
...BAB III - Best Luck ...
...| Razia Dadakan |...
...✨...
...🎶AKMU - Give Love...
...........
"Eh gila lu semua udah denger beritanya?" Daehwi datang ke kelas dengan misuh-misuh gak jelas, bikin hampir satu kelas nengok ke arah Daehwi.
"Dateng dateng rusuh nih satu. Berita apaan sih? Gak ada berita apa-apa *****," balas Jihoon kesal karena tadi dibuat setengah kaget oleh Daehwi yang baru datang.
"Kak Natta beneran jadian sama bang Minhyun?" Jinyoung yang sedang minum mendadak tersedak akibat ucapan Daehwi.
Sementara semua teman-teman nya bereaksi seperti itu, Guanlin hanya diam tak menanggapi. Tidak perlu Daehwi bagi Guanlin untuk mengetahui hal itu.
"Gua gak denger ada beritanya. Dapet info darimana?" tanya Jinyoung yang berubah panik.
Masalahnya Natta itu temannya, dan melihat kelakuan Minhyun yang modelnya seperti itu Jinyoung jadi agak sungkan.
"Satu sekolah lagi rame kali, Young. Terus terus tadi gua ngeliat bang Minhyun sama Natta mau sarapan bareng ke kantin."
Jihoon dan Woojin langsung mengalihkan pandangannya ke arah Guanlin yang tampaknya tidak terpengaruh dengan berita itu. Beda lagi dengan Jinyoung yang masih terkejut.
"Kemaren Natta emang di anter pulang sama bang Minhyun sih. Tapi dia gak ada cerita sama gua kalau dia jadian."
Daehwi mendadak heboh lagi. "Tuh kan, berarti mereka emang jadian."
"Yah, masa Guanlin udah kalah sih belum apa-apa?" ucap Jihoon yang malah bikin suasana tambah suram.
"Jihoon ****, kata siapa Guanlin udah kalah? Kan, masih ada kata nikung." Bukannya Guanlin yang membalas, ini malah Daehwi yang bicara dengan sebegitu antusias menyemangati Guanlin.
"Kak Natta beneran sama bang Minhyun?" ucap Woojin setengah percaya.
"Ya beneran lah Jin."
"Cuma jadian kan, yaudah. Bener kata Daehwi, gua masih bisa nikung bang Minhyun." Guanlin akhirnya angkat bicara.
Toh Guanlin memang setidak suka itu dengan Minhyun, jadi tidak perlu khawatir juga.
"Nah gitu dong Guan. Baru temen gua." Daehwi dan Woojin tertawa saking senangnya karena mereka masih punya kesempatan menang.
"Temen apaan yang dukung temennya sendiri buat nikung hubungan orang. Sinting," balas Jihoon yang heran melihat kelakuan Daehwi dan Woojin.
"Gua sih bodo ya, Hoon."
"Biar fair aja. Gua kan belum ngelakuin apa-apa juga buat deketin Natta."
Karena kalimat Guanlin, makin heboh saja Daehwi dan Woojin serta Jihoon. Jinyoung sih masih diam-diam mikir kenapa Natta bisa jadian sama Minhyun.
Istilahnya, Jinyoung masih setengah rela dan setengahnya lagi masih tidak rela.
...
...
Sebelum masuk jam pelajaran, Kana melakukan razia bersama Natta, Jaehwan dan beberapa anggota OSIS Bagian Kedisiplinan.
"Nanti jangan sampe ada yang kelewat satupun ya." Kana berjalan di depan sambil menjelaskan pada semua anggota OSIS yang ikut bersamanya untuk melakukan razia.
"Ini dibaginya mau berapa orang satu kelompoknya, Na?" tanya Natta.
"Satu kelas tiga orang aja, biar cepet terus kita gak ketinggalan banyak pelajaran." Kana menoleh ke belakang, "Natta sama Jaehwan ikut gua buat ngerazia anak kelas 12 ya."
"Duh, kebagian anak kelas 12 lagi."
Jaehwan yang menggerutu lalu dipukul kepalanya oleh Natta yang sedang berada di sampingnya.
"Aduh! Sakit Tta!!" Jaehwan mengusap-usap kepalanya yang terasa pening.
Kana menaiki tangga lebih dulu, lalu diikuti Natta yang menarik telinga Jaehwan agar temannya itu segera mengikutinya.
Jaehwan berteriak kesakitan, "Tta, Tta! Sakit! Ini penganiayaan, gua laporin KPK lu!"
"Berisik lu! Lagi KPK tuh ngurusinnya orang korupsi bukan orang dianiaya!" ucap Natta sambil terkekeh karena tingkah konyol Jaehwan.
Sementara dua sekawan itu bertengkar ria, Kana sudah melangkah ke dalam salah satu ruang kelas 12 untuk melakukan razia.
Kelas IPA-4, tertulis begitu di depan pintu yang Kana masuki bersama Natta dan Jaehwan.
Tanpa menunggu lebih lama, Kana yang sudah mengisyaratkan pada Natta dan Jaehwan untuk menyebar langsung melakukan razia di kelas itu.
"Rambutnya nanti dipotong ya kak," ujar Kana memperingatkan dengan suara pelan yang sopan.
"Dasinya kok gak dipake kak?"
Saat tiba di bangku tempat Daniel duduk, Kana lagi-lagi melihat sebungkus permen karet di dalam saku seragam pria itu.
Daniel melihat Kana menghela nafas, seperti kesal karena melihatnya.
"Kenapa? Gua udah pake dasi, baju juga dimasukin," ucap Daniel.
Kana mengambil sebungkus permen karet tanpa memberitahu Daniel terlebih dahulu.
Daniel tentu saja bingung, sebenarnya apa yang salah dari permen karet? Bukankah sudah menjadi haknya jika ingin memakan sesuatu seperti permen karet?
"Aku ambil ini ya kak?" Kana melangkah, melanjutkan razianya ke siswa lain.
Daniel mengikuti perginya Kana hingga badannya berputar ke belakang.
"Kok permen karetnya diambil? Emang itu juga masuk daftar razia?"
Kana melirik, "Iya."
"Masa sih? Kok cuman punya—"
"Permen karet itu gak bagus buat kakak."
Daniel diam, lelaki itu hanya tak percaya permennya diambil lagi oleh gadis yang ia ketahui adalah Ketua Osis itu.
Rasanya sudah lama tak ada orang memerhatikannya sejauh itu. Ia akhirnya membiarkan lagi Kana. Daniel setidaknya melihat kebaikan gadis itu, bukan tentang gadis itu yang mengganggunya hingga tiga kali.
...
...
Saat sampai di kelas XII-IPA 3, entah mengapa Natta jadi harus banyak menghela nafas saking gugupnya.
Masalahnya ada Minhyun di dalam, dan Natta tidak mau jadi bahan ejekan.
"Ayo masuk. Ini kelas terakhir," ucap Kana sembari masuk lebih dulu ke dalam kelas dan Natta serta Jaehwan hanya mengangguk lalu mengikuti gadis itu untuk masuk juga.
"Maaf ganggu kak, tolong simpen tas kalian di atas meja," ujar Kana saat mereka sudah di depan kelas.
Sedangkan Natta dan Jaehwan hanya menunggu sampai Kana menyuruh mereka mulai razia.
"Minhyun juga harus kena razia ya dek biar adil." Salah satu anak kelas itu berteriak tiba-tiba dan membuat suasana kelas jadi berisik seketika.
Natta yang tahu itu dimaksudkan untuknya hanya bisa menunduk malu dan mengabaikan tatapan Kana dan Jaehwan.
"Tta, Jae, ayo razia," suruh Kana pada Jaehwan dan Natta yang di balas anggukan oleh keduanya.
Sementara Kana memilih menulis nama-nama yang terkena razia, Jaehwan memilih dua barisan pojok, dan Natta harus menghela nafas nya karena mendapat barisan tempat duduk Minhyun.
"Dean Taehyung Bramasta gak pake dasi, baju di keluarin." Kana langsung menulis nama yang Jaehwan sebutkan serta pelanggaran nya.
Kini giliran Natta yang harus merazia bangku Minhyun. Lelaki itu tampak biasa saja dan membiarkan tasnya.
"Kak Sehun bajunya di keluarin, terus bawa majalah dewasa."
Natta melongo melihat isi tas Sehun yang terdapat majalah dewasa. Bisa ternodai mata Natta kalau gitu caranya.
"Sehun ******! Umpetin dulu kek." Suara Kai menyeru di pojok kelas dan mengundang tawa anak lain. Natta cuma bisa nunduk saking malunya.
Sehun hanya nyengir tanpa dosa di depan Natta seraya menyerahkan majalah miliknya.
Tapi belum sempat Natta mengambil majalah milik Sehun, tangan Minhyun yang kebetulan teman sebangku Sehun mengambil lebih dulu majalahnya.
"Gak usah pegang majalah ginian, gak baik buat kamu. Biar Jaehwan aja yang ngambil," kata Minhyun pada Natta.
Makin heboh saja satu kelas setelah mendengar kalimat Minhyun yang sangat jarang bersikap semanis itu.
"Halah Minhyun, yang biasanya nemenin Sehun baca, kan, elu ****." Kali ini suara Taehyung yang ikut menyahut, membuat Natta makin malu saja.
"Gapapa kak, aku aja. Gak akan aku liat kok." Tapi Minhyun tetap tidak mengizinkan Natta.
Natta pun hanya pasrah saja lalu menoleh ke arah Jaehwan agar lelaki itu mengambil majalah nya. Dan Natta melanjutkan razianya pada tas Minhyun.
Saat membuka tas Minhyun dan menemukan sebungkus rokok, Natta sontak menatap lelaki itu dengan bertanya kenapa ada barang seperti itu di dalam tasnya.
Natta menghela nafas dengan pelan lalu mengambil sebungkus rokok itu, "Aku ambil ya kak."
"Kak Minhyun bawa rokok, gak pake dasi, rambut di warnain."
Kana yang sempet terkejut juga akhirnya menulis nama Minhyun dan pelanggaran yang di lakukan lelaki itu.
"Kok mau sih Tta sama cowok bobrok macem Minhyun?" celetuk Jennie pada Natta saat gadis itu selesai mengatakan kalimatnya.
"Jennie berisik!" Minhyun melempari Jennie dengan gumpalan kertas.
"Besok besok aku janji gak akan ngerokok." Natta hanya tersenyum sekilas menanggapi ucapan Minhyun.
"Jangan dengerin Tta, Minhyun mana bisa tanpa rokok," sambung Sehun sembari terkekeh.
Ya, Natta juga lebih percaya pada Sehun sebenarnya.
"Tapi aku lebih gak bisa tanpa kamu, Tta."
"Halah cowok brengsek macem lo. Udahlah Tta, selingkuh sama gua aja."
Daripada lama-lama Natta gila karena meladeni Sehun dan Minhyun, lebih baik Natta buru-buru memasukkan rokoknya ke dalam kantung dan kembali ke kelas.
"Makasih atas waktunya dan maaf ganggu, kak," ucap Kana menyelesaikan acara razianya.
Sejujurnya Kana agak sesak juga melihat Natta dan Minhyun yang bersikap seperti tadi. Tapi mau bagaimanapun, sekarang ia adalah kekasih Seongwoo bukan Minhyun.
...
...
Saat hendak menuju ruangan pembimbing OSIS, tak sengaja Kana melewati ruang ekskul Dance tempat Seongwoo biasa latihan.
Sembari ingin memberi tahu sesuatu pada Seongwoo, Kana menyempatkan untuk masuk berkunjung ke dalam ruangan tersebut.
Kepalanya menyundul begitu pintu itu terbuka. Gadis itu tak mendapati ada Seongwoo di dalam sana, pandangannya hanya melihat Daniel yang sedang berdiri sambil mengusap keringat yang bercucuran.
"Dia lagi."
Ada yang aneh hari ini, kenapa sejak Jonghyun memintanya untuk mengawasi Daniel tadi malam, ia sekarang jadi sering melihat lelaki itu?
Saat itu, Kana melihat Daniel yang kembali mengeluarkan permen manis namun berbentuk jelly, bukan permen karet.
Nafas Kana terhembus kasar karena harus kembali berurusan dengan Daniel.
"Tu orang kayaknya emang doyan banget ya makan permen?" Kana menggerutu kesal.
Kaki Kana akhirnya melangkah lebih dalam, menghampiri Daniel yang sudah hampir memasukkan permen jelly ke dalam mulutnya.
Kana segera meraih semua permen jelly yang ada di tangan Daniel, termasuk satu permen jelly berwarna merah yang hendak Daniel makan.
Daniel terkejut dengan tindakan Kana yang lebih seperti serangan tiba-tiba itu. Matanya menemukan Kana yang berada tempat di sampingnya.
Ia juga tak tahu kapan gadis itu masuk ke dalam ruangan dance dan berjalan menghampirinya.
"Jangan makan terus permen, gak bagus buat gigi kakak," ujar Kana sambil menyembunyikan semua permen jelly di belakang tubuhnya.
"Bikin kaget gua aja, kirain siapa." Mata Daniel kini mengarah ke tangan Kana yang disembunyikan, "Siniin, pemen gua itu. Kalo mau beli aja, gak usah rebut-rebut."
"Aku gak suka makanan manis."
"Ya terus? Kenapa dari pagi ngambilin terus permen gua?" Bahasa Daniel kini lebih lembut, ia sadar lawan bicaranya itu lebih muda darinya dan seorang perempuan.
"Gigi kakak itu udah gak boleh makan permen kayak gini."
"Tau dari mana sih? Jangan sok tau." Daniel maju selangkah namun Kana mundur juga selangkah, "Hm?"
Daniel semakin tak mengerti maksud Kana melakukan ini padanya, diam-diam Daniel juga mulai memperhatikan gadis itu sejak pagi.
"Gimana mau sembuh kalo makan permen terus kak.."
Daniel keheranan, "Lu tau dari mana?"
"Tau lah, orang.."
"Kana? Kamu kok disini?" suara Seongwoo tiba-tiba saja membuat dua orang itu menoleh kearahnya.
Bukan Kana yang menemukan Seongwoo, namun sebaliknya. Gadis itu tersenyum begitu melihat Seongwoo yang kini sedang berjalan kearahnya.
"Kamu lagi ngapain disini?"
"Tadi kebetulan lewat, jadi sekalian kesini aja."
"Oh.." Seongwoo melihat Kana yang seperti sedang menyembunyikan sesuatu di balik badannya itu hendak bertanya, namun Kana lebih dulu mengatakan sesuatu.
"Oh iya kak, aku kayaknya pulang sore banget, jadi gak usah nungguin aku ya."
"Kok gitu? Nanti kamu pulangnya gimana?"
"Udah biasa sendiri juga kok, jadi gak papa kak."
"Enggak bisa gitu dong, pokoknya nanti pulang bareng, aku tungguin kok sampe kamu selesai." Seongwoo mengangkat sebelah tangannya untuk mengusap surai Kana yang lembut.
Kana tak bisa menolak lagi, ia tak ingin membuat Seongwoo kecewa pada dirinya. Ia pun mengangguk, mengiyakan keinginan Seongwoo yang ingin tetap menunggunya.
"Ya udah, aku duluan yah kak."
Kana tersenyum kepada keduanya.
"Gak mau main dulu? Kakak juga baru dateng."
"Lain kali aja ya kak, aku mau ke ruangan pembimbing OSIS dulu."
"Oh, gitu. Ya udah, hati-hati ya." Seongwoo tersenyum.
Begitu membalas senyum Seongwoo, Kana kemudian pergi dengan membawa semua permen jelly milik Daniel sambil berlari kecil.
Daniel masih memandangi gadis itu, bukan karena permen jellynya yan diambil, namun karena ia menyadari bahwa gadis itu mulai mencuri perhatiannya.
"Niel?"
Daniel segera menoleh kearah Seongwoo, "Iya?"
"Latihan lagi yuk?" Seongwoo melepas seragamnya dan menggantinya dengan kaos berwarna putih polos.
"A-ayo." Daniel yang mengikuti langkah Seongwoo masih sesekali menengok ke arah pintu, seolah masih dapat melihat Kana disana.
"Tadi Kana udah lama disini?"
"Enggak juga sih."
"Terus dia ngapain aja?"
"Cuman liat gua latihan doang." Entah kenapa Daniel harus berbohong tentang satu hal itu, ia juga tak tahu kenapa.
"Ohh." Seongwoo tiba-tiba tersenyum, "Cantik ya cewe gua?"
"Hah?" Daniel jelas mendengar satu pertanyaan Seongwoo barusan.
Seongwoo juga terkejut kenapa Daniel bertanya dengan suara yang lebih keras, "Iya, Kana. Dia cewe gua, cantik kan?"
Daniel tak tahu jika sahabatnya itu ternyata mempunyai hubungan dengan Kana, Daniel pun tak pernah mendengar mereka dekat, walaupun dia tahu bahwa Seongwoo dan Kana tinggal di satu komplek yang sama.
"S-sejak kapan?"
"Baru-baru ini sih, mungkin dua hari yang lalu."
"Kok lu gak bilang?"
"Ya ini kan gua bilang ke lu."
Perasaan macam apa ini? Kenapa Daniel sangat kecewa dan menyesal saat mengetahui bahwa Seongwoo dan Kana mempunyai hubungan?
Tiba-tiba saja Daniel hanya diam saat Seongwoo sudah memulia latihannya sendiri.
Ia sedang berpikir bahwa mungkin saja akal sehatnya hilang karena memikirkan sesuatu yang tidak mungkin tentang perasaannya terhadap gadis itu.
Daniel mencoba menghilangkan kegelisahannya yang terlalu tiba-tiba itu dengan mengalihkan pikirannya pada musik yang Seongwoo putar.
Namun tak lama, Daniel kembali teringat Kana.
'Gua kenapa sih!' ucap Daniel dalam hati.
...........
...21 Januari 2019...
...Reeshiellaa Nat...
...Ft Dewi Hsu...