4 Walls

4 Walls
4.3 - Perpustakaan


...BAB IV — Bad Romance ...


...| Perpustakaan |...


...✨...


...🎶Red Velvet - See The Star...


...........


Kana berjalan menuju ruang OSIS. Seperti biasa, setidaknya ia harus mengunjungi ruangan itu walau sebentar. Sebenarnya hari ini ia hanya harus fokus mengenai hasil seleksi sekolah, namun rasanya tak nyaman jika ia hanya berdiam diri tanpa melakukan apapun saat waktu luang.


Saat memasuki ruang OSIS, orang yang pertama kali Kana lihat adalah Geonhee yang tengah sibuk dengan kertas-kertas di tangannya.


Kana menghampiri Geonhee dengan wajah yang cerah, "Sibuk amat pak, lagi ngapain sih?"


Geonhee yang tak menyangka Kana datang nampak merasa lega saat akhirnya melihat Kana mengunjunginya, "Syukur deh lu disini."


"Kenapa emang?"


"Kangen gua ama lu."


Kana tersenyum sambil membuang mukanya, "Boong banget lu jomblo lapuk!"


Geonhee tertawa, "Iya deh yang udah gak jomblo lagi, suka-suka mau ngina gua yang jomblo juga. Ikhlas aku tuh Na diginiin sama kamu." Geonhee mulai berlebihan.


"Apaan sih lu Geon." Kana mengambil tempat duduk disamping Geonhee, "Lagian gua nanya serius malah dibercandain."


"Oh iya," Geonhee teringat sesuatu, ia mengambil satu kaleng air isotonik dingin yang dititipkan untuk Kana, "Nih."


Kana mengambilnya dengan wajah bertanya-tanya, "Dari siapa?"


"Kak Daniel, katanya thanks."


"Hah?" Kana yang tak merasa pernah melakukan apapun merasa heran.


"Gak tau, dia cuman dateng nyariin lu terus lu nya gak ada jadi gua kasihin nomer lu aja deh."


"Hah?!"


Geonhee melirik Kana tak suka, "Lu kebiasaan deh, huh-hah-hah-hah mulu. Makanya kalo budeg jangan dipelihara." Saat setelah mengatakan itu, Geonhee malah mendapatkan pukulan keras di punggungnya. "Aw! Sakit Kana!"


"Lu kok ngasih nomer gua sembarangan sih!"


"Kata siapa sembarangan sih, orang gua ngasih ke orang yang jelas, Kak Daniel Willy Ananta!" Geonhee mengusap-usap punggungnya yang terasa sakit.


"Lagian dia bilang mau ada urusan ama lu."


"Urusan apaan?"


"Mana gua tau, ntar dia juga nge-chat lu paling."


Kana berpikir tentang kemungkinan ia pernah berbuat salah pada Daniel, namun ia tak pernah bisa menemukan apapun mengenai itu. Matanya menatap botol kaleng pemberian Daniel dalam genggamannya.


Ia pikir itu sesuatu yang baik, Daniel tidak akan memberikan kaleng minuman dan mengatakan terimakasih jika ia pernah melakukan kesalahan.


Benar, seharusnya begitu Kana berpikir.


...


...


Tes seleksi benar-benar menghendaki Kana dan Minhyun untuk berada dalam satu tim yang sama. Kana sendiri tak tahu kenapa bisa begitu, namun sebisa mungkin ia akan melakukan yang terbaik tanpa melihat siapa yang menjadi partner satu timnya.


Sorenya, setelah pengelompokkan tim selesai dibentuk, Kana sengaja langsung menghampiri Minhyun yang masih duduk di bangkunya.


"Kak?"


"Eh? Kana. Kita satu tim ya?"


Kana tersenyum saat melihat Minhyun juga tersenyum, "Iya kak."


"Aduh, kok deg-degan ya? Soalnya bareng Ketua Osis sih." Canda Minhyun.


"Jangan ngomong gitu dong kak, justru aku yang harusnya ngerasa gitu karena bareng sama senior."


Minhyun tertawa untuk menghibur Kana, "Ya udah, mau bikin konsep dimana?"


"Perpus aja yuk kak? Lagi bahannya juga adanya disana." Minhyun mengangguk, ia pun berdiri dan meraih tasnya.


"Boleh."


...


...


Di perpustakaan sekolah, tak banyak siswa yang tersisa disana. Semuanya dapat dihitung dengan jari, mungkin karena matahari juga sudah tenggelam. Sangat jarang siswa yang akan berada di sekolah pada jam seperti ini.


Minhyun mengikuti Kana yang sedang menyusuri satu persatu rak buku usang itu. Namun kemudian Minhyun heran karena Kana tiba-tiba saja berhenti melangkah. Ia melirik kearah Kana, gadis itu diam menatap ke depan.


"Kenapa Na?"


"O-oh, itu kak, lampunya kedap-kedip gitu." Minhyun melihat kearah Kana menunjuk.


"Ooh, kamu takut gelap?"


"Enggak takut sih kak, cuman ragu aja."


"Ya udah gak papa, kan berdua kesananya. Yuk?" Minhyun melihat Kana masih ragu, namun tak lama setelah itu akhirnya Kana mulai berjalan kembali.


Satu buku Kana ambil dari rak, sebelum ia simpan di dorongan yang Minhyun bawa, sekilas gadis itu membaca isi buku tersebut.


Lampu yang berkedap-kedip membuat mata Kana pusing. Namun ia mengabaikan itu dan tetap mencoba membaca buku yang ia pegang.


Minhyun yang berdiri di tepat di samping Kana melirik kepada buku yang sama. Ia melihat Kana begitu serius membaca hingga membuatnya tertarik untuk mengetahui juga isinya.


Saat itu, hal yang ditakutkan oleh Kana pun akhirnya terjadi juga. Lampu tua itu meletup beberapa saat setelah Kana dan Minhyun sedang mencoba untuk melihat buku tersebut. Kana berteriak karena terkejut, tubuhnya secara otomatis meringkuk karena ketakutan.


Namun untungnya, Minhyun dengan cepat meraih tubuh Kana dan melindunginya.


Kana merasakan tubuhnya dirangkul oleh Minhyun. Ia tidak bisa melihat jelas karena gelap.


Kana merengek ketakutan.


"Kamu gak papa Na?"


"Iya kak, kakak sendiri?" walaupun masih merasa takut, Kana akhirnya dapat menenangkan dirinya sendiri.


"Kita ke bangku aja dulu yuk?"


Minhyun meninggalkan dorongan buku yang ia bawa dan membawa Kana lebih dulu ke tempat terang. Ia masih membantu gadis itu bahkan untuk duduk.


Melihat Kana, Minhyun duduk di berjongkok agar dapat melihat keadaan gadis itu.


"Ada yang luka gak?"


"Enggak kak." Kana sendiri diam-diam memerhatikan Minhyun, ia juga mengkhawatirkan lelaki itu.


"Gak papa kok kak, aku tadi cuman panik doang." Karena ingin membuat Minhyun merasa lebih baik, Kana mengubah topik pembacaraannya, "Bukunya mana kak?"


"Kakak tinggal disana. Kenapa? Kamu masih bisa lanjut emangnya?"


Kana mengangguk, "Boleh minta tolong ambilin gak kak?"


"Yakin mau lanjut? Kakak gak enak nih sama kamu."


"Gak papa kok kak, aku aja yang parnoan."


"Ya udah, kakak ambil dulu ya."


...


...


Kana menutup buku terakhirnya. Ia melirik Minhyun yang sedang sibuk menyalin beberapa kata penting dari buku yang tengah ia baca.


"Gimana kak? Butuh bantuan gak? Aku udah beres nih."


Minhyun berdecak kagum melihat semua buku yang menumpuk di depan Kana, ia tak percaya gadis itu telah menyelesaikan semuanya.


"Udah selesai? Semua?"


Kana mengangguk, "Emang kakak masih banyak?"


"Lumayan sih." Minhyun menghitung sisa bukunya, "Kamu istirahat dulu aja, kakak bisa seleseiin ini sendiri."


"Yakin?"


"Iya lah."


Kana melipat kedua lengannya di atas meja, lalu membuat punggung tangannya sebagai ganjalan bagi kepalanya saat berbaring.


Belum sampai lima menit suasana hening, Minhyun mendapati Kana sudah tertidur di sampingnya. Melihat seragam gadis itu yang tipis, ia lalu meminjamkan jaketnya untuk menyelimuti tubuh Kana. Setelah itu, ia kembali untuk segera menyelesaikan tulisannya.


Tiba-tiba saja, Minhyun mendengar suara bising dari atap seperti suara hantaman dari air hujan.


^^^"Hm? Hujan?" Ia lalu melirik Kana yang masih tertidur, "Kayaknya gua kasih tau Seongwoo aja deh."^^^


Minhyun mengambil ponsel di sampingnya lalu mendapati sudah jam delapan malam, itu berarti ia dan Kana sudah berada di perpustakaan selama dua jam. Jarinya kemudian menekan nama Seongwoo dalam kontaknya.


^^^Minhyun^^^


^^^Woo? Lu lagi dimana? |^^^


Seongwoo


| Gua di rumah, kenapa?


^^^Minhyun^^^


^^^Gua lagi ngerjain tugas lomba sama cewek lu di perpustakaan sekolah |^^^


^^^Dia kayaknya kecapekan deh jadi ketiduran |^^^


^^^Terus kan lagi ujan juga gak tega gua liatnya |^^^


^^^Lu mending kesini |^^^


Seongwoo


| Oke.


| gua otw kesana sekarang.


| Thanks ya Hyun.


^^^Minhyun^^^


^^^Nevermind |^^^


Untungnya, Minhyun pun sudah hampir menyelesaikan tugasnya.


Dengan sangat hati-hati, Minhyun menggeser tumpukan buku milik Kana agar membuat gadis itu lebih nyaman tidurnya. Tangannya perlahan-lahan membereskan buku-buku tersebut.


Semuanya telah selesai Minhyun bereskan. Matanya juga tiba-tiba saja terasa berat saat ia menguap. Suasana dingin mungkin membuat dirinya mengantuk. Ia pun memutuskan untuk membaringkan kepalanya seperti Kana.


Sebuah kebetulan jika Minhyun tak sengaja menghadapkan wajahnya pada wajah Kana. Mereka pun tertidur sambil menunggu Seongwoo datang.


...


...


Entah sudah berapa lama Kana tertidur. Saat ia membuka matanya, ia terkejut saat menemukan Minhyun yang sedang tertidur di sampingnya. Wajah lelaki itu terlihat lelah dengan kelopak matanya yang tertutup sempurna.


Sejenak, Kana hanya diam sambil terus menatap pada Minhyun. Ia hanya bertanya mengapa ia bisa mengagumi lelaki milik orang lain itu.


Ironis rasanya menjadi orang yang mengagumi orang lain yang sudah dimiliki seseorang disaat ia sendiri juga sudah memiliki seseorang.


Kana membuang jauh-jauh pikirannya untuk kembali mengulas perasaannya pada Minhyun. Gadis itu bangun dengan perlahan agar tak membuat Minhyun terganggu. Ia juga baru sadar bahwa ada jaket yang menutupi tubuhnya sejak tadi. Milik siapa lagi jika bukan miliknya Minhyun.


"Inget Na, Seongwoo sama Kak Minhyun itu temenan. Sadar," ucap Kana dengan suara pelan.


Kana kemudian melepaskan jaket berwarna hitam itu lalu memberikan kembali pada pemiliknya dengan menyelimutkan pada tubuh Minhyun.


Kana yang sedang berusaha menyelimuti Minhyun dengan hati-hati, lalu melihat Seongwoo baru saja sampai disana setelah berlari.


Seongwoo diam di tempat begitu Kana melihat kedatangannya dan mengisyaratkan padanya untuk jangan berisik.


Seongwoo lalu membuat gerakan mulut untuk bertanya pada Kana di sana, "Dia tidur?"


Kana mengangguk, lalu berjalan perlahan kearah Seongwoo.


"Kamu kok bisa tau aku disini?"


"Tadi Minhyun yang ngechat aku, katanya kamu ketiduran disini."


Minhyun terbangun, lalu menyadari kedatangan Seongwoo. "Oh? Lu udah sampe Woo?"


Seongwoo melihat Minhyun yang masih kelihatan mengantuk, "Iya Hyun, lu juga ketiduran? Mending lu balik juga deh.."


"Iya, gua juga udah selesei kok." Minhyun melihat kearah Kana, "Na, gak papa kan kita lanjut besok aja?"


"Iya kak, gak papa kok."


...........


...01 Februari 2019...


...Reeshiellaa Nat...


...Ft Dewi Hsu...