
...BAB VI - Yesterday, Today, Tommorow...
...| Perihal Perasaan |...
...✨...
...🎶Byul - Remember...
...........
Sebenarnya Natta sudah menyelesaikan rapat OSIS nya sejak dua puluh menit yang lalu. Tapi karena Minhyun menyuruh Natta tetap disana, jadilah Natta sendiri di depan ruang OSIS.
Minhyun mengatakan ia harus latihan basket sebentar, dan meminta Natta menunggu. Padahal Natta bisa ikut pulang dengan yang lain.
Bersama Jinyoung misalnya. Atau mungkin Jaehwan.
Jadi sekarang Natta hanya menggoyangkan kakinya karena bosan menunggu Minhyun, di tambah lagi ia merasa kantuk dan lapar.
"Kelamaan nunggu ya?" suara Minhyun membuat Natta menoleh dengan cepat.
Menghilangkan sisa sisa kantuk di mata Natta sejak tadi.
"Kakak udah selesai?" Minhyun mengangguk dan menatap Natta prihatin.
Masalahnya Minhyun bisa melihat wajah Natta yang sangat mengantuk dan bosan karena menunggu.
"Yuk pulang, kamu kecapean banget kayanya." Natta tidak menolak karena ia memang merasa begitu sekarang.
Minhyun menggenggam tangan Natta dan menyuruh gadis itu berjalan di belakangnya, dan Natta pun menurut.
"Kamu laper?" Natta hanya menggeleng karena rasanya sudah tidak memiliki daya untuk menjawab pertanyaan itu.
"Aw.." saking mengantuk nya, Natta jadi menabrak punggung Minhyun yang ada di depannya.
Minhyun menoleh saat Natta mengaduh kesakitan dan mengusap dahinya pelan
"Kamu gak papa?" tanya Minhyun khawatir. Habis itu Minhyun ikut mengusap dahi Natta dengan lembut.
Natta membalasnya dengan tersenyum, "Gak papa kok kak."
Karena melihat Natta yang benar-benar kelelahan, Minhyun pun berjongkok tiba-tiba di depan gadis itu.
"Kak, mau ngapain?" Tentu saja karena Natta bingung melihat tindakan Minhyun yang tiba-tiba.
Minhyun hanya tertawa ringan, "Naik aja, kamu pasti capek."
"Tapi kak, a-aku b-berat."
"Gak papa, naik aja Tta. Aku gak mau kamu kenapa-napa kaya tadi."
Akhirnya Natta mengangguk dan naik ke atas punggung Minhyun.
Padahal Natta tahu bahwa Minhyun juga pasti kelelahan sehabis latihan.
Tetapi karena lelaki itu yang memaksanya, Natta pun tidak bisa menolaknya.
"Kamu enteng kaya gini berat darimana sih?" Minhyun jujur saat mengatakannya, karena tubuh Natta memang tidak berat sama sekali.
"Soalnya aku banyak m-makan kak, mama sama papa bilang aku gendutan."
Natta mengerucutkan bibirnya kesal jika mengingat kedua orang tuanya mengatakan itu padanya.
"Mama papa kamu bohong. Buktinya kamu gak berat."
Natta semakin memeluk leher Minhyun dengan kedua tangannya dan mendekatkan wajahnya di samping wajah lelaki itu.
"Mama papa yang bohong atau kak Minhyun yang gak jujur sama aku?" Mata Natta mengawasi wajah Minhyun yang sangat dekat dengannya.
Ketika Minhyun menoleh balik, Natta terkejut karena jarak mereka mendadak menjadi sangat dekat.
"Aku gak perlu bohong sama kamu, Tta," ucap Minhyun, lalu setelahnya mengecup hidung Natta.
Natta hanya bisa memejamkan matanya malu saat Minhyun tiba-tiba mengecup hidungnya. Apalagi mereka masih berada di lingkungan sekolah.
"K-kak Minhyun!" pekik Natta sebal sembari memukul bahu Minhyun dengan pelan.
"Hehe iya maaf maaf, udah jangan kebanyakan gerak, nanti kamu jatoh lagi."
Kenapa orang yang menyatakan perasaan nya sore itu malah Minhyun, dan bukannya Seongwoo. Kenapa Natta harus terjebak bersama orang yang bahkan tidak terlalu Natta kenal sebelumnya.
Dan kenapa juga Natta tiba-tiba merasa baik-baik saja menjalani hubungan mereka.
...
...
Natta yang baru selesai menyelesaikan mandinya setelah tidur, mendadak terkejut ketika membaca satu pesan dari Guanlin melalui line.
Guanlin
| Gua di depan rumah lo.
| Turun.
Mata Natta mengerjap beberapa kali untuk memastikan pesan Guanlin yang di bacanya tidaklah salah. Lagipula darimana Guanlin tahu rumahnya.
Buru-buru Natta menengok ke gorden kamarnya untuk melihat apakah ada Guanlin di depan rumahnya.
Saat ia menyibak gorden kamarnya, Natta benar-benar bisa melihat Guanlin yang tengah bersandar di depan gerbang dengan menggunakan jaket hitam dan topi hitam.
"Gila nih anak." Natta langsung mengambil sweater merah yang menggantung di balik pintu.
Lalu setelahnya, Natta mengambil ponsel miliknya dan berlari untuk turun dari kamar rumahnya.
"Kamu mau kemana Tta?" tanya mama Natta saat melihat anak gadisnya sudah rapi dengan sweater menuruni tangga.
"Aku ada janji sama temen ma, sebentar. Paling pulang agak malem." Natta mencium pipi mamanya.
Lalu berlari lagi tanpa menghiraukan teriakan mama nya, "Hati-hati."
"Dasar anak jaman sekarang, kalau maen suka gak inget waktu." Mama Natta menyimpan piring yang di bawanya ke atas meja makan lalu menoleh ke arah pintu.
Tiba-tiba merasa penasaran kemana Natta pergi malam-malam begini, "Pergi sama siapa sih tuh anak."
Tetapi saat mama Natta membuka gorden untuk melihat, Natta sudah tidak ada di depan rumah dan menghilangkan entah kemana.
Natta buru-buru menarik tangan Guanlin dari depan rumahnya. Ia tak peduli bagaimana tanggapan Guanlin, yang pasti mereka harus pergi dari depan rumah Natta sekarang juga.
"Lu gila ya Guan? Tiba-tiba ada di depan rumah gua gak ngabarin apa-apa," semprot Natta pada Guanlin yang malah terus-terusan tertawa.
Bagaimana Natta tidak hampir jantungan jika ia mendapat pesan, dan lelaki itu mengatakan sudah berada di depan rumahnya.
Untung saja Natta buru-buru menarik Guanlin pergi, jika tidak mamanya pasti akan penasaran dengan siapa Natta pergi.
"Sengaja Tta." Guanlin benar-benar lelaki paling menyebalkan yang pernah Natta temui.
Sudah membuat Natta panik setengah mati, sekarang lelaki itu malah menjawabnya dengan santai seolah yang di lakukan lelaki itu adalah hal yang paling wajar.
Natta mendengus, "Terserah lu aja deh Guan. Sekarang kita mau kemana?"
Guanlin tidak menjawab apapun dan hanya memberikan helm pada Natta agar gadis itu mengenakan nya.
"Kemana?" tanya Natta sembari Naik ke atas motor Guanlin.
"Udah ikut aja. Bawel banget sih Tta."
...
...
Rencana Guanlin untuk mengajak Natta keluar ternyata berhasil saat melihat wajah Natta yang sumringah setiap mereka berjalan. Guanlin bisa melihat wajah Natta yang sangat cerah karena terus-terusan tersenyum sejak tadi.
"Guan, kesana yu?" Natta misuh misuh menarik tangan Guanlin ke arah rak yang berisi pernak-pernik perempuan. Sedangkan Guanlin hanya menurut saja.
Tangan Natta mengambil salah satu bandana yang berbentuk telinga kelinci berwarna pink.
"Guan, Guan, lucu gak?" Natta menarik ujung baju Guanlin karena lelaki itu yang tidak memerhatikannya sama sekali.
Guanlin menoleh ke arah Natta kemudian mencubit pipi gadis itu, "Lucu. Gua suka."
Natta tersenyum manis ketika Guanlin mengatakan hal itu, lalu tangannya mengambil bandana yang lain berbentuk telinga kucing dan memakaikannya pada kepala Guanlin.
"Ih, Guanlin sumpah lo lucu banget."
Karena tidak mau kehilangan kesempatan melihat Guanlin semenggemaskan itu, Natta memilih memotret Guanlin dengan ponselnya.
Guanlin mengambil ponsel di tangan Natta tapi tidak melepas bandana di kepalanya, "Enak aja main foto gua tanpa izin."
"Lu mau beli apa lagi?" Tangan Guanlin sudah menggenggam tangan Natta.
Guanlin bilang, agar Natta tidak hilang di tempat ramai karena badan Natta yang kecil.
"Suka boneka?" Natta menggeleng lalu saat melirik ke kanan dan kiri, Natta menemukan toko es krim yang cukup ramai.
Ketika menyadari arah pandangan Natta, Guanlin pun tanpa berpikir panjang langsung menarik tangan Natta ke toko es krim tersebut.
"Lu mau rasa apa?" tanya Guanlin pada Natta.
"Triple choco." Alis Guanlin terangkat ketika mendengar pesanan Natta. "Lu laper sampe pesen yang triple segala?"
Natta menggeleng pelan, "Kalau cuma beli sedikit nanti kurang, hehe."
Mendengar jawaban Natta malah membuat Guanlin tertawa lepas. Masalahnya sangat jarang gadis seperti Natta masih mau makan banyak.
"Besok besok gua beliin tokonya," kata Guanlin sambil menyerahkan es krim pesanan gadis itu.
Guanlin tertawa, "Lu cantik banget."
Wajah Natta berubah menjadi panas karena ucapan Guanlin. Entah kenapa akhir-akhir ini Natta jadi mudah sekali memerah karena ucapan dari Guanlin dan Minhyun.
"Gak usah kebanyakan gembel, belajar aja yang bener." Tangan Natta mengusap rambut Guanlin.
Natta hanya tidak tahu saja, bahwa Guanlin tidak bisa mengendalikan perasaannya yang tiba-tiba menjadi aneh.
Guanlin rasa, taruhan itu bukanlah satu-satunya alasan ia bersikap seperti ini pada Natta.
Bukan hanya karena tantangan dari Jihoon, atau tekanan dari yang lainnya.
'Bener kata Daehwi, masih ada kata nikung.'
Suara suara ketika mereka berada di dalam kelas mendadak masuk ke dalam pikiran Guanlin. Ia ingat bahwa itu yang ia katakan pada teman-temannya.
Tapi bagaimana jika Guanlin benar-benar ingin merebut Natta dari Minhyun?
Apa benar Guanlin akan membiarkan dirinya kalah dari Minhyun? Apa benar hanya itu?
"Guan?" suara Natta menyadarkan Guanlin dari lamunannya.
Lalu Guanlin melirik sebentar ke arah jam di tangannya, "Balik yu, udah malem. Nanti lu di cariin orang rumah."
...
...
"Lah Jinyoung?" Natta menatap heran ke arah Jinyoung yang sedang tiduran di atas kasurnya hanya menggunakan kaos hitam dan celana pendek.
Jinyoung mengalihkan pandangannya dari ponsel ke arah Natta yang baru saja masuk ke dalam kamar, "Darimana aja lu jam segini baru balik?"
Natta hanya mengendikan bahunya lalu membuka sweater merahnya, menyisakan kaus putih panjang sepaha, lalu ikut berbaring di samping Jinyoung yang sibuk main game.
"Pergi," jawab Natta tiba-tiba.
"Sama siapa?" tanya Jinyoung penasaran.
"Ada deh, kepo banget sih lu. Jadi lu ngapain disini hah?" tanya Natta balik karena Jinyoung belum menjawab pertanyaan nya tadi.
Jinyoung mematikan ponselnya lalu meletakkannya di atas meja, "Bunda sama ayah lagi pergi. Yaudah gua nginep disini aja daripada bete."
Pantas saja Natta melihat rumah Jinyoung yang gelap. Ia pikir Jinyoung dan keluarganya sudah tidur makanya rumah mereka gelap.
"Tidur di sofa sono lu, sempit disini." Tangan Natta mendorong dorong tubuh Jinyoung untuk menjauh.
"Tta, lu abis jalan sama Guanlin ya?" Natta membulatkan matanya saat mendengar pertanyaan Jinyoung.
Melihat Natta yang diam, tentu saja Jinyoung tahu itu benar.
"Emang lu gak mikirin perasaan bang Minhyun?"
Padahal sebenarnya, Jinyoung tidak memikirkan Minhyun sama sekali. Entah kenapa, ia hanya tidak ingin Natta dan Guanlin menjadi dekat.
Karena Jinyoung tahu itu hanya taruhan semata.
"Apaan sih Young. Temen lu aja tuh yang tiba-tiba ada di depan rumah gua. Ya masa harus gua usir sih?" dengus Natta kesal.
Jinyoung hanya diam dan mengganti topik pembicaraan mereka.
"Tta, lu belum cerita nih masalah lu bisa jadian sama bang Minhyun." Karena Natta tahu tidak ada yang seharusnya di ceritakan.
"Kadang kita gak perlu alasan buat jadian, Young. Tiba-tiba aja," balas Natta sekenanya karena ia memang tidak bisa menjawab apapun.
"Berarti kemungkinan lu jadian sama gua juga bisa?"
"―bisa tiba-tiba?" Natta tertawa lucu mendengar kalimat Jinyoung.
"G-gak mungkin, k-kan?" Jinyoung malah tertawa hambar.
Iya, gak mungkin.
Meskipun kemarin, hari ini, bahkan besok sekalipun.
Jinyoung seharusnya tahu bahwa itu tidak akan penah berubah.
...........
...11 Februari 2019...
...Reeshiellaa Nat...
...Ft Dewi Hsu...