Remember Again

Remember Again
7


Hari sudah malam, dan


anak-anak diharuskan tidur sebelum lewat pukul 10.00 malam. Dan mereka semua


juga harus bangun lebih awal nantinya, rencananya seluruh warga sekolah akan


menikmati matahari terbit besok pagi. Selain itu, jika mereka tidak ingin antri


di kamar mandi mereka memang harus bangun lebih awal daripada teman-temannya


yang lain. Semua tenda sudah berbalut cahaya gelap, dan orang yang ada


didalamnya pasti juga sudah tertidur lelap.


Selagi pelaksanaan


kegiatan Persami, para peserta tidak diperbolehkan membawa ponsel. Parahnya,


Aiko sendiri tak pernah memakai jam tangan. Baginya, itu hanya akan membuat


tangannya geli. Jadi, Ia menebaknya saja. Tak ada penunjuk waktu yang bisa Ia


gunakan. Kebiasaannya selama ini belum juga hilang. Ia terbangun di waktu yang


selalu tepat pukul 02.00 pagi. Tentu tebakannya akan tepat.


Ia jadi lapar, tetapi jika


Ia makan di tenda pasti akan mengganggu teman-temannya yang lain. Ia memutuskan


untuk mengeluarkan penerangan dan membawa camilan secukupnya. Ia juga akan


memakai jaketnya.


Gadis itu sudah berada di


atap gedung sekolahnya. Ia menyandarkan punggungnya di tembok. Ini adalah saat


dimana gelap menjadi raja. Hanya berbekal sebuah penerangan kecil pasti tak


membuat kondisi di sekitarnya menjadi terang. Tempat untuk menekuk kakinya


terkesan sebagai pusat cahaya, begitulah menurut pandangannya.


Gadis itu sama sekali


tidak takut meskipun Ia seorang perempuan. Tak takut kepada binatang-binatang


malam yang sering kali menakutkan, tak takut kepada aura-aura malam. Mungkin


karena Aiko memang sudah terbiasa terbangun di jam-jam yang masih gelap. Tak


perlu ada yang ditakutkan, selama ini dia juga masih dalam keadaan baik.


Gduubrak.....kk..k!!!!


         Terdengar


suara sesuatu yang jatuh. Aiko berubah waspada. Suara decitan sepatu terdengar


menyusul. Tidak tahu kenapa bulu kuduknya berdiri. Ia memegang tengkuk lehernya dengan perasaan tegang.


“Oh ternyata kau, Narada


Aiko? Aku kira ada bintang yang jatuh disini,” ucap seseorang tiba-tiba. Aiko


baru bisa mengenali orang itu setelah orang itu mendekat kepadanya.


         Lelaki


itu tak membawa penerang, jadi Ia tak bisa melihat wajahnya. Dan karena itu


pula lelaki itu menendang sesuatu dan hampir terjatuh. Syukurlah, ternyata


tidak seperti yang dibayangkannya. Ia tak mengira akan bertemu Izaka seperti


ini.


Suara sayup dari udara


malam menemani mereka di dalam keheningan. Mereka tak saling bicara. Keduanya


memang sedang bersandar di tembok yang sama, tetapi itu tak cukup menghubungkan


mereka. Sementara itu, Aiko sibuk mengunyah camilan yang dibawanya. Tak


menawari lelaki itu untuk ikut makan bersamanya.


         Aiko


menghela nafanya panjang, sangat membosankan menurutnya. Terasa sangat sepi


karena Ia tak bisa mendengarkan musik. Gadis itu menoleh saat merasakan sesuatu


yang hadir di telinganya. Izaka ternyata memasangkan earphone yang cuma sebelah


di telinganya. Aiko menatapnya samar. Jantungnya berpacu tak teratur, tapak


tangannya bisa merasakan denyutan jantungnya yang kian cepat.


“Aku tidak ingin


mendengarkannya sendirian.” kata Izaka kemudian, sementara Aiko sudah kembali


memandang ke depan.


“Kenapa kau ada disini?


Tempat yang gelap terlalu berbahaya untuk seorang gadis. Apa kau tidak takut?”


tanya Izaka, kedua alisnya terangkat seakan memperingatkan Aiko.


“Aku selalu terbangun di


jam-jam segini. Dan biasanya aku lapar, aku tidak ingin mengganggu yang lain.”


jawab Aiko sambil merogoh kembali camilannya.


“Lagi pula, tak ada yang


perlu ditakutkan.” tambahnya.


seorang gadis. Bagaimana kalau tiba-tiba ada yang menyerangmu? Masih baik kalau


itu manusia, jika bukan.. aku tak bisa membayangkan kondisi mentalmu nanti.”


tanya Izaka.


Lelaki itu berdecak pelan.


Ia berusaha mengingatkan Aiko akan adanya bahaya itu. Jika itu terjadi kepada


Aiko, Ia tidak akan bisa tenang lagi. Aiko tidak boleh jatuh ke dalam bahaya.


Masa depan Aiko yang cerah, bisa saja rusak.


“Jangan berpikiran


negatif. Tapi kalau itu terjadi, aku akan langsung membunuh orang yang


menyerangku.” kata Aiko membuat Izaka bergidik ngeri.


Saat itu, dia telah


berkesempatan melihat sorot mata yang menyala dari Aiko. Pasti gadis itu tak


main-main. Syukurlah, Aiko bukan perempuan lemah seperti yang ada dipikirannya.


“Rasanya menyebalkan bila


hanya aku yang terbangun di jam-jam segini. Tapi ternyata, kita memiliki


kebiasaan yang sama.” Lelaki itu tersenyum kepada Aiko. Senyuman bahagia untuk


pertama kalinya setelah sekian lama tak pernah Ia lakukan.


 Aiko tak ingin terpesona oleh senyuman lelaki


itu, jadi Ia memalingkan mukanya. Gadis itu lebih memilih memejamkan matanya


sambil menarik nafas dalam, merasakan udara dini hari itu.


***


         Semburat


cahaya telah menerobos kelopak matanya perlahan. Kedua matanya masih ingin


bersembunyi, tetapi cahaya itu tampak menyilaukan dan Ia tidak ingin


menyianyiakannya. Ia sangat beruntung bisa menyaksikan keindahan matahari


terbit. Dan saat itu, Ia langsung menyadari bahwa kepala Izaka menjadikan


kepalanya sebagai sandaran. Oh tidak, lebih tepatnya kepala mereka saling


bersandar. Sesaat, Ia terpesona kepada Izaka yang masih terlelap. Wajahnya


tampak begitu damai, dan manis menurutnya. Seluruh sifat menyebalkan dari diri


Izaka seakan hilang dari pandangannya.


Pipi Aiko memerah. Ia jadi


senyum-senyum sendiri.


         Bodoh,


apa yang telah Ia lakukan? Bisa-bisanya Ia memikirkan hal seperti itu. Aiko langsung


bergerak menjauh dan membuat Izaka hampir jatuh lunglai. Namun, lelaki itu


terbangun dan langsung terjaga. Lelaki itu langsung memuji alam, Izaka seperti


tidak tahu dengan apa yang terjadi. Ia masih bisa bersifat seperti biasanya.


Aiko sendiri malah terlihat canggung


dan berubah duduk di tempat yang sedikit jauh.


“Wah. すごい Sugoi!


(Menakjubkan), Sangat indah. Aku senang. Setidaknya aku tidak melihatnya


sendirian.” seru Izaka, wajahnya terlihat berbinar-binar. Tetapi Aiko rasa itu


bukan karena cahaya matahari terbit yang membuat wajah Izaka seperti itu. Entah


apa Ia tidak tahu, tetapi dimatanya Izaka memang terlihat bersinar.


Mereka berdua merasakan


sesuatu yang berbeda. Ini pertama kali bagi Izaka dan Aiko bisa tertidur lagi


setelah mereka terbangun di pukul 02.00 dini hari. Mereka merasa tubuhnya lebih


segar dan amat ringan.


Sesaat kemudian, mereka


berdua memegang tengkuk leher mereka dalam waktu bersamaan.


“Ini pertama kalinya, aku


bisa tertidur lagi setelah terbangun. Apa karena aku nyaman didekatnya?” gerutu


mereka.


         Kedua


insan itu tampaknya memang canggung. Awalnya Izaka sudah bertingkah biasa saja,


namun Ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Bisa dikatakan mereka sudah


menghabiskan waktu hanya berdua saja. Mereka bukanlah pasangan kekasih, tetapi


mereka diberi kesempatan untuk merasakan suasana romantika itu. Benar-benar


pagi yang indah.


***