Remember Again

Remember Again
17


Kepalanya terasa sakit, Aiko memijat


pelan kedua pelipisnya. Apa yang Ia lakukan berhasil mengurangi rasa sakit itu.


Tubuhnya masih gemetaran. Dimana Ia sekarang? Aiko hanya tahu kalau Ia sedang


berada di dalam ruangan yang dipenuhi dengan nuansa putih. Ia mencoba bangun


dari tidurannya, namun tangan yang cukup atletis berhasil menghentikannya.


Ia


memandang pemilik tangan itu dengan cukup lama. Sesaat kemudian, Ia bisa


mendengar pemilik tangan itu menghela nafasnya panjang.


“Yokatta.. (Syukurlah..),


kau sudah sadar.” ucapnya lega. Lelaki itu tampak tersenyum bahagia, walau


matanya tampak seperti kaca.


“Kau siapa? Apa aku


mengenalmu?” pertanyaan itu keluar dari mulut kecil Aiko.


Lantas, Izaka sangat


terkejut begitu mendengarnya. Aiko tak mengenalinya, kecelakaan yang dilalui


Aiko telah membuatnya tak ingat dengan dirinya. Sudah satu hari Aiko terbaring


di rumah sakit.  Izaka belum bisa lega


sepenuhnya, mengetahui Aiko yang tak ingat kepadanya membuatnya tambah


khawatir.


Dari


awal dokter yang menangani Aiko sudah memberitahukan kemungkinan itu. Benturan


di kepala Aiko sangat keras, bahkan darah yang keluar dari kepalanya


membutuhkan waktu yang cukup lama untuk berhenti. Jika Aiko kehilangan


memorinya, seharusnya Izaka tak perlu kaget lagi.


Ayah dan ibu Aiko begitu


terpukul saat mendengar kabar bahwa Aiko mengalami kecelakaan. Mereka langsung


meninggalkan aktivitas mereka dan menuju ke rumah sakit. Mereka berdua tak


tidur untuk menunggui Aiko, Izaka sendiri juga tak pulang ke rumah. Bahkan Ia


masih mengenakan seragam sekolah.


“Aiko, kau juga tidak


mengingat ibu?” tanya ibunya. Aiko tak memberikan respon. Nyonya Echiro pun


menutup mulut dan meneteskan air mata.


Perempuan


itu kini juga menutup matanya. Sementara suaminya berusaha menenangkannya, dan


menjadi tiang penyangga agar tubuh istrinya tetap tegak.


Mereka


setidaknya masih bisa lega karena nyawa Aiko tak diambil, memorinya saja sudah


cukup. Orang tua manapun tentu tidak ingin nyawa anaknya juga diambil. Orang


tua mana yang rela? Mereka sangat menyayangi putrinya.


***


Aiko belum mendapatkan


izin untuk kembali sekolah. Orang tua Aiko masih khawatir dengan traumanya


pasca kecelakaan. Jadi untuk beberapa hari ke depan, mereka ingin anaknya


istirahat saja di rumah. Dan dari pihak sekolah pun pasti juga akan mengerti


kondisinya. Sebenarnya Aiko sangat bosan di rumah terus, tak ada hal menarik


untuk menghabiskan waktunya di rumah. Satu menit ibarat satu bulan baginya.


Ini


saat dimana Ia pulang dari sekolah. Aiko hanya menghabiskan waktunya untuk


meratapi nasib.


Sesaat


kemudian terdengar suara ketukan pintu. Setahunya, ibunya jarang mengetuk pintu


di jam-jam segini. Aiko pun menengok sekilas ke arah pintu.


“Siapa?” tanya Aiko,


suaranya harus keras agar orang yang ada di luar bisa mendengar suaranya.


“Ini aku. Zei.” pertanyaan


Aiko langsung dijawab.


Zei?


Aiko menggumamkan nama itu pelan. Nama itu tidak asing untuknya, begitu juga


dengan pemilik nama itu.


“Pintunya tak dikunci, kau


bisa masuk.” ujar Aiko kemudian.


Suara


pintu yang terbuka langsung terdengar. Zei kembali menutup rapat pintu itu, dia


berjalan mendekati Aiko. Ia duduk di tepi ranjang yang sedang dipakai Aiko


sebagai tempatnya beristirahat. Aiko tidak sedang tiduran, Ia hanya sedang


membaca buku dengan memakai selimut sebatas pinggangnya. Ia juga menaruh bantal


di belakang punggungnya untuk tempatnya bersandar.


Sudah


tak ada luka luar yang bersarang di tubuh Aiko, sekarang Zei bisa tenang


melihat keadaan Aiko yang baik-baik saja.


“Aku memang egois. Kau


kecelakaan sudah satu minggu yang lalu, tapi baru sekarang aku melihat


keadaanmu.” kata Zei kemudian, Ia tak menatap Aiko sama sekali.  Apa karena luka lamanya belum sembuh?


“Aku jauh lebih egois dari


dirimu.” kata Aiko, Ia menutup buku bacaannya.


“Soal masalah kita


beberapa yang waktu lalu, aku sudah melupakannya. Aku tahu kau tak salah


apa-apa. “ jelas Zei.


Aku bertingkah aneh, jika orang yang


ku sukai menyukai temanku seharusnya aku semakin bersemangat untuk menyukainya.


” lanjut Zei,


“Ku dengar kau kehilangan


memorimu. Jadi apa yang ku katakan barusan, percuma saja..” ujar Zei. Ia


menundukkan kepalanya sebentar lalu Ia tersenyum kepada Aiko, Ia tak ingin


membuat Aiko banyak pikiran.


“Itu tidak benar. Aku


hanya berpura-pura tak ingat seseorang yang juga pura-pura tak ingat kepadaku.”


sahut Aiko.


Kening Zei pun berkerut,


Ia tidak tahu siapa yang dimaksud Aiko. Lebih baik Ia mengalihkan pembicaraan


ke arah yang lebih santai. Dengan begitu Aiko bisa lebih cepat pulih.


***