
...BAB VI - Yesterday, Today, Tommorow...
...| Baikan |...
...✨...
...🎶Ha Sungwoon - Think Of You...
...........
Kana memperbaiki posisi tidurnya setiap menit berganti. Rasa kantuk yang harusnya segera hadir ketika ia berbaring justru malah sebaliknya. Kana tiba-tiba saja tak dapat menutup matanya walau sekejap.
'Kalo lu bisa nganggep gua temen dan kita bisa deket, gua seneng.'
'Tapi sorry karena gua harus bilang ini.'
'Gua berharap kita gak cuman jadi temen.'
'Gua pengen lu jadi cewe gua.'
Kata-kata itu terus terngiang di kepalanya, dan entah kenapa dada Kana juga merasa sesak ketika mengingat wajah Seongwoo yang begitu kecewa.
Pintu kamar terbuka, Kana melihat kepala Woojin yang menyundul ke dalam kamarnya. Dengan piyama berwarna biru tua yang dia kenakan, Woojin berjalan menuju Kana.
"Kenapa Jin?" tanya Kana yang kemudian duduk saat Woojin masuk ke dalam kamarnya.
"Belum tidur kak?"
Kana menggelengkan kepala, "Belum, kamu sendiri kok belum tidur?"
Tanpa aba-aba, Woojin merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
"Aku tidur disini ya kak," ujar Woojin sambil meraih guling dan memeluknya gemas.
Kana tentu saja bingung, "Hm? Emang kamer kamu kenapa?"
"Gak papa sih, cuman sepi aja kalo tidur sendiri."
Sebenarnya Woojin hanya takut untuk tidur sendiri. Apalagi ia baru tinggal disini belum sampai 24 jam, ia berpikir bagaimana jika ada penghuni dunia lain yang belum bisa menerima kehadirannya di rumah ini? Belum lagi ditambah efek film horor yang membuatnya parno.
Woojin merasa seakan ada sesuatu yang memehatikannya entah dimana itu, entah karena ia berwajah tampan atau karena tidak ada kerjaan. Yang jelas malam ini Woojin tak ingin tidur sendiri.
Kana hanya mengiyakan, mood nya yang kurang baik membuatnya tak ingin banyak bicara walaupun itu bersama Woojin. Ia kemudian ikut merebahkan tubuhnya di samping Woojin.
"Kak?"
"Hmm."
"Jangan tidur duluan dong."
Jika saja Woojin tahu, menutup mata pun Kana sulit. Selalu saja terbayang lagi kejadian tadi ketika Kana menutup matanya.
"Enggak kok, kakak juga belum ngantuk."
"Mau tuker cerita gak? Biar rame."
Ide itu tak terlalu buruk, Kana memang membutuhkan ruang untuk bercerita. Setidaknya ia bisa melepaskan sedikit beban dalam pikirannya. Walaupun ia tahu dengan menceritakan semua pada Woojin yang mungkin tak mengerti apa-apa tak akan menyelesaikan masalahnya, karena tak semuanya bisa diselesaikan hanya dengan bercerita.
"Kakak duluan deh yang cerita."
Kana melirik dengan segera, "Kok kakak duluan sih?"
"Ya kan yang punya bahan cerita kakak," Kana tak tahu jika Woojin bisa membaca pikirannya, entah itu hanya tebakan belaka atau bukan tapi hal itu memang benar, "Yang abis jalan sama bang Daniel."
Woojin saja menyangka begitu tentangnya dan Daniel, bagaimana Seongwoo? Kana berpikir bahwa kesalahan memang bersumber darinya.
"Kamu nyangka gitu Jin?"
Melihat wajah Kana yang berbeda, Woojin menebak bahwa gadis itu tengah memiliki masalah sekarang.
"Ketauan ya ama bang Seongwoo?"
Bagi Kana, kalimat Woojin itu seolah seperti menghakiminya. Secara tidak langsung, Kana merasa bahwa apa yang dilakukannya bersama Daniel malam ini adalah sebuah kesalahan hingga membuat seseorang kecewa padanya.
"Emang kakak abis ngapain sih sampe kesannya kamu mikir kalo kakak itu udah selingkuh sama Kak Daniel?"
"Kok nanya aku sih? Ya kakak sendiri tau jawabannya, kenapa bisa bang Seongwoo marah sama kakak?"
"Dia gak marah." Kana menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan berat, "Kakak cuman ngerasa bersalah doang karena-"
Entah apa yang membuat Kana sulit melanjutkan kalimatnya.
Woojin menunggu Kana untuk menyelesaikan ucapannya itu.
"Karena nerima bang Seongwoo tanpa pernah nyoba buat bales perasaan dia, terus sekarang malah bikin kecewa dia kayak gini," ucap Kana.
"Yakin cuman itu?"
Kana menoleh lagi pada Woojin, matanya seperti menyimpan ragu.
"Kakak mulai jatuh cinta kali ke bang Seongwoo."
Kana menarik kedua sudut bibirnya karena merasa konyol, "Secepet itu?" Woojin mengangguk yakin, namun senyuman itu perlahan-lahan memudar karena Kana tiba-tiba saja merasa bimbang bagaimana jika perkataan itu memang benar.
"Ati-ati aja, kakak nyangka perasaan itu cuman rasa bersalah. Kalo momen sekarang adalah waktu yang tepat buat kakak terlalu cepet dibilang jatuh cinta ke bang Seungwoo itu bener gimana?"
Tak ada jawaban dari Kana.
"Perasaan yang sebenernya bisa cepet dateng karena cuman butuh kata 'kita' kak."
"Kata 'kita' itu perlahan-lahan bakal ngajarin susahnya percaya, ngejaga dan bersama."
"Di awal kakak bisa aja nerima bang Seongwoo karena alasan lain, cuman lama kelamaan bakal susah buat kakak ngambil satu langkah ke belakang buat ngelepasin bang Seongwoo gitu aja."
"Karena apa? Karena pengecutnya cinta itu datang diem-diem."
"Diem-diem bawa resah, gelisah, sama marah."
"Resah pas dia gak ada, gelisah pas dia gak ngasih kabar, dan marah pas dia lagi sama yang lain."
"Sekarang tinggal tanya aja sama diri kakak sendiri, kenapa kakak susah-susah mikirin perasaan bang Seongwoo yang lagi kecewa, kenapa kakak cape-cape gak tidur cuman buat mikirin satu cowo itu doang kalo kakak sendiri bilang kakak gak punya perasaan sama dia?"
...
...
Sulit bagi Seongwoo untuk melupakan begitu saja kejadian kemarin. Daniel, kawannya sejak lama ternyata juga menyukai Kana yang merupakan gadisnya. Pikiran Seongwoo terus saja teralih lagi pada malam itu, padahal sudah sekeras mungkin Seongwoo mencoba untuk menyingkirkannya dari pikiran.
Sampai pagi ini pun, Seongwoo belum bicara lagi dengan Kana. Ia tahu dengan begini, ia hanya akan membuat Kana semakin merasa bersalah.
Seongwoo bangkit dari tempat tidurnya lalu membuka gorden besar yang menutupi cahaya fajar. Untungnya hari ini libur, setidaknya untuk satu hari ini Seongwoo tak akan menjunjukkan kecanggungan dan kemarahan pada siapapun di sekolah.
Saat melihat ponselnya, Seongwoo sudah menemukan panggilan tak terjawab dari Kana sebanyak puluhan kali. Ia tiba-tiba merasa bersalah karena tak mengetahui Kana begitu mengkhawatirkannya sampai begitu.
Saat hendak menelpon kembali Kana, pintu kamarnya terbuka. "Kamu kalo udah bangun kok mamah panggil-panggil gak nyaut-nyaut sih?"
Seongwoo tak pura-pura, ia memang tidak mendengar apapun sejak tadi.
"Ada Kana di bawah." Mata Seongwoo sedikit melebar, "Cepet mandi, dia udah nunggu dari tadi tau! Jangan males!" ucap Ibu Seongwoo sebelum menutup kembali pintu kamar anaknya.
...
...
Kana melihat Ibu Seongwoo tersenyum padanya saat baru menuruni tangga setelah membangunkan anaknya yang belum terlihat sejak ia datang beberapa menit yang lalu.
"Aduh, maaf ya Na. Seongwoo emang suka bangun siang."
"Ehh, enggak-enggak, biarin aja. Biar anak itu gak males, ajak aja joging tiap weekend."
Kana hanya tersenyum sambil mengangguk kecil.
"Kamu pasti belum sarapan." Ucapan itu tak sepenuhnya salah, Kana memang belum makan apapun sebelum pergi kesini, "Yuk sarapan bareng Tante," ajak wanita paruh baya itu.
...
...
Benar saja, rasanya canggung bagi Seongwoo atau Kana saat mereka jalan berdampingan seperti ini. Selama lebih dari 100 meter saat mereka mulai berjalan, tak ada yang mulai bicara. Kana hanya menunduk tanpa tahu bagaimana harus memulai pembicaraan, sedangkan Seongwoo sendiri hanya berjalan sambil sesekali melirik Kana diam-diam.
Keduanya menjadi lebih canggung lagi saat tak sengaja tangan Seongwoo menyenggol tangan Kana.
"Seongwoo aku-"
"Aku tau." Banyak yang ingin Seongwoo dengar dari Kana, tapi banyak juga yang ingin ia katakan pada gadis itu, ia menghentikan langkahnya dan Kana juga mengikutinya, "Aku pengen ngertiin semua yang kamu cemasin, Na."
Sejak tadi, Kana menatap Seongwoo dari samping, namun sekarang lelaki itu tengah menatapnya juga.
"Untuk sekarang, cuman ada kita."
Kana tiba-tiba saja teringat perkataan Woojin malam tadi.
"Kamu," Seongwoo meraih tangan Kana dengan lembut, "Sama aku."
Tak cukup hanya malam tadi, sekarang pun Kana berusaha keras memikirkan perasaan macam apa yang ia miliki untuk Seongwoo. Ia bimbang bagaimana mungkin ia bisa jatuh secepat ini pada Seongwoo.
Anehnya, tak pernah teringat Minhyun saat ia bersama Seongwoo. Dan itu terus terulang sampai sekarang. Kana tak pernah lagi memikirkan Minhyun bahkan perasaannya saat ia sedang bersama Seongwoo.
"Daniel suka sama kamu itu hak dia." Seongwoo semakin membuat Kana menatapnya, "Aku bakal berusaha buat baik-baik aja selama kamu gak ngelepasin genggaman tangan kamu ke aku."
Kini tinggal Kana yang mengatakannya. Tak disangka, Kana juga membalas genggaman Seongwoo saat itu.
"Susah buat aku nunjukin perasaan aku ke kamu." Kana menunjukkan kesungguhannya saat mengatakan itu, "Susah buat aku bikin kamu bisa ngerti apa yang sebenernya aku rasain."
Walaupun merasa digantung, Seongwoo tetap mendengarkan Kana.
"Makasih banyak buat semuanya, Woo."
Kana hanya bingung tentang perasaannya sekarang dan bagaimana ia harus mengatakan itu, namun akhirnya ia dapat tersenyum saat Seongwoo juga tersenyum.
Untuk saat ini, cukup bagi Kana untuk memastikan hatinya yang belum pasti.
...
...
Beberapa hari ini Jonghyun belum memberi kabar akan kembali ke rumah. Padahal sudah seharusnya kakak Kana itu berada di rumah bersama adiknya dan Woojin.
Saat Kana masih berada di luar, Woojin baru bangun karena mendengar ponselnya terus berdering.
Dengan mata yang masih terasa berat, Woojin melihat Jonghyun menelpon nya.
"Iya bang?" Suara serak Woojin menyapa Jonghyun lebih dulu.
"Kamu baru bangun Jin?"
"Hmm," jawab Woojin dengan mata yang tertutup.
"Oh iya, hari ini libur ya." Jonghyun berseru sendiri, "Pantesan aja pada susah dihubungin."
Mendengar itu Woojin tersadar jika Kana sudah tidak ada di sampingnya.
"Kana lagi apa? Kok abang telpon gak diangkat-angkat? Masih tidur ya tu bocah?"
Woojin bangkit dan duduk di atas kasur, "Gak tau, kayaknya lagi joging deh bang. Soalnya udah gak ada di kamer."
"Lah? Kok langsung bisa tau gitu? Kamu kan masih tidur, kamu darimana?"
"Orang aku tidur sama Kak Kana."
"Kalian tidur bareng?" Suara Jonghyun lebih tinggi.
"Iya."
"Satu kamer?"
"Hooh."
"Masih bocah udah pinter modus ya kamu Woojin."
"Ya elah, orang sodara ini."
"Iya juga sih," ujar Jonghyun akhirnya dibarengi dengan anggukan Woojin yang setuju.
"Btw, ada apa bang? Kok tumben nelepon nya pagi? Besok jadi pulang?"
"Nah itu." Jonghyun seperti diingatkan oleh Woojin, "Abang mau nelpon, kalo besok abang gak jadi pulang."
"Lah? Kenapa?"
"Iya, soalnya abang mau ikutan bimbingan gitu disini."
"Kok ngedadak sih bang?"
Jonghyun terkekeh, "Iya nih, sorry banget ya Jin jadi malah nambah ngerepotin kamu."
"Kalo itu mah sih gak masalah bang, cuman kan Kak Kana nya kasian di PHP-in terus."
"It's okay, nanti abang yang ngasih tau dia langsung."
"Ya udah deh, okay bang..l"
"Thank's ya Jin."
"Santai aja bang. Ati-ati ya disana."
"Sip, kamu juga ya. Minta tolong jagain Kana juga, dia kadang suka lupa makan kalo gak diingetin."
"Tenang, Woojin selalu makan bareng sama Kak Kana kok. Jadi aman terkontrol kalo masalah itu."
"Syukur deh kalo gitu, abang jadi tenang."
Seolah Jonghyun dapat melihatnya, Woojin mengangguk mengiyakan ucapan Jonghyun barusan.
"Ya udah Jin, abang mau siap-siap nih."
"Iya bang, sukses ya."
"Thank's."
Woojin tersenyum sebelum akhirnya mematikan panggilannya dengan Jonghyun itu.
Ia kembali menyimpan ponselnya lalu turun untuk menyiapkan sarapan bagi Kana.
...........
...08 Februari 2019...
...Reeshiellaa Nat...
...Ft Dewi Hsu...