4 Walls

4 Walls
3.0 - Tentang Daniel


...BAB III - Best Luck...


...| Tentang Daniel |...


...✨...


...🎶AKMU - 200%...


...........


Kana bersyukur karena akhirnya dapat pulang sekolah lebih cepat dari biasanya. Saat OSIS lembur, gadis itu bisa pulang sampai menjelang matahari terbenam.


Namun untuk hari ini, ia bisa sampai di rumah sekitar jam 4 sore. Mungkin karena tugasnya sudah ia selesaikan lebih awal, kini iapun dapat merasakan kebebasan sementara.


Karena memiliki waktu luang, Kana memutuskan untuk mengunjungi kakaknya yang mungkin saja sedang bekerja di Rumah Sakit.


"Bang?" Kana memanggil kakaknya lewat telepon.


"Hm, ada apa Na?"


"Lagi ada pasien ya?"


"Enggak sih, ini baru mau masuk soalnya udah ada yang nunggu.."


"Aku kesitu ya bang?"


"Lah? Tumbenan, emang kamu udah balik sekolah?"


"Iya nih."


"Oh.. bagus deh. Kamu bukannya istirahat aja di rumah."


"Bosen ah kalo sendirian."


"Ya udah kesini aja."


Jonghyun memang satu-satunya anggota keluarga yang tinggal bersama Kana.


Semua itu karena kedua orang tua Kana dan Jonghyun berada di luar negeri.


Jika dilihat dari alasan tempat asal mereka, Kana dan Jonghyun bisa saja memilih tinggal bersama kedua orang tuanya disana, namun entah mengapa Kana merasa lebih nyaman tinggal di Korea bersama Jonghyun.


Satu hal lagi yang menjadi fakta dari seorang Jonghyun adalah bahwa pria itu bekerja sebagai seorang dokter gigi di Rumah Sakit.


Kana menggunakan jasa taksi untuk pergi ke Rumah Sakit tempat kakaknya bekerja.


Sebelum pergi, tentu saja Kana mengganti terlebih dahulu baju seragamnya dengan baju kaos berbalut jaket jeans dan rok sepanjang lutut.


Bangunan besar dan tinggi itu terlihat jelas begitu Kana sampai di depannya.


Kana langsung berjalan tanpa ragu karena sudah terbiasa dengan lingkungan tempat orang-orang sakit itu.


"Eh.. ada Kana. Mau ke Dokter Jonghyun yah?" Begitulah kira-kira sapaan yang Kana dengar saat ia menghampiri beberapa orang Rumah Sakit yang juga telah mengenalnya akrab.


"Iya mba." Kana tersenyum tanpa harus berpikir lama, "Gimana kabarnya nih?"


"Baik dong, kamu sendiri gimana? Udah terbiasa belum jadi Ketua OSIS?"


Bagi Kana, ucapan salah satu staf Rumah Sakit itu seperti sebuah ejekan atas kejadian kemarin saat dirinya bercerita sambil mengeluh karena mengalami kesulitan yang begitu berat di hari-hari pertama sebagai Ketua OSIS.


Para staf hanya tertawa ketika melihat ekspresi Kana yang menggemaskan. Kana pun merespon lelucon itu dengan ikut tertawa bersama.


"Oh iya mba," Kana mendapat perhatian begitu memanggil lawan bicaranya itu, "Bang Jonghyun emang masih banyak pasiennya?"


"Enggak kok.. tinggal satu." Seolah teringat sesuatu, staf Rumah Sakit itu segera menyambung kalimatnya, "Oh iya, ngomong-ngomong pasien Kakak kamu yang ini tuh satu sekolah tau sama kamu, Na."


Kana juga sedikit terkejut dengan fakta yang kebetulan itu, "Masa sih?"


"Iya. Dia udah lama sih sering kontrol ke sini. Cuman emang kebetulan aja baru sekarang dia kontrol lagi pas kamu juga dateng kesini."


"Cowok apa cewek gitu?" Kana juga penasaran, mungkin saja ia kenal orang itu kan?


"Cowok, namanya tuh, siapa ya? Bentar, bentar," staf Rumah Sakit itu melihat kembali kertas data pasien milik kakak Kana dan mencari siapa nama pasien itu.


"Daniel Willy Ananta. Kenal gak?"


Kana jelas mendengar nama itu di telinganya. Ia tak tahu pasti pemilik nama itu berwajah seperti apa, namun mendengar kata 'Daniel', Kana tiba-tiba saja teringat pada salah satu teman Minhyun.


Walaupun tidak mengenalnya secara baik dan belum pernah bicara secara langsung dengannya, Kana juga tahu nama pria itu.


"Kayaknya kenal sih. Cuman dia kakak kelas aku, mba."


"Kok kayaknya? Kamu emang gak deket gitu?"


"Enggak." Kana terlihat kembali biasa setelah mengetahui siapa identitas pasien itu, lagipula Kana tak pernah mengenalnya dengan baik, kenapa pula sekarang Kana harus merasa penasaran dengan orang itu?


"Oh gitu.."


Tepat setelah itu, Kana melihat Jonghyun yang baru saja keluar dari ruangan pemeriksaan tempatnya bekerja.


Tentu saja Kana juga melihat pasien yang dimaksudkan oleh staf Rumah Sakit tadi, Daniel Willy Ananta.


Sekilas, Kana melihat kakaknya mengobrol dengan Daniel. Entah apa yang tengah mereka bicarakan, tapi Kana melihat Kakaknya begitu dekat dengan Daniel.


Beberapa dugaan muncul dipikirannya, namun Kana berusaha mengambil dugaan paling baik saja.


"Ya jelas lah mereka harus deket, Bang Jonghyun kan dokternya Kak Daniel."


Setelah melihat Daniel pergi, Kana segera berlari menghampiri Jonghyun dengan wajahnya yang senang karena melihat kakaknya itu selesai bekerja.


"Bang Jonghyun!" Kana berlari seperti anak kecil.


Jonghyun merentangkan tangannya untuk memberikan adiknya itu sebuah pelukan hangat penuh kasih sayang, dan Kana juga langsung jatuh ke dalam dekapan pria yang hanya memiliki selisih empat tahun dengannya itu.


"Duh aduh." Jonghyun mengusap-usap dengan lembut surai adiknya, "Lama gak nunggunya?"


Kana yang masih memeluk erat tubuh Jonghyun itu hanya menggelengkan kepalanya yang bersembunyi di dalam rengkuhan tangan Jonghyun.


Jonghyun terkekeh melihat tingkah kekanak-kanakan Kana, "Udah makan belum?"


"Ya udah, makan yuk?"


...


...


Matahari sudah terbenam saat Kana dan Jonghyun tengah menyantap makanan yang mereka pesan di kantin Rumah Sakit.


Kana sangat menyukai makanan disana melebihi makanan buatannya sendiri. Maklum saja, Kana hidup jauh dari orang tua.


Gadis itu mau tak mau harus mengurus kehidupannya sendiri, jika tidak bisa, ia akan meminta bantuan dari Jonghyun sebagai satu-satunya wali yang ia punya.


"Wah.." Kana berseru saat sesuap makanan masuk ke dalam mulutnya yang sudah berair sejak tadi, "Masakan para bibi disini emang paling enak!"


Jonghyun tidak terkejut dengan ungkapan adiknya itu, sudah lebih dari puluhan kali Jonghyun mendengarnya.


"Bener gak bang?" gadis itu beralih memandangi wajah tampan kakaknya.


"Suka-suka kamu aja deh, yang penting kamu jangan makan makanan instan aja."


Kana tersenyum manis.


"Oh iya," Jonghyun tiba-tiba teringat sesuatu, "Kamu kenal Daniel Willy Ananta?"


Ini sudah yang kedua kalinya Kana mendengar nama itu dalam sehari.


Masalahnya ia sama sekali tidak pernah berpikir tentang pria itu apalagi mengenalnya lebih jauh.


"Kalo kenal sih enggak, cuman tau aja," ucap Kana sambil mengunyah sepotong brokoli kesukaannya.


"Masa? Kok dia kenal kamu sih?"


"Jelas lah, aku kan Ketua OSIS."


"Iya deh, yang udah terkenal."


"Eits.." Kana sedikit tak terima dengan kalimat Jonghyun barusan, "No, no, no. Asal bang Jonghyun tau ya, adek abang ini emang udah terkenal sebelum jadi Ketua OSIS."


"Oh gitu ya, berarti kamu populer banget dong dikalangan para cowok?"


Kana mengangguk-angguk dengan wajah yang sedikit membuat orang lain kesal jika melihatnya, "Ya.. gitu deh."


"Tapi kok masih jomblo." Jonghyun terkekeh sendiri mendengar leluconnya.


"Apa bang?" Untungnya Kana tak mendengar itu karena terlalu sibuk makan.


Jonghyun membenarkan duduknya sambil berpura-pura tak pernah mengatakan apa-apa, "Kalo gitu, kamu bisa dong bantuin abang?"


"Bantuin apa dulu?"


Jonghyun lebih mendekatkan wajahnya kearah Kana, "Mau ya bantu awasin Daniel disekolah, jangan sampe dia makan permen karet lagi."


Ini permintaan tak masuk akal, Jonghyun memang begitu sejak dulu. Bagi Kana, kakaknya itu terkadang bisa jadi orang yang paling aneh dari semua orang aneh yang pernah ia temui.


"Abang bercanda ya?"


Jonghyun mengerjapkan matanya berkali-kali, kemudian menggelengkan kepalanya tanpa merasa berdosa.


"Bang?" Kana masih ingin berusaha menyadarkan kakaknya, "Abang gak salah?"


"Enggaklah, emang kenapa?"


"Kok masih nanya kenapa sih?"


"Ya emang gak tau."


"Emang abang pikir aku ini orang pengangguran apa di sekolah? Gimana bisa aku harus ngurusin satu orang doang cuman gara-gara dia pasien abang?"


"Masalahnya gini, tiap dia kontrol, bukan malah makin bagus, kondisi giginya malah tambah buruk tau gak?"


"Enggak." Jawab Kana begitu saja.


"Lagi anggap aja ini jadi bagian tugas kamu sebagai Ketua OSIS, melindungi dan menaungi para siswa di sekolah kamu." Bagi Kana, Jonghyun kini terlihat sangat berlebihan.


"Ya ini beda kasus lagi namanya."


"Sama Na." Jonghyun memperbaiki posisi duduknya.


"Apa alesannya sampe aku harus ngelakuin itu?"


"Ada. Pertama, yang minta ini tuh abang kamu sendiri, sebagai seorang dokter." Jonghyun melihat Kana dengan serius, "Kedua, kebetulan juga pasien abang ini adalah temen satu sekolah kamu.."


"Dia bukan temen aku bang, kenal aja enggak. Cuman tau doang," potong Kana sebelum kakaknya itu semakin tersesat tentang hubungan tak terlihat antara dirinya dengan Daniel.


"Okay, okay. Dia itu siswa juga di sekolah yang sama kayak kamu. See?"


Kana akhirnya mengangguk menyetujui, "Nah, karena kamu Ketua OSIS nya, secara gak langsung, permohonan abang ini juga tugas kamu buat menaungi salah satu siswa di sekolah kamu dong? Bener gak?"


Kepala Kana tiba-tiba saja terasa pusing saat mendengar ucapan kakaknya barusan.


"Duh bang, apa susahnya sih tinggal nasehatin langsung ke orangnya?" Wajah Kana memelas, "Gak usah narik-narik aku buat terliba.."


"Mulut abang juga udah berbusa buat nasehatin itu anak Na, tapi percuma kalo dia gak diawasin."


Wajah Jonghyun juga tak kalah memelas, "Lagi kamu juga tinggal sesekali merhatiin dia. Kalo dia mau makan permen karet, tinggal kamu ambil. Gak harus sampe setiap saat ngeliatin dia terus, cuman kalo kebetulan ngeliat dia aja. Gampang kan?"


...........


...Semoga masih betah disini ya, semuanya. Makasih banyak udha mau baca....


...Kalau kalian sabar menunggu, insyaallah gak nyesel deh....


...20 Januari 2019...


...Reeshiellaa Nat...


...Ft Dewi Hsu...