
...BAB I - My First and Last, Maybe?...
...| Titik Pertama |...
...✨...
...🎶iKON - My Type...
...........
Natta sudah berdiri di depan gerbang sekolah bersama Jaehwan untuk memeriksa kelengkapan atribut sebelum upacara.
Mengingat hari ini hari senin, Natta memang sengaja berangkat lebih awal untuk mengantisipasi ada siswa yang sengaja datang lebih pagi karena menghindari pemeriksaan.
"Jae, anak OSIS lain belum pada dateng?" tanya Natta pada Jaehwan yang sedang bersenandung.
"Belum sih, Tta, kita kan disini juga karena usulan lu." Natta hanya mendengus sebal ketika mendengar jawaban Jaehwan.
Sebenarnya Natta tidak memiliki pilihan lain untuk mengajak Jaehwan menemani nya berjaga pagi ini. Jika di ingat-ingat, mungkin memang hanya Jaehwan yang lebih bisa di andalkan di banding teman nya yang lain di seksi kedisiplinan.
"Namanya siapa dek?" tanya Nara tiba-tiba pada seorang lelaki yang jika di lihat dari dasinya masih kelas 10.
"Jeno, kak," jawab si adek kelas dengan takut-takut.
"Dasinya tolong benerin ya, agak miring tuh." Karena paham adek kelasnya itu merasa takut, Natta pun tersenyum sembari menjelaskan dan membiarkan sang adek kelas masuk.
"Perhatian banget sih, Tta. Udah biasa gak ada yang merhatiin ya sampe lu demen nya adek kelas."
Jaehwan tertawa kencang melihat ekspresi Natta yang serasa ingin meledak. Mau bagaimana lagi, habisnya menurut Jaehwan menggoda Natta itu termasuk kegiatan wajib untuknya. Toh, ujungnya gadis itu tidak pernah bisa marah juga.
"Ngaca dong Jae, lu udah punya pacar emangnya?" Balas Natta dengan telak.
"Iya iya, ngalah aja deh gue sama yang jomblo," goda Jaehwan lagi dan itu membuat Nara hampir saja menarik sepatunya untuk di lemparkan pada Jaehwan.
"Jaehwan ih, nyebelin banget sih jadi orang."
Niat Natta untuk memukul Jaehwan harus terhenti karena sudah banyak siswa siswi yang datang. Lagipula tujuannya memang memeriksa atribut. Bukan untuk ribut dengan Jaehwan.
"Topi nya nanti di pake ya," ucap Natta pada adek kelasnya lagi.
"Namanya siapa? Lain kali tolong pake dasi ya, sekarang kamu diri disana dulu." Natta bergidik ngeri melihat Jaehwan yang berubah sok perhatian.
"Ta, Natta." Jaehwan hampir saja teriak untuk memanggil Natta karena gadis itu tidak menoleh sama sekali dan masih asik memeriksa atribut anak lain.
"Kenapa?" Tanya Natta sekenanya pada Jaehwan.
"Geng bermasalah dateng tuh, gebetan lu."
Setelah mendengar ucapan Jaehwan, Natta pun menoleh dan bisa melihat geng yang Jaehwan maksud. Entah mengapa Natta tiba-tiba saja tidak memiliki keberanian untuk menegurnya.
Perihal gebetan yang Jaehwan maksud, sebenarnya Natta tidak merasa dekat dengan siapapun apalagi sampai bisa menyebutnya dengan istilah gebetan. Hanya saja, Jaehwan tahu bahwa Natta menyimpan perasaan untuk Seongwoo, jadi lelaki itu selalu berkata bahwa Seongwoo adalah gebetan Natta.
"Maaf kak, enggak boleh masuk sebelum atribut lengkap."
Natta buru-buru menghadang geng itu yang dengan seenaknya mau melewati gerbang begitu saja. 'Udah dateng terlambat, seenaknya lagi,' pikir Natta dongkol.
"Berisik banget, sih," balas Seongwoo dengan kesal.
Natta hanya menarik nafasnya dengan berat. Bagaimana pun juga ini memang sudah tugasnya.
"Sudah peraturannya, kak," sambung Jaehwan yang sadar bahwa Natta tidak bisa melakukannya sendiri.
"Kita bawa dasinya, cuma gak di pake aja. Sekarang minggir." Natta tetap menggeleng ketika kakak kelasnya yang bernama Daniel memaksa untuk masuk gerbang.
"Kalau dasinya di bawa, ya di pake dong kak." Lama-lama Natta sudah terbiasa dengan sikap menyebalkan geng satu ini.
Karena tidak mau berurusan lama lama, semuanya pun terpaksa mengeluarkan dasi mereka dari dalam tas dan memakainya.
"Nih." Natta bingung ketika salah satu dari mereka tiba-tiba menyodorkan dasi ke arahnya.
"Ini apa kak?" tanya Natta bingung.
"Dasi lah, gak bisa liat?" balas lelaki yang Natta tahu bernama Minhyun, dan kalau tidak salah ingat, lelaki itu kapten tim basket sekolah.
"Maksudnya, kenapa di kasih ke aku, kak?" Natta benar-benar tidak mengerti jalan pikiran kakak kelasnya yang satu ini.
"Gue gak bisa pake dasi. Kalau lo mau gue pake dasi ya pakein lah." Minhyun memberikan dasi miliknya pada Natta dan membuat gadis itu diam-diam tengah mengumpat.
Lagipula mana ada sih anak kelas 12 yang hari gini masih gak bisa pake dasi.
"Yaudah sini kak." Natta pun terpaksa melakukannya.
Minhyun sedikit menunduk agar Natta bisa meraih lehernya karena gadis itu terlihat kesulitan.
Dengan cekatan, Natta memasang dasi Minhyun tanpa suara dan fokus dengan lipatan dasinya. Sampai tidak sadar bahwa wajah Minhyun semakin menunduk ke arah wajahnya.
"Lo cantik," ucap Minhyun tiba-tiba ketika wajahnya sudah berada di sisi wajah Natta yang masih sibuk memasangkan dasi padanya.
"Eh?" karena merasa terkejut, Natta pun mengangkat kepalanya dan bisa melihat wajah Minhyun.
CUP—Natta mengerjap beberapa kali ketika lelaki itu malah mengecup pipinya kemudian menarik dasi dalam genggamannya.
"Thanks ya," balas Minhyun yang langsung pergi melewati Natta.
"******* Minhyun," teriak Jisung dengan heboh ketika melihat adegan dimana Minhyun malah sengaja mengecup adik kelas nya itu.
Sedangkan Natta masih tidak bisa memikirkan apapun, Minhyun sudah menghilang dari sana bersama geng nya.
"Hati gimana Tta? Masih sehat kan?"
Natta menoleh dan melihat Jaehwan yang terkikik geli melihatnya.

"Ketua OSIS baru kita sekarang anak cewek ya?"
"Kelas berapa?"
"Palingan kelas 11."
Begitulah Seongwoo, Minhyun, Daniel, dan Jisung mendengar sekilas pembicaraan teman-teman sekelasnya.
"**** banget, sih, tuh orang mau aja jadi suruhan sekolah."
"Kalo gua sih, ogah!"
Tidak ada yang tahu memang, jika akhirnya Kana terpilih menjadi ketua OSIS baru di sekolah mereka.
Terlebih karakter gadis itu yang terlalu polos, membuat kesan tegas yang biasa disandang oleh ketua OSIS, menjadi terhapus begitu saja saat Kana diputuskan untuk menjadi pengganti ketua OSIS yang lama.
Seongwoo, pria yang memang sudah tertarik dengan gadis bernama Kana itu akhirnya semakin penasaran, seberapa sempurnanya dia hingga bisa merebut perhatiannya.
"Lu masih makan permen karet, Niel?" ucap Jisung memperhatikan.
"Kepala batu lu emang, udah dibilangin jangan makan permen karet juga."
"Biarin aja lah, paling dia ntar kena omel dokternya lagi," tambah Seongwoo.
"Kalo dokternya cewek cantik, gua mau kena omel tiap hari juga," khayal Daniel.
"Mimpi!" semua berteriak serempak pada Daniel.
Seongwoo tiba-tiba saja mengubah topik pembicaraan, "Btw, hari ini lu ada jadwal tanding kan, Hyun?"
Minhyun mengangguk. "Lu pada dateng kan?"
"Iyalah.. tenang.. kita bakal dukung lu kok." Jisung merangkul Minhyun erat.
"Ketua kedisiplinan tadi anak kelas berapa?" tanya Minhyun tiba-tiba pada ketiga temannya yang sedang sibuk masing-masing.
Sebenarnya sejak tadi Minhyun sudah memikirkan gadis itu, hanya saja ia belum memiliki keberanian untuk bertanya perihal gadis itu anak kelas berapa. Lagipula rasanya aneh sekali tiba-tiba Minhyun tertarik pada gadis seperti gadis itu.
"Kenapa? Mau lu gebet?" balas Seongwoo.
"Susah sih, emang punya temen ******* kaya lu bertiga. Heran gua kapan sadarnya."
Diantara mereka berempat, memang hanya Jisung yang paling waras. Lelaki itu satu-satunya yang tidak pernah main-main dengan seorang gadis.
Intinya, lelaki itu masih jomblo sampai sekarang. Katanya sih mau cari yang bener-bener aja.
Beda lagi kalau tipe seperti Seongwoo, Daniel dan Minhyun yang kerjaannya cuma main-main.
Segala hal cuma buat main-main, sampai perasaan anak orang aja di buat main-main. Jisung sampai bosan mengingatkan ketiga temannya.
"Nanti dah bang, masih remaja ini, gak usah serius amat lah."
Itu sudah pasti jawaban Daniel, hampir setiap hari Jisung mendengar alasan yang sama. Susah sih mengingatkan teman macam kerdus semua.
"Gak ada yang tau itu cewek anak kelas berapa?" sungut Minhyun dengan kesal karena pertanyaan nya tidak di jawab sama sekali.
"Kalau gak salah sih anak kelas XI, tapi gua gak tau sih, dia kelas berapa," jawab Seongwoo seadanya. Seingatnya, gadis itu memang sering terlihat juga di arena sekolah.
"Bukannya dia lumayan populer, ya? Banyak angkatan kita yang suka sama dia. Cuma kabarnya sih, pada di tolak." Daniel menoleh pada Minhyun sembari melempar jawabannya.
"Kok gua gak tau?" Alis Minhyun terangkat sebelah karena merasa tidak mengenali sama sekali gadis itu.
"Mana mungkin lu tau sih, Hyun. Di mata lu kan cuma ada cewek model Bona doang," celetuk Jisung sembari memutar bola matanya malas mendengar jawaban Minhyun tadi.
"Suka bener." Seongwoo malah tertawa terbahak mendengar kalimat Jisung yang seratus persen benar.
Minhyun mengabaikan kalimat Jisung dan tawa Seongwoo yang terasa mengejek di telinganya.
Lagipula ia juga sudah terbiasa dengan sikap teman-temannya yang abnormal. Toh, ia hanya peduli tentang gadis tadi.
"Lu tau namanya, Woo?" Tanya Minhyun lagi pada Seongwoo karena tadi lelaki itu yang mengatakan bahwa si ketua kedisiplinan anak kelas XI.
"Namanya Adrenatta. Sering di panggil Natta sih, orang banyak fansnya gitu," jawab Seongwoo antara peduli dan tidak peduli juga.
Sebenarnya Seongwoo agak heran pada Minhyun, padahal mereka ini anak-anak tipe populer, seharusnya lelaki itu bisa kenal dengan Natta yang tipe populer juga.
Dan yang lebih mengherankan nya lagi, karena tidak biasanya juga Minhyun penasaran dengan gadis seperti Natta.
Saat itu, ketua OSIS yang baru datang ke kelas mereka. Kana, gadis berambut panjang dengan warna kecokelatan itu menghampiri empat pria tampan yang sedang duduk di kafetaria.
"Siang kak." Kana tersenyum sopan.
Seongwoo menatap gadis itu dengan penuh perhatian, tak disangka-sangka, gadis yang tadi sempat terlintas dipikirannya kini datang menghampiri dirinya dan teman-temannya.
Namun sayang, gadis itu tak melihat kearahnya.
"Kak Minhyun, ya?" Kana ingin langsung menyampaikan maksud kedatangannya dengan memanggil Minhyun.
"Iya?" mata Minhyun akhirnya menatap kearah Kana, inilah mengapa Kana berubah menjadi tidak fokus.
"Gini kak, aku mau ngomongin soal pertandingan basket nanti siang."
"Oh, ya udah, duduk aja. Kita omongin disini." Minhyun menggeser dirinya untuk menyisakan tempat duduk bagi Kana.
"Di-disini ya?" Kana melihat kearah teman-teman Minhyun, ia hanya menemukan Jisung yang tersenyum ramah menyambutnya, dua teman yang lain hanya diam bahkan ada yang seperti acuh.
"Oke deh, kak, cuman bentar juga, kok."
Kana duduk dengan kaku, gadis itu menempatkan jarak yang lumayan jauh diantara dirinya dan Minhyun karena takut ketahuan gugup, padahal dengan melihatnya sekilas saja semua orang juga tahu dirinya nampak tak nyaman sekarang.
"Masih belum kebiasa ya sama tugas ketua OSIS? Santai aja Na, kita bukan bagian dari haters Ketos kok," ujar Jisung membuat Kana merasa lebih baik.
Seongwoo jelas melihat Kana tersenyum setelah mendengar ucapan Jisung, rasanya ia juga ingin membuat Kana merasa nyaman seperti itu.
"Iya kak, keliatan ya? Aduh.. maaf." Kana sangat berterimakasih karena ucapan Jisung yang membuatnya lebih tenang menghadapi diri sendiri, kali ini ia bisa lebih mampu untuk menatap mata Minhyun dari dekat.
"Gini kak, OSIS pengen bikin kerjasama sama ketua ekskul basket buat pengembangan kinerja OSIS baru. Jadi setelah pertandingan, kakak bisa gak luangin waktu sebentar buat wawancara sekalian dokumentasi? Mumpung momennya lagi tepat aja, setelah kakak sama temen-temen tanding."
"Oh, kayak evaluasi gitu ya?"
Jisung bertanya karena ia memang menyimak sedari tadi.
Kana menoleh kearah Jisung, "Iya kak, kita anak OSIS pengen memperbaiki apa aja yang kurang dan belum terlaksana oleh OSIS lama."
"Wahh.. bagus tuh!" Jisung mengacungkan kedua jempolnya untuk memuji Kana, ia memang sangat ramah, Kana juga merasakan betapa beruntungnya jika ia bisa dekat dan mempunyai teman seperti Jisung.
Disaat itu, tak sengaja Kana melihat satu teman Minhyun yang ia tahu bernama Daniel tengah diam sambil memainkan ponselnya.
Entah mengapa, kesan yang Kana dapatkan dari melihat pria itu sedikit buruk.
Dari semua orang yang duduk di meja tersebut, hanya orang itu yang sejak tadi nampak acuh dengan kedatangannya.
"Gimana ya?"
"Udah iya–in aja Hyun, lagian gak berat ini. Lu tinggal ngejawab pertanyaan doang." Seongwoo menambahkan, Kana akhirnya memandang kearahnya sambil tersenyum sebagai ungkapan terimakasihnya pada Seongwoo.
"Oke deh, boleh." Minhyun akhirnya menyetujui.
Kana terlihat senang, "Oke! Makasih banyak ya kak.. kalo gitu boleh minta kontak kakak?"
Setelah mendapatkan nomor telepon milik Minhyun, Kana yang memang sedang sibuk dengan berbagai tugas itu segera berpamitan begitu mengucapkan terimakasih pada Minhyun dan teman-temannya.
...........
...Makasih buat yang udah mau baca. Aku harap kalian gak nyesel baca ff ini ya....
...Sincerely,...
...Reeshiellaa Nat...
...Ft Dewi Hsu...