
...BAB VI - Yesterday, Today, Tommorow...
...| Kenapa Jadi begini? |...
...✨...
...🎶Byul - Remember...
...........
Kana menutup lokernya setelah mengambil beberapa buku panduan untuk mata pelajaran yang akan ia ikuti. Ia terkejut saat menemukan Daniel yang sudah ada di hadapannya saat ia berbalik. Bukunya terjatuh begitu saja.
Kana hanya menatap Daniel sebentar, lalu berjongkok untuk memunguti bukunya yang terjatuh.
Daniel membantu Kana dengan memberikan buku yang telah ia ambil. Mereka berdua lalu bangkit bersamaan.
Setelah menerima bukunya dari Daniel, Kana yang mencoba mengabaikan Daniel lalu hendak melangkah pergi. Namun dengan cepat lengannya ditarik oleh Daniel hingga ia kembali ke tempat sebelumnya.
"Na, gua mau ngomong."
"Lewat chat aja kak, aku mau siap-siap buat masuk kelas." Kana menatap tangan Daniel yang tak juga melepaskan lengannya, ia lalu mencoba untuk melepaskannya sendiri.
Daniel tersenyum hambar sambil membuang mukanya karena tak percaya Kana melepaskan tangannya begitu saja.
Entah apa yang dipikirkan Daniel saat itu, bukannya membiarkan Kana pergi ia justru menarik kembali Kana dan mendorongnya ke belakang hingga terbentur pada loker.
Kana meringis, ia menatap Daniel dengan heran. Sebenarnya apa mau lelaki di depannya itu?
Daniel mengunci Kana dengan menempatkan kedua tangannya di sekitar kepala Kana. Ia pandang gadis itu dari dekat.
"Lu ngejauhin gua?"
"Enggak." Kana menegaskan tatapannya untuk Daniel, "Tapi kalo kakak ngerasa kayak gitu, gak papa. Emang lebih baik kita kayak gini kak, kayak dulu."
"Salah gua apa?"
"Gak ada yang salah kak."
"Terus kenapa lu giniin gua?"
Kana sangat merasa kesulitan untuk menjelaskan semuanya, kenapa Daniel tak mengerti sendiri. Ia membuang wajahnya dengan perasaan gelisah.
"Kak," Kana kembali menatap Daniel dengan memohon, "Please jangan bikin semuanya tambah rumit."
"Segimana keterlaluan nya perasaan gua sampe bikin lu rumit Na?" Mata Daniel memerah, "Gua cuman pengen tetep di samping lu dengan perasaan gua, apa salah?"
"Kakak lupa? Aku pacar temen kakak."
"Terus kenapa?"
Kana tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar, seharusnya Daniel mengerti begitu ia mengatakan itu.
"Kak?" Kana menatap heran Daniel, "Aku gak nyangka kakak bisa ngomong kayak gini."
Dengan kasar Kana menerobos lengan Daniel dan meninggalkan lelaki itu setelah mengatakan semua, "Lepas!"
...
...
Seongwoo tak sengaja menemukan Kana sedang berada di depan lokernya. Ia tersenyum saat melihat gadis itu dari jauh. Namun tak lama, senyumannya semakin pudar saat melihat Daniel berjalan dan berdiri di belakang Kana.
Seongwoo memperhatikan Kana yang seperti tengah menghindari Daniel. Kakinya hendak melangkah menghampiri mereka ketika Seongwoo melihat Daniel menarik dan mendorong Kana dengan keras ke lokernya.
Saat Kana sedang berbicara, Seongwoo menghentikan langkahnya karena sadar akan sesuatu. Gadisnya itu lalu menerobos tangan Daniel dan pergi begitu saja.
Seongwoo melihat sekilas Daniel yang kecewa sebelum kemudian mengikuti Kana yang sudah lebih dulu meninggalkan tempat itu. Ia mengambil jalan lain untuk dapat mengejar Kana.
Diam-diam, Seongwoo juga penasaran tentang apa yang Kana katakan hingga membuat Daniel terlihat kecewa saat ditinggalkannya. Dalam hati juga ia lega karena melihat Kana yang mengabaikan Daniel, itu tandanya Kana memang tak pernah memberi harapan apapun pada Daniel.
Seongwoo menunggu Kana di persimpangan lorong gedung. Ia melihat Kana yang terlihat melamun dan bingung akan sesuatu. Gadis itu bahkan tak menyadari keberadaan Seongwoo yang sedang menyandar di dinding.
Saat melewati Seongwoo, Kana terkejut karena saat berjalan tubuhnya tiba-tiba saja merasa ditarik ke samping oleh seseorang.
Tubuh Kana tertahan oleh dinding di belakangnya saat Seongwoo menariknya. Ia melihat lelaki itu sedang menatapnya sambil sedikit tersenyum.
"Seongwoo?"
Senyuman itu semakin mekar, "Ngelamunin apa sih? Sampe gak sadar aku nunggu kamu disini."
Mendengar pertanyaan itu, Kana tiba-tiba saja tergagap. Entah kenapa ia merasa sedikit khawatir jika Seongwoo tahu ia baru saja bertemu dengan Daniel.
Seongwoo yang sudah tahu semua kemudian meraih tubuh Kana dan memeluknya lembut. Ia tersenyum untuk menghilangkan semua kegelisahan Kana.
"Kamu gak usah nunjukin apapun lagi. Aku percaya sama kamu."
Kana mengeratkan genggaman pada buku-bukunya. Tangannya merasakan tubuh Seongwoo yang sedang mendekapnya. Ia juga tak bisa menahan untuk menutup kedua matanya saat itu.
...
...
Biasanya Natta paling malas untuk pergi ke ruang musik, selain karena tempatnya agak jauh dari kelasnya, tempatnya juga agak sepi.
Jadi Natta tidak tidak pernah mau kesana. Kecuali sekarang.
Karena kebetulan ketua kelas di kelasnya tengah sakit, anak-anak lain pun sepakat untuk menyuruh Natta yang datang ke ruang musik.
Sesuai dengan amanat Bu Taeyeon yang menyuruh mereka berlatih disana.
Tapi karena anak-anak lain setengah hati, kecuali Jaehwan yang semangat, Natta pun harus memeriksa ruang musik lebih dulu sebelum di pakai.
"Sial banget sih hidup gue," gerutu Natta sendiri.
Saat Natta membuka pintu ruang musik, ruangannya agak gelap karena lampunya mati. Terlalu banyak debu karena jarang di pakai.
Apalagi kebanyakan orang mengatakan bahwa akan di buat ruang musik baru yang lebih dekat.
Setelah menemukannya, Natta menyalakan lampunya dan terkejut ketika melihat ada Guanlin disana.
Guanlin duduk di dekat jendela sambil memainkan gitar pelan-pelan.
"Guanlin? Lo ngapain disitu?"
"Lah Natta? Lu sendiri ngapain disini?" Guanlin juga tidak kalah terkejut ketika melihat Natta.
"Kelas gua ada pelajaran musik, jadi Bu Taeyeon suruh kita latihan disini. Lu ngapain? Bolos ya?" tanya Natta penuh selidik ke arah Guanlin.
Guanlin yang di tanya begitu hanya bisa memperlihatkan cengirannya pada Natta.
"Mau balik sekarang atau gua hukum?" Dan Guanlin lupa jika Natta itu ketua kedisiplinan.
"Gua mau di hukum aja Tta, biar bisa berdua sama lu."
Natta mengerjap beberapa kali karena tidak percaya dengan apa yang di dengar nya.
"Gak usah ngegembel, gak mempan. Sekarang sini, gua harus hukum lu ke ruang bk."
Guanlin meletakkan gitar yang di pegang nya lalu berdiri menghampiri Natta sesuai apa yang gadis itu katakan.
"Bilang aja mau deket gua, iya kan?" kata Guanlin saat sudah di depan Natta.
Natta hanya bisa melongo mendengar kalimat Guanlin yang terasa lucu di telinganya.
Natta tertawa ringan sebentar, sebelum akhirnya memukul bahu Guanlin, "Pede banget si, Guan. Ngaco, mana mungkin gua pengen deket lu."
Dan Guanlin menyukai tawa Natta yang sangat manis. Membuatnya lupa sejenak bahwa tujuannya mendekati Natta adalah karena taruhan.
"Mau gua ajarin alat musik gak? Gua lumayan jago nih." Guanlin memilih duduk di depan piano.
Membiarkan Natta masih berdiri karena bingung harus melakukan apa.
"Gua gak suka ya kalau lu bolos, temen lu yang lain gak bolos kan?" sebal Natta karena Guanlin benar-benar tidak mendengarkan nya.
Padahal, teman-teman Guanlin sedang berada di kantin untuk bolos juga.
"Mereka di kantin, termasuk Jinyoung kalau lu mau tau."
Natta menutup mulutnya karena terlalu terkejut bahwa mereka memang tidak ada bedanya.
Ia pikir Jinyoung sedang berada di kelas dengan tenang, ternyata lelaki itu juga bolos.
"Udah sini," Guanlin menarik tangan Natta untuk duduk di sebelahnya. "Gak usah di pikirin, bolos itu kadang enak Tta."
Tubuh Natta agak terhuyung ketika Guanlin menarik tangannya tiba-tiba. Tapi dengan terpaksa, Natta pun akhirnya duduk di samping Guanlin.
"Masalah chat lu kemaren, gua gak ngerti maksud lu apa."
Natta serius jika ia mengatakan bahwa ia penasaran, apalagi sampai ia memikirkannya semalaman.
Guanlin noleh ke arah Natta, lalu memangku pipinya di atas tangan sembari memerhatikan gadis itu dari samping.
"Gua gak suka lu sama bang Minhyun." Tetapi Natta tidak tahu apa alasannya.
Saking gemasnya, Guanlin akhirnya mendekatkan wajahnya ke wajah Natta kemudian meniup wajah gadis itu sampai poni nya berantakan.
"Gua gak suka, karena seharusnya yang ada di posisi bang Minhyun itu gua." Kalimat Guanlin berakhir dengan usapan lembut di atas kepala Natta.
Natta yang masih terbengong mencerna kalimat Guanlin mendadak tidak bisa memikirkan apapun.
Sampai suara tuts piano yang berbunyi menyadarkan Natta. Dan ketika ia menoleh, ada Guanlin yang memainkan nya.
"You're the reason..."
Guanlin hanya menyanyikan bagian itu sembari menatap Natta yang juga menatap lelaki itu diam-diam.
"Guan.." Natta kehabisan kata-kata nya setelah ia mengerti maksud lelaki itu sekarang.
"Gua tau, Tta. You're not mine." balas Guanlin sembari tersenyum sangat manis pada Natta.
"But someday, you must love me and be mine, okay?"
Guanlin mengusap kepala Natta sekali lagi dan membuat gadis itu menahan nafas.
"Weitts, Maksiat aja lu berdua. Udah di tunggu anak sekelas juga, bukannya balik."
Itu suara Jaehwan dari ambang pintu. Membuat Natta maupun Guanlin menoleh dan Natta ingin hilang saat itu juga.
"Kok lu disini, Jae?" tanya Natta dengan gugup.
"Ya gua nyusulin lu lah, gua kira lu di culik genderuwo gitu, Taunya eh taunya. Gua ganggu nih maksudnya?"
Natta menggeleng dengan cepat karena paham dengan kesalahpahaman Jaehwan.
Tapi belum sempat Natta mengatakan kalimatnya, Guanlin sudah lebih dulu menyela.
"Kalau mau jujur sih iya bang, tapi gak papa. Gua balik duluan ke kantin ya Tta," kata Guanlin sambil berdiri.
Guanlin mencubit pipi Natta sembari melewati gadis itu "Jaga kesehatan, terutama jantung lu."
'*******, mana bisa jantung gua baik-baik aja,' dongkol Natta dalam hati saat melihat punggung Guanlin menghilang.
"Waduh Tta, apaan lagi nih? Kok gua gak tau lu deket sama Guanlin."
Natta juga tidak tahu kapan mereka dekat seperti itu.
...........
...09 Februari 2019...
...Reeshiellaa Nat...
...Ft Dewi Hsu...