
Bermenit-menit mereka
membiarkan suasana hening menjadi penyelimut mereka. Sama-sama memandang ke
arah jalanan, menyaksikan kendaraan yang berlalu lalang. Drinks Shop yang
mereka kunjungi tak terlalu terkenal namun minuman yang disajikan tak akan
mengecewakan, begitu pula dengan pelayanan yang diberikan.
Kursi
ditata demikian unik, hanya mampu menampung dua orang saja dalam satu meja.
Selain itu di sekelilingnya selalu diberi sekat untuk memberikan privasi kepada
setiap pengunjung. Untuk tempat yang dekat dengan dinding kaca bisa mendapatkan
hal lebih, karena mereka bisa menyaksikan pemandangan luar. Terlebih jika
pemandangan itu disaksikan saat matahari sudah digantikan rembulan, lampu-lampu
yang tersusun tak beraturan akan terlihat seperti kerlipan bintang. Sangat
indah.
“Sebenarnya aku memintamu
kesini bukan hanya untuk itu.” seru Pak Haru membuat Aiko langsung menatapnya,
menatap dengan tatapan penuh tanya. Jadi, tanpa berucap sekalipun Pak Haru
sudah tahu apa yang hendak ditanyakan Aiko.
“Kebetulan juga ada yang
ingin saya sampaikan.” kata Aiko kemudian.
“Aku kan sudah bilang,
kalau di luar sekolah jangan gunakan istilah saya. Itu terlalu formal.” Pak
Haru menanggapi ucapan Aiko.
“Lima tahun yang lalu,
saat salju terakhir turun. Kakakku.” Aiko menghentikan pergerakan bibirnya, Ia
menghela nafasnya untuk mengambil ancang-ancang.
“Kak Aida meminta izin
untuk menemui seseorang. Dan orang yang ingin ditemuinya itu Sensei kan?”
lanjut Aiko, diujung kalimatnya terdapat pertanyaan yang tak lekas dijawab oleh
Pak Haru.
Pak Haru sangat tertegun
mendengarnya, selama ini Ia tak pernah menyadari kalau Aiko tahu itu. Karena
pada waktu itu Ia belum pernah berkenalan dengan keluarga Aida, gadis yang
selalu dicintainya.
“Pada saat itu.. Kak Aida
menunggu Sensei di bawah pohon flamboyan dengan salju yang masih berjatuhan.
Kak Aida ingin mengatakan kalau Ia juga menyukai Sensei.”
Rasanya
tak sanggup lagi untuk berbicara, kedua mata Aiko sudah menitikkan air mata.
Dadanya juga terasa sakit, sangat sulit untuk bernafas. Aiko menepis semua air
mata yang membasahi wajah cantiknya, namun tetap masih ada air mata yang
membekas di setiap pori wajahnya.
Beberapa
tahun yang lalu ketika salju terakhir turun.
Kota tak begitu ramai mengingat dinginnya suasana hari itu. Banyak yang lebih
memilih di dalam rumah, sambil menyerut minuman hangat. Di dalam ruangan pun
masih terasa dingin, apalagi di luar pasti jauh lebih dingin dari itu,
berkali-kali lipat. Bahkan bagi sebagian orang akan lebih memilih mengurung
diri di kamar dengan balutan selimut yang tebal, tentu dengan pengangat ruangan
yang dinyalakan.
Aida
sangat bersemangat menuju ke pusat kota, dekat dengan taman. Taman tersebut
memiliki pohon besar yang berdaun lebat. Ranting-ranting pohonnya pun sampai
keluar dari taman, sehingga saat ada angin yang bertiup banyak daun yang akan
berguguran ke jalan. Itu terjadi di musim gugur pastinya. Ini merupakan hari
terakhir di musim dingin. Sepanjang jalan turun salju, salju terakhir di tahun
itu. Menunggu seseorang yang dicintainya membuatnya tak berhenti tersenyum,
untuk menjaga harga dirinya Ia harus berulah untuk menutup wajahnya. Ia tidak
mau dianggap sebagai orang gila.
Semakin
lama hawanya semakin dingin. Aida menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya,
dia sangat cemas karena sudah satu jam lamanya Ia berdiri di bawah pohon
flamboyan, tempat dimana Ia membuat janji. Dimana Haru? Sudah selama itu Haru tak juga muncul. Mungkin beberapa
menit lagi. Aida memutuskan untuk menunggu lagi, Haru pasti datang. Kulitnya
melawan hawa dingin di sekitarnya. Bibirnya pun terasa kering.
Aida
merasa seakan darahnya sudah berhenti mengalir, lalu tubuh gadis itu
tergeletak.Tak ada orang disana, sehingga tak ada yang melihatnya. Gadis itu
terbaring lemah sendirian, berharap orang yang dinantinya segera muncul dan
meraih tubuhnya untuk memberikan kehangatan. Sebutir air mata turun perlahan
melalui pelipisnya, saat itu juga gadis itu tersenyum untuk terakhir kalinya.
Seluruh
anggota keluarga Narada yang cemas langsung mencari sosok Aida. Aida sempat
meminta izin jadi mereka tahu dimana akan mencarinya. Ayah Aida sangat terkejut
ketika mendapati tubuh Aida, putri sulungnya. Aida tergeletak di bawah pohon
flamboyan, dengan kelopak mata yang menutup. Seperti orang tidur, namun tak
akan bangun lagi. Jantung putrinya sudah berhenti berdetak, denyut nadinya juga
sudah tak terasa, hembusan nafasnya juga tak bisa terdengar.
Hari itu menjadi sebuah tragedi yang
memilukan bagi keluarga Narada karena telah kehilangan salah satu anggota
keluarganya. Padahal Aida baru saja selesai wisuda.
Jenazah
Aida diantarkan ke tempat yang tenang keesokan harinya. Di sebuah pemakaman
kecil dekat rumah. Haru, sosok pria yang ditunggu kehadirannya semalam baru
mengunjungi makam Aida saat hari sudah sore hari. Lelaki itu tampak gusar,
berpakaian serba gelap dilengkapi dengan kacamata yang juga gelap. Ia hanya
ingin menyembunyikan mata merahnya.
Seluruh
anggota keluarga Narada tentu sangat sedih, berhari-hari kesedihan itu masih
bergelayut. Mereka masih ingin saling mengisi, sewaktu Aida kuliah mereka
jarang bertemu dengannya. Baru beberapa hari mereka bertemu, namun mereka
dipisahkan kembali.
...
Pak
Haru meneguk minuman yang dipesannya. Ia sudah terlalu lama mendiamkan
minumannya, sehingga minuman itu hanya menyisakan suhu hangat. Bukan panas.
Namun, masih terasa enak di lidah.
“Jika saja aku datang,
Aida tak akan berakhir seperti itu.” kata Pak Haru dengan nada putus asa. Dia
sangat sedih teringat detik-detik kepergian Aida.
“Tapi itu semua bukan
salah Sensei. Kematian seseorang ditentukan oleh takdir. Jika takdir sudah
bilang demikian, tak ada yang bisa mengelak.” kata Aiko berusaha tetap tegar.
“Terima kasih, Sensei.
Sensei sudah memberikan kenangan indah untuk Kak Aida. Kak Aida, juga menyukai
Sensei. Waktu itu, Ia sangat ingin mengatakannya.” kata Aiko lagi. Pak Haru
menatap gadis itu, nyaris tak berkedip.
“Karena itulah hari ini
aku ingin mewakilkannya. Aku juga menyukaimu, Haru-kun.” tambah Aiko.
Pak Haru tidak mampu
menahan air matanya. Ia tak pandai berpura-pura untuk tersenyum, bersikap tegar
sebagai seorang laki-laki semestinya. Pak Haru hanya tak mampu menyembunyikan
perasaannya, sekarang Ia baru tahu kalau Ia sangat berharga bagi Aida.
Kini Ia mengerti, Aiko tak
bisa menjadi pengganti Aida. Karena orang yang Ia cintai bukan Aiko. Sekalipun
orang yang dicintainya telah pergi, terkadang cinta itu tak bisa lepas dari
dalam dirinya. Tapi perasaannya tetap akan sampai kepada orang yang dicintainya
meskipun Ia tidak menjadikan orang lain sebagai pengganti sosok orang yang
dicintainya.
Meskipun orang yang
menjadi pengganti merupakan adik dari orang yang Ia cintai, cintanya malah
tidak akan pernah sampai ke Aida. Itu hanya keegoisannya. Itu adalah wujud
penolakannya terhadap takdir. Bodoh. Ia seorang guru, tetapi sudah bertindak
bodoh. Tidak memberikan contoh yang baik.
***