4 Walls

4 Walls
4.2 - Keberuntungan Natta


...BAB IV - Bad Romance ...


...| Keberuntungan Natta |...


...✨...


...🎶Red Velvet - See The Star...


...........


Seongwoo membuka pintu perpustakaan lalu menendang pintunya dengan sebelah kakinya sembari mengangkat kardus itu dan Natta hanya mengikuti di belakangnya.


"Taro di sini aja Tta?" Seongwoo meletakkan kardus yang di pegang nya ke atas meja lalu menatap Natta lagi.


"Kata Bu Wendy sih suruh di taro langsung ke rak sesuai jenisnya kak, tapi aku bisa sendiri kok masalah itu."


Tapi Seongwoo malah menggeleng tidak setuju atas perkataan Natta.


"Ya kali gua cowok ngebiarin cewek sendirian disini, itung-itung ucapan terima kasih gua karena waktu itu lu juga udah nolongin gua."


Natta pun tidak bisa menolak juga permintaan Seongwoo. Sebagian hatinya masih berharap bahwa ia yang berada di posisi Kana.


"Emang kakak gak ada kelas ya? Aku gak nerima toleransi buat anak yang bolos loh kak."


Padahal Seongwoo juga tidak peduli jika ia di hukum. Toh sudah biasa bagi lelaki semacam Seongwoo terkena hukuman.


"Jamkos Tta, santuy lah," balas Seongwoo yang sudah membuka kardus lebih dulu.


"Jadi gimana bisa jadian sama Minhyun?" Kayaknya Seongwoo emang masih terlalu penasaran sama masalah satu itu.


"Gak bisa nolak sih kak, ya susah deh." Natta mengatakan yang sejujurnya.


Memang kenyataannya Natta tidak bisa dan tidak di beri kesempatan untuk menolak Minhyun waktu itu.


"Minhyun emang susah di tolak sih, gak heran mantan nya banyak."


"Tau sih ya geng kakak isinya kan orang populer semua."


Dan salahnya Natta adalah kenapa ia harus jatuh cinta pada Seongwoo sama seperti penggemar lelaki itu.


"Kalau Minhyun brengsek, bilang aja ke gua Tta." Padahal yang nyakitin gue kan lu kak.


"Lah? Bukannya kalian emang brengsek ya?" Natta meletakkan beberapa buku di atas rak Astronomi.


"Gua juga brengsek dong?" kata Seungwoo yang juga sedang meletakkan buku di atas rak Geografi, di sebelah Natta.


Natta hanya mengatakan hal yang sebenarnya, "Ngaca aja deh kak."


Lalu setelahnya Seongwoo hanya tertawa dan menyelesaikan buku yang berada dalam kardus sama seperti Natta lakukan juga.


"Ada lagi gak yang mau lu kerjain?" tanya Seongwoo sekali lagi sambil menyenderkan punggungnya pada rak buku.


"Gak ada sih kak. Cuma perlu ngambil beberapa buku aja di rak atas," kata Natta dan menunjuk rak atas dimana buku yang ia perlukan ada di sana.


"Mau ngambil berapa?"


"Tiga sih kak. Kenapa? Mau bantu aku lagi?" Sejujurnya Natta agak terganggu dengan adanya Seongwoo disini.


Ia merasa tidak nyaman karena ia memiliki perasaan pada lelaki itu, tetapi lelaki itu malah bersikap seolah-olah ia hanyalah Natta dan Natta.


"Sekalian aja kan. Gua ambil tangga dulu." Seongwoo berdiri dari duduknya sambil mengusap kepala Natta. baru aja Natta bilang.


...


...


"Tadi yang maksa naik ke atas siapa?" Seongwoo malah sengaja menyenggol kaki tangga yang sedang Natta naiki untuk mengambil buku.


"Kak Seongwoo sumpah ya, bisa diem gak? A-aku takut." Kaki Natta sudah gemetar saja karena tangganya bergoyang terus sejak tadi.


Seongwoo malah tertawa dengan jahatnya sembari menyenggol kaki tangga Natta tanpa henti untuk menggoda gadis itu. Memang pada dasarnya Seongwoo itu supel. Jadi ia selalu bersikap seperti itu dengan siapapun.


"Kakak diem, aku mau turun," kata Natta sambil membawa buku.


Lalu tubuhnya berbalik menatap Seongwoo yang berada di bawahnya masih sambil tertawa.


Mekipun Natta takut, tapi jika itu berarti Seongwoo tertawa karenanya, Natta rasa ia akan baik-baik saja.


"Iya iya Tta."


Saat kaki kiri Natta mau menginjak anak tangga, Seongwoo malah menyenggol kaki tangganya sampai bergoyang lagi dan Natta kehilangan keseimbangannya.


Tapi untungnya Natta tidak jatuh ke bawah karena Seongwoo sudah menahan pinggang Natta lebih dulu dan Natta yang dengan spontan memegang bahu Seongwoo sambil terpejam.


"Parno banget sih Tta." Suara Seongwoo membuat Natta membuka matanya dan menyadari bahwa jarak mereka sangat dekat.


"Kak Seongwoo!" Sontak Natta memukul mukul bahu lelaki itu saat menyadari bahwa semuanya adalah ulah lelaki itu.


Tapi karena Natta yang bergerak terlalu banyak, akhirnya gadis itu kehilangan keseimbangannya lagi dan jatuh terduduk di lantai bersama Seongwoo karena lelaki itu tidak bisa menghindari gerakan Natta yang tiba-tiba.


"Aww," ringis Natta saat sudah terduduk di lantai.


Untungnya tangga yang jatuh tidak menimpa Natta, jika iya mungkin Natta harus menobatkan bahwa hari ini adalah hari tersialnya.


"Sakit gak Tta?" Natta mengangguk.


"Sakit mana sama dia yang pergi sama yang lain?" Seongwoo tertawa lagi mengejek Natta.


'Sakit liat kak Seongwoo jadian sama Kana lah.'


"Sakit liat kak Seongwoo malah ngetawain bukannya bantuin."


Balasan Natta membuat Seongwoo menghentikan tawanya dan menatap Natta yang masih diam sembari menunduk.


"Sorry Tta sorry." Seongwoo menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena bingung harus melakukan apa.


"Aku balik ke kelas deh kak." Niat Natta yang ingin bangun dari duduknya terhenti karena Seongwoo malah menahan bahunya.


"Bentar, bentar."


Tiba-tiba Seongwoo mendekatkan wajahnya pada wajah Natta dan membuat Natta gugup seketika. Tapi lelaki itu malah memiringkan kepalanya sembari meletakkan tangannya ke belakang kepala Natta.


"Kak.." Natta merasakan tangan Seongwoo yang melepas ikatan di rambutnya dengan pelan.


"Udah nih, sana balik kelas."


Seongwoo meletakkan buku buku yang tadi Natta ambil ke atas kepala gadis itu.


Kayanya Natta harus pergi ke dokter setelah pulang sekolah nanti. Takutnya ia ada riwayat penyakit, soalnya jantung dia rasanya gak bisa santai.


"Thanks kak buat bantuannya."


Habis itu Natta pergi dari depan Seongwoo dengan buru-buru karena ia tidak bisa jika harus dekat dengan Seongwoo lebih lama lagi.


...


...


"Nih kak buat kakak."


"Widih, kamu jadi sering ngasih kakak cokelat ya? Thanks."


"Orang baru dua kali doang."


Kana tersenyum sambil membuka pembungkus cokelat pemberian Woojin itu. Ia pandang nikmat bola-bola cokelat itu sebentar.


Saat hendak memasukkannya ke dalam mulut, tangannya tiba-tiba ditarik seseorang dan cokelat itu raip dikunyah bersama jari tangannya yang terasa basah oleh air liur seseorang.


"Aaah ya!" Kana berteriak ketika ikut merasakan jarinya tergesek dengan gigi-gigi orang yang dengan lancang tanpa permisi mencuri cokelat pemberian Woojin.


Woojin melihat juga, saat cokelat yang ia belikan untuk Kana justru bukan dimakan oleh gadis itu. Dari sudut pandangannya, walaupun baru melihat sekarang, Woojin tahu bahwa siswa seperti itu adalah senior pelopor para pemberontak sekolah, ya meskipun Woojin akui siswa kasar itu memiliki wajah yang tampan.


Kana yang hendak memarahi siapa orang itu lalu membulatkan kedua matanya ketika melihat siapa orang tersebut.


"K-kak Seongwoo?"


Woojin melirik Kana yang ternyata mengenal orang tersebut. Ia juga melihatnya kemudian duduk di samping Kana sambil merangkul sepupu cantiknya itu.


Seongwoo mengunyah cokelat itu sambil menatap Woojin seperti layaknya seorang senior yang melihat juniornya. Ia merasa tak suka sejak pagi saat menemukan Kana berangkat bersama lelaki di depannya itu.


"Kakak ngapain disini?"


Seongwoo menoleh, "Kamu kok masih manggil gitu? Gak inget kemaren janji apa?"


Benar, saat diantar pulang, Seongwoo memintanya untuk saling memanggil satu sama lain hanya dengan nama tanpa embel-embel 'kakak'.


Seongwoo kembali menyelidiki Woojin. "Siapa lu?" Pertanyaan itu membuat Woojin menyeringai, ia benar-benar tak suka gaya orang yang satu ini. Siapa dia hingga berani meletakkan tangannya yang kotor di sekitar bahu Kana?


"Dia sepupu aku, Woojin." Kana yang malah menjawab.


"Sepupu kok ngasihnya cokelat?"


"Ya udah ya kak, aku mau pergi ke temen-temenku dulu, mereka udah nunggu." Woojin tak menghiraukan Seongwoo, ia tersenyum lalu melambaikan tangannya dengan manis pada Kana.


"Oh gitu? Ati-ati ya." Kana juga melambaikan tangannya sampai Woojin benar-benar tak menoleh lagi ke belakang.


Kana sadar, Seongwoo sudah sejak tadi memerhatikannya, dan ia sudah mengabaikannya. Gadis itu kemudian melirik hati-hati Seongwoo yang ada di sampingnya.


"Kamu kok malah berangkat duluan tadi pagi?" Kana seharusnya sudah tahu Seongwoo tentu saja akan mengomel, "Terus tadi siapa? Sepupu beneran atau sepupu-sepupuan?"


Salah atau tidak, Kana malah terkekeh saat mendengar Seongwoo mengatakan itu.


"Hm?" Seongwoo juga tak bisa berbohong, ia senang saat melihat Kana tertawa karenanya, "Kok ketawa?"


"Sepupu, mana ada sepupu-sepupuan. Aku taunya cuman ada kupu-kupu." Kana tertawa lagi karena menyadari bahwa leluconnya cukup lucu untuk ditertawakan. Seongwoo pun tak menahan dirinya untuk ikut tertawa bersama Kana.


Selama gadisnya itu tersenyum, ia juga akan tersenyum untuknya.


Saat itu, semua pengunjung cafetaria yang melewati bahkan tengah duduk pun diam-diam memperhatikan mereka berdua.


Sebagian besar dari mereka merasa iri, dua orang populer menjalin kasih dan terlihat cocok disandingkan. Siapa yang tidak cemburu melihatnya?


Kana dan Seongwoo adalah pasangan kedua setelah Minhyun dan Natta yang berhasil menggemparkan seisi sekolah dengan hubungan mereka.


Semua pasti berpendapat sama, mereka memang cocok. Namun hanya orang-orang tertentu seperti Daniel saja yang tak merasakan hal yang sama.


Bukan hanya karena ia menyukai Kana yang sekarang menjadi kekasih Seongwoo, tapi persepsinya tentang Kana yang terlalu cepat menerima Seongwoo tanpa alasan yang pasti.


Bukan sebuah rahasia besar baginya jika ia pernah menyangka bahkan tahu tentang Kana yang pernah dibicarakan beberapa siswa bahwa ia menyukai Minhyun.


...


...


Kana berjalan menuju ruang OSIS. Seperti biasa, setidaknya ia harus mengunjungi ruangan itu walau sebentar. Sebenarnya hari ini ia hanya harus fokus mengenai hasil seleksi sekolah, namun rasanya tak nyaman jika ia hanya berdiam diri tanpa melakukan apapun saat waktu luang.


Saat memasuki ruang OSIS, orang yang pertama kali Kana lihat adalah Geonhee yang tengah sibuk dengan kertas-kertas di tangannya.


Kana menghampiri Geonhee dengan wajah yang cerah, "Sibuk amat pak, lagi ngapain sih?"


Geonhee yang tak menyangka Kana datang nampak merasa lega saat akhirnya melihat Kana mengunjunginya, "Syukur deh lu disini."


"Kenapa emang?"


"Kangen gua ama lu."


Kana tersenyum sambil membuang mukanya, "Bohong banget lu jomblo lapuk!"


Geonhee tertawa, "Iya deh yang udah gak jomblo lagi, suka-suka mau ngehina gua yang jomblo juga. Ikhlas aku tuh Na diginiin sama kamu." Geonhee mulai berlebihan.


"Apaan sih lu Geon." Kana mengambil tempat duduk disamping Geonhee, "Lagian gua nanya serius malah dibercandain."


"Oh iya," Geonhee teringat sesuatu, ia mengambil satu kaleng air isotonik dingin yang dititipkan untuk Kana, "Nih."


Kana mengambilnya dengan wajah bertanya-tanya, "Dari siapa?"


"Kak Daniel, katanya thanks."


"Hah?" Kana yang tak merasa pernah melakukan apapun merasa heran.


"Gak tau, dia cuman dateng nyariin lu terus lu nya gak ada jadi gua kasihin nomer lu aja deh."


"Hah?!"


Geonhee melirik Kana tak suka, "Lu kebiasaan deh, huh-hah-hah-hah mulu. Makanya kalo budeg jangan dipelihara." Saat setelah mengatakan itu, Geonhee malah mendapatkan pukulan keras di punggungnya. "Aw! Sakit Kana!"


"Lu kok ngasih nomer gua sembarangan sih!"


"Kata siapa sembarangan sih, orang gua ngasih ke orang yang jelas, Kak Daniel Willy Ananta!" Geonhee mengusap-usap punggungnya yang terasa sakit.


"Lagian dia bilang mau ada urusan ama lu."


"Urusan apaan?"


"Mana gua tau, ntar dia juga nge-chat lu paling."


Kana berpikir tentang kemungkinan ia pernah berbuat salah pada Daniel, namun ia tak pernah bisa menemukan apapun mengenai itu. Matanya menatap botol kaleng pemberian Daniel dalam genggamannya.


Ia pikir itu sesuatu yang baik, Daniel tidak akan memberikan kaleng minuman dan mengatakan terimakasih jika ia pernah melakukan kesalahan. Benar, seharusnya begitu Kana berpikir.


............


...27 Januari 2019...


...Reeshiellaa Nat...


...Ft Dewi Hsu...