Jeanne Aleeza

Jeanne Aleeza
Apakah urusannya lebih penting?


"Vren?? Kita akan kemana sih?"


Pertanyaan Jea yang merasa heran dengan Vren, sedari tadi Vren mengajaknya tanpa memberitahunya terlebih dahulu tempat dan tujuannya kemana.


"Vren..?" Suara kesal Jea, pertayaan pertamanya tanpa direspon oleh Vren


"Jea? Tolong diam dulu, aku kan lagi fokus menyetir!" Kata Vren


Jea pun ikut terdiam dari penuturan kata-kata yang dikeluarkan oleh Vren yang menyuruhnya untuk diam sementara waktu.


Kurang lebih setengah jam mereka berdua pun segera turun dari mobil yang telah ditumpanginya.


"Wow!" Suara Jea takjub


"Tapi Vren kita ada dimana?" Tanya Jea bingung dengan keadaannya sekarang.


"Kalau sekarang kita ada dirumahku." Jawab Vren


Jadi Rumah yang begitu indah dan besar ini adalah rumahnya Vren! Guman Jea


Vren mengandeng tangan Jea untuk masuk kedalam rumahnya. Orang-orang didalamnya tunduk memberi hormat kepada mereka berdua. Jea merasa tidak enak dengan perlakuan itu.


"Jadi ini calon nyonya muda?"


"Lumayan cantik sih"


"Sepertinya dia kampungan deh, liat saja dia sangat gugup masuk dalam rumah Tuan muda.


Suara itu merupakan suara bisik-bisik dari para pekerja rumah Vren.


Vren sama sekali tidak mendengarnya, karena Vren baru saja meninggalkan ruangan itu. Setelah Vren pergi, barulah para pekerja itu mulai memperlihatkan ketidaksukaan mereka pada Jea.


Aku tidak boleh gugup, sekalipun sejujurnya aku baru pertama kali masuk dalam rumah yang sebesar ini. Batin Jea


"Maaf nyonya? Silahkan duduk di ruang tunggu yang dikhususkan untuk orang spesial tuan muda. kalau nyonya masih disini terus, bisa-bisa para wanita itu akan menghujat Anda." Suara wanita paruh baya yang menghampirinya.


"Baik Buk." Jawab Jea


Ternyata ibu ini dan wanita tadi itu sepertinya mereka tidak memiliki kecocokan. Tapi Vren kenapa seenaknya meninggalkan aku begitu saja. Gumamnya


Tidak mau pikir panjang mengenai Vren, Jea langsung segera ketempat yang telah ditunjukkan oleh wanita paruh baya tadi.


.


.


Disisi lain Vren begitu cemas, bagaimana tidak ia baru masuk kedalam rumahnya. Tiba-tiba saja suara pesan masuk menghentikan langkahnya untuk mengajak Jea makan siang bersamanya.


"Halo? Tolong jangan sampai ibu saya mengetahui alamat rumah saya sekarang." Suara Vren menelfon seseorang.


"Tapi Tuan? Ibu Anda sekarang sudah mengetahui tempat tinggal anda! tadi sebenarnya beliau ingin berkunjung, tapi saya menghalanginya. Namun ada yang janggal tuan biasanya Nyonya besar bersikeras, namun kali ini tidak." Suara dari lawan bicara Vren


"Baiklah! Kamu terus awasin Ibu saya jangan sampai dia kemari, apalagi ketika saya membawa wanitaku." Kata Vren memperingatkan


"Ahh.. Mungkin itu masalah yang lama, dengan lelaki tua Mountaise itu." Kata Vren tidak mau ambil pusing


"Tapi Tuan? ini lebih aneh dari sebelumnya, Nyonya besar kan selama ini ketika ingin berjumpa dengan Pak Mountaise, ia tidak pernah pergi secara diam-diam." Kata orang itu lagi.


"Ahh! Sudahlah! Kamu mengganggu saja waktuku." Kata Vren mematikan panggilan telfonnya


Vren kembali ingin menjumpai Jea, namun ketika sampai di ruang tamu, matanya sama sekali tidak menemukan sosok wanita yang ada dipikirannya.


Kemana dia. Gumamnya


"Bona? Kamu liat kemana wanita yang tadi?" Tanya Vren kepada salah satu wanita pembantunya itu.


Tadi kan wanita itu dibawah oleh bibik Amon. Tapi aku tidak tahu kemana. Ah aku punya ide, aku bilang saja kepadanya kalau wanita itu sudah pulang. Guman Bona


"Oh itu tuan, kami tadi menyuruh nyonya muda untuk duduk disini. Tapi dia menolak karena tuan telah meninggalkannya. Terus tuan, bibik Amon juga tadi mengizinkan nyonya muda itu untuk pulang, kami mencoba untuk menghentikannya, tapi dia tetap bersikeras untuk ingin pulang tuan.


Maafkan kami Tuan." Kata Dona pura-pura meminta maaf


Hahaha.. langsung deh dua yang terjerumus..


Mampuslah kau Bibik Amon dan wanita j*lang itu. Batin Bona senang.


Satu lagi Tuan, tapi nyonya muda mengatakan kalau Tuan mencarinya langsung saja tuan menemuinya di Rumahnya. Kemungkinan, Tuan masih dapat menemukan nyonya itu disekitaran jalan. Kata Bona


"Tapi Jea orangnya tidak seperti itu!" Kata Vren merasa ada yang aneh dengan Bona


"Aku juga tidak tahu tuan, tapi kemungkinan itu bisa saja terjadi karena saat tuan baru tiba dirumah ini, tuan langsung meninggalkannya begitu saja. Mungkin dia jenuh tuan." Kata Bona menyakinkan bosnya itu.


Kata-kata Bona ada benarnya juga. Batin Vren


Mendengar kata-kata yang Bona ucapkan Vren langsung berlari keluar mengendarai mobilnya. Ia mengendarai mobil dengan begitu pelan-pelan sehingga ia lebih mudah menemukan Jea di jalan.


Angry!! Jea kemana, sudah sejauh ini saya melintas belum juga menemukan dirinya.


Kurang lebih setengah jam Jea masih duduk terpaku menunggu seseorang yang tak kunjung datang. Ia mulai merasa panik dan jenuh. Untuk menghilangkan rasa jenuhnya ia terpaksa meninggalkan ruangan itu dan menuju tempatnya yang semula ketika ia datang.


Ia melihat Bona yang sedang membersihkan kaca-kaca jendela. Ia pun beranjak menghampirinya.


"Mbak?? Tuan Vren kemana yah, dari tadi aku menunggu, tapi belum juga menghampiri saya." Kata Jea.


"Oh itu, Tuan muda tadi langsung pergi meninggalkan tempat ini, katanya ada urusan yang lebih penting." Kata Bona tersenyum sinis


"Kalau nyonya muda tidak percaya coba saja keluar, diparkiran sudah tidak ada mobil tuan muda yang terparkir." Suara Bona mencoba memanasi Jea.


"Baiklah Mbak! Kalau gitu aku pamit dulu."


Dengan segera Jea berjalan keluar, memang betul matanya sama sekali tidak menemukan mobil Vren terparkir disana.


Apa urusannya itu sangat penting! Gumamnya


Jea beranjak pergi meninggalkan rumah Vren itu. Astaga! Ini jalan apa? Kenapa jarang sekali mobil yang melintas, tak ada satupun taksi yang melaju disekitaran sini. Pikiran Jea mulai aneh-aneh.