Remember Again

Remember Again
6


Dari speaker yang terpasang di semua kelas,


seluruh siswa mendengarkan pengumuman yang dibacakan oleh ketua OSIS di sekolah


itu. Pengumumannya menyangkut kegiatan sebagai penghormatan terhadap peserta


didik baru. Dari pihak OSIS sudah


menyusun agendanya, akan diadakan Persami (Perkemahan Sabtu-Minggu), dan setiap


siswa wajib mengikutinya. Apabila tidak ikut berpartisipasi, harus ada surat


izin khusus. Kegiatan tersebut bertujuan untuk meningkatkan kemandirian siswa


dan mempererat jalinan kebersamaan antar warga sekolah, terutama bagi kelas


satu. Namun untuk anak kelas dua dan tiga, tentu menjadi ajang yang menambah


pengalaman mereka.


 


 


Sore ini Aiko harus


mempersiapkan diri untuk kegiatan itu. Hal yang paling penting tidak boleh Ia


lewatkan. Ia harus membawa banyak makanan, karena kebiasaan buruk tubuhnya. Ia


yang terbiasa terbangun pukul 02.00 pagi akan membuat perutnya cepat lapar.


Jika tak ada camilan, perutnya akan merengek dan berdecit keras. Rasanya pasti


akan sakit.


 


 


         Aiko


mempercepat langkah kakinya. Sampai-sampai Ia tidak menyadari bahwa Zei sedari


tadi berjalan dibelakangnya dengan rentang jarak yang hanya dua meter. Aiko


hanya menoleh sekilas dan melanjutkan langkahnya. Sesaat kemudian Ia sudah


berada tepat di depan gerbang rumahnya. Ia tinggal memutar penguncinya dan


membukanya sedikit lalu masuk.


 


 


“Em-m Aiko-chan!” panggil


seseorang. Sepatunya baru setengah masuk ke halaman rumahnya. Langkahnya


tertahan oleh suara yang sedikit bergetar itu.


 


 


Kini Zei melihat ke


arahnya. Gadis itu berdiri tak jauh dari tempatnya berdiri. Pasti ada sesuatu


yang ingin dikatakannya. Mereka berdua memang jarang bicara, mungkin Zei merasa


canggung.


 


 


“Zei-chan?” ucap Aiko.


Raut wajah Zei terlihat tidak mengenakkan.


 


 


“Aiko, aku tahu selama ini


hubungan kita memang tak terlalu baik. Tapi bisakah kau membantuku?” tanya Zei,


gadis itu menggenggam tangannya sendiri dengan sangat erat di depan dada. Ia


pasti khawatir dengan jawaban yang akan diberikan Aiko.


 


 


“Jika aku bisa, tentu aku


akan membantumu..” jawab Aiko kemudian. Raut wajah Zei berubah menjadi


berseri-seri. Sepertinya dia sangat senang.


 


 


Saat itu Zei tidak


langsung mengatakan apa yang harus dilakukan Aiko. Setelah kegiatan Persami Zei


baru akan mengatakannya langsung kepadanya. Alasannya sederhana, Zei hanya


perlu waktu untuk mempersiapkan konsentrasinya. Zei harus berada dalam keadaan


dengan tingkat konsentrasi yang baik, kegiatan Persami akan mudah menodai


konsentrasinya.


 


 


Beberapa waktu kemudian


mereka sudah masuk ke rumah mereka masing-masing.


 


 


 


 


***


 


 


 


 


Kegiatan Persami dimulai


dengan upacara pembukaan. Dikarenakan kegiatan itu melibatkan siswa yang


banyak, maka kegiatan itu diadakan di wilayah sekolah untuk menghindari


kemungkinan-kemungkinan buruk yang bisa terjadi. Wilayah sekolah bisa dikatakan


sebagai wilayah yang aman untuk kegiatan semacam itu.


 


 


Izaka sama sekali tak terlihat dalam


upacara pembukaan. Apa Ia tidak datang? Tidak tahu kenapa Aiko memikirkan sosok


lelaki itu. Ia mengedarkan pandangannya ke berbagai sudut.


 


 


“Aiko-chan kita akan satu


tenda, aku harap kau bisa lebih terbuka. Sudah lama aku menantikan saat-saat


seperti ini.” kata Ryn dengan ceria, teman sekelasnya.


 


 


sempurna. Pintar, ramah dan cantik. Gadis idaman para lelaki. Semua yang ada


pada diri gadis itu begitu indah. Tanpa berkata apapun lagi, Ryn mencoba


membantunya membawa barang-barang keperluan tenda. Ryn sudah jalan lebih dulu.


 


 


Walaupun Ryn sudah ambil


bagian untuk membantu, Aiko merasa barang yang dibawanya tak ada yang


berkurang. Masih saja berat. Tetapi itu untuk keperluan tenda. Jadi, Ia harus


segera membawanya ke lokasi. Jika tidak, malam ini Ia tidak akan mendapat


tempat untuk tidur. Ia dan kedua rekannya bisa diserang nyamuk-nyamuk liar


penghuni lapangan besar di sekolah.


 


 


“Aiko-san!” lagi-lagi Ia


mendengar namanya dipanggil.


 


 


Suara itu berasal dari


bibir guru pengajar mapel matematika. Dia biasa dipanggil Pak Haru. Bisa


dibilang Pak Haru pertama kali memiliki pengalaman mengajar di Otsuhara Senior


High School, Ia menjamah dunia mengajar baru sekitar satu tahun yang lalu.


 


 


Pak Haru menggantikan


pamannya yang pensiun. Ia bersedia menjadi guru bukan hanya karena pamannya


yang meminta, tapi Ia sendiri juga sangat mencintai dunia matematika. Tak


bertemu dengan matematika satu hari saja, membuat hidupnya terasa hampa.


 


 


Ia sendiri menjadi pembina


Aiko sewaktu akan menghadapi olimpiade matematika di tingkat SMA, dan hasilnya


menakjubkan. Aiko berhasil keluar sebagai juara satu dengan membawa pulang


piala emas yang membanggakan bagi sekolah. Sejak saat itulah Pak Haru terbiasa


memanggil Aiko dengan sebutan Aiko-san.


 


 


“Oh, Pak Haru.. Selamat


pagi,” Aiko langsung memberi hormat. Ia juga menyapa guru itu.


 


 


Pak Haru telah merebut


barang-barang berat yang menggantung di dekapannya. Pak Haru sangat baik


menurutnya, namun juga aneh menurutnya. Mungkin itu hanya asumsinya saja. Tak


ada yang patut dicurigai dari guru itu. Seorang guru tetaplah seorang guru, tak


mungkin ada maksud terselubung melebihi itu.


 


 


         Pak


Haru benar-benar mengantarkan barang-barangnya sampai di lokasi tendanya. Aiko


jadi merasa tidak enak. Sedangkan teman-teman satu tendanya juga sedang sibuk mempersiapkannya.


Mereka semua mengambil perlengkapan dan mungkin minuman juga.


 


 


“Terima kasih karena


Haru-sensei sudah membantu saya,” Aiko memberi hormat dengan membungkukkan


badannya sedikit.


 


 


“Jika kau merasa


kesulitan, kau bisa meminta tolong padaku. Apalagi untuk urusan yang


membutuhkan kekuatan fisik seperti ini.” jawab Pak Haru penuh percaya diri.


 


 


“Sensei tidak perlu


khawatir. Saya yang akan membantu Aiko.” potong Izaka. Lelaki itu berdiri tegak


di samping Aiko secara tiba-tiba.


 


 


“Oh begitu. ”


 


 


Izaka tak mengingkari


ucapannya. Lelaki itu membantu Aiko dan teman satu tenda gadis itu.  Jelas, Izaka tak akan keberatan karena tenda


Izaka sendiri sudah berdiri dengan kokoh. Anak lelaki memang jauh lebih


cekatan. Aiko hanya mengucapkan terima kasih secara sekilas.


 


 


 


 


***