
...BAB V - Boy In Luv...
...| Hujan dan Pernyataan|...
...✨...
...🎶Ha Sungwoon - Think Of You...
...........
"Ya gitu deh kak, setiap pelajaran Pak Siwon, aku pasti cari alesan buat bolos." Tawa Natta terdengar sangat ringan di telinga Minhyun, membuat gadis itu semakin cantik.
"Anak OSIS bandel juga ya," ucap Minhyun sambil memakan mie cup yang Natta buat.
Sedangkan Natta yang mendengarnya hanya tertawa pelan, "Aku paling gak bisa kalau ketemu olahraga. Jadi mendingan di hindari."
"Besok dan seterusnya gak usah kayak gitu, aku siap ajarin kamu olahraga apapun."
Minhyun menatap Natta dengan lembut, satu hal yang membuat Natta harus berpikir berulang kali untuk menyebut lelaki itu sebagai lelaki pemaksa.
Tiba-tiba Natta menghentikan makannya dan berbalik menatap Minhyun yang tengah menatapnya juga, "Masalah pertanyaan waktu itu, aku masih penasaran kak."
Alis Minhyun terangkat karena tidak ingat pertanyaan yang mana yang tengah Natta maksud padanya. "Yang mana?"
"Aku pernah nanya ke kakak kan, alasan kakak suka aku? Dan waktu itu kakak belum jawab apapun."
Minhyun ingat kapan Natta menanyakan itu. Dan sejujurnya waktu itu Minhyun memang tidak tahu harus menjawab apa.
Ia pikir, ia menyukai Natta hanya karena rasa penasaran dengan Natta si ketua kedisiplinan sekolah.
Ia pikir, ia tidak memiliki alasan serumit itu untuk di ungkap pada Natta.
Ya, Minhyun hanya punya satu jawaban; karena ia merasa penasaran dengan Natta.
Tapi semakin hari, Minhyun sadar bahwa alasannya tidak hanya sekedar itu lagi.
"Ya karena aku suka kamu," jawab Minhyun dengan tulus, ya karena Natta bisa melihatnya.
"Karena aku suka kamu. Apapun yang kamu lakuin itu pasti jadi bagian yang aku suka."
Tapi Natta masih belum bisa memberikan hatinya untuk Minhyun sebesar itu.
Masih ada Seongwoo, orang yang Natta percaya sebagai cinta pertama Natta.
Minhyun mengulurkan tangannya untuk menarik poni Natta, sama seperti yang biasa Jinyoung lakukan.
"Karena aku suka kamu, jadi jangan deket sama cowok lain."
Tapi jika itu termasuk Jinyoung, Natta tidak akan bisa.
"Eh? Kena-"
Sebelum Natta menyelesaikan kalimatnya, pintu kamar Minhyun sudah terbuka.
"Loh dek? Bawa siapa?" Suara Joohyun membuat Natta dan Minhyun mengalihkan pandangannya ke ambang pintu.
Joohyun, kakak perempuan Minhyun satu-satunya.
...
...
Kana baru saja selesai membersihkan dirinya. Saat tengah mengeringkan rambutnya dengan handuk yang terkalung di lehernya, Kana meraih ponsel dan mendapati sebuah pesan baru. Ia pikir itu mungkin dari Seongwoo, namun ternyata bukan.
Saat Kana baru saja selesai membacanya, orang itu tiba-tiba menelponnya. Dengan sedikit ragu Kana mengangkat telpon itu.
"Hello kak?"
"Gimana Na? Mau ya?"
"Eumm.." Kana berpikir keras, alasan bagaimana caranya menolak atau alasan bagaimana caranya menerima itu. "Boleh deh, kebetulan aku juga belum makan."
"Nah pas dong kalo gitu. Mau gua jemput?"
"Gak usah kak, kita ketemu aja di cafe deket rumah aku. Nanti aku share alamatnya yah."
"Okay, see you soon."
Jika dipikir-pikir lagi, tak ada salahnya menerima tawaran baik Daniel. Lagipula tak ada apa-apa antara dirinya dengan lelaki itu, setidaknya ia bisa lebih mengenal Daniel dan berteman baik dengannya.
Memperbaiki kesalahpahaman dulu ketika ia belum mengenal lelaki itu adalah alasan yang paling tepat kenapa Kana mau diajak untuk makan bersama Daniel.
Kalopun Seongwoo nantinya tahu, ia akan menjelaskan yang sebenarnya. Kana dan Daniel sekarang teman, begitu yang ia tahu. Siapa yang tahu permintaan Jonghyun untuk mengawasi Daniel ternyata berujung baik seperti ini. Kana menjadi lebih banyak mempunyai teman.
Saat menuruni tangga begitu sudah siap untuk pergi, Kana menemukan Woojin yang sedang menonton film horor di bawah. Remaja yang sedang meringkuk ketakutan itu kemudian menyadari Kana yang akan pergi.
"Mau kemana kak?" Woojin menoleh kearah Kana.
"Mau ke cafe bentar, mau nitip gak?"
Mendengar itu Woojin segera duduk lebih tegak, "Ngapain? Ketemu siapa?"
"Temen, Kak Daniel. Tau kan?"
"Oh, temen siluman belut itu?"
Kana yang mendengar kata asing itu tak mengerti, "Hah? Siapa siluman belut?"
"Noh, pacar kakak." Woojin memasukkan cemilan ke dalam mulutnya dan mengunyahnya dengan wajah yang seolah-olah dibuat menyebalkan, Kana yang melihat itu hanya tertawa karena merasa konyol.
"Ada-ada aja deh kamu."
"Mau aku anter gak?" tawar Woojin segera.
"Enggak usah, orang di depan komplek kok. Lagian bentar juga. Kamu jadinya mau nitip gak?"
Woojin melirik Kana senang, "Jajanin ya?"
Kana terkekeh sambil menggeleng-gelengkan kepalanya karena kelakuan Woojin, "Ya udah, mau apa?"
"Kalo ada sih seblak pedes."
"Mana ada seblak di cafe!"
"Ya udah cilor aja."
"Woojin.."
"Mie ayam deh kalo gitu."
"Yang bener aja dong."
"Ah!" Woojin berteriak frustasi karena tak kunjung menemukan makanan apa yang bisa ia beli, "Ya udah deh teh anget aja!"
"Hah? Yang bener apa Woojin."
Kana benar-benar baru menyadari bahwa Woojin itu sebenarnya sedikit menyebalkan, "Hot Thai tea gituuu."
"Iyaaa, terserah apa namanya."
"Ya udah, kakak berangkat ya."
"Hmm. Jangan lama-lama! Ntar aku aduin ke bang Jonghyun nih."
...
...
Daniel melambaikan tangannya saat melihat Kana kebingungan mencarinya di ambang pintu cafe. Kana melihatnya lalu tersenyum sambil kemudian berjalan kearahnya.
"Udah lama kak?"
"Baru nyampe kok. Langsung pesen aja ya? Lu kan belum makan juga, pasti laper."
Kana menyetujui begitu saja, memang benar ia sudah lapar.
Setelah keduanya selesai memilih menu, Daniel kembali memulai pembicaraan agar tidak saling merasa canggung. Kana menanggapi setiap lelucon Daniel dengan tertawa. Terkadang gadis itu juga membalas dengan memberikan lelucon yang tak kalah konyol.
Memang benar, Kana mengakui dirinya salah karena telah menyangka Daniel itu orang yang kasar dan menyebalkan. Ia tak tahu bahwa Daniel adalah orang yang justru sebaliknya.
Lelaki itu memang dingin jika dilihat sekilas. Mungkin karena Daniel banyak memiliki luka yang belum banyak orang mengerti. Kana juga diam-diam sudah tahu bahwa hubungan kedua orang tua Daniel itu tidak terlalu baik.
Sebagai anak yang mungkin dibesarkan dengan kurang kasih sayang, Daniel banyak memiliki luka yang bahkan tak banyak orang tahu. Itulah mengapa ia begitu tersentuh ketika Kana yang bahkan bukan siapa-siapa tapi memerhatikannya walaupun hanya untuk hal kecil. Daniel ingin mengenal Kana lebih dalam, Daniel ingin mempunyai seseorang seperti Kana.
Walaupun hanya sekedar minum kopi dan makan beberapa cemilan, Kana sudah merasa cukup kenyang. Sambil menunggu pesanan untuk Woojin, Kana melanjutkan pembicaraan bersama Daniel.
"Oh iya, lu tinggal disekitar sini?"
Kana yang baru menyeruput kopinya lalu mengangguk, "Iya, satu komplek sama Seongwoo."
Mendengar itu, Daniel menjadi teringat mengenai hubungan Kana dan Seongwoo. Ia tiba-tiba saja merasa bersalah karena diam-diam sudah menyimpan perasaan pada Kana yang sudah jelas milik Seongwoo.
Saat itu, pesanan Kana tiba.
"Kak, sorry aku gak bisa lama-lama, soalnya di rumah ada Woojin juga sendirian."
"Woojin? Anak kelas sepuluh itu?"
"Iya," menyadari Daniel yang akan salah paham, Kana langsung mencoba untuk menjelaskan, "Gini-gini, jangan mikir kemana-mana, dia sepupu aku."
"Oh.." Daniel mengiyakan itu, "Ya udah, yuk gua anter pulang."
Kana menjinjing pesanan Woojin dan berjalan bersama Daniel yang ingin mengantarnya pulang. Untung rumahnya tidak terlalu jauh, itu berarti mereka tak akan banyak menghabiskan waktu. Kana dan Daniel hanya membutuhkan waktu sekitar lima belas menit untuk sampai di rumah Kana.
Selama berjalan, Kana yang kembali memulai pembicaraan.
"Jadi gimana kak? Giginya udah sembuh?"
Daniel melirik Kana sambil tersenyum sekalian memamerkan giginya, "Udah." Kana pikir hanya itu jawabannya, namun ternyata masih ada, "Berkat lu."
Kana hanya tertawa kecil sambil menolak pendapat itu, "Enggaklah, semuanya karena kakak berenti makan permen."
Saat itu Kana sudah dapat melihat rumahnya dari kejauhan, itu berarti mereka sudah hampir sampai.
"Oh iya, lu tau dari mana kalo gua gak boleh makan permen?" Daniel melihat Kana dengan waspada, "Lu gak stalking gua kan?"
Kana menoleh dengan cepat, "Enggak lah, enak aja. Emang aku penguntit." Kana kembali menatap ke depan, "Aku tau dari dokter Jonghyun, dia abang aku."
Tentu saja Daniel terkejut, harapannya bahwa Kana mungkin saja juga menyukainya tiba-tiba saja hilang saat Kana mengatakan yang sebenarnya. Itu berarti Kana memang murni ingin berniat baik padanya.
Namun bukannya mengurangi harapan yang telah sedikit pudar itu, Daniel justru merasa semakin ada alasan kenapa ia harus menyukai Kana. Gadis itu memang baik dan perhatian.
Hatinya luluh karena Kana yang bukan siapa-siapa bisa seperthatian itu padanya. Seperti sejak awal, Daniel memang tertarik dan menyukai gadis itu karena sikap manisnya.
"Jadi adek yang dimaksud dokter Jonghyun itu lu?" Daniel mendapati Kana mengangguk, "Wahh, kenapa gua gak sadar yah?" Daniel tertawa malu.
Mereka akhirnya sampai, Kana menghadapkan tubuhnya kearah Daniel lalu tersenyum.
"Udah nyampe kak," Kana melihat Daniel yang sedang memandangi rumahnya, "Mau masuk dulu?"
"Enggak ah, lain kali aja. Lu juga kayaknya udah cape deh."
Kana tersenyum, "Ngomong-ngomong makasih ya kak. Maaf juga karena selama ini udah salah paham."
Daniel yang tak tahu maksud Kana pun bertanya, "Salah paham?"
"Iya, aku pikir kakak tuh orangnya kasar sama nyebelin, tapi pas udah kenal dan temenan kayak gini kayaknya aku aja yang negative thinking sama kakak. Sorry yah."
Dalam hati, Daniel mengharapkan Kana tak hanya menjadi temannya. Ia ingin lebih dari itu.
"Na?"
"Hm?"
Daniel tak yakin harus mengatakannya, ia menelan salivanya dengan berat. Sejenak ia kembali berpikir tentang haruskah ia mengatakannya sekarang.
Kana juga sedang menunggunya untuk bicara.
"Kalo lu bisa nganggep gua temen dan kita bisa deket, gua seneng." Daniel menatap Kana dalam-dalam, "Tapi sorry karena gua harus bilang ini." Wajah Kana terlihat bertanya-tanya, "Gua berharap kita gak cuman jadi temen." Ekspresi Kana tiba-tiba saja berubah, senyumannya perlahan-lahan pudar, "Gua pengen lu jadi cewe gua."
Kana kehilangan kata-katanya. Lidahnya terasa kaku dan nafasnya terasa tersendat.
"Walaupun gua tau kalo lu milik Seongwoo," tambah Daniel.
Saat itu, tiba-tiba saja keduanya mendengar suara sesuatu yang terjatuh dari arah belakang Kana.
Kana dan Daniel menoleh bersamaan.
Betapa terkejutnya Kana ketika melihat ada Seongwoo yang sedang menunduk dan membeku di tempatnya. Di sampingnya ia juga melihat kresek putih yang tergeletak begitu saja di atas aspal.
"S-seongwoo?" ucap Kana.
Tak ada yang menyangka keadaan menjadi seruyam ini. Bagaimana mungkin semuanya menjadi rumit bagi Kana, Seongwoo dan Daniel.
Daniel yang juga baru menyadari kehadiran Seongwoo hanya menatap lelaki itu dengan sedikit rasa bersalah. Ia tahu tindakannya salah, namun dengan Seongwoo mengetahuinya seperti ini membuat semua rumit bahkan untuk dijelaskan sekalipun.
Daniel sebenarnya ingin mengatakan juga pada Seongwoo tentang perasaan terlarangnya, namun tidak sekarang. Waktu seolah membiarkan Seongwoo tahu dengan sendirinya dan cara yang salah.
Seongwoo mengangkat pandangannya dengan perasaan campur aduk. Terkejut sekaligus terluka karena mendengar pengakuan Daniel pada gadisnya.
Ia menatap Daniel yang juga sedang menatapnya. Keduanya berteman sudah lama, bahkan sudah seperti saudara, namun dengan keadaan seperti ini, Seongwoo dan Daniel seolah seperti dua orang yang saling tak mengingat hubungan seperti apa yang sudah mereka punya dan jaga selama ini.
............
...07 Februari 2019...
...Reeshiellaa Nat...
...Ft Dewi Hsu...