
Seluruh murid di kelas 2-C banyak yang
memasang muka kusam. Sangat tidak antusias terhadap jerih payah dan tutur kata
Pak Haru yang sedang mengajarkan suatu ilmu tentang Geometri Transformasi, yang
akan mudah dipelajari bila mengaktifkan logika kita.
Saat
yang ditunggu-tunggu pun menjawab pertanyaan mereka sedari tadi. Akhirnya
pelajaran dengan judul materi Geometri Transformasi berakhir. Sebagian dari
mereka menyandarkan kepala mereka di atas meja, pura-pura tidak bisa menahan
kantuk.
Pada saat itu juga Pak
Haru langsung berdiri di tengah-tengah mereka. Paling mau mengucapkan salam
untuk mengakhiri pelajaran. Siswa dan siswi di kelas itu dengan entengnya
berpikir seperti itu.
Sesaat
kemudian Pak Haru berdehem, memeriksa suaranya agar tetap terdengar berwibawa.
Lelaki itu sedikit menggoyangkan dasinya, saat itu lehernya terasa tercekek
sehingga Ia kesulitan untuk mengatakan sesuatu.
Ini akan menjadi sesuatu yang pertama
kali baginya. Jantungnya terasa berdebar-debar.
“Anak-anak, ini terakhir
kalinya bapak mengajar kalian. Mulai besok Senin dan seterusnya bapak tidak akan
melihat kalian lagi di kelas. Bersabarlah untuk menunggu guru baru yang akan
menggantikanku.” katanya membuat kegaduhan di kelas itu meredam.
“Saya sudah menjadi guru
yang gagal, dan untuk kedepannya kalian tidak akan melihatku sebagai seorang
guru lagi.” lanjutnya.
Raut wajah siswa dan siswi
di kelas itu menatapnya bingung dan kaget karena itu terlalu tiba-tiba.
“Ap-apa yang membuat
Sensei ingin berhenti?” tanya salah seorang murid yang memakai kaca mata tebal.
Pak Haru tak sanggup
menjawabnya, jika muridnya tahu kelakuannya Ia bisa menjadi panutan yang gelap.
Lalu salah seorang siswi pun menangis dengan sangat keras, diikuti oleh siswi
yang lain.
Siswi-siswi di sekolah itu
akan kehilangan pemandangan wajah tampan seorang Pak Haru, mereka semua
menyesal karena tidak bisa membanggakan dan juga membuat Pak Haru senang.
Murid-muridnya memberikan ucapan perpisahan dan semangat untuknya. Itu membuat kaki
lelaki itu terasa berat.
Sejak
Pak Haru meninggalkan kelas itu Aiko terlihat melamun. Sesekali membuat Izaka
menoleh ke arah gadis itu. Lama-kelamaan Ia malah memandangi Aiko. Dengan
begitu Izaka bisa tahu betapa manisnya gadis itu, bulu matanya yang melengkung
ke atas seolah-olah sedang melambai kepadanya. Rambut hitam panjang Aiko selalu
rapi walau jarang sekali Ia melihat gadis itu menyisir rambutnya.
“Kau sedang apa?” tanya
Aiko mengejutkannya. Namun berhasil Ia tanggapi dengan mudah.
“Seharusnya aku yang
bertanya begitu, kau melamun terus dari tadi.” jawabnya. Gadis itu sudah
menyadari kalau sedang diawasi Izaka.
“Beberapa waktu yang lalu,
Pak Haru memintaku untuk membina anak kelas sepuluh yang ikut olimpade. Tapi
Pak Haru tidak bilang kalau akan berhenti menjadi guru.” jawab Aiko,
Izaka
menatap gadis itu dalam. Dan sekarang lelaki itu tidak tahu harus apa. Ia bisa
merasakan rasa panas di sekujur kepalanya. Ada apa dengannya?
“Lalu?” tanya Izaka sambil
mengangkat sebelah alisnya. Aiko mengalihkan pandangannya, menutup wajahnya
dengan tangan dan berkata,
“Lupakan saja,”
Sesaat setelah itu Izaka
mengalihkan pandangannya, Ia hanya berpikir kalau Aiko tidak suka bila Ia
pandangi.
...
Sekarang
sudah saatnya jam pulang sekolah. Daichi sudah bisa berjalan sendiri. Kakinya
sudah lumayan kuat. Lelaki itu tersenyum sekilas. Ah, Ia keluar paling akhir.
Di kelas hanya tersisa dirinya. Lelaki itu mengeluh.
Sesaat
kemudian terdengar suara alas kaki yang bergesekan dengan lantai. Gadis yang
membuat suara itu langsung menuju ke salah satu bangku di kelas 2-E. Daichi
bisa melihatnya dengan jelas.
Gadis
itu membungkuk dan merogoh laci bangkunya. Setelah barang yang dicarinya sudah
teraih, gadis itu kembali menegakkan tubuhnya dan meliriknya sekilas. Daichi menunggu gadis itu
mengeluarkan sepatah kata.
“Anu, Daichi-kun? Kau
bagaimana pulangnya?” tanya Zei dengan wajah tersipu. Gadis itu mengakui
tindakannya ini sebagai suatu kesengajaan.
Ia tidak berniat untuk
mengambil barangnya di laci, itu hanya menjadi sebuah alasan untuk menemui
Daichi. Bagaimana pun juga Ia sangat mengkhawatirkannya. Karena terlalu asyik
dengan teman-teman perempuannya Ia jadi melupakannya. Padahal barang yang
diambilnya bukan sesuatu yang penting, itu hanya sebuah pena yang sudah kehabisan
tinta.
“Aku akan dijemput
Kakakku.” jawabnya. Lelaki itu bangkit dari kursinya dan berdiri tegak.
“Aku akan menunggunya di
depan gerbang.” tambahnya sambil memanggul tas yang terasa ringan di tangan.
“Oh begitu.” respon Zei
pelan.
“Kau sendiri kenapa
kembali ke kelas? Pasti kau melupakan sesuatu.” katanya.
“Hmm.” Zei hanya bisa
menganggukkan kepalanya.
“Ayo! Kau sudah
mengambilnya kan?” ajak Daichi, Ia tersenyum kepada gadis itu.
Akibatnya hati gadis itu
berbunga-bunga. Zei bisa berjalan di samping Daichi, dan ini pertama kali
baginya. Ia mengakui kalau masih menyukai sosok Daichi.
Gadis itu akhirnya
sebuah getaran di dadanya. Ia sangat gugup. Ia tak ingin ini segera berakhir.
Kalau bisa, Ia ingin waktu berhenti sampai disitu saja.
“Zei-chan.!!!
Zei-chan..!!” teriak seorang lelaki yang memakai baju seragam sekolah lain.
Lelaki itu tersenyum
kepada Zei, beralih menuju ke tempat gadis itu berdiri. Zei mengingat-ingat
apakah Ia mengenal lelaki itu sambil menggaruk kepalanya dan melihat sedikit
condong ke atas.
“Apa kita saling kenal?”
tanya Zei kemudian.
Daichi masih berdiri tegap
disampingnya dan mengamati sosok lelaki itu.
“Kau ini kenapa? Kau lupa
padaku?” jawab lelaki itu sedikit kecewa.
Lelaki itu menyilangkan
tangannya di depan dada, sedikit memandang ke bawah. Lalu lelaki itu mengangkat
sudut bibir kanannya.
“Baiklah. Aku akan
mengingatkanmu.” katanya sambil menganggukkan kepala. Ia sangat percaya diri
kalau Zei akan mengingat dirinya sebentar lagi.
“Sudah tiga tahun lebih
kita tidak bertemu, jadi aku bisa memaklumimu.” kemudian lelaki itu berdehem,
untuk mengambil ancang-ancang.
“Setelah
aku lulus dari sekolah dasar, ayahku langsung mengajakku ke Perancis dan
menyekolahkanku disana. Dan sekarang aku kembali kesini karena aku ingin
melihatmu. Kau tahu kenapa?”
Kepala
Zei jadi terasa pusing mendengar perkataan lelaki itu, Ia hanya memutar pikiran
namun tetap tak ingat apapun tentang lelaki itu.
“好きだ Sukida~
(Aku suka padamu~) “
“好きだよ Sukidayo~ “ katanya lagi.
“Maaf, aku tidak
mengenalimu,” jawab Zei sedikit tidak enak.
“Ahh.. Aku Tachibara
Misaki.” balas lelaki itu dengan sangat kecewa. Terlihat jelas dalam nada
bicaranya.
“Heh?? Tachibara Misaki?”
ungkap Zei, matanya langsung terlihat menyala. Korneanya terlihat lebih lebar
dan memusat di tengah.
Sekarang lelaki itu tampak
berbeda. Tachibara Misaki yang Ia kenal adalah Tachibara Misaki yang kurus
kering dengan satu gigi yang terletak di tengah. Dulu, banyak jerawat yang
bergerombol di wajah lelaki itu.
Lelaki itu kini menjelma
menjadi seorang pangeran yang datang dari langit. Sumpah..!! Lelaki itu sangat
keren dan mempesona, bahkan lelaki itu menjadi pusat perhatian para siswi di
sekolahnya.
“Zei, aku pulang dulu..”
kata Daichi sambil menepuk pundak Zei. Lagi-lagi Zei dibuat melelah oleh
Daichi, sampai-sampai Ia tidak sempat membalas lelaki itu. Zei hanya tersenyum
samar.
“Jadi, bagaimana? Apa kau
mau menjadi pacarku?”
Misaki kembali bertanya
dengan wajah yang sedikit condong ke arah Zei. Akibatnya, raut wajah gadis itu
berubah marah. Lelaki yang bernama Misaki itu tak juga berhenti mengatakan suka
padanya. Ia kira lelaki itu sudah menyerah. Meskipun rupa lelaki itu telah
berubah, Ia tidak bisa menjadi pacarnya. Ia hanya ingin menjadi pacar Daichi
seorang.
“Tentu saja aku tidak
mau..!!!” jawabnya dengan berteriak. Zei mendorong wajah lelaki yang bernama
Misaki itu dengan tas sekolahnya.
Beberapa saat kemudian Zei
menyusun langkah meninggalkan lelaki itu, berusaha sejauh mungkin darinya. Yah,
memang seperti itulah. Ia tak pernah bersikap baik kepada Misaki. Ia tidak
pernah menyukai lelaki itu, dan lelaki itu hanya mengganggunya, membuat
hidupnya tidak bisa tenang.
...
Ada
apa dengan dirinya? Pikirannya tidak bisa diam semenjak melihat seorang lelaki
yang dengan mudah mengatakan cinta kepada Zei. Daichi harus menarik nafasnya
panjang, dadanya terasa panas. Kakaknya sampai berkomentar terhadap sikap aneh
yang ditampilkannya. Malahan sampai menggodanya.
Lelaki itu teringat dengan kejadian
tadi. Ap-apa aku memang menyukainya? Apa seperti ini rasanya cemburu? Daichi
mengelus dadanya untuk membuatnya lebih nyaman.
“Sudahlah, katakan saja
padanya.” kata kakaknya, Sukiyama Kazuto. Lelaki itu memberi saran dengan raut
wajah bermaksud menggoda Daichi. Lelaki itu memang senang bila melihat wajah
gusar adiknya.
“Dia sudah punya
seseorang. Baru saja kembali dari Perancis.” jawab Daichi dengan nada pelan,
terdengar lirih seperti gambaran apa yang sedang dirasakan oleh hatinya.
“Rebut saja.” kata Kazuto
membuat Daichi marah.
“Kakak!! Berhenti
memberiku saran yang konyol,” tolak Daichi dengan nada tinggi.
Kazuto
lekas menyerah dan meminta maaf kepada Daichi. Daichi selalu menyesal memiliki
kakak seperti Kazuto, walau usia kakaknya sudah 23 tahun sifatnya masih
kekanak-kanakan. Bisa dikatakan anak-anak bisa lebih dewasa dibandingkan
kakaknya.
Kazuto
kembali fokus menyetir mobilnya, menggelengkan kepalanya sedikit sebagai respon
terhadap penolakan Daichi terhadap sarannya. Bagi Kazuto, cinta memang sedikit
membutuhkan keegoisan. Karena jika tidak, cinta itu bisa jatuh ke dalam
genggaman orang lain.
***