Zei tak bisa mengeluarkan kata-kata. Tetapi Zei


tidak akan menyerah. Ia sudah terlanjur bertindak.


***


Menjadi salah satu


pengurus kelas bukan perkara yang mudah. Ia harus bolak-balik ke ruang guru.


Sementara Izaka sang ketua kelas lebih sering tidak berguna, lelaki itu selalu


melimpahkan semua pekerjaan kepadanya. Dan bodohnya, Ia menolak tetapi tetap


melakukannya. Hari ini Izaka sedang sakit. Atau Izaka hanya berpura-pura sakit


dan menggunakan waktunya untuk santai-santai di rumah, Aiko mulai berpikiran


negatif tentang lelaki itu. Saat mengingat lelaki itu tak ada hal positif yang


terbesit di kepalanya.


         Aiko


berjalan sambil menunduk sampai-sampai Ia tak melihat keberadaan Pak Haru.


Akibat ulahnya, Ia menabrak Pak Haru dari arah kiri belakang. Barang yang


dibawa oleh Pak Haru berserakan. Aiko meminta maaf segera dan membantu merapikan


berkas-berkas milik gurunya.


Sekilas Ia seperti melihat


sesuatu yang menarik perhatiannya, namun Pak Haru langsung menyerobot benda


itu. Aiko sangat penasaran. Sayangnya Pak Haru sudah berlalu pergi.


“Yang kulihat itu..


seperti foto seorang perempuan. Mungkinkah kekasih Pak Haru? Pasti perempuan


itu sangat cantik.” gumam Aiko kemudian.


Pak Haru memang guru


termuda di sekolahnya, dan juga  belum


menikah. Seharusnya sudah, usianya juga sudah cukup matang. Keluarganya juga


tak jarang memberikan tekanan untuknya agar segera memperkenalkan seorang calon


istri. Dia orang yang cukup tampan, tubuhnya juga atletis. Selain itu dia juga


cukup mapan, tentu banyak gadis yang tertarik padanya. Tapi tak ada satu dari


mereka yang menggoyahkan hatinya. Apakah alasannya?


         Gadis


yang ingin dinikahinya telah meninggalkannya. Gadis itu sudah tak bisa


menghirup udara musim semi lagi. Gadis itu telah meninggalkan dunia ini untuk


selama-lamanya. Dia sudah berada di dunia yang berbeda.


         Pak


Haru sangat sulit untuk mengerti ini semua. Gadis itu tak bisa bersamanya lagi.


Tubuh gadis itu sudah lenyap tertelan dinginnya salju, sisa-sisa senyuman manis


gadis yang dicintainya itu masih membekas di dalam  ingatannya.


         Kepergian


gadis itu menjadikan level hidupnya turun. Bahkan, Pak Haru yang sekarang


seperti tak pernah menikmati hidup. Sangat gelap dan sepi. Warna pelangi yang


dulunya bersinar terang kian memudar, dan akhirnya lenyap dengan sempurna.