4 Walls

4 Walls
5.3 - Rasa Tanpa Nama


...BAB V - Boy In Luv...


...| Rasa Tanpa Nama|...


...✨...


...🎶Ha Sungwoon - Immunity...


...........


Hari ini terjadi lagi, Seongwoo merasa kasihan saat melihat Kana yang harus pulang terlambat karena tugasnya. Ia sendiri tak keberatan jika harus menunggu gadis itu sampai selesai, karena ia sendiri yang menginginkannya.


Selesai latihan dance, Seongwoo melirik jam tangannya. Ia mengusap keningnya yang penuh peluh karena sudah berlatih lebih dari tiga jam.


"Haus nih." Seongwoo teringat Kana, "Kana juga pasti aus, gua beli minum dulu deh."


Daripada terus berlatih sendirian, Seongwoo pikir akan lebih menyenangkan menghabiskan waktu bersama Kana dengan menemani gadis itu menyelesaikan tugasnya.


Setelah membeli dua botol air mineral dan dua kaleng minuman isotonik dingin untuknya dan Kana, Seongwoo berjalan menuju ruang OSIS sambil tersenyum.


Satu-satunya ruangan yang masih dipakai saat itu terlihat oleh Seongwoo. Pintunya terbuka ketika tangannya memegang kenop pintu dan mendorong pelan kearah dalam.


Pandangan Seongwoo langsung menemukan Kana yang tertidur di bangkunya.


Ia mencoba berjalan tanpa menimbulkan suara agar tak membuat Kana terbangun. Sekali lagi, Seongwoo melirik jam di dinding. Tak sengaja, saat itu ia melihat dua kaleng minuman isotonik di samping Kana dengan satu botol yang sudah habis setengahnya karena sudah diminum.


"Ohh, udah beli."


Seongwoo menyelimuti tubuh Kana dengan jaket yang dia bawa. Saat belum sampai Seongwoo selesai, Kana tiba-tiba saja terbangun. Gadis itu terkejut ketika menyadari di sampingnya Seongwoo seolah-olah sedang memeluknya.


"E-eh? Kamu kebangun gara-gara aku ya?" Seongwoo tak merubah sedikitpun posisinya.


Kana yang harusnya kedinginan justru malah nampak berkeringat, "E-enggak kok."


Seongwoo tersenyum, lalu mendekatkan wajahnya pada Kana. Kedua matanya terpejam, lalu bibirnya mengecup lembut surai kecoklatan Kana.


"Kita pulang yuk?" Seongwoo membuat Kana lemas bahkan hanya untuk berdiri.


...


...


Saat ingin pergi ke parkiran, Seongwoo dan Kana melewati lapangan bola sekolah yang memiliki rumput hijau. Seongwoo melirik Kana yang berjalan di sampingnya dengan jaket yang ia berikan tadi.


Melihat gadis itu hanya diam karena kelelahan, Seongwoo berlari kecil mendahului Kana dengan badan yang menghadap kearah Kana.


"Na?" Kana hanya memandang Seongwoo dengan tatapan tanya.


"Main kejar-kejaran yuk?"


Mendengarnya, Kana terkekeh. "Apaan sih Woo, kayak anak kecil aja," ujarnya sambil menggeleng-gelengkan kepala tanda penolakan.


"Dih? Bilang aja kamu gak kuat lari buat ngejar aku." Seongwoo tak sepenuhnya mengatakan itu untuk mengejek Kana, ia hanya ingin memancing agar gadis itu mau bermain dengannya.


Kana tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar, lihat siapa yang bicara? "Kamu bercanda ya? Lupa siapa yang suka susah kalo diajak lari pagi?"


"Dasar lembek."


"Hm?" Telinga Kana tiba-tiba saja gatal saat mendengar ejekan Seongwoo.


"Lembek." Tak cukup itu, Seongwoo juga menjulurkan lidahnya untuk mengejek Kana.


"Ih! Kok lama-lama ngeselin sih?"


"Lembek marah?"


"Seongwoo!!"


Kana menaruh tasnya lalu berlari mengejar Seongwoo yang terus tertawa di depannya. Kakinya yang sudah lelah karena seharian melakukan tugas sambil belajar tiba-tiba merasa bertenaga untuk mendapatkan Seongwoo.


"Tuh kan lembek, masa gitu aja gak bisa ngejar." Seongwoo masih berlari namun tubuhnya lagi-lagi menghadap ke belakang dan kakinya melangkah mundur.


"Awas ya!!" Kana juga tak ingin kalah, ia berlari lebih cepat sambil tersenyum menatap Seongwoo yang berada di depannya.


"Iya, makanya sini kejar kalo bisa." Seongwoo tertawa sangat keras hingga hampir terdengar ke seluruh penjuru sekolah yang hampir kosong. Dengan posisi yang masih sama, ia berlari menghindari Kana.


Kana mencoba meraih Seongwoo ketika tangannya terasa dapat menggapai lelaki itu. Ketika berhasil meraih seragam Seongwoo, Kana berteriak karena tak dapat mengontrol tubuhnya hingga jatuh menimpa Seongwoo. Merespon itu, Seongwoo pun merengkuh tubuh Kana agar tak terluka saat itu.


Keduanya terjatuh di atas rumput hijau lapangan dengan cukup keras. Kana yang berada di atas memeluk Seongwoo dengan erat. Kedua matanya yang tertutup lalu perlahan-lahan terbuka ketika menyadari bahwa Kana tak merasakan sakit sedikitpun. Ia segera menengadah dan menatap Seongwoo khawatir.


"Woo? Kamu gak papa?"


Kana justru menemukan Seongwoo yang sedikit tersenyum menatap langit, tak lama mata mereka akhirnya kembali bertemu, "Enak yah?"


Mata Kana membulat, "Maksudnya?" saat ia hendak bangkit, Seongwoo justru mengeratkan rangkulannya.


"Tenang aja, aku gak maksud mesum kok."


Kana terdiam ketika mendengar detak jantung Seongwoo yang seirama dengan detak jantungnya.


"Coba aja kita ketemu dari dulu, coba aja aku tau kamu lebih awal. Kayaknya hal kayak gini tuh bakal sering kita lakuin, ya kan?"


"Aw! Sakit tau Na." Seongwoo bangkit tak lama setelah Kana juga berhasil duduk.


Kana menutupi dadanya dengan kedua tangannya, "Lagian kamu ngomong apa sih! Jangan ngaco!"


Seongwoo keheranan, "Apanya? Emang aku salah kalo ngomong suka pas kita berduaan kayak gini?"


Mata Kana mengerjap, "H-hah?"


"Aku bilang kalo kita ketemu lebih awal, kita bakal lebih sering ngabisin waktu berduaan kayak gini," jelas Seongwoo.


"O-ooh." Kedua tangan Kana pun turun kembali saat menyadari bahwa ia salah paham, "Lagian kamu ambigu."


"Ya kamu aja yang ngeres," bela Seongwoo.


"Apa? Aku ngeres? Enak aja, kamu tuh yang ngomong gak jelas."


Seongwoo yang gemas pun lalu menyubit kedua pipi Kana yang memerah, "Udah lembek, ngeres lagi. Dasar."


"Aduuh, sakitt Seongwoo."


"Makanya jangan kebanyakan nonton drama Korea, jadi kemana-mana terus kan pikirannya."


Kana mengusap-usap pipinya dengan bibir yang mengerut karena kesal.


Seongwoo merebahkan kembali dirinya di atas rumput, ia memandang kearah langit gelap yang berkelap-kelip oleh para bintang. Senang rasanya saat ia tahu bahwa Kana adalah miliknya. Ia melirik Kana yang baru saja ikut berbaring di samping tubuhnya. Gadis itu tersenyum menatap langit yang sama.


Sebelah tangan Seongwoo tiba-tiba saja terangkat keatas, seperti tengah berusaha meraih langit. Kana pun melakukan hal yang sama. Jari-jari mereka bermain menghitung bintang. Seongwoo mengarahkan tangan Kana untuk menunjuk bintang kecil diantara banyak bintang yang lebih berkilau.


"Hm?" Kana menoleh keheranan.


"Bintang ke-28, kamu gak ngitung bintang yang kecil itu?"


"Masa sih?" Kana melihat lagi pada bintang kecil tersebut.


"Na?" Seongwoo membuat Kana menoleh lagi kearahnya, "Tetep jadi Kana yang sekarang buat aku ya?"


...


...


Halaman belakang rumah Minhyun mulai basah karena hujan yang tiba-tiba mengguyur sore tadi. Tidak terlalu deras, tapi cukup besar untuk bisa membuat Natta sakit. Dan hal itu membuat Minhyun khawatir.


Saat pertama kali hujan turun, Minhyun sudah menarik Natta untuk masuk ke dalam rumah, yang malah di tolak mentah mentah oleh gadis itu. Katanya, hanya sebentar lagi sebelum hujan semakin besar.


Tapi setelah hujan sudah berubah sebesar ini pun Natta masih mendribble bolanya dan berusaha memasukkan ke dalam ring meski gagal beberapa kali. Membuat Minhyun yang sedari tadi menurutku keinginan gadis itu mendadak kesal karena separuhnya ia merasa takut.


Takut jika Natta sakit.


"Tta, aku gak nerima alasan apapun lagi. Nanti kamu sakit." Minhyun menarik tangan Natta dengan paksa dan melempar bola basketnya dengan asal.


Minhyun hanya peduli Natta. Tak peduli jika gadis itu marah sekalipun padanya.


"Tapi remedial aku--" Wajah Natta yang setengah panik malah di balas dengan wajah Minhyun yang marah.


"Aku gak mau kamu sakit, Tta. Kalau kamu sakit kamu pikir kamu bisa remedial?"


Natta menunduk saat menyadari kalimat Minhyun itu benar. Mungkin ia yang terlalu fokus untuk latihan sampai tidak mau mendengarkan Minhyun.


"Maaf kak. Aku cuma mikir aku harus bisa basket." Minhyun tidak membalas apapun kalimat Natta padanya.


Ia hanya menyampirkan handuk ke atas kepala Natta lalu mengeringkan rambut Natta agar tidak basah dan membuat gadis itu sakit kepala.


"Lain kali jangan kaya gini, aku gak suka." Natta mengangguk ketika Minhyun masih mengeringkan rambutnya dengan handuk.


Lalu tangan Natta terulur untuk menyentuh rambut Minhyun yang basah, "Rambut kakak juga basah. Nanti kakak sakit."


"Aku keringin ya." Setelah itu Natta mengusap usap rambut Minhyun yang basah sampai rambut lelaki itu sedikit berantakan.


Minhyun menahan tangan Natta yang berada di atas kepalanya, "Nanti tangan kamu kedinginan."


Handuk yang tadi di pakai mengeringkan rambut Natta sekarang berpindah ke atas telapak tangan gadis itu.


"Kamu mandi duluan, nanti aku ambilin baju kak Joohyun buat kamu." Minhyun mengusap wajah Natta dengan pelan sebelum meninggalkan gadis itu.


Tapi Natta menahan tangan Minhyun sebelum lelaki itu pergi, "Kak."


"Kakak juga harus mandi habis ini." Tangan Natta mengusap rambut Minhyun menggunakan handuk yang tadi Minhyun berikan di atas tangannya.


"Aku juga gak mau kakak sakit."


Minhyun tersenyum saat melihat ke arah wajah Natta.


............


...07 Februari 2019...


...Reeshiellaa Nat...


...Ft Dewi Hsu...