
Kepalanya terasa sakit, Aiko memijat
pelan kedua pelipisnya. Apa yang Ia lakukan berhasil mengurangi rasa sakit itu.
Tubuhnya masih gemetaran. Dimana Ia sekarang? Aiko hanya tahu kalau Ia sedang
berada di dalam ruangan yang dipenuhi dengan nuansa putih. Ia mencoba bangun
dari tidurannya, namun tangan yang cukup atletis berhasil menghentikannya.
Ia
memandang pemilik tangan itu dengan cukup lama. Sesaat kemudian, Ia bisa
mendengar pemilik tangan itu menghela nafasnya panjang.
“Yokatta.. (Syukurlah..),
kau sudah sadar.” ucapnya lega. Lelaki itu tampak tersenyum bahagia, walau
matanya tampak seperti kaca.
“Kau siapa? Apa aku
mengenalmu?” pertanyaan itu keluar dari mulut kecil Aiko.
Lantas, Izaka sangat
terkejut begitu mendengarnya. Aiko tak mengenalinya, kecelakaan yang dilalui
Aiko telah membuatnya tak ingat dengan dirinya. Sudah satu hari Aiko terbaring
di rumah sakit. Izaka belum bisa lega
sepenuhnya, mengetahui Aiko yang tak ingat kepadanya membuatnya tambah
khawatir.
Dari
awal dokter yang menangani Aiko sudah memberitahukan kemungkinan itu. Benturan
di kepala Aiko sangat keras, bahkan darah yang keluar dari kepalanya
membutuhkan waktu yang cukup lama untuk berhenti. Jika Aiko kehilangan
memorinya, seharusnya Izaka tak perlu kaget lagi.
Ayah dan ibu Aiko begitu
terpukul saat mendengar kabar bahwa Aiko mengalami kecelakaan. Mereka langsung
meninggalkan aktivitas mereka dan menuju ke rumah sakit. Mereka berdua tak
tidur untuk menunggui Aiko, Izaka sendiri juga tak pulang ke rumah. Bahkan Ia
masih mengenakan seragam sekolah.
“Aiko, kau juga tidak
mengingat ibu?” tanya ibunya. Aiko tak memberikan respon. Nyonya Echiro pun
menutup mulut dan meneteskan air mata.
Perempuan
itu kini juga menutup matanya. Sementara suaminya berusaha menenangkannya, dan
menjadi tiang penyangga agar tubuh istrinya tetap tegak.
Mereka
setidaknya masih bisa lega karena nyawa Aiko tak diambil, memorinya saja sudah
cukup. Orang tua manapun tentu tidak ingin nyawa anaknya juga diambil. Orang
tua mana yang rela? Mereka sangat menyayangi putrinya.
***
Aiko belum mendapatkan
izin untuk kembali sekolah. Orang tua Aiko masih khawatir dengan traumanya
pasca kecelakaan. Jadi untuk beberapa hari ke depan, mereka ingin anaknya
istirahat saja di rumah. Dan dari pihak sekolah pun pasti juga akan mengerti
kondisinya. Sebenarnya Aiko sangat bosan di rumah terus, tak ada hal menarik
untuk menghabiskan waktunya di rumah. Satu menit ibarat satu bulan baginya.
Ini
saat dimana Ia pulang dari sekolah. Aiko hanya menghabiskan waktunya untuk
meratapi nasib.
Sesaat
kemudian terdengar suara ketukan pintu. Setahunya, ibunya jarang mengetuk pintu
di jam-jam segini. Aiko pun menengok sekilas ke arah pintu.
“Siapa?” tanya Aiko,
suaranya harus keras agar orang yang ada di luar bisa mendengar suaranya.
“Ini aku. Zei.” pertanyaan
Aiko langsung dijawab.
Zei?
Aiko menggumamkan nama itu pelan. Nama itu tidak asing untuknya, begitu juga
dengan pemilik nama itu.
“Pintunya tak dikunci, kau
bisa masuk.” ujar Aiko kemudian.
Suara
pintu yang terbuka langsung terdengar. Zei kembali menutup rapat pintu itu, dia
berjalan mendekati Aiko. Ia duduk di tepi ranjang yang sedang dipakai Aiko
sebagai tempatnya beristirahat. Aiko tidak sedang tiduran, Ia hanya sedang
membaca buku dengan memakai selimut sebatas pinggangnya. Ia juga menaruh bantal
di belakang punggungnya untuk tempatnya bersandar.
Sudah
tak ada luka luar yang bersarang di tubuh Aiko, sekarang Zei bisa tenang
melihat keadaan Aiko yang baik-baik saja.
“Aku memang egois. Kau
kecelakaan sudah satu minggu yang lalu, tapi baru sekarang aku melihat
keadaanmu.” kata Zei kemudian, Ia tak menatap Aiko sama sekali. Apa karena luka lamanya belum sembuh?
“Aku jauh lebih egois dari
dirimu.” kata Aiko, Ia menutup buku bacaannya.
“Soal masalah kita
beberapa yang waktu lalu, aku sudah melupakannya. Aku tahu kau tak salah
apa-apa. “ jelas Zei.
Aku bertingkah aneh, jika orang yang
ku sukai menyukai temanku seharusnya aku semakin bersemangat untuk menyukainya.
” lanjut Zei,
“Ku dengar kau kehilangan
memorimu. Jadi apa yang ku katakan barusan, percuma saja..” ujar Zei. Ia
menundukkan kepalanya sebentar lalu Ia tersenyum kepada Aiko, Ia tak ingin
membuat Aiko banyak pikiran.
“Itu tidak benar. Aku
hanya berpura-pura tak ingat seseorang yang juga pura-pura tak ingat kepadaku.”
sahut Aiko.
Kening Zei pun berkerut,
Ia tidak tahu siapa yang dimaksud Aiko. Lebih baik Ia mengalihkan pembicaraan
ke arah yang lebih santai. Dengan begitu Aiko bisa lebih cepat pulih.
***