
...BAB VII - One Step Closer...
...| Masih Abu-abu |...
...✨...
...🎶Yook Sungjae - Love Song...
...........
Seongwoo menyandarkan tubuhnya pada mobilnya yang sudah terparkir setengah jam sejak ia datang tadi. Matanya tak henti-henti memandang kearah gerbang sekolah untuk menunggu Kana yang belum kunjung datang.
Ia menatap ponselnya, pesan yang ia kirim sudah terbaca namun belum juga mendapat balasan dari Kana.
Jika bukan karena Woojin yang menghalanginya menjemput Kana, sudah pasti ia dan gadisnya itu telah sampai di sekolah sejak tadi. Ia benar-benar sering merasa jengkel belakangan ini semenjak Kana selalu digerayangi oleh makhluk parasit bernama Woojin itu.
Bukan hanya dibatasi untuk menjemput Kana, waktu berpacaran pun menjadi tidak sebebas dulu karena Woojin ada di sekitar Kana.
Seongwoo berdiri lebih tegak saat akhirnya melihat Kana yang datang dengan diboncengi oleh Woojin.
Tak jauh dari Seongwoo, Woojin memarkirkan motornya.
Kana melihat Seongwoo yang menekuk wajahnya karena kesal.
Gadis itu malah tertawa kecil karena melihat Seongwoo seperti itu.
"Aku duluan ya kak." Woojin pergi ke kelas lebih dulu saat menyadari ada Seongwoo yang sedari tadi menatapnya tak suka.
Kana mengangguk dan melambaikan tangannya begitu Woojin pamit ingin pergi ke kelas.
Setelah melihat Woojin pergi, pandangan Kana lalu beralih pada Seongwoo yang sudah berlumut karena menunggunya.
"Kok belum masuk kelas?" ucap Kana saat menghampiri Seongwoo.
"Kamu pikir aku berdiri disini sampe bulukan mau jaga parkir?" Seongwoo melihat Kana terkekeh, "Nungguin kamu lah!"
"Iya, iya, maaf." Kana mendekat pada Seongwoo, "Ya udah ke kelas yuk?"
"Gak, aku belum sarapan tau."
"Lho? Kok belum sarapan? Emang tante kemana?"
"Aku berangkat lebih pagi biar gak ketinggalan bareng ke kelas sama kamu. Lagian kamunya malah berangkat sama si anak ayam itu!"
"Namanya Woojin, Seongwoo."
"Bodo amat ya." Seongwoo membuang wajahnya tak peduli.
Kana tersenyum karena menyerah melihat Seongwoo dengan tingkahnya, "Ya udah, kita ke kantin dulu yuk sebelum masuk."
Seongwoo melirik Kana yang mengajaknya tanpa menggenggam tangannya, "Mau sambil pegangan tangan."
"Apaan sih. Enggak ah, malu tau."
"Tuh kan." Seongwoo kecewa, "Kamu diboncengin sama anak ayam aja gak malu, kenapa pegangan tangan sama pacar kamu yang ganteng ini gak mau."
Kana tertawa, ia melihat ke sekitar karena takut siswa lain menganggapnya aneh dengan tawa itu.
"Ya udah yuk?"
Seongwoo tersenyum lalu dengan cepat meraih tangan Kana dan menggenggamnya erat seperti tak ingin sedikitpun melepasnya.
Mereka berdua berjalan sambil bertukar tatap satu sama lain ketika bicara. Kana mendengarkan semua ucapan Seongwoo yang selalu ekspresif dan terbuka dengannya. Semua yang tak penting sekalipun, Seongwoo akan ceritakan semua pada Kana.
"Oh iya," Seongwoo teringat sesuatu yang membuat Kana menoleh kearahnya, "Hari ini kan pengumuman lomba kamu sama Minhyun ya?"
Kana tak akan ingat itu jika bukan Seongwoo yang mengatakannya sekarang, "Oh iya, bener. Kamu kok inget sih?"
"Iya dong." Seongwoo mengeratkan genggaman tangannya sambil tersenyum, "Ini kan hari penting buat kamu."
Tak ada yang bisa Kana lakukan selain tersenyum menatap Seongwoo. Lama kelamaan, saat ia merasa senang dan nyaman di samping Seongwoo, rasa bersalahnya selalu muncul di waktu yang bersamaan. Apalagi saat melihat lelaki itu tersenyum ceria padanya, ia bahkan tak merasa pantas bahkan untuk mendapatkan perasaan Seongwoo. Kana pikir Seongwoo seharusnya lebih baik mendapatkan gadis lain yang lebih pantas untuk menerima perasaan berharga itu.
Kana tak tahu harus menyebutnya apa, perasaan seperti saat ini, saat bersama Seongwoo, rasa senang dan bahagia bersama lelaki itu tak dapat Kana artikan dengan benar. Gadis itu terlalu takut untuk menyebutnya cinta.
...
...
"Waktu habis."
Setelah pak Yunho mengatakan waktu habis, kelas Natta mendadak sangat ribut karena kebanyakan dari mereka masih mengisi satu perempat soal.
Dan orang semacam Joshua serta Yerin yang memiliki otak agak lemah dalam pelajaran se membosankan sejarah menjadi salah satu dari kebanyakan populasi kelas Natta.
"Yang terlambat mengumpulkan ke depan, saya detensi sepulang sekolah."
Mendengar hal mengerikan itu, hampir seluruh anak kelas Natta bangun dari duduknya dan membawa kertas mereka.
Tidak peduli jika masih ada empat atau bahkan sampai tujuh nomor lagi yang masih kosong.
"Hasilnya nanti saya berikan pada ketua kelas." Setelah itu, pak Yunho keluar sambil membawa kertas ulangan tadi.
"Yaelah, Pak Yunho kalau ngasih ulangan dadakan suka gak liat situasi," ucap Yerin dengan tampang kusut.
Jaehwan melemparkan gulungan kertas pada Yerin, "Ngeluh mulu ***** si Yerin."
"Udahlah Yer gak usah di bahas mulu. Mending cabut kuy." Itu suara Joshua dan segala otak bobroknya yang menyesatkan.
"Gak ada bolos bolos." Natta menggeleng tidak setuju pada ide Joshua.
"Nah bener tuh kata Joshua, mending cabut. Toh, pelajaran Pak Yunho udah kelar. Kita gak di itung bolos kan, Tta?"
Mendengar pembelaan Luna, Natta jadi bimbang juga.
Masalahnya, mereka memang sudah mengikuti pelajaran pak Yunho yang nyatanya hanya di pakai selama lima belas menit untuk ulangan.
Suara Yerin sudah teriak kegirangan karena kalimat Luna sebelum nya, "Luna bener dong Tta. Kita gak di itung bolos."
Joshua sudah berlalu pergi lebih dulu menyeret Jaehwan keluar kelas.
"Kuy Tta. Peduli amat sama reputasi lu."
Kali ini Luna dan Yerin yang menyeret tangan Natta agar mau keluar kelas agar mereka bolos--tidak bolos juga sebenarnya.
Natta hanya bisa menghela nafas pasrah saat tubuhnya di seret seret oleh kedua temannya itu.
...
...
"LAH? SERIUSAN LU JAE?" Luna menatap Jaehwan dengan pandangan tak percaya lalu beralih menatap Natta.
"Kok lu gitu sih Tta sekarang? Masa lu gak ada cerita masalah lu deket sama Gualin? Adek kelas yang ganteng itu kan?" sambung Yerin yang ikut penasaran.
Masalahnya ini sudah kedua kalinya Natta tidak menceritakan apapun pada mereka. Yang pertama perihal Minhyun, dan sekarang Guanlin.
"Jawab dong Natta sayang."
Luna menoyor kepala Joshua dengan sebal, "Geli gua."
"Jaehwan rese ya makin lama. Orang gua gak ada apa-apa sama Guanlin."
"Serius lu gak ada apa-apa? Orang kemaren duduknya deketan gitu," sahut Jaehwan yang masih tidak percaya dengan jawaban Natta barusan.
Lagipula siapa yang akan percaya jika melihat posisi Natta dengan Guanlin kemarin di ruang musik.
Apalagi dengan titel 'tidak ada apa-apa'. Rasanya mustahil.
"Sumpah ya gua gak ada apa-apa sama Guanlin. Udah ah, gosipin gua mulu lagian."
Karena tidak ingin mendengar ocehan teman-temannya lagi tentang dirinya dengan Guanlin, Natta memilih untuk berjalan lebih dulu.
"Tapi sejak kapan sih lu kenal Guanlin? Perasaan kemaren kemaren gak ada dah," tanya Luna lagi yang masih tidak puas dengan semua jawaban Natta.
Natta hanya membalas seadanya, "Gua juga gak tau."
"Beruntung banget ya jadi lu. Gak di notice doi, malah dapet temennya. Pake deket sama adek kelas macem Guanlin lagi."
Yerin memang teman Natta paling ahli dalam masalah gosip seperti itu. Tidak heran Natta seringkali harus usap dada.
"Sial banget ya gua punya temen kayak kalian."
Tapi bagi Natta itu bukan keberuntungan. Karena kenyataan nya Natta malah bingung sama semua yang terjadi sekarang.
Rasanya kaya mimpi. Dan Natta cuma jadi peran utama yang entah kapan bangun nya.
Lalu Yerin merangkul Jaehwan dan melanjutkan, "Gak kaya lu ya Jae? Gak dapet doi ya gak dapet apa-apa."
"Yeu, nyai kalau ngomong gak pernah ngaca dulu."
Natta dan Luna hanya tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan Yerin dan Jaehwan yang sudah tidak aneh lagi.
"Cantik dong gua," balas Yerin.
Jaehwan membalas Yerin dengan menoyor kepala gadis itu, "Ngacanya jangan di kaca yang pecah Yer."
Luna yang masih tertawa tiba-tiba menghentikan langkahnya sedangkan Natta masih tertawa bersama Joshua.
"Eh bentar--" Mata Luna harus memastikan dulu kalau yang di lihatnya itu benar atau salah.
"ITU YANG DI LAPANGAN GUANLIN KAN?" pekik Luna heboh saat melihat bahwa itu menang benar Guanlin.
Mendengar nama Guanlin, Natta langsung menghentikan tawanya kemudian beralih menatap lapangan seperti Luna.
Ya, dan Natta juga bisa melihat ada Guanlin disana bersama teman-temannya yang lain termasuk Jinyoung sedang bermain basket.
"Yaelah Natta, kenapa hidup lu seberuntung itu sih?" Kini Yerin juga ikut menjadi heboh bersama Luna.
"Biasa aja kali wahai para jomblo," celetuk Joshua yang kesal dengan tingkah kedua temannya itu.
"Lapangan kuy, daripada gabut kan? paling ujungnya nistain Jaehwan."
Yerin sudah menarik Luna duluan untuk pergi ke lapangan. Natta, Joshua, dan Jaehwan hanya di tinggal tanpa di tengok sedikitpun.
"Temen lu tuh Tta, para jomblo yang suka bikin malu," balas Joshua yang kemudian mau tidak mau mengikuti Luna dan Yerin.
Natta hanya tertawa sebentar menanggapi kalimat Joshua.
Entah kenapa, Natta hanya merasa tidak ingin bertemu dengan Guanlin untuk saat ini.
Apalagi jika ia mengingat perkataan Jinyoung semalam, rasanya Natta ingin menenggelamkan diri di kamar mandi.
"Emangnya lu gak mikirin perasaan bang Minhyun?"
Tuh kan, baru saja Natta mengingat, ucapan Jinyoung sudah masuk ke dalam kepalanya begitu saja.
"NATTA SINI! DI CARIIN JINYOUNG," teriak Yerin tanpa tahu situasi.
Natta hanya bisa menghela nafas sangat panjang melihat kelakuan abnormal temannya satu itu.
Jadi mau tidak mau, Natta pun melangkah menuju lapangan.
Dimana Guanlin dan teman-temannya berada disana bermain basket.
Lagipula bukannya Natta menyukai Seongwoo? Lalu kenapa harus berpikir perihal Guanlin?
...........
...12 Februari 2019...
...Reeshiellaa Nat...
...Ft Dewi Hsu...