
Dari speaker yang terpasang di semua kelas,
seluruh siswa mendengarkan pengumuman yang dibacakan oleh ketua OSIS di sekolah
itu. Pengumumannya menyangkut kegiatan sebagai penghormatan terhadap peserta
didik baru. Dari pihak OSIS sudah
menyusun agendanya, akan diadakan Persami (Perkemahan Sabtu-Minggu), dan setiap
siswa wajib mengikutinya. Apabila tidak ikut berpartisipasi, harus ada surat
izin khusus. Kegiatan tersebut bertujuan untuk meningkatkan kemandirian siswa
dan mempererat jalinan kebersamaan antar warga sekolah, terutama bagi kelas
satu. Namun untuk anak kelas dua dan tiga, tentu menjadi ajang yang menambah
pengalaman mereka.
Sore ini Aiko harus
mempersiapkan diri untuk kegiatan itu. Hal yang paling penting tidak boleh Ia
lewatkan. Ia harus membawa banyak makanan, karena kebiasaan buruk tubuhnya. Ia
yang terbiasa terbangun pukul 02.00 pagi akan membuat perutnya cepat lapar.
Jika tak ada camilan, perutnya akan merengek dan berdecit keras. Rasanya pasti
akan sakit.
Aiko
mempercepat langkah kakinya. Sampai-sampai Ia tidak menyadari bahwa Zei sedari
tadi berjalan dibelakangnya dengan rentang jarak yang hanya dua meter. Aiko
hanya menoleh sekilas dan melanjutkan langkahnya. Sesaat kemudian Ia sudah
berada tepat di depan gerbang rumahnya. Ia tinggal memutar penguncinya dan
membukanya sedikit lalu masuk.
“Em-m Aiko-chan!” panggil
seseorang. Sepatunya baru setengah masuk ke halaman rumahnya. Langkahnya
tertahan oleh suara yang sedikit bergetar itu.
Kini Zei melihat ke
arahnya. Gadis itu berdiri tak jauh dari tempatnya berdiri. Pasti ada sesuatu
yang ingin dikatakannya. Mereka berdua memang jarang bicara, mungkin Zei merasa
canggung.
“Zei-chan?” ucap Aiko.
Raut wajah Zei terlihat tidak mengenakkan.
“Aiko, aku tahu selama ini
hubungan kita memang tak terlalu baik. Tapi bisakah kau membantuku?” tanya Zei,
gadis itu menggenggam tangannya sendiri dengan sangat erat di depan dada. Ia
pasti khawatir dengan jawaban yang akan diberikan Aiko.
“Jika aku bisa, tentu aku
akan membantumu..” jawab Aiko kemudian. Raut wajah Zei berubah menjadi
berseri-seri. Sepertinya dia sangat senang.
Saat itu Zei tidak
langsung mengatakan apa yang harus dilakukan Aiko. Setelah kegiatan Persami Zei
baru akan mengatakannya langsung kepadanya. Alasannya sederhana, Zei hanya
perlu waktu untuk mempersiapkan konsentrasinya. Zei harus berada dalam keadaan
dengan tingkat konsentrasi yang baik, kegiatan Persami akan mudah menodai
konsentrasinya.
Beberapa waktu kemudian
mereka sudah masuk ke rumah mereka masing-masing.
***
Kegiatan Persami dimulai
dengan upacara pembukaan. Dikarenakan kegiatan itu melibatkan siswa yang
banyak, maka kegiatan itu diadakan di wilayah sekolah untuk menghindari
kemungkinan-kemungkinan buruk yang bisa terjadi. Wilayah sekolah bisa dikatakan
sebagai wilayah yang aman untuk kegiatan semacam itu.
Izaka sama sekali tak terlihat dalam
upacara pembukaan. Apa Ia tidak datang? Tidak tahu kenapa Aiko memikirkan sosok
lelaki itu. Ia mengedarkan pandangannya ke berbagai sudut.
“Aiko-chan kita akan satu
tenda, aku harap kau bisa lebih terbuka. Sudah lama aku menantikan saat-saat
seperti ini.” kata Ryn dengan ceria, teman sekelasnya.
sempurna. Pintar, ramah dan cantik. Gadis idaman para lelaki. Semua yang ada
pada diri gadis itu begitu indah. Tanpa berkata apapun lagi, Ryn mencoba
membantunya membawa barang-barang keperluan tenda. Ryn sudah jalan lebih dulu.
Walaupun Ryn sudah ambil
bagian untuk membantu, Aiko merasa barang yang dibawanya tak ada yang
berkurang. Masih saja berat. Tetapi itu untuk keperluan tenda. Jadi, Ia harus
segera membawanya ke lokasi. Jika tidak, malam ini Ia tidak akan mendapat
tempat untuk tidur. Ia dan kedua rekannya bisa diserang nyamuk-nyamuk liar
penghuni lapangan besar di sekolah.
“Aiko-san!” lagi-lagi Ia
mendengar namanya dipanggil.
Suara itu berasal dari
bibir guru pengajar mapel matematika. Dia biasa dipanggil Pak Haru. Bisa
dibilang Pak Haru pertama kali memiliki pengalaman mengajar di Otsuhara Senior
High School, Ia menjamah dunia mengajar baru sekitar satu tahun yang lalu.
Pak Haru menggantikan
pamannya yang pensiun. Ia bersedia menjadi guru bukan hanya karena pamannya
yang meminta, tapi Ia sendiri juga sangat mencintai dunia matematika. Tak
bertemu dengan matematika satu hari saja, membuat hidupnya terasa hampa.
Ia sendiri menjadi pembina
Aiko sewaktu akan menghadapi olimpiade matematika di tingkat SMA, dan hasilnya
menakjubkan. Aiko berhasil keluar sebagai juara satu dengan membawa pulang
piala emas yang membanggakan bagi sekolah. Sejak saat itulah Pak Haru terbiasa
memanggil Aiko dengan sebutan Aiko-san.
“Oh, Pak Haru.. Selamat
pagi,” Aiko langsung memberi hormat. Ia juga menyapa guru itu.
Pak Haru telah merebut
barang-barang berat yang menggantung di dekapannya. Pak Haru sangat baik
menurutnya, namun juga aneh menurutnya. Mungkin itu hanya asumsinya saja. Tak
ada yang patut dicurigai dari guru itu. Seorang guru tetaplah seorang guru, tak
mungkin ada maksud terselubung melebihi itu.
Pak
Haru benar-benar mengantarkan barang-barangnya sampai di lokasi tendanya. Aiko
jadi merasa tidak enak. Sedangkan teman-teman satu tendanya juga sedang sibuk mempersiapkannya.
Mereka semua mengambil perlengkapan dan mungkin minuman juga.
“Terima kasih karena
Haru-sensei sudah membantu saya,” Aiko memberi hormat dengan membungkukkan
badannya sedikit.
“Jika kau merasa
kesulitan, kau bisa meminta tolong padaku. Apalagi untuk urusan yang
membutuhkan kekuatan fisik seperti ini.” jawab Pak Haru penuh percaya diri.
“Sensei tidak perlu
khawatir. Saya yang akan membantu Aiko.” potong Izaka. Lelaki itu berdiri tegak
di samping Aiko secara tiba-tiba.
“Oh begitu. ”
Izaka tak mengingkari
ucapannya. Lelaki itu membantu Aiko dan teman satu tenda gadis itu. Jelas, Izaka tak akan keberatan karena tenda
Izaka sendiri sudah berdiri dengan kokoh. Anak lelaki memang jauh lebih
cekatan. Aiko hanya mengucapkan terima kasih secara sekilas.
***