Remember Again

Remember Again
13


Udara hari ini terasa panas, terlebih


murid-murid kelas 2-C sedang mengikuti jam olah raga di lapangan. Semuanya


sangat semangat dalam mengeluh, sejujurnya guru pembimbing mereka juga


mengeluhkan hal yang sama tetapi ditahannya.


         Aiko


mendongakkan kepalanya, menatap langit yang saat itu berwarna biru cerah dengan


beberapa kepulan awan putih. Tidak tahu kenapa, Ia hanya merasa tenaganya hari


ini sangat kurang. Rasanya tak mungkin Ia bisa mengikuti jam olahraga secara


penuh. Atau Ia saja yang terlalu pesimis.


      Lari keliling lapangan sebanyak lima kali memang melelahkan. Terlebih


kondisi tubuhnya yang tidak memungkinkan. Aiko sangat pucat. Entah, hal apa yang


membuat kesehatannya terganggu. Mungkin Ia terlalu banyak berpikir.


         “Kau


baik-baik saja? Wajahmu pucat.” tanya Ryn khawatir saat melihat wajah pucat


Aiko, sementara mereka masih berlari mengelilingi lapangan. Aiko hanya


menggelengkan kepalanya lemas.


      Namun setelah itu, tubuhnya sudah tidak bisa bertahan lagi. Ia sudah tak


bisa berlari lagi. Pandangannya berubah gelap. Beberapa orang yang memanggil


namanya dengan keras, tak sanggup Ia tanggapi. Suaranya saja terdengar tipis.


***


         Jemari


tangan Pak Haru bersiap mengetuk pintu ruang kesehatan. Ia sangat


mengkhawatirkan Aiko. Ia menyadari posisinya sebagai seorang guru, sangat sulit


baginya melindungi Aiko jika tidak dalam lokasi yang sama. Pak Haru hanya bisa


mengawasinya dari kejauhan. Mendengar Aiko pingsan di lapangan membuatnya


segera ke ruang kesehatan. Ia hanya perlu mengetuk pintu lalu memastikan


keadaan Aiko. Ia semakin khawatir karena Aiko tidak mengikuti jam pelajarannya.


         “せんせいSensei..” seru Izaka membuat Pak Haru


kaget.


         “Aku


tak bisa berpura-pura tidak tahu. Sensei menyukai Aiko kan?” tanya Izaka, Ia


bersandar di samping pintu menatap Pak Haru curiga.


         “Itu


sama sekali bukan urusanmu. Aku seorang guru yang sedang mengkhawatirkan


keadaan muridnya.” tegas Pak Haru.


         “Benar.


Anda seorang guru, tentu tidak boleh menaruh perasaan suka kepada muridnya.”


tambah Izaka, lalu lelaki itu membuka pintu ruang kesehatan tanpa mengetuknya.


Izaka menyelonong masuk tanpa memperhatikan raut muka gurunya. Oleh sebab


itulah, Pak Haru tidak melanjutkan langkah kakinya.


Izaka menghempaskan tas


ransel milik Aiko sampai mengenai sebelah tangan Aiko, sehingga gadis itu sudah


tidak bisa lagi berpura-pura masih pingsan.


         “Ada


apa denganmu? Inikah caramu memperlakukan orang sakit?” omel Aiko.


         Sesaat


setelah itu, Aiko menutupi wajahnya. Sekarang Ia baru sadar bahwa Ia baru saja


mengomeli Izaka. Sudah lama sekali Ia tidak mengomeli seseorang, dulu Ia tak


pernah peduli dan mempersulit sesuatu. Ada apa dengan dirinya?


         “Terserah


pendapatmu.” Izaka menarik kursi dan duduk di samping Aiko.


         “Aku


kira kau tak akan bangun lagi. Ternyata kau cuma pura-pura.” Izaka melanjutkan.


         “Aku


         “Padahal


tadi Pak Haru sangat mengharapkanmu di jam pelajarannya.” tambah Izaka.


         “Sebenarnya,


kau ini bicara apa? Jika kau hanya mengatakan sesuatu yang tidak penting, lebih


baik kau tutup saja mulutmu. Aku malas mendengarnya.” Aiko menanggapi.


Kini lelaki itu menggigit


jari telunjuknya sambil memandang Aiko heran. Jadi, selama ini Aiko tak


menyadari perasaan Pak Haru. Sepertinya Pak Haru sudah sangat lama menyukainya.


Lelaki itu sedang membuat kesimpulan. Hubungan antara murid dan guru memang dilarang,


Izaka ingin sekali melindungi Aiko. Namun Aiko tidak suka dengan orang seperti


dirinya, jadi Ia tidak tahu lagi bagaimana melindunginya. Sampai kapanpun Ia


akan menjadi orang yang takut melindungi Aiko, karena Ia takut terhadap


perasaannya sendiri, Ia tidak mau sesuatu yang sepihak.


         Matahari


sudah hampir sampai di batas senja. Sudah saatnya mereka meninggalkan gedung


sekolah. Semua harus dalam keadaan hening di jam itu. Izaka menguap dan


meregangkan lengannya.


          “Kau masih


ingin disini?” tanyanya kemudian.


“Aku akan pulang.” sahut Aiko.


“Kau bisa jalan? Atau kau ingin aku


menggendongmu seperti tadi?” goda Izaka, tetapi memang benar bahwa Ia tadi


menggendong Aiko.


         “Apa?


Tadi kau menggendongku?” tanya Aiko tak percaya.


         “Tentu


saja. Dan kau sangat berat.” jawab Izaka.


         “Lihat,


lenganku hampir patah. Kau harus mengurangi porsi makanmu terutama kebiasaan


ngemilmu.” Izaka menambahi sambil menunjukkan lengannya. Aiko pun tersenyum


kecut kepada lelaki itu.


         “Aku


tak akan mengikuti saranmu. Jadi, kau tak perlu menggendongku lagi.” katanya.


Mereka berdua segera


keluar dari ruang kesehatan. Aiko sudah menggendong tas ranselnya yang telah


dibawakan Izaka ke ruangan itu.


Aiko merasa sangat


frustasi. Ia masih memikirkan perkataan Izaka. Kalimat tidak penting yang


keluar dari mulut Izaka terasa mengganggunya. Menurutnya, apa yang dikatakan


Izaka tak benar. Ia tidak berat. Memang porsi makannya tidak seperti


gadis-gadis seusianya, dan Ia juga memiliki kebiasaan ngemil. Tetapi Ia juga


sudah cukup olahraga, berat badannya masih bisa dikatakan normal.


Kalaupun Izaka merasa


berat saat menggendongnya, itu bukan karena berat badannya. Namun Izaka saja


yang lemah. Lelaki itu sangat menyebalkan. Dia tidak bisa memahami perasaan


seorang perempuan.


Intinya Ia tidak suka bila dikatai


berat, kalau yang mengatainya bukan Izaka apa Ia akan tetap tidak suka? Ah,


Aiko tak mengerti dirinya sendiri.


***