
Dua minggu telah berlalu, dua pria muda yang sebelumnya terbaring lemah pada rumah sakit yang sama sudah dinyatakan sadar. Vren Cakrawala kembali menjalankan aktivitasnya. Pria muda yang satunya, yang selalu dirahasiakan namanya oleh Lenata, juga telah sadar dari komanya. Namun kejiwaannya belum sepenuhnya sembuh. Hal itu yang membuat Lenata merasa sedang dan tidak perlu takut.
Hari ini, Vren menjumpai Jea untuk melepaskan kerinduannya yang terpendam selama beberapa hari ini. Ia segera menghampiri Jea yang berada dalam Toko tempatnya kerja.
"Jea" panggilnya begitu kegirangan
"Vren? Kenapa? ada perlu apa? balasan Jea menatap kesal Vren
Ia masih kesal dengan perilaku Vren seminggu yang lalu, bisa-bisanya ia meninggalkannya begitu saja! parahnya lagi Vren sama sekali tidak pernah mengabarinya.
"Aku ada perlu dengan mu Jea." Jawaban Vren melihat ekspresi aneh dari Jea.
"Alee? ini waktu kerja, bukan waktunya untuk pacaran! teguran dari jauh namun sangat terdengar ditelinga Jea dan Vren.
Lagi-lagi Vren dibuat kesal dengan kehadiran Deonal yang merusak mood niatnya untuk mencari tahu, alasan dari Jea yang telah meninggalkan rumahnya begitu saja.
"Jea aku pamit dulu! Besok pagi aku jemput kamu!" sesuai bicara seperti itu Vren lalu pergi keluar.
Deonal yang mendengar ucapan terakhir dari Vren kepada Jea membuatnya kesal.
"Alee? kamu besok bantu aku, buat antarin pesanan ini dijalan XXX."
"maaf Tuan! sepertinya saya tidak bisa! dan bukannya besok adalah hari libur bagi kami Tuan." Penolakan dari Jea
"Yah sudah, tidak usah!" balasan singkat Deonal dan melaju pergi dari hadapan Jea
.
.
.
โ
Wow... Pagi yang begitu indah! Kata Jea memandang langit-langit pagi, yang terlihat matahari sedang memancarkan sinar-sinar kecerahannya. Sambil menikmati udara pagi dan terik-terik matahari yang begitu segar menurutnya. Ia membersihkan halaman depan rumahnya, sambil sesekali ia bernyanyi.
Suara motor yang mendekat kearahnya, membuatnya menghentikan aktivitasnya.
"Vren??" Suaranya sambil melirik Vren yang sedang senyum-senyum kearahnya.
"Vren? kenapa begitu cepat? kan jalannya bisa sore?" tanya nya heran
"Jea..?" kalau pagi, pemandangan-pemandangan yang ada ditaman kota itu masih segar dan masih sedikit pengunjung. kata Vren
Jea mengangguk mengerti, ia sudah mengetahui kalau Vren tidak terlalu nyaman dengan keramaian. Jea meminta kepada Vren untuk menunggunya sebentar saja, sesuai Jea bersiap-siap. Dua pemuda-pemudi ini melanjutkan langkahnya melaju pergi ke taman kota.
.
.
.
.
โ
Disisi lain, Mountaise akhir-akhir ini hoby keluar bersenang-senang, sebenarnya hanya untuk menetralkan pikirannya saja, ketika di rumah pikirannya terlalu menekannya hingga membuatnya hampir depresi. Jetika orang yang baru melihatnya menganggapnya bahwa ia masih pria yang lajang. Wajahnya yang baby face, umurnya yang belum terlalu tua, tubuhnya yang atletis membuat wanita akan tergila-gila padanya. Kehidupan yang sebelumnya juga hobby bersenang-senang, namun karena orang tuanya bersikeras untuk menjodohkannya dengan wanita yang bernama Mera, akhirnya ia menikah diusia yang muda.
Suara dari dalam perut nya membuatnya berhenti disebuah kafe ternama. Ia masuk dengan balutan kaca mata hitam dikepalanya. Tiba-tiba seorang perempuan muda menabraknya.
"Maaf Tuan!" suara kepanikan wanita itu
"Tidak apa-apa!" kata Mountaise
"Tuan, sebagai permintaan maaf ku, biar aku saja yang mentraktir Tuan. ajakannya
Dengan tanda setuju, mereka akhirnya pun berdua makan bersama-sama.
"Maaf? nama kamu siapa? tanya Mountaise
"Putri Tuan!" jawabnya malu-malu
"Kamu tidak usah memanggilku Tuan, panggil aku saja Moun!"
Dari pertemuan dan perkenalkan itu, membuatnya saling akrab, kecangguan diantara keduanya sama sekali tak nampak.