Jeanne Aleeza

Jeanne Aleeza
Jangan dulu, aku tidak bisa


Sebagai kekasih tentunya sangat terluka ketika melihat orang yang kita sayangi meneteskan air mata kesedihan. Begitu pula dengan Vren, saat ini ia selalu berusaha memopang tubuh Jea, meskipun pada saat ini Jea belum juga sadar. Sesekali Jea sadar namun kembali jatuh pingsan. Rasa kekesalan yang tadinya ada sekarang telah memudar dengan ia melihat kondisi Jea.


Namun Jionn tetap menyimpan rasa kekesalannya pada kakaknya. Saat ini saja Jea terbaring pingsan, ia pergi berlalu begitu saja kedalam kamarnya tanpa menghiraukan Jea.


Orang-orang yang sebelumnya datang melayat satu persatu telah kembali pulang kerumahnya masing-masing. Sebenarnya tetangga dekat Jea Ibu Susi masih ingin tinggal untuk menjaga Jea, namun Vren menolaknya karena merasa kasihan dengan ibu susi yang sejak dari tadi telah membantu keluarga Jea.


Setelah rumah kosong, sisa mereka bertiga dirumah itu. Namun Jionn mengurung dirinya dalam kamar. Vren hanya bisa terdiam, ia memaklumi sikap Jionn, karena jujur saja sebenarnya dia juga kesal.


Vren ingin mengistirahatkan tubuh Jea kedalam kamarnya, namun Jea mulai membuka matanya. "Papa? " Suara parau Jea


Hiks..Hikss..Hikss!


"Jea? " panggilannya dengan hati-hati


Namun Jea sama sekali tidak meresponnya, ia masih terus menangisi kepergian papanya. Yang paling membuat Jea sedih ketika ia tidak bisa mengantarkan Papanya kealam kuburnya.


"Papa.. Papa! " tangisan Jea


"Jea? kamu harus sabar, Papa kamu sudah bahagia dialamnya, begitupun dengan kamu harus bahagia di alam ini. " kata Vren menguatkan Jea.


"Tapi Vren! aku tidak liat papa terakhir kalinya," suara ditengah-tengah tangisannya.


Vren yang mendengar itu, tidak tahu harus ngomong apa lagi. "Jea?? kamu istirahat yah?" ajakan Vren untuk Jea beristirahat didalam kamarnya.


.


.


Pagi mulai menjelma, Jea melirik jam dindingnya, rupanya ia bangun terlambat. Dengan tergesa-gesa ia berlari menuju kamar Papanya.


"Papa lapar? maafkan Jea yang terlambat bangun? " Suaranya menarik selimut tebal yang sering dipakai oleh Papanya.


"Kakak? jangan bangunkan aku! " bentak Jionn


"Jionn? papa mana? " katanya sambil mencari-cari keberadaan Papanya


"kakak lupa, kalau papa sudah tiada! " suaranya meneriaki Jea


Jea histeris mendengar itu, " tidak.. tidak.. tidak! " katanya meneteskan air mata.


"Itu hanya mimpi, tadi malam aku mimpi ini, katakan kalau ini mimpi.. hiks.. hikss.. hikss..


"Kakak tidak usah sok mencari papa, kemarin kakak tidak mengangkat telfonku! " Jionn terbawah emosi


"Jionn? Hp kakak sebenarnya disita! " kata Jea mengingat kejadian kemarin


"Kakak pengecut! " Suara Jionn meninggalkan Jea.


Hikss.. Hikss... Hiks... ! Papa maafkan Jea!


.


.


.


Seiring berjalannya waktu, Jea mulai menerima kenyataan Hidupnya, dengan situasinya yang seperti ini membuatnya malas untuk melakukan sesuatu. Bahkan melangkahkan kaki untuk kerja diToko Deonal membuatnya sangat males bergerak.


"Jionn? aku pergi dulu yah? " pamitnya


"Pergilahh! sekalian tidak usah balik lagi!" suara ketus Jionn.


Sedih tentu dirasakan oleh Jea, namun berusaha untuk menyembunyikannya.


"Jea? Ayokk !" ajak Vren


Kali ini Vren mengajak Jea bukan dengan menaiki mobil melainkan motor biar lebih romantis gitu.


"Jea sini! "


Menarik tangan Jea untuk duduk di bangku tempat pertama kali mereka jadian.


Jea terus memancarkan senyum manis diwajahnya.


"Vren? " Terimakasih! bisik Jea


Karena kedekatan mereka terlalu dekat, membuat Vren salah tingkah, dikiranya Jea menggodanya. Vren memajukan b**irnya kewajah Jea.


"Vren?" kata Jea menghentikan Vren


"Jangan dulu, aku tidak bisa! " kata Jea menolak


"bukannya kita pacaran, jadi itu wajar Jea?" kata Deonal kesal sekaligus malu.


Aku mau, orang yang melakukannya adalah orang yang aku sayangi! Batin Jea


"Maksudku, jangan dulu sekarang! masih ada waktu, aku belum siap walaupun hanya C*uman saja! " kata Jea


"Berarti besok-besok bisa kan! " Vren menggoda Jea


"Jea !!. Ayokk ikut aku!" Ajakan Vren


Jea mengikuti langkah kaki Vren mengajaknya, mereka singgah di penjual ice cream.


"Jea? kamu mau rasa apa?" tawaran Vren


"Rasa Cokelat!" suara Jea merespon


" Nona? disini itu tidak ada yang namanya rasa- rasa semacam gitu! tapi yang ada itu, rasa yang pernah ada, rasa manisnya jatuh cinta, rasa sakitnya cinta ditolak, rasa gagal move-on, rasa pahitnya hidup, rasa ditinggalin pacar, bahkan rasa pelakor ada nona. Tapi karena sepertinya kalian sedang dilandah kasmaran, aku kasih bonus untuk kalian berdua. Ini ambilah, kata penjual itu memberikan ice cream rasa manisnya jatuh cinta kepada Jea dan Vren.


Karena itu adalah gratis, Vren dan Jea tidak memaksa untuk membayarnya. Mereka berdua pun pergi ketempat semula.


Anak jaman sekarang, kalau gratisan langsung diterima. Seharusnya dia maksa aku untuk membayarnya! Ah sudahlah!!! Guman Penjual ice cream.


Dibangku itu mereka berdua kembali duduk seperti semula dengan duduk berdampingan.


"Ini kan, rasa coklat! kata Jea mencicipi ice cream nya.


Hahahaha.. " Penjual itu lucu deh!" kata Vren.


Rasa ice cream nya aneh-aneh semua!.


Jea dan Vren mengingat nama Ice cream itu tertawa silih bergantian.