
Udara hari ini terasa panas, terlebih
murid-murid kelas 2-C sedang mengikuti jam olah raga di lapangan. Semuanya
sangat semangat dalam mengeluh, sejujurnya guru pembimbing mereka juga
mengeluhkan hal yang sama tetapi ditahannya.
Aiko
mendongakkan kepalanya, menatap langit yang saat itu berwarna biru cerah dengan
beberapa kepulan awan putih. Tidak tahu kenapa, Ia hanya merasa tenaganya hari
ini sangat kurang. Rasanya tak mungkin Ia bisa mengikuti jam olahraga secara
penuh. Atau Ia saja yang terlalu pesimis.
Lari keliling lapangan sebanyak lima kali memang melelahkan. Terlebih
kondisi tubuhnya yang tidak memungkinkan. Aiko sangat pucat. Entah, hal apa yang
membuat kesehatannya terganggu. Mungkin Ia terlalu banyak berpikir.
“Kau
baik-baik saja? Wajahmu pucat.” tanya Ryn khawatir saat melihat wajah pucat
Aiko, sementara mereka masih berlari mengelilingi lapangan. Aiko hanya
menggelengkan kepalanya lemas.
Namun setelah itu, tubuhnya sudah tidak bisa bertahan lagi. Ia sudah tak
bisa berlari lagi. Pandangannya berubah gelap. Beberapa orang yang memanggil
namanya dengan keras, tak sanggup Ia tanggapi. Suaranya saja terdengar tipis.
***
Jemari
tangan Pak Haru bersiap mengetuk pintu ruang kesehatan. Ia sangat
mengkhawatirkan Aiko. Ia menyadari posisinya sebagai seorang guru, sangat sulit
baginya melindungi Aiko jika tidak dalam lokasi yang sama. Pak Haru hanya bisa
mengawasinya dari kejauhan. Mendengar Aiko pingsan di lapangan membuatnya
segera ke ruang kesehatan. Ia hanya perlu mengetuk pintu lalu memastikan
keadaan Aiko. Ia semakin khawatir karena Aiko tidak mengikuti jam pelajarannya.
“せんせいSensei..” seru Izaka membuat Pak Haru
kaget.
“Aku
tak bisa berpura-pura tidak tahu. Sensei menyukai Aiko kan?” tanya Izaka, Ia
bersandar di samping pintu menatap Pak Haru curiga.
“Itu
sama sekali bukan urusanmu. Aku seorang guru yang sedang mengkhawatirkan
keadaan muridnya.” tegas Pak Haru.
“Benar.
Anda seorang guru, tentu tidak boleh menaruh perasaan suka kepada muridnya.”
tambah Izaka, lalu lelaki itu membuka pintu ruang kesehatan tanpa mengetuknya.
Izaka menyelonong masuk tanpa memperhatikan raut muka gurunya. Oleh sebab
itulah, Pak Haru tidak melanjutkan langkah kakinya.
Izaka menghempaskan tas
ransel milik Aiko sampai mengenai sebelah tangan Aiko, sehingga gadis itu sudah
tidak bisa lagi berpura-pura masih pingsan.
“Ada
apa denganmu? Inikah caramu memperlakukan orang sakit?” omel Aiko.
Sesaat
setelah itu, Aiko menutupi wajahnya. Sekarang Ia baru sadar bahwa Ia baru saja
mengomeli Izaka. Sudah lama sekali Ia tidak mengomeli seseorang, dulu Ia tak
pernah peduli dan mempersulit sesuatu. Ada apa dengan dirinya?
“Terserah
pendapatmu.” Izaka menarik kursi dan duduk di samping Aiko.
“Aku
kira kau tak akan bangun lagi. Ternyata kau cuma pura-pura.” Izaka melanjutkan.
“Aku
“Padahal
tadi Pak Haru sangat mengharapkanmu di jam pelajarannya.” tambah Izaka.
“Sebenarnya,
kau ini bicara apa? Jika kau hanya mengatakan sesuatu yang tidak penting, lebih
baik kau tutup saja mulutmu. Aku malas mendengarnya.” Aiko menanggapi.
Kini lelaki itu menggigit
jari telunjuknya sambil memandang Aiko heran. Jadi, selama ini Aiko tak
menyadari perasaan Pak Haru. Sepertinya Pak Haru sudah sangat lama menyukainya.
Lelaki itu sedang membuat kesimpulan. Hubungan antara murid dan guru memang dilarang,
Izaka ingin sekali melindungi Aiko. Namun Aiko tidak suka dengan orang seperti
dirinya, jadi Ia tidak tahu lagi bagaimana melindunginya. Sampai kapanpun Ia
akan menjadi orang yang takut melindungi Aiko, karena Ia takut terhadap
perasaannya sendiri, Ia tidak mau sesuatu yang sepihak.
Matahari
sudah hampir sampai di batas senja. Sudah saatnya mereka meninggalkan gedung
sekolah. Semua harus dalam keadaan hening di jam itu. Izaka menguap dan
meregangkan lengannya.
“Kau masih
ingin disini?” tanyanya kemudian.
“Aku akan pulang.” sahut Aiko.
“Kau bisa jalan? Atau kau ingin aku
menggendongmu seperti tadi?” goda Izaka, tetapi memang benar bahwa Ia tadi
menggendong Aiko.
“Apa?
Tadi kau menggendongku?” tanya Aiko tak percaya.
“Tentu
saja. Dan kau sangat berat.” jawab Izaka.
“Lihat,
lenganku hampir patah. Kau harus mengurangi porsi makanmu terutama kebiasaan
ngemilmu.” Izaka menambahi sambil menunjukkan lengannya. Aiko pun tersenyum
kecut kepada lelaki itu.
“Aku
tak akan mengikuti saranmu. Jadi, kau tak perlu menggendongku lagi.” katanya.
Mereka berdua segera
keluar dari ruang kesehatan. Aiko sudah menggendong tas ranselnya yang telah
dibawakan Izaka ke ruangan itu.
Aiko merasa sangat
frustasi. Ia masih memikirkan perkataan Izaka. Kalimat tidak penting yang
keluar dari mulut Izaka terasa mengganggunya. Menurutnya, apa yang dikatakan
Izaka tak benar. Ia tidak berat. Memang porsi makannya tidak seperti
gadis-gadis seusianya, dan Ia juga memiliki kebiasaan ngemil. Tetapi Ia juga
sudah cukup olahraga, berat badannya masih bisa dikatakan normal.
Kalaupun Izaka merasa
berat saat menggendongnya, itu bukan karena berat badannya. Namun Izaka saja
yang lemah. Lelaki itu sangat menyebalkan. Dia tidak bisa memahami perasaan
seorang perempuan.
Intinya Ia tidak suka bila dikatai
berat, kalau yang mengatainya bukan Izaka apa Ia akan tetap tidak suka? Ah,
Aiko tak mengerti dirinya sendiri.
***