
Ketika hari menjelang sore Vren dan Jea memutuskan untuk kembali pulang, Vren mengantarkan Jea lebih dahulu. Sesuai mengantarkan Jea, ia menyempatkan dirinya untuk mengunjungi rumah Ibunya.
Malamnya Jea membuatkan hidangan makanan pada adiknya.
"Jion? " Suaranya memanggil Jion agar segera keluar dari dalam kamarnya.
Jea terus memanggil-manggil nama Jionn, namun suara yang dipanggilnya sama sekali tidak terdengar suara balasannya.
Jion keluar dari dalam kamarnya, mengucek matanya sesekali mulutnya menguap. "Kakak? "kenapa berteriak, sangat menganggu istirahatku! " Katanya sambil melangkah menuju meja makan
"Makan malam dulu," kata Jea sambil menaruh makanan dipiring Jionn
"Kakak maaf? " kata Jionn meminta maaf pada kakaknya.
"Sudahlah, aku sudah maafkan! " kata Jea balik
"Kakak? tahu tidak sepanjang hari itu aku bertapa." Apakah memaafkan kesalahan kakak atau justru meminta maaf pada kakak! Suara Jionn meledek.
Mendengar itu Jea menjitak kepala adiknya.
"Sekarang kita hanya berdua lagi, kita harus saling menyanyi! " kata Jea beranjak berdiri memeluk adiknya.
Paginya Jea agak bermalas-malasan bergerak, terpaksa hari ini ia menunda lagi pekerjaannya. Suara motor dihalaman rumahnya sangat terdengar dengan jelas. Jea yang sudah hafal dengan suara itu ia pun segera menghampirinya.
"Jea? " suara Vren yang nampak kebingungan dengan pakaian yang digunakan oleh Jea pagi ini.
"Kok pakaian kamu ini? kamu nggak kerja lagi?" pertanyaan yang dilontarkan oleh Vren
"Salahnya dimana?" kata Jea
"Cuman aku bingung aja, atau kamu tidak masuk kerja lagi?" tanya Vren
"Aku lagi malas ketemu Tuan Deonal! " kata Jea
"kamu diapakan oleh Deonal? " Tanya Vren geram mendengar nama Deonal disebut oleh Jea
Aku hampir saja kecoblosan! batin Jea
" Maksud aku! Deonal itu kan jahat, jadi aku malas ketemu dengan dirinya lagi! " kata Jea mencari alasan tanpa berani memandangi wajah Vren
Ada apa dengan Jea! Batin Vren curiga
"Vren? kita jalan lagi yah? " kata Jea menghindari pembahasan mereka
Terpaksa aku harus mengajaknya jalan, namun entah kenapa hatiku rasanya sangat tidak bahagia, ketika harus jalan bersamanya. Guman Jea
.
.
.
.
โ
"Shasa? apakah hari ini dia tidak masuk lagi?"
Kata Deonal penasaran
"Sepertinya tidak Tuan, karena tidak biasanya Jea terlambat dijam seperti ini. Terus aku mencoba menghubungi nomor hp Jea, namun nomornya dari kemarin tidak pernah aktif Tuan!" Shasa mencoba menjelaskan dengan radah ketakutan
Ah! bagaimana dia mau mengangkat telepon nya, sedangkan hpnya sendiri telah saya sita! Guman Deonal
"Buatkan surat pemecatan untuknya! " Suara penegasan Deonal
"Tapi Tuan?" Shasa mencoba membuka suara
"Kamu mau ikutan dipecat! " katanya penuh penekanan.
"Baik Tuan!" suara Shasa tanda setuju
Deonal melampiaskan kekesalannya hari ini dengan pergi kecafe. Ia melangkah masuk, namun tiada satupun bangku yang terlihat kosong. Matanya terarah pada bangku paling pojok. Malas berdiri terlalu lama, ia pun menuju bangku itu. Namun belum sempat ia mendudukkan tubuhnya di bangku itu, sepasang kekasih mendahuluinya terlebih dahulu.
Tinjuan pun melayang pada tubuh Vren. Emosi Deonal tidak terkontrol ditambah lagi dengan melihat kedekatan Vren dan Jea.
Tidak terima, Vren melayangkan pukulan balik pada Deonal, namun Jea menghalanginya sehingga pukulan itu mengenai Jea.
"Jea? Kenapa kau menghalangi ku? Kata Vren
Kemudian membantu Jea untuk dibawahnya duduk di bangku.
"Vren? lihat kesana! banyak orang yang memperhatikan kita, kalau aku tidak menghentikan kalian, takutnya kalian nanti harus berurusan dengan polisi. Aku tidak bisa melihatmu di jeruji besi. Kata Jea sambil melihat kearah sekitar.
.
.
.
.
โ
" Lenata? Freonal menghilang dari rumah sakit XXX! kata Jhonny
" Bodoh kamu Jhonny! Anak gila saja kamu tidak bisa menjaganya. Apa aku harus perlu berpura-pura seperti kamu. Kata Lenata
"Maksud kamu? " Jhonny meminta jawaban dari Lenata mengenai berpura-pura.
Kamu kira aku bodoh sepertimu, aku tahu kalau selama ini kamu tidak mengawasi anak gila itu sesuai perintahku, kamu selalu membayar suster untuk membohongiku. Jangan macam-macam dengan diriku atau wanita mu akan ku buat menderita. Kata sinis Lenata
Ternyata kamu sudah tahu semuanya, jangan coba-coba mengancamku atau aku membongkar semua kejahatan mu pada Deonal Mountaise. Suara Jhonny memberi cengkraman pada Lenata.
Prakk! Suara tamparan dari Lenata.
Berani-beraninya kamu mengancamku!
"Kamu yang duluan mulai mengancamku, jangan pikir aku bodoh Lenata! "penekanan dari Jhonny
Oke! aku minta maaf! suara permintaan maaf dari Lenata, masih was-was dengan ancaman adiknya sendiri.
Terpaksa aku harus bersandiwara dengannya, meskipun kamu adalah adikku sendiri, tapi ketika kamu mencoba menggagalkan rencanaku, tidak segan-segan aku membunuhmu! Batin Lenata membara-bara
Sebenarnya aku ada berita penting, tapi karena kamu membuatku emosi, mungkin lain waktu aku akan memberitahu mu! Kata Jhonny
" Aku sudah meminta maaf!" kata Lenata
Kamu masih saja menganggapku bodoh, kamu pikir permintaan maaf mu itu ikhlas. Oh Tidak! kamu terlalu bodoh untuk membohongiku! Kata Jhonny membaca raut wajah Lenata
Dasar! Apakah kebodohan nya betul-betul menghilang! guman Lenata
Baiklah aku transferkan kamu uang, sebagai permintaan maaf saya! kata Lenata menyembunyikan kekesalannya.
Oke fix! sebenarnya aku cuma mau mengatakan kalau anakmu itu sekarang telah memiliki kekasih. Dan kekasihnya itu sepertinya memiliki hubungan dengan Deonal. Kata Jhonny
"Kamu tahu darimana? Tanya Lenata
Kemarin waktu aku singgah di Kafe xxx, aku melihat perseteruan antara Vren dan Deonal, dilihat dari tingkahnya sepertinya mereka berdua menyukai gadis itu.
.
.
.
.
.
.
**Hallo Readers ๐ค Tidak lupa Author selalu ngingatin untuk selalu nyatakan partisipasi atau dukungan dengan cara Koment, Vote, like dan Favorit ๐ค
Terimakasih semua ๐
.
.
Apapun unek-unek dari kalian, Author tunggu๐คAuthor harus banyak belajar ๐๐**