Remember Again

Remember Again
26


Seluruh murid di kelas 2-C banyak yang


memasang muka kusam. Sangat tidak antusias terhadap jerih payah dan tutur kata


Pak Haru yang sedang mengajarkan suatu ilmu tentang Geometri Transformasi, yang


akan mudah dipelajari bila mengaktifkan logika kita.


         Saat


yang ditunggu-tunggu pun menjawab pertanyaan mereka sedari tadi. Akhirnya


pelajaran dengan judul materi Geometri Transformasi berakhir. Sebagian dari


mereka menyandarkan kepala mereka di atas meja, pura-pura tidak bisa menahan


kantuk.


Pada saat itu juga Pak


Haru langsung berdiri di tengah-tengah mereka. Paling mau mengucapkan salam


untuk mengakhiri pelajaran. Siswa dan siswi di kelas itu dengan entengnya


berpikir seperti itu.


         Sesaat


kemudian Pak Haru berdehem, memeriksa suaranya agar tetap terdengar berwibawa.


Lelaki itu sedikit menggoyangkan dasinya, saat itu lehernya terasa tercekek


sehingga Ia kesulitan untuk mengatakan sesuatu.


Ini akan menjadi sesuatu yang pertama


kali baginya. Jantungnya terasa berdebar-debar.


“Anak-anak, ini terakhir


kalinya bapak mengajar kalian. Mulai besok Senin dan seterusnya bapak tidak akan


melihat kalian lagi di kelas. Bersabarlah untuk menunggu guru baru yang akan


menggantikanku.” katanya membuat kegaduhan di kelas itu meredam.


“Saya sudah menjadi guru


yang gagal, dan untuk kedepannya kalian tidak akan melihatku sebagai seorang


guru lagi.” lanjutnya.


Raut wajah siswa dan siswi


di kelas itu menatapnya bingung dan kaget karena itu terlalu tiba-tiba.


“Ap-apa yang membuat


Sensei ingin berhenti?” tanya salah seorang murid yang memakai kaca mata tebal.


Pak Haru tak sanggup


menjawabnya, jika muridnya tahu kelakuannya Ia bisa menjadi panutan yang gelap.


Lalu salah seorang siswi pun menangis dengan sangat keras, diikuti oleh siswi


yang lain.


Siswi-siswi di sekolah itu


akan kehilangan pemandangan wajah tampan seorang Pak Haru, mereka semua


menyesal karena tidak bisa membanggakan dan juga membuat Pak Haru senang.


Murid-muridnya memberikan ucapan perpisahan dan semangat untuknya. Itu membuat kaki


lelaki itu terasa berat.


         Sejak


Pak Haru meninggalkan kelas itu Aiko terlihat melamun. Sesekali membuat Izaka


menoleh ke arah gadis itu. Lama-kelamaan Ia malah memandangi Aiko. Dengan


begitu Izaka bisa tahu betapa manisnya gadis itu, bulu matanya yang melengkung


ke atas seolah-olah sedang melambai kepadanya. Rambut hitam panjang Aiko selalu


rapi walau jarang sekali Ia melihat gadis itu menyisir rambutnya.


“Kau sedang apa?” tanya


Aiko mengejutkannya. Namun berhasil Ia tanggapi dengan mudah.


“Seharusnya aku yang


bertanya begitu, kau melamun terus dari tadi.” jawabnya. Gadis itu sudah


menyadari kalau sedang diawasi Izaka.


“Beberapa waktu yang lalu,


Pak Haru memintaku untuk membina anak kelas sepuluh yang ikut olimpade. Tapi


Pak Haru tidak bilang kalau akan berhenti menjadi guru.” jawab Aiko,


         Izaka


menatap gadis itu dalam. Dan sekarang lelaki itu tidak tahu harus apa. Ia bisa


merasakan rasa panas di sekujur kepalanya. Ada apa dengannya?


“Lalu?” tanya Izaka sambil


mengangkat sebelah alisnya. Aiko mengalihkan pandangannya, menutup wajahnya


dengan tangan dan berkata,


“Lupakan saja,”


Sesaat setelah itu Izaka


mengalihkan pandangannya, Ia hanya berpikir kalau Aiko tidak suka bila Ia


pandangi.


...


         Sekarang


sudah saatnya jam pulang sekolah. Daichi sudah bisa berjalan sendiri. Kakinya


sudah lumayan kuat. Lelaki itu tersenyum sekilas. Ah, Ia keluar paling akhir.


Di kelas hanya tersisa dirinya. Lelaki itu mengeluh.


         Sesaat


kemudian terdengar suara alas kaki yang bergesekan dengan lantai. Gadis yang


membuat suara itu langsung menuju ke salah satu bangku di kelas 2-E. Daichi


bisa melihatnya dengan jelas.


         Gadis


itu membungkuk dan merogoh laci bangkunya. Setelah barang yang dicarinya sudah


teraih, gadis itu kembali menegakkan tubuhnya dan meliriknya  sekilas. Daichi menunggu gadis itu


mengeluarkan sepatah kata.


“Anu, Daichi-kun? Kau


bagaimana pulangnya?” tanya Zei dengan wajah tersipu. Gadis itu mengakui


tindakannya ini sebagai suatu kesengajaan.


Ia tidak berniat untuk


mengambil barangnya di laci, itu hanya menjadi sebuah alasan untuk menemui


Daichi. Bagaimana pun juga Ia sangat mengkhawatirkannya. Karena terlalu asyik


dengan teman-teman perempuannya Ia jadi melupakannya. Padahal barang yang


diambilnya bukan sesuatu yang penting, itu hanya sebuah pena yang sudah kehabisan


tinta.


“Aku akan dijemput


Kakakku.” jawabnya. Lelaki itu bangkit dari kursinya dan berdiri tegak.


“Aku akan menunggunya di


depan gerbang.” tambahnya sambil memanggul tas yang terasa ringan di tangan.


“Oh begitu.” respon Zei


pelan.


“Kau sendiri kenapa


kembali ke kelas? Pasti kau melupakan sesuatu.” katanya.


“Hmm.” Zei hanya bisa


menganggukkan kepalanya.


“Ayo! Kau sudah


mengambilnya kan?” ajak Daichi, Ia tersenyum kepada gadis itu.


Akibatnya hati gadis itu


berbunga-bunga. Zei bisa berjalan di samping Daichi, dan ini pertama kali


baginya. Ia mengakui kalau masih menyukai sosok Daichi.


Gadis itu akhirnya


sebuah getaran di dadanya. Ia sangat gugup. Ia tak ingin ini segera berakhir.


Kalau bisa, Ia ingin waktu berhenti sampai disitu saja.


“Zei-chan.!!!


Zei-chan..!!” teriak seorang lelaki yang memakai baju seragam sekolah lain.


Lelaki itu tersenyum


kepada Zei, beralih menuju ke tempat gadis itu berdiri. Zei mengingat-ingat


apakah Ia mengenal lelaki itu sambil menggaruk kepalanya dan melihat sedikit


condong ke atas.


“Apa kita saling kenal?”


tanya Zei kemudian.


Daichi masih berdiri tegap


disampingnya dan mengamati sosok lelaki itu.


“Kau ini kenapa? Kau lupa


padaku?” jawab lelaki itu sedikit kecewa.


Lelaki itu menyilangkan


tangannya di depan dada, sedikit memandang ke bawah. Lalu lelaki itu mengangkat


sudut bibir kanannya.


“Baiklah. Aku akan


mengingatkanmu.” katanya sambil menganggukkan kepala. Ia sangat percaya diri


kalau Zei akan mengingat dirinya sebentar lagi.


“Sudah tiga tahun lebih


kita tidak bertemu, jadi aku bisa memaklumimu.” kemudian lelaki itu berdehem,


untuk mengambil ancang-ancang.


         “Setelah


aku lulus dari sekolah dasar, ayahku langsung mengajakku ke Perancis dan


menyekolahkanku disana. Dan sekarang aku kembali kesini karena aku ingin


melihatmu. Kau tahu kenapa?”


         Kepala


Zei jadi terasa pusing mendengar perkataan lelaki itu, Ia hanya memutar pikiran


namun tetap tak ingat apapun tentang lelaki itu.


“好きだ  Sukida~


(Aku suka padamu~) “


“好きだよ  Sukidayo~ “ katanya lagi.


“Maaf, aku tidak


mengenalimu,” jawab Zei sedikit tidak enak.


“Ahh.. Aku Tachibara


Misaki.” balas lelaki itu dengan sangat kecewa. Terlihat jelas dalam nada


bicaranya.


“Heh?? Tachibara Misaki?”


ungkap Zei, matanya langsung terlihat menyala. Korneanya terlihat lebih lebar


dan memusat di tengah.


Sekarang lelaki itu tampak


berbeda. Tachibara Misaki yang Ia kenal adalah Tachibara Misaki yang kurus


kering dengan satu gigi yang terletak di tengah. Dulu, banyak jerawat yang


bergerombol di wajah lelaki itu.


Lelaki itu kini menjelma


menjadi seorang pangeran yang datang dari langit. Sumpah..!! Lelaki itu sangat


keren dan mempesona, bahkan lelaki itu menjadi pusat perhatian para siswi di


sekolahnya.


“Zei, aku pulang dulu..”


kata Daichi sambil menepuk pundak Zei. Lagi-lagi Zei dibuat melelah oleh


Daichi, sampai-sampai Ia tidak sempat membalas lelaki itu. Zei hanya tersenyum


samar.


“Jadi, bagaimana? Apa kau


mau menjadi pacarku?”


Misaki kembali bertanya


dengan wajah yang sedikit condong ke arah Zei. Akibatnya, raut wajah gadis itu


berubah marah. Lelaki yang bernama Misaki itu tak juga berhenti mengatakan suka


padanya. Ia kira lelaki itu sudah menyerah. Meskipun rupa lelaki itu telah


berubah, Ia tidak bisa menjadi pacarnya. Ia hanya ingin menjadi pacar Daichi


seorang.


“Tentu saja aku tidak


mau..!!!” jawabnya dengan berteriak. Zei mendorong wajah lelaki yang bernama


Misaki itu dengan tas sekolahnya.


Beberapa saat kemudian Zei


menyusun langkah meninggalkan lelaki itu, berusaha sejauh mungkin darinya. Yah,


memang seperti itulah. Ia tak pernah bersikap baik kepada Misaki. Ia tidak


pernah menyukai lelaki itu, dan lelaki itu hanya mengganggunya, membuat


hidupnya tidak bisa tenang.


...


         Ada


apa dengan dirinya? Pikirannya tidak bisa diam semenjak melihat seorang lelaki


yang dengan mudah mengatakan cinta kepada Zei. Daichi harus menarik nafasnya


panjang, dadanya terasa panas. Kakaknya sampai berkomentar terhadap sikap aneh


yang ditampilkannya. Malahan sampai menggodanya.


Lelaki itu teringat dengan kejadian


tadi. Ap-apa aku memang menyukainya? Apa seperti ini rasanya cemburu? Daichi


mengelus dadanya untuk membuatnya lebih nyaman.


“Sudahlah, katakan saja


padanya.” kata kakaknya, Sukiyama Kazuto. Lelaki itu memberi saran dengan raut


wajah bermaksud menggoda Daichi. Lelaki itu memang senang bila melihat wajah


gusar adiknya.


“Dia sudah punya


seseorang. Baru saja kembali dari Perancis.” jawab Daichi dengan nada pelan,


terdengar lirih seperti gambaran apa yang sedang dirasakan oleh hatinya.


“Rebut saja.” kata Kazuto


membuat Daichi marah.


“Kakak!! Berhenti


memberiku saran yang konyol,” tolak Daichi dengan nada tinggi.


         Kazuto


lekas menyerah dan meminta maaf kepada Daichi. Daichi selalu menyesal memiliki


kakak seperti Kazuto, walau usia kakaknya sudah 23 tahun sifatnya masih


kekanak-kanakan. Bisa dikatakan anak-anak bisa lebih dewasa dibandingkan


kakaknya.


         Kazuto


kembali fokus menyetir mobilnya, menggelengkan kepalanya sedikit sebagai respon


terhadap penolakan Daichi terhadap sarannya. Bagi Kazuto, cinta memang sedikit


membutuhkan keegoisan. Karena jika tidak, cinta itu bisa jatuh ke dalam


genggaman orang lain.


***