4 Walls

4 Walls
4.0 - Woojin dan Perasaan Natta


...BAB IV - Bad Romance...


...| Woojin dan Perasaan Natta |...


...✨...


...🎶Wendy feat Seulgi (Red Velvet) - I Only See You...


...........


Woojin itu lelaki polos, saking polosnya ia tidak tahu kebenaran bahwa Kana masih sepupunya. Bukan sepenuhnya salahnya jika ia tidak tahu, Woojin juga hanya pernah bertemu satu dua kali dengan Kana. Itupun ketika mereka masih sangat kecil, hanya ketika ada acara keluarga besar.


Bukan karena tidak adanya ketidakdekatan antara keluarga, jelas karena Kana dan keluarganya terlalu sering berada di luar negeri dan tidak mungkin Woojin sering mengunjungi rumah Kana karena jarak mereka yang berbeda negara.


"Jadi Kak Kana itu Kakak Naura?" Woojin terkejut setengah mati ketika kedua orang tuanya menjelaskan tentang sepupunya yang sudah menetap di komplek rumah terdekat dengan rumah mereka.


"Kok mommy gak bilang sih dari pas awal-awal Woojin masuk sekolah?"


"Kirain mommy kamu kan udah tau, kenal gitu."


"Kenal dari mana sih mommy!" Woojin frustasi karena tak berhasil mengenali sepupunya sendiri, "Mommy tau kan terakhir aku ketemu Kak Naura itu kapan? Pas aku masih umur enam tahun mom."


"Iya, iya, mommy minta maaf. Lagian kan nanti sore kalian bakal ketemu, tinggal bilang kalo kalian satu sekolah. Nanti Naura juga bakal sering ketemu kamu kalo udah tau kalian satu sekolah."


"Mommy gak ngerti, kita udah pernah ketemu di sekolah, malah udah kenal!"


"Bagus dong, abis ini kalian bisa tambah kenal."


Woojin menjambak rambutnya sendiri saking frustasinya, "Euughh!" Tak cukup itu mata Woojin juga melotot, "Mommy."


"Udah sana siap-siap, bentar lagi mereka dateng tuh."


Woojin berjalan lemas ke kamarnya. Rasanya ia tak sanggup menunjukkan wajahnya di depan Kana, rasa malunya karena tak berhasil mengenali wajah sepupunya itu membuatnya merasa buruk.


Apalagi Kana itu memang orang baik.


...


...


Kana terkejut bukan main ketika melihat Woojin berada diantara bibi dan pamannya. Jonghyun yang ada di sampingnya hanya menatap Kana dan Woojin bergantian, ia sama sekali tak mengerti kenapa adiknya itu begitu terkejut melihat Woojin.


Tidak mungkin juga kan Kana terkejut karena baru melihat wajah tampan Woojin setelah bertahun-tahun lamanya tidak bertemu.


Kana dan keluarganya masuk bergantian, saat melewati Woojin, Kana berhenti di depan lelaki yang kini tengah tersenyum canggung itu.


"Hello, Kak Naura."


"Jadi kamu Woojin kecil itu?"


Woojin tersenyum sambil menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal, "Iya kak, aku juga baru tau tadi kalo Kak Kana Ketua Osis di sekolah itu Kak Naura sepupu aku."


Kana akhirnya tersenyum sumringah, "Ya ampun, kakak pangling tau sama kamu." Kana memeluk Woojin erat.


"Kamu sekarang cakep sama tinggi ya." Woojin membalas pelukan Kana, "Aku juga pangling sampe gak bisa ngenalin kak Naura pas kita pertama kali ketemu, sekarang kakak cantik banget."


Jonghyun yang mendengar itu hanya tersenyum senang. Saat Woojin selesai menyambut Kana, ia lalu beranjak untuk menyambut Jonghyun juga.


"Duh, ini Woojin yang dulu suka nangis itu ya? Ya ampun udah gede ya kamu sekarang," ucap Jonghyun sambil merangkul bahu Woojin.


"Masuk yuk Bang, kak," ajak Woojin pada keduanya.


...


...


Selain untuk memberikan salam perpisahan sebelum kembali lagi ke negeri sakura, kedua orang tua Kana juga meminta bantuan orang tua Woojin untuk membantu Kana dan Jonghyun selama mereka di Korea.


Maklum saja, jarak rumah mereka yang tidak terlalu jauh jika dibanding keluarga lain juga karena Woojin satu sekolah dengan Kana.


"Woojin mau kok nemenin Kak Naura," ujar Woojin saat ditanya tentang pendapatnya bila diajak tinggal satu rumah bersama Kana dan Jonghyun.


Kedua pasang orang tua itu tersenyum lega. Woojin ternyata tidak keberatan sama sekali ketika dimintai tolong.


"Ya udah, kamu bisa mulai tinggal kapan aja Jin," ucap Ayah Kana dan Jonghyun.


"Makasih banyak ya, maaf ngerepotin." Ibu Kana memandang kedua saudaranya dan Woojin sambil tersenyum.


"Gak papa kok. Toh Woojin satu sekolah sama Naura, jadi kan biar lebih deket. Kana juga bisa pulang pergi bareng Woojin tanpa khawatir kesorean," balas Ayah Woojin.


Kana dan Jonghyun tersenyum di waktu yang hampir bersamaan. Mereka juga senang jika Woojin ikut bergabung di rumah baru mereka yang terlalu besar jika ditinggali berdua. Apalagi dengan posisi Jonghyun yang seorang dokter, mungkin saja Jonghyun akan tidak pulang seharian karena pekerjaannya itu.


Jonghyun juga tidak akan merasa khawatir lagi saat Kana pulang kesorean dan sendirian di rumah ketika ia tidak bisa pulang ke rumah lebih awal.


"Kabarin bang Jonghyun aja ya kalo kamu mau mulai tinggal disana, nanti abang jemput."


"Siap bang.."


...


...


Dulu,


Setahun yang lalu, Natta masih berada di kelas sepuluh. Masih pertama kali jadi anak SMA.


Natta yang susah beradaptasi adalah hal yang paling Natta benci dari dirinya sendiri. Sampai rasanya untuk mengajak orang lain berkenalan duluan saja Natta tidak bisa.


Dan dulu juga,


Tepat setahun yang lalu juga, Natta yang masih tidak tahu bagaimana cara mengajak orang lain berkenalan duluan mendadak punya cara untuk melakukannya.


Alasan Natta hanya satu.


"Temen lo yang lain disana tuh dek, kenapa lo disini sendiri?"


Namanya Seongwoo Azka Pratama.


Dulu,


Natta pikir, lelaki itu sangat baik. Meskipun niat lelaki itu mungkin lain, tapi bagi Natta itu adalah alasan mengapa Natta akhirnya bisa merubah sifat buruknya yang satu itu.


Lalu sekarang,


Natta yang sudah memiliki banyak teman, Natta yang benci sendiri sudah tidak ada.


Ia adalah Natta. Gadis yang hampir satu sekolah mengenali nya sebagai ketua kedisiplinan. Natta yang memiliki banyak teman dan tidak pernah takut untuk sendiri lagi.


Natta yang populer adalah satu-satunya cara,


Cara agar Seongwoo menoleh ke arahnya.


Lalu berharap suatu hari nanti lelaki itu akan jatuh cinta padanya.


Sama seperti dirinya.


Tapi sekarang,


Berita Seongwoo yang berpacaran dengan Kana menjadi berita juga dimana-mana. Satu hal yang diam-diam membuat Natta sesak.


Hal yang diam-diam membuat Natta ingin menangis.


Apa berarti selama ini cara yang Natta lakukan sama sekali tidak ada artinya. Ya, Natta rasa memang begitu kenyataan nya.


Lelaki itu terlalu populer untuk gadis sepertinya.


Dan Kana mungkin memang gadis yang tepat untuk seseorang seperti Seongwoo Azka Pratama.


Bukan Natta. Dan tidak akan ada Natta sama sekali.


...


...


Suara notifikasi line dari ponselnya membuat Natta mengalihkan pandangannya pada atas meja. Layar ponselnya menyala dan sudah jelas karena ada satu notifikasi masuk.


"Guanlin? Temennya Jinyoung yang tadi siang, kan?"


Natta buru-buru memeriksa foto profil line milik Guanlin untuk memastikan apakah memang Guanlin yang itu atau bukan. Tapi saat foto itu hanya foto gelap dan sedikit cahaya, Natta tidak bisa mengenali apapun.


Guanlin


| Addback ya Tta.


Saat pertama kali membuka pesan itu, Natta memang sudah tidak heran lagi.


Mengingat lelaki itu memang meminta id line miliknya tadi siang yang sayangnya tidak ia kasih untuk beberapa alasan.


Kecuali jika Jinyoung benar-benar memberikan nya.


"Sejak kapan lo deket sama Guanlin?" Natta terkejut ketika Jinyoung tiba-tiba merebut ponselnya sembari mengatakan ini dan itu padanya.


"Jinyoung kok lo ada disini? Abis ngintip gue ya?"


Jinyoung menoyor kepala Natta yang bicara seenaknya sambil memasukkan ponsel Natta ke dalam saku celananya.


"Kotor banget ya otak lo." Natta hanya bisa mendengus.


"Ya lagian ngapain coba lo disini? Kalau gue lagi ganti baju atau lagi ngapain, gimana?"


Jinyoung malah tersenyum miring mendengar ocehan Natta, "Lagi ngapain nih maksud lo?"


Natta memukul mukul bahu Jinyoung saking kesalnya karena lelaki itu selalu punya cara untuk membalas ucapannya.


"Udah dong Za sakit nih, lagipula mama lo kok yang nyuruh gue kesini langsung."


Jinyoung memang sudah sejak kecil kenal dengan Natta, dan sudah sejak itu juga Jinyoung biasa keluar masuk di rumah Natta ataupun sebaliknya.


Ya kadang Natta memang tidak mengerti juga pikiran mamanya yang membolehkan Jinyoung seenaknya masuk.


"Temenin gua makan di luar ya? Sekalian ada yang mau gua tanyain ke lo." Natta tidak menolak sama sekali mengingat ia juga sering melakukan hal yang sama pada Jinyoung.


"Bunda gak masak?"


"Masak sih, cuma gua lagi pengen makan di luar aja." Natta mengangguk mengiyakan sedangkan lelaki itu malah menidurkan diri di kasur nya.


"Bentar gua ambil jaket dulu." Jinyoung tidak menjawab apapun dan masih menatap kamar milik Natta tanpa minat.


"Ayo berangkat," ucap Natta yang sudah mengambil jaketnya.


"Gak mau pake celana panjang aja? Takutnya lo kedinginan," balas Jinyoung saat melihat Natta yang masih mengenakan kaos putih dan celana pendek.


"Enggak perlu. Udah ayo berangkat gua juga laper. Traktir kan Young?" Natta menarik tangan Jinyoung dan memeluk lengan lelaki itu sembari mendongak memohon mohon.


"Kebiasaan banget ya hidup lo maunya gratisan." Jinyoung menyentil dahi Natta dengan keras sampai gadis itu meringis.


"Sakit anj--" Natta yang lebih dulu sadar langsung diam dan tak melanjutkan kalimat nya.


"Mau ngomong apa lo? Udah gua bilang gua gak suka ya kalau lo ngomong kasar." Jinyoung memukul pelan bibir Natta.


"Iya maaf." Untuk satu itu Natta memang salah.


"Oh iya, lo yang ngasih id gua ke Guanlin?" Jinyoung menggeleng pada Natta karena tidak merasa melakukannya.


"Enggak. Emang kenapa?"


Jadi Guanlin dapet dari siapa? Tanya Natta dalam hati.


...........


...22 Januari 2019...


...Reeshiellaa Nat...


...Ft Dewi Hsu...