Jeanne Aleeza

Jeanne Aleeza
Kenapa aku gugup


Disisi lain seorang pria dengan perawakan yang cukup atletis menampakkan wajah yang begitu cemas, ia sudah berusaha mencarikan dokter terbaik untuk merawat seorang pemuda yang sedang terbaring lemah dihadapannya. Suara dorongan pintu dari luar membuatnya menoleh begitu semangat.


"Lenata...? Sepertinya usaha kita sia-sia, pemuda ini sepertinya sangat sulit untuk sadar!" Suara pria ini membuka suara terhadap orang yang sedang menuju kearahnya itu.


"Jhonny? Bagaimana pun caranya, kamu harus berusaha untuk membuatnya sadar! Kita tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini.!" Kata Lenata


"Aku punya usul kalau sampai disini saja kita memberinya pelajaran, kembalikan saja pemuda ini kepada keluarganya, setidaknya kita berhasil membuat mereka sangat terluka akan hal ini." Kata Jhonny


"Jhonny.. Jhonny..!! Kamu bodoh yahh! Kalau kita kembalikan anak ini kepada keluarga Mountaise. Mereka akan berusaha membuatnya sembuh total. Dan bisa saja Mountaise melaporkan kita ke polisi!" bantah Lenata menolak keputusan Jhonny


"Kita ancam saja keluarga Mountaise itu dengan sebuah syarat" Kata Jhonny kembali


"Baru beberapa hari saja, saya menyuruh kamu mengawasi anak ini ternyata efeknya sangat membuat kamu makin bodoh! Kamu punya otak, tidak? Kalau kita mengancam Mountaise, kamu tidak tahu kalau dia punya anak yang bisa melakukan segala cara untuk membunuh kita!" Kata Lenata kesal


"Tapi Lenata?"


"Stop! Jangan coba merasuki pikiran saya dengan keputusan kamu yang tidak jelas itu. Suara Lenata menghentikan Jhonny." Jhonny yang mendengarnya pun langsung menutup mulutnya. Ia takut mengeluarkan sepatah kata pun karena kakaknya akan pasti makin marah padanya.


"Tapi tunggu! yang kamu katakan tadi ada benarnya juga, kita kembalikan saja anak ini kepada Mountaise. Sekarang kita tidak cukup memiliki uang untuk membayar semua biayanya selama pengobatannya.! Suara Lenata kembali, setelah berfikir matang-matang


"Apa gunanya minta sama anak kamu? Percuma punya anak seorang Ceo, kalau kamu sendiri tidak bisa menikmati uangnya!" Kata Jhonny


"Kamu jangan terlalu bodoh, kalau saya menggunakan uang anak saya, nanti dia akan curiga dengan perbuatan kita!


Kamu itu bagaimana, tadi kamu yang terlalu semangat untuk membujuk saya mengembalikan anak ini kepada Mountaise, tapi sekarang, kenapa kamu sepertinya tidak setuju lagi! Suara Lenata bingung dengan tutur kata yang dilontarkan oleh adiknya itu.


"Ah sudahlah! Kita Jangan berdebat lagi! Kapan kita akan membawahnya pulang kerumah Mountaise?" Tanya Jhonny


"Kita tunggu sampai besok! Panggilkan Anak buahmu untuk membawahnya pergi.


Sesuai percakapan mereka berdua, Lenata pun meminta pamit untuk pulang dan menghampiri kediaman anaknya.


โˆš


Didalam mobil kegugupan pun muncul kembali, tidak ada yang berani untuk memulai percakapan. Masing-masing mencoba untuk mencari topik pembicaraan, tapi keduanya sepertinya sama sekali tidak menemukan kata-kata apa yang pantas untuk diungkapkannya dengan suasana yang seperti ini.


"Tuan..? Terimakasih telah mengantar saya!" Kata Jea memulai pembicaraan


"Kamu jangan dulu mengucapkan kata-kata itu, kalau kita sudah tiba dirumah kamu, barulah boleh kamu mengatakan itu." Suara Deonal menyembuhkan senyum-senyum tipis diwajahnya.


Tuan! sebenarnya aku ngomong begini untuk menghilangkan rasa kekakuan yang terjadi pada saat ini. setidaknya Tuanlah yang memulai pembicaraan dulu. Seorang Pria lah yang harus berani membuka suara terlebih dahulu kepada wanitanya. Dalam hati Jea yang tidak berani mengungkapkan betul dengan keras kata-katanya ini.


Tapi kenapa aku gugup? tanyanya kembali dalam hati


"Aku hanya ngomong ini duluan Tuan, soalnya aku salah satu wanita yang sering lupa. Takutnya aku turun dan aku lupa untuk mengucapkan terimakasih Tuan!" kata Jea menghilangkan rasa kegugupannya


Deonal belum sempat untuk mengubris kata-kata dari Jea, dikarenakan mereka telah sampai tepat didepan rumah Jea.


"Aku turun dulu Tuan," pamit Jea


Tanpa jawaban sedikit pun, Deonal langsung menancapkan gas mobilnya melaju pergi dari halaman rumah Jea. Ditengah perjalanan mobilnya tiba-tiba mogok. Dengan terpaksa ia turun dari mobil untuk memeriksaknya, yang sebenarnya ia sangat enggan untuk melakukannya. Sebenarnya selama ini apabila mobilnya mengalami kemogokan bukan ia yang menservisnya langsung, tetapi adik yang disayanginya itu. mengingat hal itu, ia kembali bersedih dan menendang bagian depan mobilnya sebagai bukti kekesalannya yang terjadi selama ini.