4 Walls

4 Walls
2.4 - Awal Skenario


...BAB II - Love Scenario...


...| Awal Skenario |...


...✨...


...🎶Punch feat LOCO - Say Yes...


...........


Natta sudah mengambil beberapa buku paket yang ia butuhkan dan semua urusannya dengan loker pun selesai.


Karena merasa lelah dan bingung sekaligus, Natta memilih untuk bersandar pada pintu loker dan memejamkan matanya sebentar.


Natta hanya tidak tahu harus pulang dengan siapa sekarang.


Rata-rata anak osis pun sudah pulang, jadi kemungkinan untuk Natta ikut pulang pun tidak ada.


Dan lagi, jika Natta memilih naik bus, bus terakhir pun sudah lewat dari jadwal pemberangkatan.


Karena tidak ada pilihan lain, akhirnya Natta memilih untuk menelpon Jinyoung.


"Young? Jemput gua please. Gua sendirian nih di sekolah. Anak osis yang lain udah pada balik."


Suara Natta terdengar memohon meskipun Jinyoung tidak bisa melihatnya.


"Lu beneran sendiri?" jawab Jinyoung di ujung telepon.


"Masa gua bohong sih? Udah sore nih, gua takut."


"Makanya gak usah ikut OSIS kalau gak bisa balik sore. Lagian sekarang kan lu jomblo."


Natta memutar matanya malas karena Jinyoung malah menasihatinya.


"Bawel banget sih—" Kalimat Natta terpotong karena ada seseorang yang tiba-tiba menarik ponsel Natta dari belakang.


"Apaan sih—Loh? K-kak M-minhyun?"


Kedua mata Natta membulat ketika melihat Minhyun berdiri di belakangnya kemudian memasukan ponsel miliknya ke dalam saku jaket lelaki itu.


"Maaf, kak." Minhyun tertawa melihat Natta yang justru membungkuk minta maaf.


Bukankah yang salah dan seharusnya minta maaf itu adalah Minhyun?


"Gua ada perlu, bisa?" Minhyun sama sekali tidak menanggapi permintaan maaf Natta.


"P-perlu apa kak?" Rasanya Natta tidak memiliki urusan dengan Minhyun.


Minhyun mengambil posisi bersandar pada loker di seberang Natta berada.


"Gua suka sama lu," ucap Minhyun tanpa tedeng aling yang malah membuat Natta hampir pingsan.


"Huh?" tanya Natta bingung.


Masalahnya yang barusan mengatakan hal itu adalah salah satu kakak kelasnya yang populer, dan lagi sepertinya kakak kelasnya itu hanya bercanda.


"Jadi gimana?" tanya Minhyun dengan tangannya yang di masukan ke dalam saku jaketnya.


"M-maksudnya kak?" Natta memang benar-benar tidak mengerti apa yang Minhyun katakan.


"Mau kan jadi pacar gua?"


Rasanya Natta tidak yakin jika kakak kelasnya yang satu ini masih waras.


"T-tapi kak—”


"Jadi lu nolak gua?" balas Minhyun dengan cepat tanpa mendengar Natta melanjutkan kalimatnya.


"B-bukan gitu kak, tapi—" Natta jadi kelabakan sendiri karena tidak tahu harus mengatakan apa.


"Berarti lu terima gua?" lanjut Minhyun.


"Eh?" Rahang Natta sudah hampir jatuh melihat kelakuan Minhyun yang benar-benar gila.


"Mulai sekarang lu jadi pacar gue," balas Minhyun final.


Natta pun tidak bisa mengatakan apapun lagi untuk menjawabnya.


"Ayo gua anter pulang." Minhyun mengusap kepala Natta kemudian menarik tangan gadis itu untuk berjalan di sampingnya.


Melihat Minhyun yang tidak mengatakan apapun lagi membuat Natta menoleh ke samping dan menatap wajah Minhyun yang setengah basah.


Jika di lihat dari bajunya, jelas sekali bahwa Minhyun baru saja selesai latihan basket dan langsung mengenakan jaket, mungkin untuk segera pulang.


"Kenapa?" tanya Minhyun pada Natta yang tengah asik menatap wajah Minhyun diam-diam.


"E-enggak kak." Natta menjadi gugup dan langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Mulai sekarang, kalau kamu ada rapat sampe sore, jangan telpon orang lain selain aku, oke?"


Hanya di tatap begitu saja oleh Minhyun, Natta sudah mengangguk angguk tidak bisa menolak.


Mungkin karena Natta masih terlalu terkejut juga dengan kenyataan yang baru saja ia alami sekarang.


"Kamu mau langsung pulang? Atau mau makan dulu?" tanya Minhyun pada Natta.


"Uhm, laper sih kak. Gak papa nih kita makan dulu?" balas Natta ragu-ragu. Sedangkan Minhyun malah tertawa renyah.


"Sekarang itu aku pacar kamu Tta, kenapa harus keberatan."


Minhyun tidak salah berubah haluan tipe jika tahu bahwa Natta se menggemaskan ini.


...


...


Padahal niat Guanlin berbalik menuju ruang OSIS adalah untuk mengajak Natta pulang bersama. Hitung hitung cara Guanlin melakukan pendekatan juga.


Tapi dari ujung masuk pintu lorong, Guanlin malah melihat Natta dan si kapten basketnya, Minhyun sedang bersama.


Dan gilanya lagi, Guanlin dengan sangat jelas mendengar ketika Minhyun mengatakan bahwa hari ini keduanya resmi berpacaran.


Guanlin ingin merubuhkan dinding saat itu juga.


Mana mungkin juga sih ia sudah kalah bahkan saat ia belum melakukan apapun untuk mendekati Natta.


Yang ada Guanlin jadi bahan bullyan teman temannya.


"Liat aja nanti, gua gak bakal biarin gua kalah taruhan." sinis Guanlin.


...


...


"Kana."


"Kana. Disuruh ke bawah tuh."


"Kanaura Ghiffari!!" Jonghyun berteriak keras walaupun dia sedang berada di depan kamar adiknya.


Hal itu tentu saja membuat Kana mendengus kesal, bukan hanya karena teriakan kakaknya itu, kesalnya Kana juga masih berhubungan dengan kejadian tadi sore, saat kakaknya itu menjahilinya dan Seongwoo.


"Aduh, serem amat sih tuh muka. Orang mau ada acara kok muka malah ditekuk gitu," bujuk Jonghyun.


Kana mencoba membuat Jonghyun takut dengan menatapnya dalam diam.


"Iya iya. abang minta maaf deh. Udah dong jangan marah."


"Aku malu tau bang! Gimana kalo aku besok ketemu lagi kak Seongwoo?"


"Yaa.. tinggal bilang 'hi' sambil senyum aja kok dibikin susah."


Kana yang sudah frustasi memikirkan betapa malunya jika ia bertemu lagi Seongwoo pun bangkit untuk menerkam Jonghyun, "Jonghyun Genan Ghiffari!!!"


Jonghyun tertawa puas lalu berlari keluar untuk menghindari kemurkaan Kana.


"Sini gak! Sini!!!" Kana mengejar Jonghyun yang sudah berlari lebih dulu di depannya.


Saat itu kebetulan Ibu Kana yang sedang bersiap lalu melihat tingkah nakal kedua anaknya.


Senang memang rasanya ketika melihat Kana dan Jonghyun seperti itu, rindu yang kadang dirasakan wanita berumur empat puluhan itu saat mengingat kedua anaknya hilang ketika melihat tingkah anak-anaknya yang kekanak-kanakan.


Momen seperti ini akan sulit ia dapatkan ketika ia harus kembali ke negeri sakura.


"Kana, Jonghyun. Udah dong, bentar lagi tamu pada dateng tuh."


Walaupun tak ada yang menyaut karena keduanya sedang sibuk bermain kejar-kejaran, Ibu Kana tahu bahwa anak-anaknya itu mendengarnya dan mengerti kapan harus berhenti.


...


...


Seongwoo tak tahu kenapa tiba-tiba ibunya meminta untuk ditemani pergi ke sebuah acara komplek rumahnya.


Untuk lelaki seusianya, mana mau ikut acara seperti itu.


"Apa sih mah.. aku cape nih baru pulang abis latihan dance."


Seongwoo mengeluh karena dipaksa ikut. Ia mengubur seluruh tubuhnya dengan selimut tebal miliknya.


"Harus banget lagian mamah ngenalin aku?" Seongwoo dengan malas-malasan duduk di atas kasur.


"Iyalah."


"Ke siapa sih emangnya?"


"Itu loh, tetangga baru kita, yang rumahnya sebelah barat sana."


Seongwoo hanya tahu satu hal, tetangga baru satu komplek dengannya itu hanya Kana.


Itu berarti, yang dimaksud ibunya itu adalah rumah Kana.


Ia segera bangkit dari tempat tidurnya hingga membuat ibunya terkejut melihat itu.


"Kok mamah gak bilang dari tadi sih?!"


Ibu Seongwoo hanya mengerjapkan matanya dengan polos, "Emang kenapa sih? Kamu kenal sama mereka?"


"Dia itu kan!" Seongwoo terlihat senang, "Bentar mah, aku siap-siap dulu yah. Mamah tunggu aja di bawah, okay?"


"Loh? Kenapa kamu tiba-tiba berubah pikiran gini?"


Seongwoo hanya tersenyum sambil mendorong pelan ibunya keluar dari kamarnya agar ia bisa segera berganti pakaian, "Udah. mamah tunggu sebentar di bawah yah."


...


...


Berulang-ulang kali Seongwoo berusaha menjelaskan tentang mengapa ia tiba-tiba berubah pikiran untuk mengantar ibunya mengunjungi tetangga baru di komplek mereka.


"Enggak mah, kita cuman saling kenal aja. Aku juga baru tau kalo Kana pindah ke komplek sini."


"Hm.. masa sih?" Ibu Seongwoo menggoda anaknya.


"Iya mah."


Jarak yang dekat dan selama di perjalanan mereka habiskan dengan saling ejek dan menjelaskan, tak terasa kini Seongwoo dan ibunya sudah sampai di depan rumah Kana.


"Udah ah mah, malu. Ntar orangnya denger gimana?"


"Ehh.. ya gak papa dong. Biar nanti kamunya juga deket sama anak temen mamah."


Dari dalam, terdengar sapaan ramah dari pemilik rumah.


Ibu Kana menyambut kedatangan ibu dan anak itu dengan penuh senyuman.


"Hallo. Ya ampun, seneng deh kamu mau dateng," ucap Ibu Kana sambil memeluk Ibu Seongwoo.


"Iya dong."


Saat itu, dari kejauhan Seongwoo dapat melihat Kana yang sedang berbincang sambil tertawa bersama beberapa orang yang mungkin saja teman-teman barunya.


"Eh?" seru Ibu Kana saat menyadari Ibu Seongwoo tak datang sendirian, "Ini anak kamu yang waktu itu diceritain?"


Seongwoo tersenyum menyapa Ibu Kana dengan sopan, "Hallo tante."


"Hallo, ya ampun, ganteng deh." Pujian itu membuat Seongwoo tersipu.


"Anakmu mana?"


"Oh iya, bentar ya." Ibu Kana menyisir semua tempat dengan matanya, "Na!"


Panggil Ibu Kana saat menemukan Kana tak jauh dari tempatnya, "Sini," tambahnya sambil mengisyaratkan pada Kana untuk menghampirinya.


Kana terkejut saat dirinya menemukan orang yang paling ingin ia hindari untuk sementara.


Tubuhnya yang tiba-tiba terasa kaku kemudian dirangkul oleh ibunya.


"Hallo Na. Kita ketemu lagi," sapa Seongwoo.


"Ha-hallo kak."


"Loh, kalian udah saling kenal?"


...


...


Kana akhirnya dapat duduk setelah hampir dua jam berdiri dengan senyuman ramah menyambut para tetangga yang datang.


Di sebuah ayunan kayu yang diletakan di tengah taman kecil rumahnya, ia mengistirahatkan tubuhnya. Tentu saja tidak sendiri, tapi ditemani Seongwoo.


Entah kenapa Kana justru malah merasa tak dapat duduk dengan nyaman disana, tidak seperti biasanya.


Padahal hal-hal seperti bersikap akrab pada orang lain sudah sering ia lakukan bahkan di sekolah.


Tentu saja karena ia Ketua OSIS, ia harus bisa bersikap seramah mungkin pada siapapun yang ia temui.


Hanya saja rasanya berbeda jika dengan Seongwoo, gadis itu sering merasa malu tanpa alasan.


"Euumm.." Kana bergumam tak jelas karena tak tahu harus berkata apa, Seongwoo menoleh kearahnya, "Jadi kita tinggal satu komplek ya kak?"


Seongwoo mengangguk, "Iya, jadi kita bisa tiap hari berangkat bareng? Bener gak?" Lelaki itu terlihat antusias.


Kana melirik sambil tersenyum. Ia tak tahu itu berarti apa bagi Seongwoo. "Hahah. Nanti kakak malah disangka supir aku lho."


"Aku mau kok jadi orang yang tiap hari nunggu kamu dan nganterin kamu pulang, Na." Tatapan Seongwoo berubah, "Orang yang kakak kamu maksud."


Kana yang masih tertawa pun sadar akan apa yang Seongwoo maksud, "Hm?" ia malah bertanya.


"Mau ya jadi pacar kakak?"


Untuk beberapa saat, Kana hanya diam karena tak percaya dengan pertanyaan tak diduga itu. Ia hanya bingung harus menjawab apa.


Seongwoo adalah orang baik, dan ia tak mau membuatnya kecewa.


Terlebih Seongwoo adalah kakak kelasnya, Kana tak pernah ingin membayangkan betapa canggungnya ia saat bertemu jika ia menolak Seongwoo sekarang.


"G-gimana k-kak?" Kana hanya ingin memastikan bahwa pendengarannya masih berfungsi atau tidak.


"Kakak suka sama kamu."


Benar ternyata, Kana tidak salah dengar. Gadis itu benar-benar bimbang. Pikirannya bertanya-tanya mengapa bisa sampai seperti ini.


Ia menyukai Minhyun, lalu Seongwoo datang menyatakan perasaannya.


Yang semakin membuatnya bimbang adalah karena Minhyun dan Seongwoo adalah teman satu permainan.


Bagaimana mungkin hal seperti ini bisa kebetulan terjadi dalam hidupnya?


Seongwoo menagih jawaban Kana.


"K-kakak serius?"


Seongwoo mengangguk pasti.


Tak ada pilihan lain yang lebih baik untuk Kana.


Jika dipikir-pikir kembali, Kana mungkin bisa mencoba untuk memberikan Seongwoo kesempatan.


Lagipula, tak ada salahnya dengan menjalani hubungan. Kana tahu bahwa Seongwoo orang baik, setidaknya itu satu-satunya alasan Kana menerima Seongwoo untuk saat ini.


Mungkin, ia juga bisa lebih dekat dengan Minhyun jika ia bersama Seongwoo.


Namun rasanya terlalu jahat jika ia hanya memanfaatkan Seongwoo.


Kana mengangguk, "K-kita jalanin aja ya kak." Ia mencoba tersenyum agar membuat Seongwoo puas dengan jawabannya.


Seongwoo pun akhirnya dapat tersenyum cerah, segera ia merengkuh Kana ke dalam dekapannya.


"Tapi kak,"


Seongwoo masih tersenyum saat melepaskan pelukannya. Tatapannya seolah bertanya 'ada apa?' pada Kana.


"Aku minta satu hal sama kakak."


Kana menatap mata Seongwoo dengan benar, "Kakak jangan selalu percaya sama semua dan apapun yang aku lakuin yah?"


Seongwoo berusaha tetap tersenyum, "Aku tau kamu belum sepenuhnya bisa ngebuka hati kamu buat aku, tapi aku bakal tetep nyoba buat terus percaya kamu Na. Kita jalanin semuanya bareng-bareng yah?"


Pantaskah Kana menerima itu saat ia sendiri bahkan belum dapat mengatakan pada Seongwoo tentang sebenarnya?


Tentang perasaannya pada Minhyun.


Entahlah, Kana sendiri masih sulit percaya bahwa ia menerima Seongwoo, bukan malah menolaknya dan mengatakan alasannya.


Ia hanya tak ingin mengecewakan siapapun.


...........


...17 Januari 2019...


...Reeshiellaa Nat...


...Ft Dewi Hsu...