Remember Again

Remember Again
21


Bermenit-menit mereka


membiarkan suasana hening menjadi penyelimut mereka. Sama-sama memandang ke


arah jalanan, menyaksikan kendaraan yang berlalu lalang. Drinks Shop yang


mereka kunjungi tak terlalu terkenal namun minuman yang disajikan tak akan


mengecewakan, begitu pula dengan pelayanan yang diberikan.


         Kursi


ditata demikian unik, hanya mampu menampung dua orang saja dalam satu meja.


Selain itu di sekelilingnya selalu diberi sekat untuk memberikan privasi kepada


setiap pengunjung. Untuk tempat yang dekat dengan dinding kaca bisa mendapatkan


hal lebih, karena mereka bisa menyaksikan pemandangan luar. Terlebih jika


pemandangan itu disaksikan saat matahari sudah digantikan rembulan, lampu-lampu


yang tersusun tak beraturan akan terlihat seperti kerlipan bintang. Sangat


indah.


“Sebenarnya aku memintamu


kesini bukan hanya untuk itu.” seru Pak Haru membuat Aiko langsung menatapnya,


menatap dengan tatapan penuh tanya. Jadi, tanpa berucap sekalipun Pak Haru


sudah tahu apa yang hendak ditanyakan Aiko.


“Kebetulan juga ada yang


ingin saya sampaikan.” kata Aiko kemudian.


“Aku kan sudah bilang,


kalau di luar sekolah jangan gunakan istilah saya. Itu terlalu formal.” Pak


Haru menanggapi ucapan Aiko.


“Lima tahun yang lalu,


saat salju terakhir turun. Kakakku.” Aiko menghentikan pergerakan bibirnya, Ia


menghela nafasnya untuk mengambil ancang-ancang.


“Kak Aida meminta izin


untuk menemui seseorang. Dan orang yang ingin ditemuinya itu Sensei kan?”


lanjut Aiko, diujung kalimatnya terdapat pertanyaan yang tak lekas dijawab oleh


Pak Haru.


Pak Haru sangat tertegun


mendengarnya, selama ini Ia tak pernah menyadari kalau Aiko tahu itu. Karena


pada waktu itu Ia belum pernah berkenalan dengan keluarga Aida, gadis yang


selalu dicintainya.


“Pada saat itu.. Kak Aida


menunggu Sensei di bawah pohon flamboyan dengan salju yang masih berjatuhan.


Kak Aida ingin mengatakan kalau Ia juga menyukai Sensei.”


         Rasanya


tak sanggup lagi untuk berbicara, kedua mata Aiko sudah menitikkan air mata.


Dadanya juga terasa sakit, sangat sulit untuk bernafas. Aiko menepis semua air


mata yang membasahi wajah cantiknya, namun tetap masih ada air mata yang


membekas di setiap pori wajahnya.


         Beberapa


tahun yang lalu ketika salju terakhir turun.


Kota tak begitu ramai mengingat dinginnya suasana hari itu. Banyak yang lebih


memilih di dalam rumah, sambil menyerut minuman hangat. Di dalam ruangan pun


masih terasa dingin, apalagi di luar pasti jauh lebih dingin dari itu,


berkali-kali lipat. Bahkan bagi sebagian orang akan lebih memilih mengurung


diri di kamar dengan balutan selimut yang tebal, tentu dengan pengangat ruangan


yang dinyalakan.


         Aida


sangat bersemangat menuju ke pusat kota, dekat dengan taman. Taman tersebut


memiliki pohon besar yang berdaun lebat. Ranting-ranting pohonnya pun sampai


keluar dari taman, sehingga saat ada angin yang bertiup banyak daun yang akan


berguguran ke jalan. Itu terjadi di musim gugur pastinya. Ini merupakan hari


terakhir di musim dingin. Sepanjang jalan turun salju, salju terakhir di tahun


itu. Menunggu seseorang yang dicintainya membuatnya tak berhenti tersenyum,


untuk menjaga harga dirinya Ia harus berulah untuk menutup wajahnya. Ia tidak


mau dianggap sebagai orang gila.


         Semakin


lama hawanya semakin dingin. Aida menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya,


dia sangat cemas karena sudah satu jam lamanya Ia berdiri di bawah pohon


flamboyan, tempat dimana Ia membuat janji.  Dimana Haru? Sudah selama itu Haru tak juga muncul. Mungkin beberapa


menit lagi. Aida memutuskan untuk menunggu lagi, Haru pasti datang. Kulitnya


melawan hawa dingin di sekitarnya. Bibirnya pun terasa kering.


         Aida


merasa seakan darahnya sudah berhenti mengalir, lalu tubuh gadis itu


tergeletak.Tak ada orang disana, sehingga tak ada yang melihatnya. Gadis itu


terbaring lemah sendirian, berharap orang yang dinantinya segera muncul dan


meraih tubuhnya untuk memberikan kehangatan. Sebutir air mata turun perlahan


melalui pelipisnya, saat itu juga gadis itu tersenyum untuk terakhir kalinya.


         Seluruh


anggota keluarga Narada yang cemas langsung mencari sosok Aida. Aida sempat


meminta izin jadi mereka tahu dimana akan mencarinya. Ayah Aida sangat terkejut


ketika mendapati tubuh Aida, putri sulungnya. Aida tergeletak di bawah pohon


flamboyan, dengan kelopak mata yang menutup. Seperti orang tidur, namun tak


akan bangun lagi. Jantung putrinya sudah berhenti berdetak, denyut nadinya juga


sudah tak terasa, hembusan nafasnya juga tak bisa terdengar.


        Hari itu menjadi sebuah tragedi yang


memilukan bagi keluarga Narada karena telah kehilangan salah satu anggota


keluarganya. Padahal Aida baru saja selesai wisuda.


         Jenazah


Aida diantarkan ke tempat yang tenang keesokan harinya. Di sebuah pemakaman


kecil dekat rumah. Haru, sosok pria yang ditunggu kehadirannya semalam baru


mengunjungi makam Aida saat hari sudah sore hari. Lelaki itu tampak gusar,


berpakaian serba gelap dilengkapi dengan kacamata yang juga gelap. Ia hanya


ingin menyembunyikan mata merahnya.


         Seluruh


anggota keluarga Narada tentu sangat sedih, berhari-hari kesedihan itu masih


bergelayut. Mereka masih ingin saling mengisi, sewaktu Aida kuliah mereka


jarang bertemu dengannya. Baru beberapa hari mereka bertemu, namun mereka


dipisahkan kembali.


...


         Pak


Haru meneguk minuman yang dipesannya. Ia sudah terlalu lama mendiamkan


minumannya, sehingga minuman itu hanya menyisakan suhu hangat. Bukan panas.


Namun, masih terasa enak di lidah.


“Jika saja aku datang,


Aida tak akan berakhir seperti itu.” kata Pak Haru dengan nada putus asa. Dia


sangat sedih teringat detik-detik kepergian Aida.


“Tapi itu semua bukan


salah Sensei. Kematian seseorang ditentukan oleh takdir. Jika takdir sudah


bilang demikian, tak ada yang bisa mengelak.” kata Aiko berusaha tetap tegar.


“Terima kasih, Sensei.


Sensei sudah memberikan kenangan indah untuk Kak Aida. Kak Aida, juga menyukai


Sensei. Waktu itu, Ia sangat ingin mengatakannya.” kata Aiko lagi. Pak Haru


menatap gadis itu, nyaris tak berkedip.


“Karena itulah hari ini


aku ingin mewakilkannya. Aku juga menyukaimu, Haru-kun.”  tambah Aiko.


Pak Haru tidak mampu


menahan air matanya. Ia tak pandai berpura-pura untuk tersenyum, bersikap tegar


sebagai seorang laki-laki semestinya. Pak Haru hanya tak mampu menyembunyikan


perasaannya, sekarang Ia baru tahu kalau Ia sangat berharga bagi Aida.


Kini Ia mengerti, Aiko tak


bisa menjadi pengganti Aida. Karena orang yang Ia cintai bukan Aiko. Sekalipun


orang yang dicintainya telah pergi, terkadang cinta itu tak bisa lepas dari


dalam dirinya. Tapi perasaannya tetap akan sampai kepada orang yang dicintainya


meskipun Ia tidak menjadikan orang lain sebagai pengganti sosok orang yang


dicintainya.


Meskipun orang yang


menjadi pengganti merupakan adik dari orang yang Ia cintai, cintanya malah


tidak akan pernah sampai ke Aida. Itu hanya keegoisannya. Itu adalah wujud


penolakannya terhadap takdir. Bodoh. Ia seorang guru, tetapi sudah bertindak


bodoh. Tidak memberikan contoh yang baik.


***