Jeanne Aleeza

Jeanne Aleeza
Benar-benar wanita murahan


Kedekatan Jea dan Vren melebihi keakraban tepatnya beberapa hari yang lalu Vren mengungkapkan perasaannya pada Jea. Jea tidak punya alasan untuk menolaknya, diawal pertemuan mereka memang Jea sudah menyimpan rasa terhadap Vren. Vren sesekali mengantar jemput Jea, begitupula dengan Deonal sering dibuat risih dengan kedekatan mereka. Terkadang Deonal sengaja menyibukkan Jea bahkan sering mencari cara agar Jea dan Vren tidak bertemu.


Namun selama beberapa hari ini pula, kesehatan Tony kurang membaik, membuat Jea sering bolos kerja tanpa seizin dari Deonal.


"Tuan? Kenapa sejak daritadi Tuan mengikuti saya?" kebingungan Jea terhadap Deonal yang memperhatikannya terus menerus.


"Aku hanya mengawasi Karyawan yang pemalas, yang hanya mementingkan pacar daripada pekerjaannya." Jawabnya sinis


Air mata Jea seakan ingin mengalir dipipi mulusnya. Mengapa Tuan Deonal tiap bertemu denganku, selalu mempermasalahkan hubunganku dengan Vren. Batin Jea


Deonal bingung dengan ekspresi dari wajah Jea. Kenapa anak ini sedih? apakah dia terlalu menyayangi pacarnya, sampai-sampai aku baru menyinggungnya sedikit, ia langsung sedih. tanyanya dalam hati


Saya memperingatkan kamu, jangan pernah bolos kerja atau melanggar aturan-aturan yang ada ditoko ini, apabila kamu melanggarnya, kali ini saya tidak akan mengampuni kamu! bentak Deonal melaju pergi meninggalkan Jea.


Belum seberapa menit, Deonal kembali muncul dihadapannya.


"Hp kamu mana?" suaranya mengeras


"Untuk apa Tuan?"


"Tidak usah banyak tanya," suara Deonal menghentikan suara dari Jea. Ia mendekati Jea dan membungkukkan wajahnya kepada wajah Jea hingga wajah mereka berpapasan. kemerahan dari wajah Jea terlihat jelas.


"Cepat kemarikan" bentak Deonal kembali


"Untuk apa Tuan?" tanyanya kedua kali


"Tidak usah banyak tanya!" kata Deonal.


Donal terpaku dengan wajah dihadapannya yang begitu gemas, bibir yang berwarna merah kejambuhan membuatnya ingin sekali melekatkan bibirnya. Karena tidak bisa menahan ia melakukannya dengan mencumbunya. Mata Jea terbelalak kaget namun rasa kenyamanan ada.


Deonal mendorong jauh Jea hingga membuat tubuh Jea hampir terpeleset jatuh, namun Deonal mencoba memopangnya hingga membuat tubuh mereka kembali menyatu. Deonal tidak melepaskan penyatuan itu, justru kembali ******* bibir merah jambu Jea.


"Jangan coba-coba merayuku, kamu akan terlihat murahan" Kata Deonal.


Tangannya memaksa merebut hp di saku celana Jea. Jea yang tidak menerima dengan perlakuan itu, ia ingin membalas namun ia tahu bahwa ia tiada bandingnya dengan Tuan Deonal.


Setelah berhasil mendapatkan hp Jea. Deonal melaju pergi kedalam ruangannya. Dengan adanya Hp ini, ia tidak akan lagi bolos kerja. Gumannya.


Didalam ruangan Deonal terganggu dengan deringan hp Jea yang hampir tiap detik berdering. Seulas senyuman diwajahnya untuk mengerjain Vren berniat untuk mengangkat panggilan telepon itu. Namun nama yang tertera dilayar Hp Jea bukanlah nama Vren melainkan nama lelaki lain.


"Jionn!" Lelaki siapa lagi ini! benar-benar wanita murahan. Gumannya


Dengan nama yang berbeda muncul dilayar hp Jea membuat Jionn mengurungkan niatnya untuk mengangkat suara panggilan itu.


.


โœ“


"Akhirnya aku bisa pulang!" Jea kegirangan.


Tidak sabar ingin cepat sampai untuk melihat kondisi papanya. Pikirannya teringat dengan Deonal yang telah menahan hpnya. Ia melangkah keruangan Deonal, namun Deonal tidak terlihat didalam ruangan itu. Meskipun Deonal tidak terlihat, namun hpnya sangat terlihat diatas meja Deonal.


"Jangan menyentuh barangku!" suara Deonal muncul dari dalam kamar mandi.


"Maaf Tuan!!" Saya ingin mengambil hp saya yang Tuan sita sejak daritadi!" suara Jea yang jengkel namun tetap menyembunyikan kejengkelannya itu.


"Hp kamu tetap aku sita, sebagai hukumanmu yang telah melanggar aturan disini." Kata Deonal penuh peringatan


"Tapi Tuan! mohon jangan dulu sita hpku, hp itu terlalu penting bagi saya Tuan!" kata Jea


Kenapa dia bersikeras untuk meminta hp nya kembali, apakah Vren terlalu penting baginya? guman Deonal


Seseorang menerobos masuk kedalam ruangan itu. "Jea? kenapa kamu terlalu lama?" tanya Vren yang begitu tergesa-gesa.


Ah.. ini bukan waktu pas untuk Jea mengetahuinya! Batin Vren


Vren menarik tangan Jea dan pergi dari tempat itu, tanpa menghiraukan pemilik Toko itu.


Ciihh!! Batin Deonal merasa kesal


Sepanjang perjalanan, wajah Vren menampakkan kekwatiran. Jea yang merasa aneh dan sangat bingung serta ikut terbawah panik.


"Vren? ada apa? mengapa kamu terlalu panik?" tanya nya sambil memperhatikan wajah Vren


"Jea? ini bukan saatnya untuk banyak tanya?" suara ketus Vren


"Tadi Jionn berusaha menghubungi nomormu, bahkan ketika saya menghubungi mu, hp mu dalam nonaktifkan." kata Vren dengan jengkel seakan meminta penjelasan


Jea ingin segera mengubris pertanyaan dari Vren, namun mereka sudah sampai dirumahnya. Jea dibuat bingung dengan orang-orang serba berpakaian hitam berkumpul di pelataran rumahnya, bendera hitam ikut terpampang didepan rumahnya.


Jea berlari masuk kedalam rumahnya, Vren mengikutinya dari belakang.


"Jionn? ini ada apa?" tanya nya sedih seakan sudah mengerti, namun mencoba bertanya kembali untuk mengecek kepastian.


"Kakak..? kenapa baru datang? ini semua gara-gara kakak, coba kakak mengangkat telfon ku, mungkin saja Papa tidak akan meninggal." Katanya kecewa.


Tulang Jea seakan remuk seremuk-remuknya, tubuhnya sangat lemas, mulutnya seakan tidak lagi mengeluarkan suara. Suara tangisannya menyelimuti ruangan rumahnya.


"Papa dimana?" tanya Jea mencari tubuh Papanya dibaringkan.


"Papa sudah dikuburkan tadi siang!" kata Jionn menjawab


Jea tambah menangis sejadi-jadinya, ia membenci dirinya sendiri, kelemasan tubuhnya tidak terkontrol lagi, hingga membuatnya jatuh pingsan.