
Hari sudah malam, dan
anak-anak diharuskan tidur sebelum lewat pukul 10.00 malam. Dan mereka semua
juga harus bangun lebih awal nantinya, rencananya seluruh warga sekolah akan
menikmati matahari terbit besok pagi. Selain itu, jika mereka tidak ingin antri
di kamar mandi mereka memang harus bangun lebih awal daripada teman-temannya
yang lain. Semua tenda sudah berbalut cahaya gelap, dan orang yang ada
didalamnya pasti juga sudah tertidur lelap.
Selagi pelaksanaan
kegiatan Persami, para peserta tidak diperbolehkan membawa ponsel. Parahnya,
Aiko sendiri tak pernah memakai jam tangan. Baginya, itu hanya akan membuat
tangannya geli. Jadi, Ia menebaknya saja. Tak ada penunjuk waktu yang bisa Ia
gunakan. Kebiasaannya selama ini belum juga hilang. Ia terbangun di waktu yang
selalu tepat pukul 02.00 pagi. Tentu tebakannya akan tepat.
Ia jadi lapar, tetapi jika
Ia makan di tenda pasti akan mengganggu teman-temannya yang lain. Ia memutuskan
untuk mengeluarkan penerangan dan membawa camilan secukupnya. Ia juga akan
memakai jaketnya.
Gadis itu sudah berada di
atap gedung sekolahnya. Ia menyandarkan punggungnya di tembok. Ini adalah saat
dimana gelap menjadi raja. Hanya berbekal sebuah penerangan kecil pasti tak
membuat kondisi di sekitarnya menjadi terang. Tempat untuk menekuk kakinya
terkesan sebagai pusat cahaya, begitulah menurut pandangannya.
Gadis itu sama sekali
tidak takut meskipun Ia seorang perempuan. Tak takut kepada binatang-binatang
malam yang sering kali menakutkan, tak takut kepada aura-aura malam. Mungkin
karena Aiko memang sudah terbiasa terbangun di jam-jam yang masih gelap. Tak
perlu ada yang ditakutkan, selama ini dia juga masih dalam keadaan baik.
Gduubrak.....kk..k!!!!
Terdengar
suara sesuatu yang jatuh. Aiko berubah waspada. Suara decitan sepatu terdengar
menyusul. Tidak tahu kenapa bulu kuduknya berdiri. Ia memegang tengkuk lehernya dengan perasaan tegang.
“Oh ternyata kau, Narada
Aiko? Aku kira ada bintang yang jatuh disini,” ucap seseorang tiba-tiba. Aiko
baru bisa mengenali orang itu setelah orang itu mendekat kepadanya.
Lelaki
itu tak membawa penerang, jadi Ia tak bisa melihat wajahnya. Dan karena itu
pula lelaki itu menendang sesuatu dan hampir terjatuh. Syukurlah, ternyata
tidak seperti yang dibayangkannya. Ia tak mengira akan bertemu Izaka seperti
ini.
Suara sayup dari udara
malam menemani mereka di dalam keheningan. Mereka tak saling bicara. Keduanya
memang sedang bersandar di tembok yang sama, tetapi itu tak cukup menghubungkan
mereka. Sementara itu, Aiko sibuk mengunyah camilan yang dibawanya. Tak
menawari lelaki itu untuk ikut makan bersamanya.
Aiko
menghela nafanya panjang, sangat membosankan menurutnya. Terasa sangat sepi
karena Ia tak bisa mendengarkan musik. Gadis itu menoleh saat merasakan sesuatu
yang hadir di telinganya. Izaka ternyata memasangkan earphone yang cuma sebelah
di telinganya. Aiko menatapnya samar. Jantungnya berpacu tak teratur, tapak
tangannya bisa merasakan denyutan jantungnya yang kian cepat.
“Aku tidak ingin
mendengarkannya sendirian.” kata Izaka kemudian, sementara Aiko sudah kembali
memandang ke depan.
“Kenapa kau ada disini?
Tempat yang gelap terlalu berbahaya untuk seorang gadis. Apa kau tidak takut?”
tanya Izaka, kedua alisnya terangkat seakan memperingatkan Aiko.
“Aku selalu terbangun di
jam-jam segini. Dan biasanya aku lapar, aku tidak ingin mengganggu yang lain.”
jawab Aiko sambil merogoh kembali camilannya.
“Lagi pula, tak ada yang
perlu ditakutkan.” tambahnya.
seorang gadis. Bagaimana kalau tiba-tiba ada yang menyerangmu? Masih baik kalau
itu manusia, jika bukan.. aku tak bisa membayangkan kondisi mentalmu nanti.”
tanya Izaka.
Lelaki itu berdecak pelan.
Ia berusaha mengingatkan Aiko akan adanya bahaya itu. Jika itu terjadi kepada
Aiko, Ia tidak akan bisa tenang lagi. Aiko tidak boleh jatuh ke dalam bahaya.
Masa depan Aiko yang cerah, bisa saja rusak.
“Jangan berpikiran
negatif. Tapi kalau itu terjadi, aku akan langsung membunuh orang yang
menyerangku.” kata Aiko membuat Izaka bergidik ngeri.
Saat itu, dia telah
berkesempatan melihat sorot mata yang menyala dari Aiko. Pasti gadis itu tak
main-main. Syukurlah, Aiko bukan perempuan lemah seperti yang ada dipikirannya.
“Rasanya menyebalkan bila
hanya aku yang terbangun di jam-jam segini. Tapi ternyata, kita memiliki
kebiasaan yang sama.” Lelaki itu tersenyum kepada Aiko. Senyuman bahagia untuk
pertama kalinya setelah sekian lama tak pernah Ia lakukan.
Aiko tak ingin terpesona oleh senyuman lelaki
itu, jadi Ia memalingkan mukanya. Gadis itu lebih memilih memejamkan matanya
sambil menarik nafas dalam, merasakan udara dini hari itu.
***
Semburat
cahaya telah menerobos kelopak matanya perlahan. Kedua matanya masih ingin
bersembunyi, tetapi cahaya itu tampak menyilaukan dan Ia tidak ingin
menyianyiakannya. Ia sangat beruntung bisa menyaksikan keindahan matahari
terbit. Dan saat itu, Ia langsung menyadari bahwa kepala Izaka menjadikan
kepalanya sebagai sandaran. Oh tidak, lebih tepatnya kepala mereka saling
bersandar. Sesaat, Ia terpesona kepada Izaka yang masih terlelap. Wajahnya
tampak begitu damai, dan manis menurutnya. Seluruh sifat menyebalkan dari diri
Izaka seakan hilang dari pandangannya.
Pipi Aiko memerah. Ia jadi
senyum-senyum sendiri.
Bodoh,
apa yang telah Ia lakukan? Bisa-bisanya Ia memikirkan hal seperti itu. Aiko langsung
bergerak menjauh dan membuat Izaka hampir jatuh lunglai. Namun, lelaki itu
terbangun dan langsung terjaga. Lelaki itu langsung memuji alam, Izaka seperti
tidak tahu dengan apa yang terjadi. Ia masih bisa bersifat seperti biasanya.
Aiko sendiri malah terlihat canggung
dan berubah duduk di tempat yang sedikit jauh.
“Wah. すごい Sugoi!
(Menakjubkan), Sangat indah. Aku senang. Setidaknya aku tidak melihatnya
sendirian.” seru Izaka, wajahnya terlihat berbinar-binar. Tetapi Aiko rasa itu
bukan karena cahaya matahari terbit yang membuat wajah Izaka seperti itu. Entah
apa Ia tidak tahu, tetapi dimatanya Izaka memang terlihat bersinar.
Mereka berdua merasakan
sesuatu yang berbeda. Ini pertama kali bagi Izaka dan Aiko bisa tertidur lagi
setelah mereka terbangun di pukul 02.00 dini hari. Mereka merasa tubuhnya lebih
segar dan amat ringan.
Sesaat kemudian, mereka
berdua memegang tengkuk leher mereka dalam waktu bersamaan.
“Ini pertama kalinya, aku
bisa tertidur lagi setelah terbangun. Apa karena aku nyaman didekatnya?” gerutu
mereka.
Kedua
insan itu tampaknya memang canggung. Awalnya Izaka sudah bertingkah biasa saja,
namun Ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Bisa dikatakan mereka sudah
menghabiskan waktu hanya berdua saja. Mereka bukanlah pasangan kekasih, tetapi
mereka diberi kesempatan untuk merasakan suasana romantika itu. Benar-benar
pagi yang indah.
***