
Dikediaman Tony, Jea masih merasakan kesedihan atas kepergian Ibunya beberapa bulan yang lalu. Bagaimana tidak baru saja ia merasakan betapa bahagianya berada di dekat orang-orang yang mengasihaninya.
.
Rasa iri, pernah Jea rasakan.
√Flashback
Akhir-akhir ini, Jea masih dilanda kesedihan, otak dan pikirannya seakan-akan dipenuhi oleh beban. Mungkin dengan pergi ke taman kota, kesedihannya akan menghilang. Ditaman Jea sangat bersyukur, rasa sedihnya seakan menghilang. Seorang wanita berumur bersama dengan anaknya. Datang, lalu duduk berada didekatnya. Jea memperhatikan gadis itu, namun tiba-tiba saja gadis itu menangis. (sepertinya gadis itu sedang curhat, ia berbagi masalahnya kepada ibunya). Seketika itu juga, Ibu gadis itu langsung memeluk gadis itu. Tidak lama kemudian, mereka bercanda-gurau, sambil tertawa bersama, dan saling menebarkan senyuman satu sama lain.
Ya Ampun! kapan yahh, Aku merasakan hal ini. Seumur hidup, aku belum pernah curhat dengan ibu. Aku tidak tahu, bagaimana rasanya, ketika seorang ibu merespon anaknya. (bagaimana pun, yang dibutuhkan oleh seorang anak ialah dukungan dari Ibu). Sekarang aku butuh Ibu. Batin Jea yang kembali mengingat Ibunya.
Karena Jea tidak tahan, melihat pemandangan itu. Iapun segera meninggalkan tempat itu.
√Flashback On
.
Jea masih termenung. Ya, Tuhan, aku harus apa, Papa sekarang tidak punya pekerjaan, ditambah lagi Jionn yang masih dalam bangku sekolah (SMA). Umur ayahnya yang sudah mencapai kepala empat. Dan sering sakit-sakitan akibat belum ikhlas nya menerima kenyataan, kalau istrinya sudah tidak berada didunia ini. Papanya dengan kondisi seperti ini, pastilah sangat susah untuk mendapatkan pekerjaan lagi. Ah, aku harus bisa mencari pekerjaan, guman Jea yang antusias. Ia sudah tidak sabar pergi mencari pekerjaan. Entah pekerjaan apa saja yang ia dapatkan, yang penting dapat memenuhi kebutuhan keluarganya.
.
Aku harus mencari ijazah SMA ku, aku lupa Almarhum Mama menyimpannya dimana. Nanya Papa tidak yah, aku takut, kalau aku bertanya tiba-tiba penyakit Papa kambuh lagi.
(Memang selama ini, Papanya kadang marah-marah terus, atau diam seharian penuh. banting-banting barang apa saja yang ada dihadapannya)
Jea ingin membawanya ke Psikiater, namun ia tidak memiliki cukup uang untuk membayar pengobatan itu. Jadi niatnya yang itu ia tunda dulu.
Pikiran Jea yang mulai karuan.
"Ah, Jionn sini??" Kata Jea memanggil adiknya, yang secara kebetulan lewat.
"Ada apa kak?" Jawab Jionn
"Kamu tahu tidak? Semua berkas-berkas penting disimpan dimana." Tanyanya kembali
"Kakak mau jual rumah yahh, ngapain nyari berkas-berkas penting?" Tanya Jionn yang heran.
Jea yang mendengarnya langsung memukul kepala adiknya itu. "Dasar bodoh, kalau kakak jual rumah, kita akan tinggal dimana."
"Terus kakak nyari berkas-berkas itu untuk apa?" Tanya Jionn yang penasaran terhadap kakaknya.
Kakak mencari ijazah itu, karena kakak ingin mencari pekerjaan. "Kamu tahu tidak, tempat penyimpanan berkas-berkas itu?" Tanya Jea kembali
"Ooooo itu, bilang dong, makanya kalau ngomong itu diperjelas." Kak? Kalau tidak salah, itu di kamar Papa deh, terus kuncinya itu di dalam laci meja." jawab Jionn yang memberi petunjuk.
.
.
Yeyeyeye Aku mendapatkannya. Suara Jea yang kegirangan.
"Jea? Apa yang kamu lakukan?" Suara Tony yang sedikit keras
"Papa? Maafkan Jea Pa." Jea hanya ..
Belum selesai menjelaskan, Papanya langsung memotong ucapannya.
"Jadi kamu yah, berani-beraninya masuk kamar Papa tanpa izin, menyusup seperti maling. Jangan mentang-mentang Papa tidak pernah memberikan mu uang, jadi kamu mau curi uang Papa." Kata Tony yang Marah
"Tidak Pa," Aku hanya mencari ijazahku yang disimpan didalam lemari ini. Sumpah Pa' Jea sama sekali tidak berniat mencuri." Jawab Jea yang mulai ketakutan
Tony langsung menghampiri Jea dan mengangkat tangannya, lalu Memeluk anak pertamanya itu. "Sayang? Maafkan Papa Nak," Papa sekarang tidak berguna lagi. Suara dari Tony
"Jadi Papa tidak marah sama Jea?" Tanyanya kepada Papanya itu.
"Astaga Jea!" Papa sama sekali tidak marah Nak."
Nak? Ijazah itu mau kamu apakan?" Tanya Tony
"Gini Pa' Jea ingin mencoba mencari pekerjaan, Jea bosan tinggal dirumah, Jea ingin melihat suasana luar sana Pa." Kata Jea berharap agar Papanya tidak tersinggung.
Baiklah Nak' Papa akan selalu mendoakan mu." Kata Tony yang mendukung anaknya.
.
.
Jea keluar dari kamar itu, dan melihat kearah jam tangannya. Sepertinya ini belum terlalu siang untuk mencari pekerjaan.
Jea pun segera bersiap-siap untuk pergi.
Sepanjang hari Jea terus menyusuri kota itu mencari pekerjaan.
Pokoknya hari aku harus mendapatkan pekerjaan. "Yah Ampun kenapa aku mencari pekerjaan disekitaran sini, ini kan semua tentang perusahaan, mana mungkin ada yang mau menerima aku yang hanya lulusan SMA."
Batin Jea.