
Setelah Jea benar-benar turun dari posisi tempat duduknya, Vren tidak lupa mengucapkan kata pamit, namun dengan sedikit paksaan senyuman yang tersirat di wajahnya. Ia kembali menghampirinya kediaman rumah mama nya.
" Mau apa lagi kau kemari? " tatapan tajam dari Lenata menatapnya dari kejauhan.
" Ma...!
Vren mengeluarkan suaranya dengan kaki yang melangkah mendekat kearah tempat Lenata berdiri.
" Untuk apa kau memanggilku dengan sebutan Mama lagi? " Lenata tidak mengindahkan tatapannya itu, ia masih berdiam diri untuk menatap tajam Vren yang berada tepat di hadapannya.
" Ma? dengar Vren dulu! "
Vren menggenggam lembut tangan jemari mama nya.
" Apa? " kata Lenata dengan ketus
" Ma! tadi Vren tidak benar-benar melawan mama, aku hanya sengaja melakukannya itu sehingga Jea tetap memandangku dengan baik. Tapi katakan padaku, apa saja yang telah dilakukan pada Mama? "
Bagus, dengan begitu dia akan meninggalkan wanita itu ! Gumamnya senang
" Wanita itu telah bekerja sama dengan Deonal menganggu Mama. Yang pernah kamu liat mama terbaring sakit itu semua sebenarnya adalah ulah dari perbuatan mereka. Aku tidak mau kamu jatuh kedalam rencananya mereka! Lenata pura-pura menampakan wajah sedihnya.
Ternyata ini ulah Deonal dan Jea, pantas saja ketika saya bersama Jea, Jea tidak pernah terlihat bahagia. Awas saja Kau Deonal! Gumamnya marah
Vren selalu dibutakan oleh kata-kata Lenata. Kasih sayangnya yang berlebihan, sehingga selalu menganggap perbuatan mama nya adalah benar
" Sayang? kamu tidak boleh mengungkapkan identitas kamu dulu! tunggu saatnya, bantu mama untuk membalaskan dendam pada keluarga Deonal!" Kata Lenata
" Baik Ma! aku akan melakukan setiap perintah mama" Vren menjawab dengan senyuman
Bagus! sekarang Vren ada dipihakku! gumamnya yang begitu senang
.
.
.
Ketika Vren tidak terlihat lagi, Jea diam- diam pergi ke toko Tuan Deonal. Ada rasa rindu pada tempat ini! Gumam Jea.
Shasa yang melihat seperti mengenal seseorang wanita yang terus berdiam diri, tanpa berani masuk. Dengan segera ia menghampirinya.
" Jea? " panggilan dari Shasa yang begitu senang, Shasa berlari dan memeluknya.
" Kenapa kau baru muncul? kemana saja kau selama ini? " Shasa melepaskan pelukannya, dan mengeluarkan setiap pertanyaan pertanyaan yang sedari dulu mengganjal dipikirannya.
" Maaf Shasa!"
Beberapa hari yang lalu, aku mengalami duka. Papa ku telah meninggal! Rasa sedih yang ditampakkan oleh Jea ketika mengingat Papanya Tony.
" Apa? maaf ! "
Shasa tidak berani lagi, menanyai tentang bagaimana bisa Papanya Jea meninggal secepat itu, ia tidak mau membuat sahabatnya itu sedih.
" Kenapa tidak mengangkat telfon ku! "
"Hp aku di sita oleh Tuan Deonal. "
Kata Jea menahan agar air bening itu tidak menetes keluar, Namun apalah daya Jea, ia juga manusia yang lemah, menangis baginya sangatlah susah ia tahan.
Shasa semakin heran, niatnya untuk mengalihkan pembicaraan sehingga Jea tidak sedih, tetapi justru dibuatnya makin bersedih. Shasa langsung memeluk Jea dengan erat, ada perasaan tidak sanggup memberitahukan kepada Jea yang sebenarnya, bahwa Jea saat ini telat dipecat. Dan saat ini pula surat pemecatan itu ada di diri Shasa.
Sedari tadi Deonal memperhatikan mereka, tetapi pencakapan mereka tidak bisa ia dengar, karena terhalangi oleh lapisan kaca.
Shasa mau tidak mau, ia harus menjalankan tugasnya, ia sudah berjanji pada Tuan Deonal untuk segera memberikan surat itu kepada Jea. Kebetulan ketika ia sedang memeluk Jea, matanya berhasil melihat Deonal yang memperhatihkan mereka.
" Jea? Ini surat dari Tuan Deonal! "
Shasa memberikan amplop yang berisi surat itu, dengan berpura-pura tidak tahu menahu tentang surat itu.
Setelah memberikan Jea surat amplop itu, Shasa berpamitan dari hadapannya, tidak berani melihat ekspresi kesedihan dari sahabatnya itu.
Betapa terkejutnya Jea, ketika ia telah berhasil membaca isi surat itu yang telah diberikan oleh Shasa kepadanya.
Kenapa aku dipecat! katanya dalam hati
" Ada apa? " kata Deonal berjalan kearah Jea.
" Tuan?? maksud Tuan, dan surat ini apa?
Kata Jea masih tidak percaya
" Kamu baca sendiri! atau aku yang membacakannya pada mu! " Sindiran sinis tertuju pada Jea
" Bukan itu Tuan, maksud aku kenapa bisa aku dipecat? " kata Jea
Deonal mendekati wajah Jea dan berkata "tidak usah banyak bicara, itu semua karena ulah kamu sendiri! "
" Security! usir dia!! " Deonal memanggil securitynya.
Tidak perlu memanggil security anda, aku bisa berjalan sendiri keluar. Sebelum Jea meninggalkan tempat itu. Deonal melemparkan sesuatu kearahnya, tepat jatuh pas dihadapannya.
Seenaknya saja dia bertingkah, sudah sepantasnya saya keluar dari kandang singa ini! Kata Jea yang lumayan keras ketika tertunduk mengambil Hp nya yang telah dibuang Deonal dihadapannya.
.
.
.
.
.
.
.
Hallo Readers ๐ค Jangan lupa mampir lagi yohh, ke karya aku (I'M SORRY MY LOVE) atau ketik profil aku! Terimakasih ๐๐