
^\*Percayalah bahwa, meskipun disekelilingmu, pada membencimu bahkan mencemoohmu, ingat bahwa pasti masih ada salah satu dari mereka yang sangat mencintaimu! karena Tuhan tidak akan pernah membiarkanmu terpuruk oleh keadaan\*^
"Hiks..Hiks..Hiks.." Putri...? Putri..? Putri..? "aku minta maaf." Suara tangisan gadis kecil itu sambil terus memanggil-memanggil nama Putri.
Daun telinganya tiba-tiba merasakan sakit yang luar biasa. Jujur saja Jea begitu kaget, karena terlalu fokus dengan Putri, ia tidak menyadari kehadiran Tante Ana. Jea yang mulai takut mencoba membuka suara "Tante?"
"Brakk!!" suara tamparan Tante ana disalah satu pipi Jea. kamu itu yah, mirip Seperti ibumu yang tidak tau diri. Suara Ana yang semakin jengkel.
Jea hanya bisa menangis, sebenarnya Jea tidak paham dengan omongan tantenya yang mengatakan kalau dia dan ibunya adalah orang yang tidak tau diri.
(Maklumlah kagak ngerti, orang juga masih umur 4 tahun)
.
.
Flashback√
Suara kegaduhan rumah, serta teriakan mengelebung didalam rumah mewah itu. Barang-barang berjatuhan dan berserakan dimana-mana.
"Tony...? dengar papa kalau kamu tetap nekat nikah sama Perempuan j*lang itu, kamu silahka angkat kaki dari rumah ini, kamu tidak mendapatkan ahli waris dari papa, dan semuanya itu akan papa serakan kepada adik kamu Jeremy." Emosi Artono yang tak lagi terkontrol
"Tapi Pa..." Tony tidak bisa, sekarang Vercae sedang hamil anak aku, aku harus bertanggung jawab Pa." Suara Tony untuk menyakinkan Papanya, agar Papanya mengubah keputusannya.
Artono langsung melayangkan satu tamparan keras pada pipi anak sulungnya itu.
"Tony? pokoknya Papa tetap tidak akan merestui kalian berdua."
"Pa... pa.. Papa?" dengar Tony dulu, suara Tony yang terus berusaha membujuk Papanya.
"Tony? sudah diamm..!"
sudah puas kamu buat Mama dan Papa kecewa. Suara wanita yang dari tadi hadir ditengah-tengah mereka, tadinya dia hanya diam, tidak berani mengeluarkan sepatah kata pun, karena sejujurnya ia juga tidak berani.
"Tony? sekarang kamu sudah berani bantah orang tua kandung mu sendiri, gara-gara wanita j*lang itu, dengar baik-baik kalau kamu bersikeras menikahi dia, kamu akan menderita, kamu kan tahu kalau dia itu wanita miskin."
"Mama? Papa?"
Jangan hina Vercae dengan kata-kata seperti itu lagi, yang jelas bahwa meskipun Vercae punya masa lalu yang buruk, tapi dia juga punya sisi yang baik, dia begitu karena sebuah alasan.
Dan satu lagi, mulai hari ini, Tony akan pergi dari rumah ini, dan Tony akan tetap menikahi dia. Tony tidak bisa menerima hinaan dari Mama dan Papa, fasilitas yang papa berikan padaku, ambil saja. Seperti kata papa tadi saya akan pergi dari rumah ini dengan tidak membawa apa-apa.
Setelah mengucapkan kata itu, Tony pun langsung meninggalkan rumah orang tuanya.
.
Itulah alasannya, mengapa Jea dibenci oleh Kakek dan Neneknya sendiri.
.
.
Flashback on√
Jea terus menangis di sudut kursi, ia menyandarkan kepalanya pada lututnya. Orang-orang yang melihatnya sangat prihatin. ada yang beranggapan bahwa "seperti anak yang terbuang". Om Jeremy datang menghampirinya, hanya om Jeremy lah yang baik kepadanya.
"Jea? Putri kenapa bisa terjatuh?" tanya om Jeremy dengan nada lembut.
"om maafkan Jea, Putri hanya membantu Jea mengepel, terus Putri mengajakku bermain boneka, kami berdua ingin segera pergi, tapi tiba-tiba Putri terjatuh om, Jea juga tidak tahu kenapa yang jatuh hanya Putri, Jea tidak ikutan Jatuh Om." Jawab Jea dengan Polos
Jeremy tersenyum mendengar jawaban polos dari keponakannya itu.
"Om ? Maafkan Jea Om?" kata Jea lagi sambil tertunduk takut, pikirannya menyelimuti, apakah Om nya akan memarahinya, seperti yang telah dilakukan tantenya beberapa menit yang lalu.
"Jea sayang? Om tidak akan marah sama Jea, karena Om tahu Jea tidak salah, dan Om juga sangat sayang sama Jea. kata Om Jeremy
"Jadi Om tidak marah? dan Om Sayang sama Jea? Terimakasih Om Jeremy." Suara Jea beriringan dengan air matanya. Ia tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya ini.
"Om? aku mau peluk Om? tanya Jea kembali. Karena dari dulu, sebenarnya Jea merindukan sosok pelukan dari orang-orang yang menyayanginya, selama ini ia belum mendapatkan pelukan tersebut, tapi kali ini Tuhan berpihak padanya.
"Iya sayang, sini mendekat, biar Om peluk Jea" kata Om Jeremy agar Jea mendekat kepadanya. Keduanya Pun berpelukan, ada rasa kebahagiaan sendiri buat mereka.
"Om ? Kakek dan Nenek kemana?" tanya Jea sambil melepaskan pelukannya dari Om nya itu.
"Oo, iya, Om jadi lupa bilang, kalau Kakek dan Nenek Pergi Australia ada yang harus dikerjakannya. Mungkin bulan depan baru balik lagi kesini." "Kamu kangen yahh?" tanya om Jeremy kembali. Om Jeremy sesekali bercanda-gurau bersama Jea, karena ia tahu selama ini Jea jarang sekali merasakan kebahagiaan.
.
.
.
**Halo Readers 🤗
Jangan lupa, nyatakan dukungan terhadap Author dengan cara Vote, Like, dan Coment 🌻
Niscaya, Author akan berusaha untuk update tiap hari.
Saranghae 💋**