4 Walls

4 Walls
1.2 - Natta, dan Seongwoo


...BAB I - My First and Last, Maybe?...


...| Natta dan Seongwoo |...


...✨...


...🎶IOI - Remember I Love You...


...........


Setelah Natta menyelesaikan kelas nya, ia harus mencari Jaehwan yang tiba-tiba menghilang entah kemana dari kelas.


Karena Natta adalah tipe orang yang tidak bisa jauh dari Jaehwan, jadi ia buru buru mencari Jaehwan sampai harus memutar jalan demi sampai ke ruang OSIS karena berpikir Jaehwan mungkin berada disana.


Tetapi ketika ia melewati ruang dance dan melihat Seungwoo tengah berdiri di ambang pintu dengan terseok, langkah Natta pun terhenti.


Mendadak ia bingung harus memaksa lewat atau tidak.


"Kak Seongwoo?" panggil Natta pada Seongwoo yang berdiri di ambang pintu ruang dance.


"Lah, Natta, kan?" tanya Seongwoo dengan heran ketika melihat Natta berada tak jauh darinya.


"Kaki kakak kenapa? Sakit? Mau aku anter ke UKS? Kebetulan juga aku anak PMR kak." karena khawatir pada keadaan Seongwoo, Natta pun mendekati lelaki itu untuk melihatnya lebih jelas lagi.


"Gak usah Tta, gua cowok kali," tolak Seongwoo dengan halus.


"Tapi kaki kakak?" tanya Natta sekali lagi masih dengan keraguannya.


Seongwoo hanya menjawab dengan menggeleng dan tersenyum sekilas lalu mencoba melangkah lagi, tapi karena kakinya memang tengah sakit, Seongwoo pun tidak bisa mengelak lagi bahwa ia butuh bantuan Natta.


"Ah *****!" kesal Seongwoo ketika merasakan kakinya sakit lagi.


"Tuh kan kak, aku bantu aja ya?" Natta bergegas mendekati Seongwoo untuk menolong lelaki itu yang merasa kesakitan.


Jika sudah begitu Seongwoo pun tidak menolak ketika Natta menawarkan bantuan padanya.


Toh ia juga memang butuh bantuan.


"Ayo kak aku bantu."


Natta membawa tangan kiri Seongwoo untuk menyampir di atas bahunya agar Natta bisa lebih mudah memapah lelaki itu sampai UKS.


"Gak ngerepotin nih Tta?" Seongwoo menoleh pada Natta yang berada di sampingnya.


Natta sih tidak merasa keberatan sama sekali, ia justru merasa senang karena bisa sedekat ini dengan Seungwoo.


"Enggak kak, kebetulan aku bisa bantu kenapa enggak." Natta menjawab tanpa berniat menoleh pada Seongwoo.


Takut-takut ia tidak bisa mengontrol wajahnya yang tiba-tiba memerah.


"Lu sekbid kedisiplinan tapi dari ekskul PMR, emang bisa ya?"


Natta rasanya benar benar ingin pergi saja dari sana ketika menyadari Seongwoo selalu saja menoleh ke arahnya.


"B-bisa aja sih kak. Soalnya kan aku jadi ketua kedisiplinan juga karena hasil voting." Seongwoo mengangguk-angguk saat Natta menjawab.


Saat keduanya sampai di depan UKS, Natta menahan kakinya sebentar ke bawah untuk membuka pintu UKS yang masih tertutup dan itu berarti belum ada yang datang ke UKS hari itu.


Tetapi belum sempat Natta meraih gagang pintu, Seongwoo sudah meletakkan tangannya lebih dulu di sana.


"Biar gua aja," ucap Seongwoo saat Natta memberikan pandangan bertanya padanya.


Natta mengangguk setuju karena sejujurnya juga ia merasa kesulitan dengan tangannya yang memapah tubuh Seongwoo.


Setelah pintu UKS terbuka, Natta langsung membawa tubuh Seongwoo ke atas kasur UKS untuk mengobati kaki lelaki itu.


Meskipun sedari tadi Natta tengah menahan pegal karena tubuh Seongwoo yang sejujurnya berat, gadis itu tetap bersikap baik baik saja.


Natta agak menekuk lututnya untuk membawa tubuh Seongwoo tertidur di atas kasur, tetapi karena kakinya yang terlalu berbelit, ia pun tidak sengaja menginjak tali sepatu milik Seongwoo sampai kehilangan keseimbangan dan berakhir dengan menindih tubuh lelaki itu.


Rasanya Natta ingin mengumpat pada kakinya yang tidak bisa di ajak kompromi sama sekali.


"Gak papa Tta?" tanya Seongwoo dengan terkejut ketika merasakan tubuh Natta yang jatuh tiba-tiba ke atas tubuhnya.


"Gak papa kak. Sorry ya." Natta mendongak ke atas untuk menoleh ke arah Seongwoo, tapi anehnya ia merasakan kepalanya di tarik kembali ke tempat yang sama.


Natta melirik dan bisa melihat bahwa beberapa helai rambutnya menyangkut di kancing seragam milik Seongwoo.


"Aww.." Ringisan Natta membuat Seongwoo panik. Ia bisa melihat Natta yang belum juga beranjak dari atas tubuhnya.


"Lu gak papa?" Natta jadi serba salah. Ia mau mengatakan baik-baik saja tapi kenyataannya tidak begitu. Mau mengatakan yang sebenarnya juga malu.


"Rambutnya nyangkut, kak."


"Jangan di tarik dulu, nanti sakit " cegah Seongwoo pada Natta yang terus terusan menarik rambutnya sendiri agar terlepas.


Karena merasa kasihan juga, Seongwoo dengan susah payah mengubah posisinya menjadi setengah bangun dan membantu gadis itu melepas lilitan rambutnya.


"Sini gua bantu, tahan bentar."


Seongwoo meraih rambut panjang Natta yang tersangkut di kancing bajunya, dengan pelan ia memutar rambut Natta untuk melepaskan rambut Natta yang tersangkut.


"Aww, s-sakit kak." Seongwoo terkejut karena Natta yang tiba-tiba meringis ketika ia mencoba melepaskan rambut Natta yang tersangkut.


"Sakit ya Tta? Sorry kekencengan gua nariknya." Natta menggeleng sebagai jawaban tidak apa pada lelaki itu.


"Sorry ya." Seongwoo mengusap kepala Natta dengan maksud untuk menghilangkan sakit akibat tarikan Seongwoo tadi.


Natta sudah sesak nafas saja rasanya berada dalam posisi begitu dekat dengan Seongwoo, sekarang di tambah lelaki itu mengusap kepalanya dengan lembut.


Rasanya Natta benar-benar tidak bisa berpikir lagi, ia rasanya tengah bermimpi terlalu jauh.


"Gua buka seragam dulu ya? Nanti kita lepas sama-sama, kalau kaya gini nanti kepala lu sakit."


Karena Seongwoo semakin iba pada Natta yang sepertinya tidak nyaman dengan posisi itu.


Belum lagi rambut Natta yang harus tertarik terus.


Oleh karena itu Seongwoo berpikir untuk melepas seragamnya dan melepas rambut Natta setelah ia membuka seragamnya tanpa menyakiti kepala gadis itu.


"Gak usah kak, aku ngerepotin kakak nantinya," tolak Natta dengan sedemikian halus.


Lagipula mana bisa sih Natta membiarkan Seungwoo membuka seragamnya.


Jika Seungwoo benar-benar membuka seragamnya yang ada Natta malah pingsan saking deg-degan nya.


Terserah jika lelaki itu masih pakai kaos atau tidak di balik seragamnya, Natta tetap tidak sanggup.


"Tapi rambut lu gimana? Sakit loh ini ke tarik terus." Padahal ya, ngerepotin darimana juga.


Toh bukankah seharusnya Seongwoo yang sudah merepotkan gadis itu.


"Di meja ada gunting kan kak?" Sekarang Seongwoo paham kemana pikiran Natta ketika gadis itu menyebut nyebut gunting.


"Enggak enggak, apaan sih Tta. Udah gua buka aja seragamnya." Seongwoo keras kepala tidak akan membiarkan gadis itu memotong rambutnya meskipun sedikit.


Bagaimana pun juga, bagi Seongwoo seorang gadis itu terlihat cantik dengan rambut panjangnya. Misalnya seperti Kana.


"Gak papa kak serius deh, lagipula cuma di potong sedikit kok."


Karena ternyata Natta lebih keras kepala lagi, Seongwoo pun mengalah.


Ia mengambil gunting di atas meja dan memotong helaian rambut Natta yang tersangkut di kancing seragamnya.


"Makasih ya kak." Akhirnya Natta bisa bernafas lega karena bisa terlepas dari jarak bahaya dengan Seongwoo.


"Makasih? Harusnya gua yang bilang gitu Tta." Seongwoo tersenyum pada Natta dan itu sudah cukup membuat Natta hampir mimisan.


"Udah ah kak, ayo aku obatin kakinya." Natta buru buru pergi mencari minyak urut untuk mengurut kaki Seongwoo.


Setelah ia mendapatkan minyak urut untuk Seongwoo, Natta kembali duduk di samping kasur dimana Seongwoo masih berbaring.


"Makasih ya Tta." Natta tidak menjawab apapun selain mengangguk dan fokus mengurut kaki Seongwoo yang bengkak.


Natta hanya berharap bahwa semuanya bukan mimpi yang ia dapat ketika tidur lalu berlalu begitu saja setelahnya.


Tapi karena ini adalah Seongwoo, si anak populer, Natta pun tidak mengharapkan sesuatu yang lebih sebenarnya.


"Udah nih kak. Istirahat aja dulu ya sampe agak baikan." saran Natta sebagai anak PMR yang baik.


Seongwoo pun mengangguk mengerti setelah tadi beberapa kali meringis karena menahan sakit.


"Sekali lagi makasih nih," kata Seongwoo pada Natta yang sudah akan pergi dan berdiri di ambang pintu.


...........


...Semoga suka ya. Udah itu aja. Ehe....


...09 Januari, 2019...


...Reeshiellaa Nat...


...Ft Dewi Hsu...