4 Walls

4 Walls
4.1 - Hari Baru


...BAB IV - Bad Romance ...


...| Hari Baru |...


...✨...


...🎶Wendy feat Seulgi (Red Velvet) - I Only See You...


...........


Pertama kali yang di lihat Natta ketika baru menuruni tangga adalah mama nya yang sibuk menyiapkan sarapan di atas meja. Ia tidak melihat papanya disana.


"Hari ini kamu gak berangkat bareng Jinyoung Za?" Alis Natta terangkat tak mengerti maksud dari mama nya.


"Bareng Jinyoung kok." Mama Natta berbalik menatap Natta dengan heran.


"Loh? Orang kamu udah di samper cowok, tuh di depan lagi ngobrol sama papa." seingat Natta, ia tidak memiliki janji dengan siapapun untuk berangkat bersama.


Lagipula memang sudah biasanya Natta berangkat bareng Jinyoung.


"Siapa ma? Aku gak ada janji sama cowok." Mama Natta hanya menggeleng tidak tahu. Masalahnya lelaki satu ini memang baru kelihatan datang ke rumah.


"Mama gak tau Za, sana keluar coba liat." Natta pun langsung berlari ke luar rumahnya untuk memastikan siapa yang sudah menunggunya pagi-pagi begini.


Saat Natta sampai di depan pintu, ia melihat ada Minhyun dengan seragam lengkapnya berdiri di samping papa nya, dan mereka kelihatannya tengah mengobrol ini itu sambil papanya yang mengelap badan mobil.


Natta setengah berlari ke arah papa nya dan Minhyun, "Kak Minhyun."


Minhyun dan papanya pun menoleh ke arah Natta yang memakai seragam sama siapnya dengan Minhyun.


"Lama banget Za, ini Radekha udah nunggu dari tadi."


"Udah lama ya kak?" ucap Natta karena tidak enak jika Minhyun benar-benar menunggu selama itu. Sebenarnya salah lelaki itu juga sih, kenapa tidak memberitahu Natta lebih dulu.


"Kamu kok gak ada bilang sama papa kalau udah punya pacar lagi?" Mendadak Natta menjadi bingung sendiri.


Mereka bahkan baru jadian kemarin, itu pun masih tidak bisa Natta percaya. Ya masa Natta harus umbar sana umbar sini masalah itu. Lagipula ia tidak menyangka jika Minhyun bisa datang kesini tiba-tiba.


"Aza belum sempet ngomong aja pa, bener deh." Papa Natta hanya sesekali mengangguk dan mengelap mobilnya lagi.


"Pantes ya Hanbin udah jarang ke rumah. Ternyata putus." Sontak Natta menoleh ke arah Minhyun dan memeriksa reaksi lelaki itu.


Yang di lihatnya Minhyun hanya acuh tak acuh dan membiarkan Natta menyelesaikan urusan dengan papanya.


"Udah lama kali pa. Udah ah Aza berangkat dulu ya. Salam ke mama." Natta mengecup pipi papanya dan melambaikan tangannya sebelum akhirnya menarik lengan Minhyun.


"Ayo kak." Tapi Minhyun berhenti sejenak dan tidak mengikuti Natta.


"Saya pamit dulu om," kata Minhyun pada papa Natta dan di balas anggukan dari pria paruh baya itu.


...


...


Suasana stasiun di pagi hari adalah waktu paling ramai dari tempat itu. Kebanyakan yang menggunakan kereta biasanya para pekerja kantor yang butuh waktu lebih cepat untuk sampai ke kantor di banding dengan naik mobil dan terjebak macet.


Dan naik kereta adalah hal yang belum pernah Natta lakukan sampai sekarang. Biasanya ia akan pergi kemana-mana dengan motor atau mobil. Jadi Natta sangat antusias saat Minhyun mengajaknya untuk naik kereta.


"Kamu belum pernah naik kereta?" tanya Minhyun setengah kaget saat Natta bilang bahwa ia belum pernah naik kereta.


Dengan kata lain, Minhyun membuat keputusan yang tepat.


"Iya kak serius deh aku belum pernah naik kereta," balas Natta sembari tersenyum sangat cerah pagi itu di mata Minhyun.


"Lucu banget sih." Minhyun mengacak rambut Natta dengan gemas. Sedangkan Natta hanya memerah diam-diam.


"Sampe sekolah, kita sarapan ya. Aku tau kamu belum sempet sarapan tadi di rumah."


Natta menoleh ke arah Minhyun dan mengangguk. Natta pikir Minhyun itu seperti yang orang lain bicarakan; brengsek, urakan, dan pemaksa. Untuk beberapa hal Natta memang setuju, tapi setelah keadaan nya seperti ini, Natta pikir tidak begitu juga.


Minhyun sangat tampan saat lelaki itu tiba-tiba saja berada di depan rumahnya dan berbicara dengan sang papa sembari sesekali tersenyum.


Mungkin hanya karena Natta yang terlalu memikirkan Seungwoo sampai ia tidak sadar bahwa ada Minhyun di sebelah lelaki itu.


"Motor kakak lagi rusak?"


Minhyun menggeleng, "Aku emang sengaja mau ngajak kamu naik kereta."


"Udah sini pegangan." Minhyun menggenggam tangan Natta sangat erat saat pintu kereta tujuan mereka terbuka.


Saat mereka masuk ke dalam kereta, suasananya agak sesak karena cukup penuh. Minhyun dengan sengaja menyuruh Natta bersandar di pintu dan Minhyun berdiri di depan gadis itu sembari berpegangan sekaligus melindungi Natta daru desakan lelaki lain.


"Kakak gak papa?" Melihat Minhyun yang beberapa kali terdorong dorong membuat Natta khawatir. "Gak papa."


"Kakak udah lama ya suka basket?" Minhyun menunduk untuk menatap wajah Natta yang tengah mendongak menatapnya.


"Udah dari kecil sih, emang kenapa? Kamu juga suka?" Natta malah tertawa dan menggeleng.


"Aku malah lemah banget kak sama basket."


Minhyun lebih merendahkan kepalanya lagi untuk memdekat ke wajah Natta, "Tapi bukan basket sih yang paling aku suka."


"Terus apa?" tanya Natta bingung. Padahal kelihatannya lelaki itu sangat menyukai basket.


"Kamu mau tau?" Ya karena sekarang Natta harus tahu apapun tentang lelaki itu.


"Kamu." Wajah Natta berubah menjadi merah mendengar ucapan Minhyun.


"Kak Minhyun apaan sih."


Minhyun tertawa melihat wajah Natta yang berubah menjadi merah. "Jangan kaya gini di depan cowok lain ya."


"Kak Minhyun!"


...


...


Sekolah hari ini ramai karena akan dipilih beberapa eksul yang dapat mewakili sekolah untuk mengikuti kejuaraan tingkat nasional. Kana sendiri dipilih mewakili OSIS untuk mengikuti seleksi perwakilan itu.


Dan sebuah kebetulan yang mengejutkan bahwa Minhyun juga dipilih untuk mewakili ekskul Basket.


Kana tahu, tak seharusnya ia masih mengharapkan Minhyun saat dirinya sendiri telah memiliki Seongwoo.


Namun rasa senangnya yang meledak-ledak ketika mendengar nama Minhyun ikut dalam seleksi bersamanya tak dapat ia sembunyikan. Satu-satunya teman sekelas yang tahu tentang perasaannya selama ini adalah hanya Rose.


"Na?" Kelas yang baru saja berakhir membuat Rose leluasa bertanya pada Kana yang masih sibuk melihat kearah buku panduannya.


"Hm?"


"Lu gitu ya ama gua sekarang?"


Kana melirik Rose, "Apanya dah?"


"Lu jadian kan ama kak Seongwoo? Kok lu gak bilang-bilang sih ama gua?!" Rose terlihat kesal pada temannya itu.


Kana tak tahu jika secepat ini kabar hubungannya dengan Seongwoo menyebar. "Lu tau darimana?"


"Semua orang di sekolah ini sampe tukang sapu di depan pun udah tau kali dari kemaren!"


"Masa sih?"


Kana hanya tersenyum karena tak tahu harus bagaimana menghadapi Rose yang sedang kesal padanya, "Maafin dong, gua sebenernya udah pengen bilang ama lu dari kemaren-kemaren, cuman bingung aja harus gimana ngomongnya."


"Hmm." Rose masih nampak kesal, "Oke gua maafin, tapi harus ada pajak jadiannya, lu juga harus ceritain semua secara detail ke gua."


"Iya, iya, ntar gua traktir lu makan di luar." Kana merangkul Rose dan membujuk gadis itu agar tersenyum, "Jangan ngambek lagi yaa."


"Oh iya btw, lu jadi ngewakilin sekolah sama Kak Minhyun? Cowok yang lu suka itu bukannya temennya Kak Seongwoo ya?"


Kana yang tak mengharapkan ada yang mendengar ucapan Rose segera membungkam mulut teman sebangkunya itu, "Ih, lu kok berisik banget sih? Ntar kalo ada yang denger gimana?"


Rose meminta maaf namun suaranya yang tertutup oleh telapak tangan membuatnya terdengar seperti bergumam tak jelas.


Orang yang merasa namanya terpanggil itu tiba-tiba saja muncul dihadapan Kana, "Apa Na? Lu ngomongin gua ya?"


Jungkook duduk menghadap belakang di bangku temannya yang berada tepat di depan Kana.


Kana menutup wajahnya, merutuki kebodohannya karena telah membuat cicak buntung seperti Jungkook mendengar ucapannya.


"Duh aduh Kanaura Ghiffari, lu ternyata masih suka sama gua ya? Nyesel ya waktu dulu lu ngelepasin cowo keren kayak gua ini?"


Kana dan Rose bertukar tatapan satu sama lain karena jijik mendengar pernyataan Jungkook yang tentu saja tidak benar.


Jungkook meraih sebelah tangan Kana yang berada di atas meja, "Gua disini kok Na, gua rela sekalipun jadi yang kedua setelah bang Seongwoo."


Kana menarik tangannya, "Apaan sih Kook? Jangan ngaco deh!" Ia pun lalu bangkit dari tempat duduknya, "Rose, gua mau ke ruang OSIS dulu ya?" Kemudian pamit pada Rose sambil melambaikan tangannya.


Jungkook yang tak tahu malu lalu membalas lambaian tangan Kana seolah merasa bahwa Kana melakukan itu untuknya.


Rose menatap Jungkook khawatir sekaligus jijik, "Kook? Lu jangan kegantengan, mual gua liatnya."


"Makanya kalo maag tuh jangan dipelihara." Setelah mengatakan itu, Jungkook yang merasa tak memiliki urusan lagi pun pergi.


...


...


"Kamu tolong bawa ini ke perpus ya, habis itu kamu susun sesuai jenisnya di rak, saya ada kelas ngajar dulu setelah ini." Natta mengangguk mengerti saat Bu Wendy menitipkan pesan seperti ini.


Karena kebetulan kelas Natta sedang jam kosong, Natta jadi buru-buru pergi ke perpustakaan untuk mengambil beberapa buku. Tapi karena perpustakaan di kunci, Natta jadi mencari keberadaan bu Wendy yang sering pegang kunci perpustakaan.


Jadilah Natta yang di titipi amanah oleh bu Wendy padahal niatnya hanya ingin meminjam buku di perpus.


"Ya kali aja gua harus bawa kardus segede gini si?" gerutu Natta saat bu Wendy sudah pergi ke kelas nya dan hanya ada Natta yang menatap pasrah ke arah dua kardus besar itu.


"Makin pendek aja kalau gini caranya." Meskipun tidak mau, Natta tetap melakukannya.


Toh, sudah citra nya sebagai anak baik dan ketua kedisiplinan juga. Mana mungkin Natta bisa menolak.


Natta mengangkat kardus yang berisi beberapa buku baru itu dengan pelan, meskipun ukurannya tidak terlalu besar, untuk Natta yang tidak bertubuh tinggi juga itu menjadi masalah.


"Bu Wendy kok tega." Sepanjang jalan Natta hanya bisa mendengus merasakan berapa beratnya kardus ini.


Karena Natta yang terlalu serius dengan kardusnya yang tinggi nya bahkan menutupi mata Natta, ia sampai tidak sadar bahwa di depannya ada Seongwoo yang berjalan berlawanan dengannya.


Seongwoo mengangkat satu kardus paling atas untuk memastikan siapa yang membawa kardus seberat ini sendirian.


"Loh? Natta?" ucap Seongwoo saat ia melihat wajah Natta yang setengah kesal di balik kardus.


Tapi karena belum ada jawaban apapun dari Natta, Seongwoo pun mendekatkan wajahnya dan menaruh dagunya di atas kardus sembari menatap wajah Natta.


"Tta?" Natta yang terkejut dengan suara Seongwoo mendadak bingung.


Kenapa harus ada kak Seongwoo sih? Dongkol Natta.


"Kak Seongwoo?" tanya Natta pura-pura biasa, padahal dalam hati udah berharap jangan sampai gagal move on.


"Lo ngapain bawa kardus kayak gini? Berat kali." Mendengar pertanyaan Seongwoo, Natta pun menghela nafas.


"Di suruh bu Wendy kak, soalnya dia lagi ada kelas ngajar." Seongwoo mengangguk mengerti atas penjelasan Natta.


"Mau di bawa kemana?" tanya Seongwoo pada Natta.


Tapi Natta malah tidak mengerti dengan pertanyaan Seongwoo berlabuh kemana, "Apanya kak?"


"Hubungan kita," balas Seongwoo yang membuat wajah Natta memerah.


"Hah?" Tapi Natta hanya pura-pura tidak mendengar.


Lalu Seongwoo tertawa ringan sebelum menoyor kepala Natta dengan telunjuknya.


"Jangan baper ah. Gua bantu ya? Mau ke perpus kan paling." Natta mengangguk seadanya. Bagaimana ia tidak baper jika kelakuan Seongwoo mengatakan sebaliknya.


"Rambut lu jadi di potong Tta?"


Seongwoo tiba-tiba menaruh kardus yang tadi di pegangnya lalu mengambil rambut Natta dari belakang dan menguncirnya menjadi satu dengan gelang miliknya.


"J-Jadi kak," balas Natta gugup karena Seongwoo yang memperlakukan nya seperti itu.


"Padahal gua bilang jangan di potong. Kan jadi merasa bersalah gua nya."


Seongwoo agak kaget saat melihat rambut Natta sudah berubah menjadi sebahu.


"Gak papa kak, salah aku kok waktu itu. Udahlah lupain aja kak." Sama kaya gue yang lagi berusaha ngelupain lo aja kak.


"Biar gak ke ulang lagi jadi gua iket ya rambutnya, gak papa kan Tta?" Natta mengangguk setuju. Takutnya memang ke ulang lagi.


Lalu setelah selesai, Seongwoo mengambil kardus nya lagi dan berjalan di samping Natta sembari beberapa kali berbicara dengan gadis itu.


"Gua boleh nanya gak nih?" Tiba-tiba Seongwoo mengalihkan pembicaraan mereka.


"Nanya aja kak."


"Gimana ceritanya bisa jadian sama Minhyun? Kayanya kalian gak pernah deket."


Beberapa hari yang lalu Minhyun memang menanyakan tentang Natta, tapi ia sama sekali tidak menyangka jika temannya satu itu sangat cepat bertindak.


"Haha, kaya kakak sama Kana aja kan? Perasaan aku gak pernah denger kalian deket deh. Tiba-tiba ada kabar malah jadian."


Tawa Natta itu palsu. Mana bisa ia tertawa padahal hatinya udah sesak nafas aja sama kalimatnya sendiri. 'Gue gak salah kan?'


"Bisa aja sih Tta," kata Seongwoo sembari tertawa kecil.


Natta hanya bisa memandang Seongwoo yang tengah tertawa dari samping. Rasanya sangat sakit melihat orang yang ia suka tertawa, tapi sayangnya tawa itu bukan untuknya.


"Sekarang aku boleh nanya kak?" tanya Natta.


"Tanya apa nih?" kata Seongwoo dan menoleh pada Natta.


"Kenapa bisa suka sama Kana kak?" Natta tidak tahu apa yang ia pikirkan sampai bisa menanyakan hal seperti itu pada Seongwoo.


"Dia cantik sih." Mendengar Seongwoo, Natta tersenyum miris diam-diam.


Mengharapkan Seongwoo itu terlalu jauh untuk Natta.


...


...


Woojin saat itu tengah berjalan kembali menuju kelasnya setelah dari toilet. Matanya melihat ke sekeliling walaupun tak ada apapun disana. Sekedar mengisi kekosongan saat berjalan kembali ke kelas.


Pandangan Woojin membuat langkah kakinya tiba-tiba saja berhenti saat itu saja. Woojin melihat dari kejauhan Seongwoo dan Natta sedang berdiri bersama kardus-kardus berisi buku yang tergeletak di bawah.


"Bang Seongwoo bukan sih itu?"


Woojin memperhatikan lagi, lelaki yang dilihatnya itu tengah membantu gadis di depannya untuk mengikat rambutnya yang sebahu.


Woojin melihat mereka tertawa. Dalam hati ia justru malah teringat Kana yang tak ada disana.


"Gua udah duga, gini kan."


Woojin kembali melangkahkan kakinya karena tak ingin melihat lebih lama kebersamaan Seongwoo dan Natta. Diam-diam ia juga memikirkan bagaimana harus berpura-pura tak melihat itu dan menyembunyikannya dari Kana.


Ia sempat berpikir bahwa apa yang ia lihat itu mungkin hanya kebetulan, atau sekedar perhatian biasa antara teman. Namun dugaan-dugaan lain selalu saja muncul kembali dipikiran Woojin. Ia juga harus memikirkan perasaan Kana yang mungkin saja akan tak suka jika mengetahui itu.


"Tau ah!"


Woojin berlari kecil untuk menghilangkan macam-macam pikirannya itu. Sudahlah, ia akan pikirkan itu lagi nanti.


...........


...Reeshiellaa Nat...


...Ft Dewi Hsu...