
...BAB I - My First and Last, Maybe?...
...| Ketua OSIS & Taruhan untuk Natta |...
...✨...
...🎶Punch feat LOCO - Say Yes...
...........
Sejak awal Kana memang sudah menduga bahwa Minhyun pasti akan memenangkan pertandingannya.
Kana yang sedang duduk istirahat sambil meminum yoghurt setelah seharian sibuk mengurus tugasnya sebagai Ketua OSIS tiba-tiba saja mendengar dari kawannya bahwa sekolahnya menang dalam pertandingan basket melawan sekolah lain.
Dengan penuh rasa senang, Kana segera berlari menuju lapangan basket untuk menemui Minhyun yang mungkin juga sedang merasa senang atas kemenangan timnya.
Begitu sampai di lapangan, Kana langsung dapat melihat wajah Minhyun yang sedang berseri dengan tawa yang merekah.
"Selamat ya kak." Kana bergumam sambil tersenyum saat memperhatikan betapa bahagianya Minhyun disana.
Kana mengambil ponsel yang ada di sakunya lalu menelpon Minhyun yang sudah ada di dalam pandangannya.
"Iya Na? Gimana? Mau wawancara sekarang?" Kana melihat Minhyun yang segera mengangkat telponnya setelah merasakan ponselnya bergetar.
Pria itu terlihat menutup salah satu lubang telinganya karena takut tak dapat mendengar suara Kana di telpon.
"E-eh? I-iya kak, tapi barangkali kakak lagi sibuk, lain kali juga gak papa kak," ucap Kana terbata-bata.
"Enggak kok, kesini aja. Kakak masih ada di lapangan basket nih."
Kana mendengar suara bising dari teman-teman Minhyun yang bertanya dengan siapa dia tengah berbicara.
"Oh gitu ya kak? Serius nih gak papa?"
"Enggak, sini aja."
"Oke kak, otw kesana."
Di sisi lain, saat panggilan itu telah berakhir, Minhyun kembali menyimpan ponselnya lalu Seongwoo datang menghampirinya dan bertanya tentang siapa yang tadi menelponnya.
"Siapa, Hyun?"
Minhyun melirik kearah Seongwoo karena terkejut dengan suaranya, "Oh, tadi Kana nelpon."
Mendengar namanya saja, Seongwoo tahu bahwa gadis itu pasti akan melakukan wawancara sesuai persetujuan Minhyun tadi pagi.
"Oy?" Minhyun menghancurkan lamunan Seongwoo, "Kenapa lu?"
"Hah?" Seongwoo mencari alibi yang mungkin masuk akal, "Eh, lu haus gak? Gua beliin minum ya?"
Minhyun mengangguk, "Thanks ya bro."
Seongwoo berlari kearah datangnya Kana, pria itu menatap Kana dengan harapan bahwa gadis itu akan melihat juga kearahnya.
Kana nampak terkejut saat berpapasan dengan Seongwoo, gadis itu hanya tersenyum agar terlihat sopan di depan kakak kelasnya.
Namun ternyata Seongwoo sendiri mengharapkan sesuatu yang lebih dari senyum dingin itu, Seongwoo ingin gadis itu menjadi miliknya.
Kana akhirnya sampai di depan Minhyun.
"Oh, udah sampe?"
"Iya kak, langsung aja ya?"
"Oke, kamu bisa mulai tanya kakak aja."
Ada selembar kertas dalam buku memo berwarna putih milik Kana yang berisi beberapa pertanyaan untuk ditanyakan pada Minhyun.
Satu jawaban tak lebih Minhyun jawab selama dua menit, itupun tak semuanya ia jawab panjang.
Hanya beberapa pertanyaan yang memang memerlukan penjelasannya.
Sudah lebih dari empat pertanyaan yang terjawab, Kana hanya tinggal menanyakan sisanya.
Saat pertanyaan kelima hendak ia tanyakan, betapa terkejutnya gadis itu ketika tiba-tiba saja tubuhnya direngkuh oleh Minhyun hingga berbalik.
Begitu Kana menyadari bahwa tubuhnya sudah berada sangat dekat dengan Minhyun, ia dapat merasakan tubuh Minhyun bergetar karena sesuatu yang menghantam punggungnya dengan lumayan keras.
Minhyun segera melonggarkan rangkulannya saat setelah bola basket itu terjatuh di belakangnya.
"K-kak? Ka-kakak gak papa?" Kana sedikit menengadahkan wajahnya untuk menatap tepat pada mata Minhyun yang saat itu terpejam.
Minhyun membuka pandangannya, "Kamu gak papa?" ucapnya sambil kemudian melepaskan kedua tangannya dari tubuh Kana.
"E-enggak kak, ma-makasih."
Minhyun melirik kearah datangnya bola, ia ingin tahu siapa yang melempar bola sekeras itu pada Kana.
"Sorry Na, gua gak sengaja. Lu gak papa kan?" ucap seseorang yang nampak berlari kecil kearah Minhyun dan Kana.
"Lu hati-hati apa kalo maen!" Minhyun yang justru menjawab ucapan teman satu timnya itu.
"Iya sorry banget. Lu gak papa Hyun?"
Minhyun hanya membuat sebuah isyarat bahwa ia baik-baik saja saat itu.
Di sebrang sana, Seongwoo yang baru selesai membeli minuman untuk Minhyun tiba-tiba saja berhenti melangkah ketika menyaksikan semuanya.
Kedua tangan yang mengenggam minuman botol dingin itu tiba-tiba merasa lemas.
...
...
Kana berjalan menuju kantor OSIS dengan perasaan campur aduk dan kaki yang masih bergetar.
Bagaimana mungkin Kana bisa begitu saja melupakan apa yang baru saja terjadi antara dirinya dengan Minhyun.
Saat itu, dari kejauhan, Kana melihat ada seseorang yang berdiri di samping pintu OSIS.
Dari kelakuannya, Kana mengira bahwa orang tersebut tengah ragu-ragu antara masuk atau tidak ke dalam ruangan OSIS itu.
Kana menepuk pelan punggung orang itu, berniat tak ingin mengejutkannya.
"Cari siapa?" Kana akhirnya dapat melihat wajah itu, karena merasa asing, Kana pikir dia adalah adik kelas yang baru saja masuk ke sekolahnya seminggu yang lalu setelah masa ospek kemarin.
"Oh? I-ini kak." Lelaki itu nampak mengeluarkan secarik kertas dari sakunya, "Aku disuruh kakak kelas dua belas buat minta tanda tangan sama foto bareng Ketua OSIS baru."
Kana bingung dengan maksud tersebut, ia hanya menatap adik kelasnya itu dengan penuh tanda tanya.
"Tapi aku gak tau ketua OSIS barunya yang mana kak." Adik kelas itu terlihat gugup dan sedikit takut.
"Emang waktu ospek kamu gak ngeliat dia pidato sambutan?"
"Enggak jelas mukanya kak, aku kan duduk paling belakang, terus gak bawa kacamata juga."
"Oh gitu ya." Kana merangkul adik kelasnya itu tanpa ragu, nampak pria itu yang kebingungan juga merasa gugup karena tiba-tiba seorang gadis merangkulnya begitu, "Kakak juga anggota OSIS."
"Oh.. gitu ya kak?"
Kana mengangguk sambil tersenyum, "Btw, boleh tau gak siapa yang nyuruh kamu ngelakuin hal kayak gini?"
"D-dia bilang sih namanya Chanyeol kak."
"Oh.. dia." Kana sudah menebak, memang pria tinggi itu yang jahilnya berlebihan. "Ya udah, yuk kakak tunjukin siapa Ketua OSIS nya."
"Bener kak?!"
Kana mengangguk lagi kemudian berjalan sambil tetap merangkul adik kelasnya itu.
Langkahnya melewati pintu OSIS yang sudah terbuka lebar untuk dimasukinya, terdengar beberapa anggota OSIS yang berada di dalam ruangan memanggil-manggil namanya, namun Kana hanya mengisyaratkan supaya mereka menunggu sebentar.
Kana akhirnya sampai di Cafetaria sekolah. Begitu menginjakkan kakinya disana, Kana langsung dapat melihat pria tinggi itu dari kejauhan.
Kana langsung saja melangkahkan kakinya menuju pria itu. Melihatnya tertawa saja sudah membuat Kana muak dengan kelakuannya.
"K-kak? K-kok kesini?" Adik kelas yang kini berjalan di belakang Kana hanya menarik-narik tangan Kana berusaha memberhentikannya.
Chanyeol yang segera menyadari kedatangan Kana kini hanya memandang gadis itu sambil tetap duduk di tempatnya.
"Ada apa nih?" tanya Chanyeol yang pura-pura kebingungan.
"Sampe kaki Ketua OSIS yang berharga ini harus nyamperin gua kesini?"
Adik kelas itu tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar, siapa? Ketua OSIS?
"Kakak yang nyuruh-nyuruh adik kelas kan?"
"Nyuruh apaan?"
Kana menarik adik kelas yang ada di belakangnya untuk berada di sampingnya.
"G-gua gak tau Ketua OSIS nya."
Kana menyela, "Pokoknya jangan nyari-nyari masalah Kak, kasian juga adik kelas kalo dijailin terus sama kakak kelasnya."
"Yaelah. orang cuman buat seru-seruan doang, Na. Santai dikit kenapa sih, jangan ribet."
"Yang ribet buat nyari keseruan tuh kakak."
"Iya-iya.. gak lagi gua."
"Kemaren juga bilangnya gitu, tapi taunya malah kayak gini kan?"
Chanyeol hanya menatap sekitar sambil pura-pura tak mendengarkan.
"Pokoknya kalo kakak kayak gini lagi, aku potong kuping kakak biar gak caplang lagi!"
"Eh, kok lu bawa-bawa kuping gua yang indah ini sih," ucap Chanyeol ngeri sambil memegang kedua telinganya yang berharga.
Kana kemudian pergi bersama dengan adik kelas tersebut. Setelah keluar dari Cafetaria, sebelum kembali ke ruang OSIS, Kana tersenyum pada adik kelasnya seolah menunjukkan bahwa semua sudah baik-baik saja.
"Udah gak papa, sekarang kamu bisa ke kelas. Lain kali, kalo ada yang kayak gitu lagi bilang aja yah."
"Maaf ya kak, aku gak enak banget sama kakak."
"Kok gitu.. santai aja. Btw, nama kamu siapa?"
"Woojin kak, anak kelas 10 IPS 1"
"Oh.. iya, nama kakak Kana.. salam kenal ya." Kana tersenyum manis pada Woo Jin dan sebaliknya.
Entah kenapa, saat itu Woojin merasakan sesuatu seperti dejavu. Ia rasanya pernah melihat senyum itu, namun entah dimana, bertemu dengan Kana pun Woojin baru sekarang tapi kenapa bisa ia merasa seolah pernah bertemu Kana.
...
...
Biasanya jam istirahat akan menjadi tempat segala rantai makanan anak SMA 101 berkumpul.
Mulai dari pemegang rantai makanan paling atas sampai paling bawah.
Dari tipe anak populer sampai anak kuper sekalipun pasti akan mampir ke Cafetaria.
Dan sebagai salah satu kumpulan anak yang menarik banyak minat populasi SMA 101, Guanlin memutuskan untuk mengajak teman-temannya pergi ke Cafeteria karena jam kosong dan setelah ini adalah waktunya istirahat.
Jadilah mereka berlima, Guanlin, Jihoon, Daehwi, Jinyoung dan Woojin berada di salah satu meja Cafetaria 101. Membicarakan ini dan itu yang mereka pikir menarik.
"Gimana nih jin? Bukannya lu abis di kerjain Bang Chanyeol ya?"
Sebagai orang yang selalu update info, tentu saja Daehwi tidak ketinggalan dengan berita satu itu yang lumayan ramai juga di bicarakan orang-orang, apalagi katanya Woojin sampai membawa Ketua OSIS nya langsung pada Chanyeol.
"Parah sih emang bang Chanyeol, dan gobloknya lagi gua gak tau kalau tuh cewek ternyata Ketua OSIS nya. ****** aja kan gua," balas Woojin setengah kesal jika harus mengingat-ngingat lagi kejadian tadi.
"Anak kelas XII yang sekarang iseng banget emang, ngeri juga gua," sambung Jihoon menyetujui kalimat Woojin yang mengatakan bahwa kakak kelas mereka itu parah.
Yang lain ikut mengangguk menyetujui ucapan Jihoon.
"Sialan juga lu semua pake ninggalin gua, jadinya gua gak bisa ngelawan bang Chanyeol kan!" Tambah Woojin yang teringat bahwa semua temannya tidak ada di sampingnya tadi.
Melihat wajah Woojin yang kesal begitu, mereka hanya bisa tertawa dan nyengir seadanya. Mana mau juga mereka jadi korban kakak kelas mereka.
"Sorry dah Jin," jawab Jinyoung.
"Eh iya, lu mau masuk basket, Guan? Gak salah tuh?" tanya Daehwi pada Guanlin yang tengah sibuk dengan ponselnya dan tidak menyahut sedari tadi mereka membicarakan Woojin.
"Si Guan kan emang jago basket, Hwi. Salahnya dimana?" balas Jihoon dengan heran.
Guanlin masuk Basket karena lelaki itu memang memiliki bakat di bidang olahraga. Jadi Jihoon pikir itu tidak ada salahnya. Lalu ini datang Daehwi yang bertanya seolah Guanlin memilih masuk cheers.
"Bukan gitu, sat. Masalahnya kapten basket kan Bang Minhyun, anak bermasalah dan lumayan serem sih, jutek parah."
Guanlin sih tidak peduli sama sekali. Siapapun kapten tim nya, Guanlin tidak merasa keberatan.
"Gosip mulu, ***** si Daehwi," celetuk Jinyoung sambil terkikik.
Kalau di pikir-pikir, Daehwi ini memang selalu memberi kabar yang entah hanya rumor atau fakta sekalipun, jadi rasanya tidak salah jika Jinyoung menyebut Daehwi sebagai tukang gosip.
"Geng anak kelas XII itu bukan sih?" sambung Woojin dengan penasaran.
"Iya anak kelas XII yang geng nya macem f4. Ganteng sih, tapi tetep gantengan gua."
Balas Daehwi sebal. Sedangkan yang lain hanya tertawa mendengar penuturan Daehwi yang perlu di pertanyakan.
"Gue sih bodo amat ya. Gak urus juga siapa kaptennya," ucap Guanlin yang sudah menyimpan ponselnya ke dalam saku.
"Masih serem cewek gue sih, sadis parah."
Yang lainnya tiba-tiba menatap Jinyoung dengan heran, memang sejak kapan Jinyoung punya pacar? Setahu mereka, Jinyoung masih memegang predikat jomblo sampe sekarang.
"Halu lo? Cewek yang mana? Kaya punya aja *****." Jihoon menatap kasihan ke arah Jinyoung karena merasa lelaki itu sudah terlalu lama jomblo sampai otaknya rusak.
"Maksud gue tuh, si Natta. Temen gak tahu diri."
Daehwi tertawa paling kencang ketika mendengar Jinyoung malah menyebutkan nama tetangga lelaki itu. Ia pikir Jinyoung memang sudah punya pacar dan ia tidak tahu.
Sebagai orang yang Selalu update, tentu saja Daehwi merasa gagal ketika ternyata Jinyoung sudah memiliki pacar.
"Masa sih, young? Orang anaknya kalem gitu."
Jinyoung rasanya ingin mengeluarkan isi perutnya ketika mendengar kalimat Daehwi yang sangat aneh.
"Iya kalem kalau di sekolah. Gak tau aja kalau di rumah, gua korban kekerasannya dia nih."
Guanlin yang sejak tadi hanya mendengarkan obrolan teman-temannya mendadak menjadi penasaran pada sosok Natta yang Jinyoung sebut-sebut.
Kalau Guanlin tidak salah ingat, Natta itu adalah kakak kelasnya yang suka berdiri di depan gerbang sambil razia atribut anak-anak.
Tapi Guanlin setuju pada Daehwi jika gadis itu memang terlihat kalem untuk ukuran ketua seksi kedisiplinan.
"Gue jadi penasaran sama Natta. Anak kelas berapa, sih?" Tanya Guanlin yang mendapat tatapan heran dari ke empat temannya.
"Lu sehat, Guan?" Tanya Woojin setengah percaya.
"Biasa aja liatin gua nya. Gua cuma bilang gua penasaran kan? apa masalahnya sih?" balas Guanlin sesantai mungkin.
Guanlin mana mau ketangkap basah sedang merasa penasaran pada kakak kelasnya itu.
"Gua ada ide. Karena Guanlin katanya penasaran sama temennya Jinyoung, gimana kalau kita taruhan?" sambung Jihoon dengan kelewat semangat.
"Taruhan apaan nih?" Jinyoung sebenarnya punya firasat tidak enak masalah perkataan Jihoon yang menyangkut pautkan Natta.
"Kita Taruhan si Guanlin bisa dapetin Kak Natta gak, gimana? Ayolah."
Mendengar ucapan Jihoon, Guanlin yang tadinya hanya merasa penasaran, mendadak jadi merasa tertantang juga untuk tahu seperti apa gadis seperti Natta sekaligus ingin tahu apakah gadis tipe seperti itu bisa menolak pesonanya atau tidak.
"Jadi nantangin gua, nih? Gua sih gak nolak," balas Guanlin sambil tersenyum.
"Nah nah, Guanlin nya aja gak nolak, kan?" Anehnya memang Jihoon yang menjadi sangat semangat dengan obrolan ini.
"Kalau kata gua sih bakal gampang luluh nih cewek tipe kak Natta sama Guanlin."
Belum apa-apa, Daehwi sudah memberikan jawabannya dengan kata lain ia pun setuju dengan taruhan yang Jihoon usulkan.
"Enggak, enggak. Kalau menurut gua, Natta sih gak bakal suka sama tipe cowok kaya Guanlin."
Meski tadinya Jinyoung memiliki firasat tidak enak, entah mengapa ia biasa saja mendengar Natta malah menjadi bahan taruhan mereka dengan Guanlin.
Mungkin karena ia percaya bahwa Natta tidak akan luluh pada pesona Guanlin.
"Gua ngikut Daehwi. Masalahnya ini kak Natta yang anaknya kalem, gimana gak gampang baper coba," sahut Woojin. Sejatinya kan hanya Jinyoung yang tahu seperti apa Natta.
"Santai bro, belum apa-apa udah main jawab aja ya lu pada," kesal Jihoon. Bagaimana tidak kesal, ia pikir teman-teman tidak akan setuju pada idenya itu. Tau-tau nya malah sudah sibuk dengan jawaban masing-masing.
"Menurut analisa gua sih, kak Natta ini tipikal anak kedisiplinan yang sukanya sama anak rapi kaya anggota OSIS. Cowok rapi modelan bang Myungsoo lah, bukan cowok brutal model Guanlin."
Guanlin memukul kepala Jihoon dengan botol minuman yang sudah habis ketika mendengar lelaki itu menjelekkannya.
"Kita liat aja nanti. Guanlin gak bakal kalah."
Daehwi dan Woojin yang berada di pihak kemenangan Guanlin pun memberi semangat agar lelaki itu bisa menang agar mereka juga memenangkan taruhannya.
...........
...Chapter awal emang keliatan ngebosenin kok, tapi aku yakin kalau kalian mau sabar nunggu, gak akan nyesel baca ff ini. Makasih....
...Reeshiellaa Nat...
...Ft Dewi Hsu...