Jeanne Aleeza

Jeanne Aleeza
Apakah Aku boleh beristirahat


Ketika Jea dan Shasa telah kembali ke Toko itu untuk melanjutkan pekerjaannya. Mereka dikejutkan dengan kekacauan yang terjadi. Seorang wanita telah berumur itu nampaknya marah-marah sambil mengeluarkan sumpah serapahnya kepada Tuan Deonal.


"Shasa? wanita itu siapa? bisik Jea"


"Jea? aku juga tidak tahu, aku juga barusan melihat wanita itu berada disini." Jawab Shasa


Suara wanita itu, semakin menjadi-jadi, tidak ada satupun orang yang berani meresponnya. Tuan Deonal saja, sama sekali tidak menggubrisnya. Sebelum Jea dan Shasa datang, mereka sudah diperingatkan oleh Tuan Deonal untuk tidak usah meladeni wanita itu.


"Maaf Nyonya? Ada tujuan apa, Anda kemari?" tanya Jea mendekati wanita itu.


Wanita itu tersenyum sinis, dengan cepat-cepat, ia mengangkat tangannya, dan ingin melayangkan satu tamparan keras diwajah Jea. Namun sebelum tangan itu mengenai wajah Jea. Tiba-tiba tangan Deonal menghentikan tangan wanita itu dan mendorong wanita itu hingga terjatuh.


"Alee? lho tidak itu usah, sok jadi Pahlawan?


kalau lho sampai terluka, bisa-bisa Toko gue diisuhkan terjadi tindak kekerasan. Dan kalau semua itu terjadi, teruss Toko gue mengalami kebangkrutan. Gue akan memenjarakan lho. Ingat itu" Bentak Deonal


Jea pun segera menuju tempatnya yang semula tadi. Ia tidak berani mengeluarkan sepatah kata pun pada Deonal, meskipun ia sendiri juga kesal.


Sungguh jawaban yang aneh. Gumannya


"Jea? kok nama panggilan kamu Ale sih?


ngimana ceritanya. Jelek bangat tahu, tidak cocok dengan dirimu yang cantik ini. Atau jangan-jangan kamu dan Tuan Deonal ada hubungan spesial yahh? terus kamu panggil Tuan Deonal apa sih?? Deo.. Enal..atau lagi Bebeb? Atau..


Shasa? udah diam, nanti Tuan dengar kita, kita akan kena marah lagi." Jawab Jea yang pura-pura berkata seperti itu, karena sebenarnya ia malas menanggapi pertanyaan sahabatnya itu.


"Ciee! Posesif amat sih, aku nggak bocorin kok. Jawab dulu pertanyaan aku?" Tanya Shasa


"Pertanyaan apaan? Suara Jea jengkel.


"kamu dan Tuan Deonal itu pacaran nggak sih??" tanya Shasa yang penasaran


Belum sempat Jea membuka suara, tiba-tiba pecahan kaca melayang dihadapannya. Untung saja Jea bisa menghindari, sehingga kaca tersebut hanya melukai tangannya.


Deonal yang sudah tidak dapat menahan emosinya, langsung berjalan kearah wanita itu.


"Nyonya Lenata? ini urusan saya dan anda, jangan sesekali menyakiti karyawan saya." Suara Deonal yang marah. Namun ia tetap berusaha untuk menahan emosinya, ini bukan waktu yang tepat untuk melampiaskan kekesalannya kepada wanita itu.


"Wahh, Anak muda!! Jangan sesekali mencoba mengancamku, kalau kamu berani nyawa gembel itu ada ditangan saya. Ingat, semakin kamu menyakiti saya, kamu tidak akan pernah bertemu dengannya bahkan seumur hidup." Suara ancaman Lenata membalas ucapan Deonal.


Lebih baik anda pergi dari sini, sebelum saya betul-betul mengakhiri hidup anda disini. Dan asal kamu tahu, saya sama sekali tidak takut dengan ancaman anda. kata Deonal yang seolah-olah betul tidak takut akan ancaman itu.


"Sial, tunggu pembalasanku selanjutnya." Ancam Lenata. Lalu ia segera meninggalkan tempat itu.


"Jea? tunggu aku disini, jangan kemana-mana, aku akan pergi mencari kotak P3k." kata Shasa yang agak panik.


" Shasa? tidak perlu ini hanya luka kecil kok, sebentar juga akan sembuh." Jawab Jea.


Sebenarnya ini sakit, terasa nyeri. Tapi Jea malu bilang, nanti Tuan Deonal dengar. Batin Jea


"Tapi seenggaknya lukanya nanti tidak berbekas." kata Shasa berusaha mengajak Jea


kembali lanjutkan pekerjaan kalian, bersihkan semua kekacauan ini." Perintah Deonal


"Tuan?? apakah aku boleh istirahat sebentar saja." Kata Jea dengan nada ketakutan


"Kalau mau istirahat dirumah, bukan disini. Ini tempat kerja." Kata Deonal


"Jadi aku boleh Pulang Tuan?" kata Jea tersenyum.


Ternyata Tuan Deonal ini baik hati, dia mengizinkanku untuk istirahat. Gumannya


"Iya, dengan senang hati, tapi detik ini juga, lho harus buat surat pengunduran diri" Kata Deonal mengertak.


"Baik Tuan, saya tidak akan beristirahat." Jawab Jea malas


"kalau begitu jangan tinggal diam disini." Perintah Deonal.


Matahari mulai terbenam, nampaknya hari mulai sore. Semua karyawan pada pulang. Namun Jea memilih untuk beristirahat sebentar, seharian penuh Jea harus bekerja dengan tangan yang terluka, sehingga membuatnya sangat lelah. Tidak terasa jam menujukkan pukul 06:15 sore.


"Astaga!! Aku ketiduran, bagaimana ini pasti Papa sudah lapar." Aku harus terburu-buru pulang rumah. Suara Jea


Jea pun melangkahkan kakinya untuk keluar dari Toko itu. Diluar Jea berusaha menunggu taksi. Tapi tak satupun ada taksi yang lewat.


"Aduhh aku lupa, kalau jam segini itu taksi sudah tidak ada." Jadi aku harus jalan kaki terlebih dahulu, agar tiba di jalan XXX, disana kan, tiap waktu taksi selalu ada. Gumannya.


Hujan turun tepat ketika Jea baru melangkahkan kakinya di pelataran jalan itu.


Bajunya pun mulai basah, tangannya yang terluka kembali mengeluarkan darah.


Tiba-tiba seorang Pria mendekatinya.


"Kamu...?" tanya Jea heran


Lalu Pria itu memakaikan jacket nya kepada Jea.


.


.


.


.


.


Jangan Lupa Like, Vote, Favoritkan, dan Coment🤗


kalau mau dengar setiap info dari novel-novel karya aku🤗 Follow Ig aku yahh!🤗 Nanti aku tanyaiin Ig aku itu apa.🙏 Thanks U